
"Hmm"
Rey berdehem memecah obrolan sang istri bersama Reno. Segera mengambil posisi di tengah mereka berdua dengan tujuan memisahkan jarak antara istrinya dengan si pengganggu. Merangkul bahu Grace kemudian tersenyum dengan manisnya ke arah Grace , yang membuat sang istri kelihatan bingung dan hanya mengerutkan dahinya saja.
"Ada pak Rey, juga?". Sherli tiba-tiba datang dan mendekat menghampiri mereka dengan senyuman centil wanita tersebut.
Mendengar suara cempreng khas Sherli membuat Grace memutar bola matanya jengah. "Nih anak, gak tau apa. Kalau Kak Rey lakik gue" Ucap Grace dalam hatinya.
"Ayo, Wen" Grace menggandeng lengan Wenny sahabatnya untuk segera menyingkir dari tempat tersebut. Membiarkan Rey beserta Reno dan Sherli masih disana.
"Lo, nggak takut di tikung sama si Sherli?" Tanya Wenny pada Grace dengan melihat tingkah laku Sherli tadi.
"Kagak, selama itu bukan si Mitha yang deketin suami, gue.". Jawab Grace.
"Heran gue, si Sherli itu nggak ada takut takutnya sama Lo, ya Grace. Berani banget godain suami Lo. Punya banyak nyawa sepertinya tuh anak". Ucap Wenny yang menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan Sherli yang sengaja menggoda Rey di depan Grace.
"Udah biarin aja. Suami gue nggak akan termakan rayuannya dia". Jawab Grace acuh, melihat-lihat situasi acara yang akan diadakan sebentar lagi.
***
Acara di tempat tersebut sudah dimulai, masing-masing ketua panitia di dalam acara itu membagi-bagi para karyawan menjadi beberapa kelompok untuk mengikuti game terlebih dahulu.
Tidak luput juga Grace yang meskipun anak pemilik dari perusahaan itu tetap mau mengikuti game yang akan di adakan oleh panitia acara.
"Glenn?". Ucap Grace kegirangan saat melihat adik kesayangannya berbaris di sebelahnya yang mengikuti arahan kelompok lelaki itu.
"Kemarin katanya nggak ikut?". Tanya Grace masih berbicara pada Glenn yang berada disebelahnya.
"Males juga gue, mbak. Di rumah mulu. Kayak anak perawan aja". Ucap Glenn asal.
"Jadi ayah, Lo tinggalin di rumah sendirian?". Tanya Grace yang mengingat sang Ayah pasti sendirian di rumah mereka. Semenjak Grace menikah, dia juga sudah jarang mengunjungi Ayah di rumahnya. Wanita itu berpikir akan mengajak Rey menginap di rumah suatu hari nanti karena rindu pada sang Ayah.
"Ohh. Ayah ikut jadinya". Jawab Glenn sambil menatap ke depan menyimak sedikit arahan ketua kelompok game.
"Serius Lo". Mendengar itu Grace menjadi semakin kegirangan.
"Dimana, dek?'. Tanyanya lagi.
"Lo, nggak lihat apa daritadi. Ayah udah duduk di samping Mas Rey. Tuh!". Ucap Glenn menggerakkan dagu ke arah Ayahnya yang sedang duduk di dekat Rey, menantunya.
Seketika itu juga Grace mengarahkan pandangannya dan melihat sang Ayah tampak asyik mengobrol bersama sang suami. Grace dapat melihat, Ayahnya sedang tersenyum sambil menceritakan sesuatu, yang entah apa menurutnya. Sedangkan Rey, sang suami malah tertawa mendengar cerita Ayahnya tersebut. " Apa yang mereka omongin" Ucap Grace lirih ketika melihat interaksi tersebut. Wanita itu curiga kalau sang Ayah menceritakan sesuatu pada Rey yang bisa membuatnya malu di kemudian hari dan menjadi bahan ejekan Rey nantinya.
Mendengar arahan ketua kelompok yang menyuruh Grace untuk fokus berbaris, seketika itu juga Grace langsung mengalihkan tatapannya pada kelompoknya dan memilih untuk fokus ikut bermain.
Merasakan tepukan lembut di bahunya, Grace seketika menoleh ke belakang. "Kita satu kelompok ternyata" Ucap seseorang itu yang tak lain adalah Reno.
"Ehh iya Ren" Jawab Grace basa-basi.
"Kelompok kita saingan nih kayaknya, mas" Glenn menyahuti mereka di sebelahnya.
"Hmm, palingan voucher menginap di hotel, Mas" Jawab Glenn sekilas berpikir.
"Ehh, Lo ngapain ikut main ,dek. Nggak adil dong secara Lo kan ketuanya?". Tanya Grace yang baru menyadari kalau Glenn adalah ketua acara.
"Ya kali mbak. Gue kan pengen berpatisipasi juga. Nggak cuma suruh sana suruh sini" Jawab Glenn dengan bangganya.
