Grace

Grace
Kehamilan



Di pagi buta seperti sekarang ini, Grace kembali muntah-muntah dan mengeluarkan makanan yang seharian penuh dia masukkan ke dalam perutnya.


Kali ini Rey, membantu wanita itu di dalam kamar mandi. Memijit tengkuk kepala serta mengelus punggung Grace, saat wanita itu masih muntah.


"Kamu kenapa sih?" tanya Rey dengan khawatir.


"Udah berapa hari ini Kamu muntah terus, Kita cek ke dokter ya." Jawab Rey lagi sambil memijit tengkuk Grace untuk membantu Istrinya itu di kamar mandi.


Grace hanya menggelengkan kepalanya, Dia bingung mau menjawab pertanyaan Rey. Saat ini jangankan untuk menjawab pertanyaan tersebut, berpikir saja sudah membuat dia kembali mual.


Setelah beberapa lama mereka di kamar mandi, Rey kemudian mengusap Wajah Istrinya itu menggunakan tisu basah. Melihat wajah Grace yang pucat sungguh membuat lelaki itu takut ada apa-apa pada Istrinya.


"Nanti jam makan siang, Aku jemput Kamu. Habis itu Kita ke dokter ya," ucap Rey menuntun Istrinya itu untuk keluar dari kamar mandi.


Lagi-lagi Grace tidak menjawab, Wanita itu hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu Sang Suami ketika Rey menuntunnya.


Merasa Grace tidak sanggup untuk berjalan, Rey pun segera menggendong tubuh Istrinya untuk dibaringkan kembali ke ranjang mereka.


Grace tidak menolak perlakuan Rey, malah semakin mempererat pelukan mereka dan mencium aroma tubuh Suaminya. Yang akhir-akhir ini menjadi favorit Grace.


Rey menaikkan selimut untuk membungkus tubuh Istrinya itu, sampai batas dada.


"Mau kemana?" tanya Grace dengan suara lemah saat Rey hendak meninggalkannya.


"Aku mau ngambil minum buat Kamu," jawab Sang Suami.


"Tunggu sebentar," kata Rey lagi dan mendapat anggukan dari Grace.


***


"Ini minum dulu," Rey menyodorkan air hangat pada Grace sambil mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang.


Dengan sigap Rey membantu posisi tubuh Istrinya supaya bisa duduk di kepala ranjang.


Grace pun menerima dengan patuh air hangat tersebut dan segera meminumnya. Membuat tubuhnya menjadi hangat seketika, meskipun rasa pusing dan mual masih melanda.


"Masih pusing?" tanya Rey dan Grace hanya mengangguk dengan lemah.


Rey mengusap wajah Istrinya itu dengan lembut penuh kasih sayang, membuat Grace semakin ingin dimanja.


"Peluk," kata Grace tiba-tiba.


"Hagh?" Rey melongo masih bingung dengan ucapan Istrinya barusan.


"Peluk Kak," jawab Grace dengan lemah. Wanita itu dengan sengaja semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Rey untuk menghirup aroma tubuh Suaminya dalam-dalam.


Rey terkekeh, "Kamu sakit tapi masih bisa manja." ucap Rey saat Lelaki itu sudah memeluk Istrinya.


Grace pun mencebikkan bibirnya tidak suka, "Jadi Kamu nggak ikhlas Aku peluk," jawab Grace dengan ketus.


Oke. Sepertinya Grace akan kembali merajuk, kalau permintaannya tidak dituruti.


"Nggak Sayang, Aku senang kok." Rey menjawab dengan jurus andalannya memanggil Istrinya dengan sebutan Sayang.


Biasanya kalau Grace merajuk, Rey cukup membujuknya dengan panggilan Sayang atau menuruti permintaannya. Itu sudah cukup membuat Istrinya tidak merajuk lagi.


"Kita pelukannya sambil tiduran aja ya, pegel Grace," keluh Rey sambil tertawa agar Sang Istri tidak marah.


Belum sempat Grace menjawab permintaan dari Suaminya itu. Dengan gerakan cepat Rey merebahkan tubuh mereka berdua dan segera kembali membawa Istrinya itu ke dalam pelukannya.


Tidak ada pembicaraan dari mereka berdua.


Rey yang masih mengelus rambut Sang Istri sambil memejamkan matanya karena ingin tidur kembali.


Sementara Grace yang masih sibuk berpikir mengenai gejala beberapa Minggu ini yang dia alami.


Grace bukan Wanita yang tidak tahu mengenai ciri-ciri awal kehamilan, setelah menikah dan Mertuanya menuntut untuk segera mempunyai cucu. Grace banyak membaca buku dan informasi seputar kehamilan.


