
Saat sore harinya tiba, tepat jam kantor di perusahaan Grace menandakan para karyawan seharusnya untuk pulang dan menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing dan kembali menuju tempat kediaman mereka. Dimana kediaman yang hangat ketika kita pulang dan disambut dengan senyuman hangat keluarga tercinta.
Grace melihat tanda notifikasi dari handphone miliknya, dimana sudah seharian ini sang suami belum mengabarinya.
"Sepertinya dia sedang sibuk" Grace berbicara sendiri dengan melihat lihat layar handphone yang belum memunculkan notifikasi baru.
12.03
Grace : Jangan lupa makan siang, Kak
15.00
Grace : Kamu sudah makan?
16.36
Grace: Kita jadi menginap di rumah Ayah kan?
17.01
Grace : Kamu sibuk ya?
Sudah berulang kali pesan yang dikirim wanita itu kepada suaminya tetapi belum kunjung juga ada balasan satu pun.
Grace memutuskan untuk merapikan meja kantor dan membereskan dokumen-dokumen yang dia kerjakan satu harian ini. Saat tengah sibuk membersihkan meja dan memasukkan barang pribadi ke dalam tasnya guna untuk di bawa pulang. Handphone miliknya berbunyi tanda ada notifikasi baru.
17.17
Suami aneh: Iya, aku sudah makan. Kamu ke rumah Ayah duluan saja, nanti sepulang kantor aku nyusul ke sana.
Grace seketika tersenyum mendapat balasan dari Rey, meskipun pria itu sibuk, Grace masih bisa merasakan kalau suaminya tetap masih peduli dan tidak acuh padanya. Mengingat sebelum mereka menikah, Rey terkesan dingin dan cuek. Jarang sekali pria itu dulu memberi kabar atau sekedar menyapanya saat di kantor ataupun meeting bersama. Tetapi setelah menikah semuanya berubah, Rey selalu perhatian. Tak lupa memberi kabar walaupun sibuk dengan pekerjaan dan selalu menanyakan bagaimana pekerjaan Grace di kantor, apa ada masalah atau tidak. Membuat Grace semakin yakin rumah tangga mereka akan selalu bahagia nantinya.
17.19
Grace : Iya. Kamu hati-hati di jalan ya . Aku nunggu kamu di rumah Ayah, Kak
Setelah mengetik balasan yang dia tujukan kepada sang suami, Grace berjalan menuju ruang kantor Ayahnya. Tepatnya di lantai paling atas kantor tersebut, bersebelahan dengan ruang kantor Glenn, adiknya.
"Glenn" Sapa Grace saat sudah sampai di lantai paling atas.
Glenn melirik kakaknya, tanpa berbicara ataupun menjawab hanya wajahnya saja seakan-akan menggambarkan jawaban "Apaan?" pada sang kakak.
"Lo, belum mau pulang dek?". Tanya Grace sudah duduk di sofa ruangan tersebut.
Glenn menghampiri Grace duduk di dekat wanita itu, kemudian membalikkan tubuhnya. Menjadikan punggung Glenn berhadapan dengan wajah Grace.
"Maksud Lo, apaan nih?". Tanya Grace sudah curiga dengan kebiasaan Glenn ketika membalikkan badan seperti ini.
" Pijetin gue, mbak. Sakit semua badan gue" Katanya sambil menepuk nepuk bahunya.
"Emang Lo, habis darimana?" Sudah memijat bahu sang adik.
"Nggak habis darimana mana sih. Cuma kecapekan kayaknya ini badan gue" Ucap Glenn menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Makanya, cari pacar. Biar nggak ngerepotin gue mulu, Lo" Ucap Grace tangan masih memijat.
"Kalau masalah itu, nanti aja mbak. Jodoh itu datang tepat pada waktunya kalau kita dan dia sama sama sudah siap dan matang" Glenn berbicara seperti motivator.
Grace mencebikkan bibirnya, lagi-lagi kumat ini orang. pikirnya dalam hati. "Ngomong mulu Lo, dek. Praktek kagak ada." Ucapnya sudah beralih memijat lengan sang adik.
"Tenang aja, di luaran sana banyak yang ngantri mau gue jadikan pacar"
" Iya deh, terserah lo dek. Sebahagianya Lo dah" Kata Grace
" Udah beresin barang Lo, baru kita ke ruangan Ayah" Grace memukul lengan sang adik agar segera beranjak dari sofa.
"Iya, sabar". Jawab Glenn yang menghampiri meja kantor dan membereskan barang-barangnya.
*****
"Suami kamu, belum pulang Grace?". Tanya Gilang saat mereka sudah di dalam mobil. Sedangkan Glenn kali ini yang menyetir.
"Belum, Yah. Nanti katanya dia nyusul" Ucap Grace menoleh ke belakang kursinya untuk berbicara pada sang Ayah.
"Kamu harus sering-sering semangatin dia. Soalnya membuat perusahaan mertua kamu jadi lebih baik dan berkembang maju itu nggak mudah, nak. Tanggung jawab Rey, besar sekali buat perusahaan itu" Gilang menasehati putrinya.