"Hahaha rendah hati juga Lo" Kata Reno yang menyahuti.
"Yoi, Mas, beruntung banget entar istri gue. Dapat suami macem gue" Ucap Glenn seperti biasanya yang menunjukkan jiwa kenarsisan pria itu.
Reno tertawa mendengar pengakuan yang percaya diri tersebut, sementara Grace jangan ditanya. Wanita itu cuma menggelengkan kepalanya sudah bosan mendengar ucapan narsis yang keluar dari mulut sang adik.
****
Kali ini Game sudah mulai dilaksanakan, game pertama yang dilakukan adalah berjalan menyusuri jalan tanpa menginjak pembatas di sisi kanan kiri mereka, yang sudah di buat oleh panitia dengan menggunakan penutup mata. Setiap masing-masing anggota kelompok harus menyusuri jalan tersebut tanpa menginjak pembatas yang sudah di tentukan dengan mata yang tertutup menggunakan kain agar tidak bisa melihat pembatas jalan.
Agar game tersebut bisa dimenangkan, maka anggota kelompok harus memegang pundak rekan didepannya satu dengan yang lainnya dan mulai berjalan mengikuti arahan rekan yang ada di barisan paling depan.
"Grace, aku boleh pegang bahu kamu?". Tanya Reno meminta izin saat game sebentar lagi di mulai.
Grace menganggukkan kepala tanda mempersilahkan. Dengan tidak sungkan dan senang hati, Reno langsung mendaratkan tangannya di pundak Grace yang terkesan mungil di tangannya ketika memegang bahu wanita tersebut. Menyentuh dengan sepenuh hati dan Reno merasa kalau jantungnya semakin berdebar-debar kalau dekat dengan Grace di saat seperti ini. Pria itu menyadari ini adalah kali pertama dia menyentuh Grace dengan seizin wanita itu tanpa adanya rasa keberatan dan itu akhirnya terwujud karena sebuah game.
Sementara itu tak jauh dari tempat game diadakan. Tanpa mereka berdua ketahui, pemilik dari tubuh wanita itu memandang mereka dengan tatapan tajam. Grace yang malah asyik dan fokus mengikuti game yang di instruksikan dan Reno yang tersenyum dengan lebarnya saat berjalan mengikuti arah rekan yang ada di depan mereka dengan penutup mata. Dan senyuman itu tak luput dari pandangan Rey yang melihat kalau bahu istrinya di sentuh oleh pria lain selain dirinya.
Membuat hati Rey merasa memanas dan menunggu untuk sesi game itu selesai terlebih dahulu. Baru dia akan menyusul sang istri yang sudah hampir di tikung darinya di depan mata.
Sesi pertama game tersebut sudah selesai, kini kelompok Grace harus berbalik kembali ke tempat semula masih dengan alur permainan yang sama yaitu dengan menggunakan penutup mata tanpa menginjak pembatas.
Sesi kedua belum dimulai tiba-tiba Reno merasa tanganya ditarik oleh orang lain dan membuat pegangan di bahu Grace terlepas. Seketika itu juga Reno membuka penutup matanya dan ingin memarahi orang tersebut. Namun tidak jadi, karena ketika dia membuka penutup matanya, lelaki itu bisa melihat bahwa orang tersebut adalah Rey, suami dari Grace, pemilik tubuh wanita itu.
"Ren?". Ucap Grace dengan mata tertutup karena pegangan Reno di bahunya yang terlepas.
"Buruan, permainannya mau di mulai lagi". Ucap Grace yang menepuk pundaknya sendiri agar di pegang oleh Reno kembali.
Rey langsung mengambil barisan Reno dan membuat pria itu posisinya menjadi di belakang Rey. Lagi-lagi Reno gagal maning...gagal maning dan hanya bisa pasrah menyentuh pundak Rey yang berada didepannya.
Sementara itu Grace yang belum menyadari kalau sang suami kini sudah menggantikan Reno dibelakang tubuhnya, hanya diam saja dan mengikuti permainan kembali supaya bisa di menangkan. Lumayan kalau menang dia akan mengajak suaminya untuk menginap di hotel, dan menghabiskan waktu berdua. Memikirkan itu membuat Grace tersenyum dengan pipi yang merona merah.
Merasakan pegangan di bahu, yang berbeda dari sebelumnya yang kali ini terkesan lebih lembut dan tegas. Grace dengan sengaja menyentuh tangan tersebut yang dia pikir masih tangan Reno. "Lo, kenapa diam aja Ren" kata Grace sambil menyentuh tangan itu sekilas lalu menurunkan tangannya.
"Ini aku, kamu ikutin aja permainannya" Ucap suara yang sangat familiar sekali di telinga Grace. Tanpa bisa melihat orang di belakang dan menyadari raut wajah Reno yang sudah lesu dan tidak ingin melanjutkan permainan lagi.
Selanjutnya
Sabar ya Ren.. Yang kuat hahahha