Grace

Grace
Mengingat masa remaja kita



Masih di acara inti perusahaan tersebut, malam itu Grace segera menghampiri Ayahnya yang telah duduk di kursi tamu penting di main hall acara.


"Ayah" Sapa Grace segera duduk bersama sang Ayah di sampingnya, memeluk pria paruh baya itu. Dan sang Ayah hanya tertawa saja mendapatkan perlakuan dari putrinya, meskipun sudah menikah, Grace masih sangatlah manja sekali padanya.


"Kau tidak malu, dilihat karyawan kantor, manja seperti ini, nak?" Tanya sang Ayah tetapi masih tetap memeluk Grace.


"Aku tidak peduli"


"Aku kemarin tidak melihat Ayah di kantor. Ayah sakit lagi?" Tanya Grace dengan raut wajah khawatir terhadap Gilang.


"Tidak, Ayah tidak sakit. Ayah hanya baru cuci darah saja. Jadi butuh istirahat". Kata Gilang dengan senyum di wajahnya yang sudah keriput menandakan usia tua.


"Pokoknya, Ayah harus sehat terus" Jawab Grace masih memeluk sang Ayah.


Gilang tertawa dengan sifat manja putrinya itu. " Iya" Ucapnya dengan mengelus rambut sang putri.


"Mana suami kamu, Grace?". Tanya Gilang.


"Ohh" Melepas pelukan dan melihat sekitar mencari keberadaan sang suami tetapi tidak menemukan Rey sewaktu wanita itu melihat kesana kemari.


"Masih mengobrol dengan Client sepertinya , Yah" Kata Grace


Gilang menganggukkan kepalanya, "Bagaimana pernikahan kalian? Apa kamu masih sering membantah sama suami kamu, Grace?". Tanya sang Ayah


Mendapati pertanyaan seperti itu membuat Grace berpikir sejenak. Kalau masalah sering membantah kemungkinan dia lebih banyak membantah perkataan suaminya daripada harus menuruti Rey. Dan Ayahnya tidak boleh tahu kalau dia masih sering tidak menuruti suaminya yang menjengkelkan.


"Baik, Yah. Hehehe" Grace menyengir, "Aku nggak pernah bantah Kak Rey kok,Yah" Ucapnya lagi.


"Beneran?". Tanya sang Ayah yang tidak percaya.


Grace menganggukkan kepalanya bersemangat untuk menunjukkan apa yang dia katakan serius dan tidak berbohong.


"Iya, Yah. Beneran" Kata Grace


"Bagus.. itu baru anak Ayah" Jawab Gilang mengusap rambut putrinya.


"Aku duduk disini aja ya , Yah" Kata Grace lagi menggeser kursinya agar semakin berdekatan dengan sang Ayah.


"Suami kamu ajakin juga duduk disini. Jangan kamu tinggalin Grace"Jawab Gilang yang melihat ke arah belakang kursinya kalau Rey sudah mencari sang istri dengan melihat sekeliling aula.


"Oh iya"


Seketika itu juga Grace langsung melambaikan tangannya dan melihat Rey sedang mencari dengan menatap sekeliling tempat tersebut.


"Kak, sini" Kata Grace melambaikan tangannya.


Sadar ternyata istrinya tersebut sedang bersama ayahnya, Rey segera menghampiri mereka berdua dan ikut bergabung.


" Kamu kenapa nggak bilang udah masuk aula?". Tanya Rey sedikit kesal karena ditinggal sang istri. Mulai duduk di sebelah Grace.


"Tadi kamu masih ngobrol sama om Dino, aku sungkan,Kak. Jadi aku tinggal ke dalam sekalian cari Ayah" Ucap Grace


"Maaf" Katanya lagi mengelus rahang Rey karena tidak ada jawaban.


"hmm" Kata Rey akhirnya.


Grace tersenyum, "Kalau nggak banyak orang sama Ayah di sebelah kita. Udah aku cium pipi kamu" Kata Grace memberanikan diri berbisik pada Rey.


Rey seketika tertawa mendengar ucapan agresif istrinya itu, "Nanti aja, di kamar. Sekalian tepatin janji kamu yang tadi" Ucapnya dengan berbisik juga sambil mengedipkan mata ke arah Grace.


Pipi Grace merona merah di goda seperti itu, "Oke" Grace balik menantang meskipun di dalam hatinya dia sangat malu sekali bersifat agresif seperti ini.


***


Seusai acara tersebut diadakan, Rey membawa istrinya untuk mengunjungi suatu tempat sebelum kembali ke kamar mereka.