"Iya, Yah" Grace menganggukkan kepalanya tanda mengikuti arahan Gilang untuk selalu memberikan semangat dan dorongan pada sang suami.
Saat acara makan malam hampir tiba pun, Rey belum menunjukkan batang hidungnya. Padahal sudah menunjukkan pukul setengah delapan lewat. Membuat wanita itu semakin khawatir karena belum ada kabar dari Rey.
"Sudah kita makan duluan saja" Kata sang Ayah karena Rey, menantu yang dia tunggu-tunggu belum datang.
"Baik, Yah" Kali ini Glenn yang menjawab karena sudah merasa lapar.
" Tidak apa-apa , Grace. Nanti suami kamu juga datang" Ucap Gilang lagi karena melihat putrinya lebih fokus pada depan pintu rumah mereka.
"Eh, iya. Yah" Jawab Grace sudah menyendok nasi ke piring sang ayah dan mengambil lauk untuknya.
"Kamu makan yang banyak, nak" Lagi-lagi Gilang yang berbicara, ditujukan untuk Grace.
"Iya, yah" Jawab Grace sudah mulai memakan hidangan makan malam yang tersedia.
Saat mereka masih makan, muncullah orang yang ditunggu-tunggu oleh Grace. Pria itu melangkahkan kakinya sedikit terburu-buru dan menghampiri meja makan.
"Maaf, Yah. Saya telat, tadi macet di jalan" Ucap Rey sudah mengambil tempat duduk di sebelah istrinya.
Grace seketika tersenyum melihat sang pujaan hati sudah di depan matanya.
" Tidak apa-apa, Rey. Ayah mengerti" Jawab Gilang sambil tersenyum ke arah Rey.
"Kamu mau mandi atau makan dulu, Kak?". Tanya Grace pada Rey.
"Makan aja dulu" Jawab Rey.
Grace langsung mengambil nasi dan lauk untuk dihidangkan ke piring suaminya, masih dengan tersenyum senang, "Selamat makan suamiku" Ucapnya.
"Cie..romantis juga Lo, ternyata Mbak" Glenn menyahuti mereka karena sedari tadi memperhatikan bagaimana Grace melayani Rey suaminya.
"Iyalah, dek. Istri penurut juga gue" Ucap Grace dengan bangganya.
"Bener, Rey?". Kali ini sang Ayah yang menanyakan, kebenaran ucapan tersebut.
"Kok, ayah ngomong gitu. Nggak percayaan banget sama anak sendiri" Ucap Grace
Rey terkekeh, " Ayah tahu sendiri bagaimana kelakuan Grace" Lebih memilih menjawab pertanyaan secara menggantung.
"Kan, udah curiga juga gue" Glenn mengejek sang kakak.
Grace mencebikkan bibirnya tanda tak senang dengan obrolan mereka.
"Sudah lanjutkan makanan mu Glenn" Kata Gilang menengahi.
Sesudah acara makan malam, Grace segera membawa Rey ke kamar wanita itu. Sambil menunggu Rey keluar dari kamar mandi, Grace memandang sejenak kamar yang sudah dia tinggalkan beberapa Minggu tersebut.
"Aku baru tahu kamu banyak koleksi jam" Ucap Rey yang sudah keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
"Iya, aku suka dengan jam, Kak" Grace menganggukkan kepala.
"Sejak kapan kamu suka koleksi jam mahal begitu?" Rey melirik ke tempat penyimpanan jam mewah istrinya yang berada di kamar tersebut.
"hm.." Grace tampak berpikir sejenak.
"Sejak kuliah kayaknya. Aku lebih suka jam karena waktu kuliah dulu aku cari model jam yang sama kamu pakai waktu kuliah dulu. Tapi nggak ketemu, jadi aku cari-cari. Lama-lama aku jadi suka koleksi" Jawab Grace menceritakan alasannya menyukai koleksi jam mewah.
Rey tertawa mendengar pengakuan tersebut, "sampai segitunya kamu. Aku aja udah lupa model jam yang aku pakai waktu kuliah dulu" Katanya, sudah membaringkan diri di ranjang Grace.
Grace pun mengikut untuk merebahkan diri di samping Rey. "Kamu kan emang begitu, suka lupa dan cuekin aku waktu dulu" Kata Grace, tubuhnya menghadap Rey.
"Iya, maaf" Ucap Rey kini sudah membenamkan wajahnya di dada istrinya dan memeluk wanita itu.
"Kamu baik-baik aja kan, Kak?"Tanya Grace
"hm"
"Perusahaan papa kamu, bagaimana?".
Rey menghela nafasnya, "Ya begitulah" Ucapnya malas membahas perusahaan.
"Kalau ada apa-apa, kamu cerita" Kata Grace tangannya beralih menyisir rambut Rey menggunakan jarinya.
"Iya" Semakin mengeratkan pelukan dan memejamkan mata untuk tertidur di pelukan istri yang menghangatkan tubuh.
Selanjutnya