Dari beberapa minggu yang lalu saja, dia sudah mulai curiga dengan keanehan yang terjadi ditubuhnya.


Tetapi Wanita itu tidak mau berasumsi dengan cepat dan berpikir berlebihan. Takut tidak sesuai dengan harapannya dan membuat hatinya kecewa karena sudah berharap lebih.


"Kak?" tanya Grace dengan mendongakkan kepalanya supaya dia melihat wajah Rey.


"Hm,"


Ada keraguan terlintas di pikiran Grace sebelum mengucapkan sesuatu pada Rey.


Rey pun membuka matanya kembali dan menatap Istrinya itu.


"Kenapa?" tanya Rey kemudian saat Grace masih ragu-ragu mengucapkan sesuatu.


"Aku telat," jawab Grace dengan ambigu. Membuat dahi Sang Suami berkerut bingung.


"Maksudnya?" tanya Rey lagi.


"Hmm.... Aku telat datang bulan," Grace menundukkan kepalanya.


Rey sejenak terdiam, berusaha menelaah perkataan Istrinya


"Sudah berapa lama?" tanya Rey, dengan suara yang dalam berharap hal yang sama dengan apa yang Grace inginkan.


"Hampir 2 bulan," jawab Grace semakin memeluk Sang Suami dengan erat.


Wanita itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rey.


"Apa jangan-jangan, Adek sudah ada di perut ya Kak?" tanya Grace. Berpikir ke arah sana membuat Grace senang. Tetapi dia takut tidak sesuai dengan harapannya.


Grace merasakan elusan lembut di perutnya. Ternyata Rey yang mengelusnya dan berharap hal yang sama.


"Semoga saja, nanti kita cek ke dokter." jawab Rey sambil mencium pucuk kepala Istrinya itu.


"Kalau hasilnya nggak sesuai harapan kita, Kamu marah nggak?" tanya Grace berhati-hati.


Rey menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Ya enggaklah Sayang, kalau belum berhasil, tinggal kita coba tiap hari." Ucap Sang Suami sambil terkekeh.


Grace mencubit pinggang Suaminya itu, "Kamu selalu aja mesum." jawab Grace, namun dia tersenyum juga mendengar perkataan Rey.


"Aku nggak keberatan kok, kalau kita lakuin tiap hari. Aku kuat kok," jawab Rey lagi.


"Kalau hasilnya nanti dikatakan Aku belum hamil. Kita langsung program aja ya Kak." Pinta Grace kepada Suaminya itu.


Selama ini Grace berulang kali ingin mengikuti program kehamilan, namun Rey selalu saja mengatakan nanti-nanti saja. Karena mereka juga masih muda dan usia pernikahan mereka juga belum lama.


Rey sejenak berpikir, "Iya, " ucapnya kemudian menyetujui permintaan Sang Istri untuk mengikuti program kehamilan.


"Semoga saja nanti hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan," kata Rey lagi seperti berdoa di dalam perkataan tersebut.


"Amin," jawab Grace semakin memeluk pinggang Suaminya itu. Berharap doa dan harapan mereka segera dijawab oleh Sang Maha Kuasa.


***


***


Grace pun menghembuskan napasnya kasar, dia sungguh bosan di dalam rumah karena tidak ada yang bisa diajak untuk mengobrol.


Grace melihat sekeliling apartement untuk mencari-cari kerjaan, namun tetap saja semuanya sudah dia bereskan tadi pagi.


Tiba-tiba satu ide melintas di kepalanya, Wanita itu segera mengambil handphone dan menghubungi seseorang di luaran sana.


Setelah beberapa deringan, akhirnya si penerima telfon mengangkat panggilan tersebut.


"Apa kabar Lo, setelah resign sepertinya Lo lupa sama Gue" ucap seseorang itu dengan nada yang ketus.


Grace pun terkekeh mendengar suara sahabatnya itu. Siapa lagi kalau bukan Wenny.


"Baik Wen, Lo apa kabar?" tanyanya.


"Dasar Lo ya, baru nanya kabar sekarang. Kemarin-kemarin kemana aja Lo?" tanya Wenny masih dengan nada yang jutek.


"Sorry ada urusan pribadi," jawab Grace.


"Kirain, Lo lupa sama Gue"


"Ya nggaklah. Sensitif amat neng" jawab Grace dengan terkekeh.


" Lagi dimana Lo, Grace?"


"Biasa di apartemen"


"Ohh,"


"Lo udah makan siang, Wen?" tanya Grace kemudian.


"Ini lagi makan siang bareng Rezi," jawab Wenny di seberang sana.