"Kita mau kemana, Kak?" Tanya Grace, tangannya beralih memeluk pinggang pria itu karena keadaan jalan sekeliling mereka yang gelap dan sepi tidak ada orang di sekitar.


"Ayo, ikut aja" Kata Rey melepas jaketnya untuk dikenakan pada Grace. Lelaki itu bisa merasakan Grace mulai ketakutan melihat jalan yang mereka tempuh.


"Kok kamu bawa aku ke tempat beginian ,sih" Grace menggerutu, melihat sekeliling yang gelap. Apa suaminya ini tidak takut kalau ada apa-apa nantinya. Batin Grace


"Udah,Ayo. Kamu ikut aja" merangkul bahu sang istri supaya semakin merapat padanya.


Setelah beberapa ratus meter berjalan dan menyusuri jalan yang gelap dan sepi, akhirnya Grace dapat melihat danau yang indah. Dari penglihatan wanita itu sepertinya ini adalah danau buatan yang khusus di buat oleh masyarakat sekitar hotel yang mereka tempati.


Dihiasi lampu-lampu kerlap-kerlip di sekitar danau untuk menerangi pemandangan menambah kesan yang semakin indah ketika memandang danau tersebut. Belum lagi hari ini bulan menunjukkan sinarnya yang penuh semakin membuat danau tersebut berkesan romantis. Grace juga melihat beberapa pemuda pemudi yang sedang bermesraan duduk di kursi yang sengaja disediakan di dekat danau tersebut.


"Kamu tahu tempat ini?". Tanya Grace masih senang dengan pemandangan sekitar.


"Hmm. Tadi aku tanya Reno" Kata Rey dengan memeluk pinggang istrinya dari belakang.


"Reno kasih tahu kamu?". Grace masih bertanya, tidak percaya kalau Reno mau memberi tahu tempat ini pada Rey.


Grace bisa merasakan anggukan kepala suaminya, "Iya, dengan sedikit paksaan" Katanya.


"Dengan cara?". Tanya Grace.


"Aku akan menyuruh Ayah untuk memindahkan dia ke divisi lain. Jadi dia tidak bisa lagi dekat sama kamu di kantor" Kata Rey menjelaskan ancamannya.


"Jadi dia langsung mau?" Kata Grace.


"Hmm. Nggak usah bahas dia lagi" Rey mulai malas dengan pembahasan mereka mengenai Reno.


"Baiklah" Kata Grace sambil memegang tangan Rey yang telah melingkar di pinggangnya dan melihat pemandangan danau di depan mereka yang romantis.


Setelah beberapa menit menikmati pemandangan danau, Grace mulai bosan dan mengajak Rey untuk kembali ke hotel.


"Kak, balik yuk, Udah malam banget" Melihat sekeliling danau meskipun masih ada beberapa orang yang belum beranjak dari danau tersebut.


"Ayo" Kata Rey dengan menggandeng tangan istrinya.


Belum beberapa meter mereka melangkah, terdengar bunyi sepatu Grace yang hak nya sudah patah.


Krakk


"Kenapa?". Tanya Rey yang sudah melihat Grace berlutut di depannya.


"Patah". Ucap Wanita itu memelas sambil menunjukkan hak sepatunya yang sudah patah pada Rey.


"Aku jalannya pasti nggak nyaman lah, Kak" Ucap Grace yang tidak setuju dengan saran suaminya itu.


"Jadi mau gimana?, kamu mau nggak pakai sepatu jalannya, ini masih jauh Grace dari hotel" Tanya Rey


"Ya nggak jugalah. Kalau kaki aku menginjak kaca atau paku bagaimana". Jawab Grace


"Ya terus, mau gimana lagi" Kata Rey


Grace seketika itu juga langsung tersenyum menampilkan deretan giginya, kemudian berkata. "Gendong aku" Ucapnya dengan raut wajah polos dan tidak berdosa.


Terdengar Rey berdecak sekilas, "Kamu itu berat tahu, nggak". Namun berlutut juga supaya Grace bisa menaiki punggungnya.


"Yeay" Grace tersenyum senang menaiki punggung suaminya itu.


"Jalan" Kata Grace lagi seperti anak kecil yang menaiki kuda.


"Berat kamu" Jawab Rey sambil mengeratkan pegangan kedua tangannya supaya Grace tidak terjatuh di belakang.


"Enak aja. Berat badan aku kemarin aku cek nggak bertambah tahu" Ucap Grace memberitahu Rey.


"iya..iya" Rey mengalah, sepertinya dia sudah tahu kalau membahas masalah berat badan tak sedikit wanita akan protes. Termasuk adiknya Laura.


"Terimakasih ya, Kak. Udah selalu jaga aku selama ini" Ucap Grace tiba-tiba dari belakang Rey.


"Kenapa kamu, tiba-tiba bahas itu?". Tanya Rey sambil berjalan menyusuri jalan ke hotel.


"Nggak kenapa kenapa. Aku baru sadar aja, kamu selalu jaga aku, dari kita kecil" Grace berceloteh ria.


"Baru sadar kamu" Ucap Rey tak ayal tersenyum juga mendengar ucapan dari Grace tersebut.


"Iya.. Masa masa pertumbuhan aku banyak habisin waktu sama kamu, ternyata."


Rey menganggukkan kepalanya membenarkan, Pria itu juga mengingat memang dari kecil sampai mereka menginjak dewasa. Semua kenangannya di penuhi dengan menjaga Grace karena sang Ayah menitipkan Grace padanya.


"Kak" Masih Grace yang banyak berbicara.


"Hm" Ucap Rey.


"Waktu jaga aku selama ini, kamu merasa direpotkan nggak?" Grace menanyakan apa yang membuat hatinya penasaran selama ini.


"Nggak" Kata Rey


"Yakin kamu?". Grace belum merasa yakin akan ucapan Rey.


"Iya, Yakin"


"Ohh" Jawab Grace menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Menurut kamu kenangan yang paling kamu ingat selama jaga aku dari kita kecil sampai sekarang apa?". Grace masih bertanya terus sepanjang jalan.


Tampak Rey sedikit berpikir, mengingat masa remaja mereka dulu hingga sekarang sampai mereka dewasa, sebelum menjawab.


"Apa ya?". Ucap Rey masih sibuk berpikir.


"ck, inget inget dong" Mendesak suaminya agar mengingat.


"Sepertinya waktu kamu pertama kali ngalamin pubertas, mungkin" Ucap Rey.


Mendengar hal itu Grace menaikkan kepalanya tidak bersandar lagi di punggung Rey, sepertinya dia mengerti pembicaraan suaminya ke arah mana.


"Udah kalau yang itu nggak usah di bahas" Grace menjawab dengan suara lirih dan nada yang malu.


Memang dasarnya Rey, senang sekali menggoda istrinya.


"Kamu masih ingat, waktu itu kamu lari ke kelas aku sambil menangis. Terus bilang perut kamu sakit sekali". Rey masih menggoda dengan tertawa.


"Udah, Kak. Aku malu" Grace mencengkram bahu Rey kepalanya sudah terbenam di punggung pria itu.


"Aduh, sakit Grace" Rey masih tertawa mengejek sang istri.


"Dulu kan aku nggak mengerti periode bulanan seperti itu" Ucap Grace membela diri.


"Kamu ada-ada aja, makanya kalau guru biologi menjelaskan di kelas. Kamu itu dengerin jangan tidur". Jawab Rey.


"Aku nggak pernah tidur di kelas, memang aku nggak ngerti. Namanya juga waktu itu pertama kali" Masih tidak terima dengan ucapan sang suami.


"Untung akhirnya aku jadi suami kamu" Kata Rey


"Kenapa memangnya?" Ucap Grace yang bingung.


"Iyalah, kalau orang lain yang jadi suami kamu, terus tahu tentang masa remaja kamu yang dulu seperti itu. Pasti kamu malu banget kan " Rey tersenyum senang bisa menggoda Grace.


"Ya, dia nggak akan tahu lah. Kalau kamu tidak kasih tahu." Ucap Grace


"Iya juga ya" Kata Rey membenarkan perkataan Grace.


"Kenangan kita banyak juga ya, Kak" Grace berbicara kembali.


"Hm. Makanya kamu itu yang nurut sama suami jangan suka bantah"


"Iya deh" Ucap Grace mengeratkan pelukannya di leher Rey dan meletakkan kepalanya di punggung yang nyaman menurutnya.


"Terimakasih ya suamiku, sudah menjaga adek Grace selama ini" Grace tersenyum mengucapkannya.


" Itu nggak gratis" Jawab Rey.


"Loh, kamu minta bayaran?"


"Bayarnya di kamar aja" Rey mulai tersenyum menjengkelkan tanpa sepengetahuan Grace dan segera mempercepat langkahnya menuju kamar hotel mereka.


Selanjutnya bayangin sendiri


Bapak/ibu, Sister/Brother, Abang/adek, Yang cantik dan rupawan, baik hatinya dan tidak sombong. Author minta vote dong hehehe.


Terimakasih ♥️