"Gimana persiapan pertunangan kalian?" tanya Grace yang melupakan kalau sebentar lagi sahabatnya itu akan bertunangan.


"Sudah rampung, tinggal tunangan aja hehehe," jawab. Wenny dengan terkekeh.


"Baik-baik Lo sama calon tunangan Lo itu," nasihat Grace pada Wenny.


"Iya-iya cerewet banget sih Lo," jawab Wenny kemudian.


"Wen?" tanya Grace di sela-sela obrolan mereka.


"apaan?"


"Gue mau cerita,"


"Ya elah Grace, cerita ya cerita aja kali. Nggak usah ngulur-ngulur waktu"


Grace cengegesan tidak jelas mendengar jawaban dari Sahabatnya tersebut.


"Gue penasaran Wen?"


"Sana siapa Lo penasaran?" tanya Wenny


"Sama tubuh Gue,"


"Maksudnya?" tanya Wenny dengan bingung.


"Akhir-akhir ini Gue ngalamin mual, harusnya siang ini Gue mau ngecek bareng Kak Rey ke dokter. tapi dianya sibuk, jadi nanti sepulang kantor deh," jawab Grace mengembuskan napasnya.


"Lo hamil?" tanya Wenny dengan hati-hati takut menyinggung.


"Gue berharap gitu Wen, tapi Gue penasaran banget pengen cepat tahu. Gue hamil atau nggak" jawab Grace.


"Gimana menurut Lo, Wen? atau Gue pergi cek sendiri aja kali ya? Lo mau temenin Gue nggak?" tanya Grace dengan semangat, saking tidak sabarnya menunggu kepulangan Sang Suami.


"Coba Lo test dulu pakai testpack," kata Wenny memberi saran.


"Hagh? iya juga ya, kenapa Gue nggak kepikiran kesana." Grace menepuk jidatnya melupakan satu hal tersebut.


"Daripada Lo pergi sendiri, entar Suami Lo marah lagi. Mending Lo test sendiri dulu," jawab Wenny.


Seperti menemukan ide yang brilian, Grace segara berdiri dari duduknya.


"Ada gunanya juga cerita sama Lo, Wen" kata Grace tersenyum dengan sumringah memiliki sahabat seperti Wenny, meskipun terkenal judes.


"Kalau hasilnya baik, traktir Gue " jawab Wenny seperti biasa dan Grace pun hanya mengiyakan sebelum menutup panggilan tersebut dan membeli test kehamilan yang berada di apotik dekat apartemennya.


***


Jantung Grace berdegup kencang, saat wanita itu sudah berhasil membeli alat test kehamilan seperti disarankan Wenny sebelumnya.


Grace masih duduk di kloset sambil menunggu hasil yang akan di tampilkan oleh alat tersebut.


Wanita itu menutup matanya rapat-rapat, serta merapalkan doa di bibirnya. Berharap hasilnya sesuai dengan apa yang dia perkirakan selama ini.


Sejenak Grace mengembuskan napasnya untuk menenangkan diri.


"Apapun hasilnya, Lo harus terima Grace. Jangan kecewa. Oke!" Grace berbicara pada dirinya sendiri untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.


Setelah menunggu hampir 10 menit, dengan tangan gemetar Grace pun membuka matanya dengan takut-takut.


Wanita itu mengintip secara perlahan testpack tersebut.


Hal yang pertama dia dapati setelah membuka matanya dengan sempurna adalah garis dua di testpack itu.


Grace pun membulatkan matanya dengan sempurna sambil menutup mulutnya tidak percaya, berulang kali dirinya mengucek matanya dan memastikan penglihatannya tidaklah salah.


Berkali-kali Grace membaca petunjuk penggunaan testpack mengenai hasilnya. Dan kali ini dia tidak salah lihat lagi.


"Gue positif," teriaknya kegirangan, wanita itu masih tidak percaya.


"Astaga ini beneran?" lagi-lagi Grace berbicara sendiri di dalam kamar mandi dan mengecek testpack tersebut.


"Terima kasih Tuhan, Terima kasih." ucapnya sambil menangis tidak percaya, dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat ini.


Senang, lega, haru menjadi satu bercampur di dalam dadanya


Akhirnya dia sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


"Bu, Grace hamil," kata Grace lagi seperti berbicara pada Ibunya yang telah tiada.


*


*


*


Akhirnya si pameran utama hamil juga yaa, mana nih para readers yang kemarin-kemarin minta si mbak Grace hamil wkwkwkwk. Beri ucapan selamat gengkss wkwkwkkw, akhirnya setelah sekian purnama dia hamil juga.