
Selagi menunggu suaminya yang sedang mandi, Grace duduk di ruang tamu dengan menonton acara yang disiarkan di televisi tersebut sambil mengisi perutnya memakan keripik kentang yang menjadi favoritnya jika ada waktu luang untuk menonton.
Wenny yang akan datang ke apartemen mereka untuk menjemput Grace, mengabarkan kalau telat 1 jam dikarenakan macet diakhir pekan. Bersantai sejenak sambil menunggu Wenny datang.
"Jam berapa Wenny datang?". Tanya Rey yang sudah selesai mandi dan menghampiri istrinya untuk duduk di sofa.
"Dia telat kayaknya, 1 jam lagi kemungkinan baru sampai" Jawab Grace yang melirik jarum jam di apartemen mereka.
"Ohh". Merangkul bahu sang istri.
"Ayo makan!" Kata Grace yang beranjak dari sofa tersebut kemudian Rey yang mengikuti langkah kaki Grace untuk segera menuju dapur.
"Aku cuma sempat masak ini" Kata Grace yang menyiapkan sarapan mereka berdua dengan omelette di pagi hari.
"Tidak apa-apa". Ucap Rey
"Teh aku mana?". Tanya Rey lagi.
"Oh, iya sebentar Kak. Aku buatin" Grace yang kelupaan untuk menyeduh teh untuk suaminya itu segera beranjak kembali untuk segera membuatkan teh.
"Sudah tidak apa-apa, duduklah". Perintah Rey kepada istrinya.
"Tapi teh kamu?". Tanya Grace yang masih belum kembali ke meja makan.
"Nggak apa-apa, kemari". Ucap Rey.
"Baiklah" Jawab Grace yang sudah kembali ke meja makan mereka untuk menikmati sarapan.
"Gimana enak?". Tanya Grace kepada suaminya. Selama mereka menikah Rey sama sekali tidak pernah memuji atau mengatakan masakannya enak atau tidak. Rey hanya memakan saja tanpa adanya pujian atau sekedar saran, mungkin. Pikir Grace.
"hmm..." Menjawab seperti biasa
Grace tampak menghela nafasnya, mempunyai suami yang terkadang menyebalkan dan terkadang dingin seperti sekarang ini, dia harus banyak-banyak bersabar untuk menghadapinya.
Saat mereka berdua masih larut dalam keheningan di meja makan dan fokus untuk menyantap sarapan mereka, tiba-tiba bel apartemen mereka berbunyi tanda ada tamu yang datang di pagi ini.
"Wenny mungkin kak" Jawab Grace yang beranjak dari tempat duduk dan segera membukakan pintu.
Seperti dugaannya, memang Wenny yang datang untuk menjemput Grace di apartemen mereka serta membawa Reno ikut bersamanya. Kenapa Reno tiba-tiba kesini? Tanya Grace dalam hatinya
"Haii". Sapa Reno seperti biasa dengan senyuman yang manis kepada Grace sambil melambaikan tangannya.
"Ehh.. Wenn bukannya Lo bilang telat?". Jawab Grace
"Ternyata di luar dugaan gue , Grace. Jalannya lumayan lancar tadi. Oh Iya... Grace, sorry. Gue ajakin Reno. Soalnya nih anak mobilnya lagi di service. Jadi dia nebeng kita berangkatnya". Kata Wenny yang memberikan penjelasan.
"Kita boleh masuk nggak nih?". Tanya Reno karena pemilik rumah masih menahan mereka di depan pintu.
"ohh...iya. Silahkan masuk" Jawab Grace kelagapan ketika menyadari belum mempersilahkan tamunya masuk.
Setelah dipersilahkan masuk, Reno melihat sekeliling apartement tersebut. Yang menampilkan apartemen minimalis sederhana dimana hanya ada ruang tamu yang berukuran kecil dan dapur yang minimalis juga. Melihat-lihat seperti apa keadaan di dalam yang memang menampilkan kesan apartemen pada umumnya.
"Kami sedang sarapan, Wen. Ayo gabung. Reno sini" Ucap Grace yang mengajak temannya itu untuk sarapan pagi bersama.
"Kalian sudah sarapan?". Tanya Grace lagi karena melihat wajah Wenny yang sungkan.
Wenny ingin menolak ajakan sahabatnya tersebut, sebelum dia mengeluarkan suara. Tiba-tiba Reno sudah berbicara dan memotong ucapannya. "Belum Grace" Jawab Reno sambil nyengir dan mengusap perutnya.
" Ya udah. Ayo" Ucap Grace sambil menggandeng lengan Wenny dan mempersilahkan Reno untuk bergabung.
Rey yang melihat ada Reno, tamu yang tidak diinginkan datang ke apartemen mereka secara tiba-tiba, hanya bisa menerima saja dengan pasrah.
"Ayo. Silahkan Wen. Reno" Ucap Grace menarik dua kursi yang berada di bawah meja. Sementara Grace berpindah duduk menjadi di sebelah Rey.
Rey yang sedari tadi diam, tanpa mempersilahkan kedua tamunya untuk makan bersama membuat Wenny menjadi sungkan, dan seperti tidak enak pada tuan rumah.
Grace menyadari akan sikap sahabatnya tersebut, akhirnya menyenggol lengan Rey agar mempersilahkan mereka untuk bergabung. Memberi kode dengan kedua matanya supaya sang suami mengajak tamu mereka.
"Ayo, silahkan" Ucap Rey akhirnya mempersilahkan.
"Terimakasih, Kak" Jawab Wenny yang mulai duduk. Sementara Reno hanya bersikap santai saja, acuh dan terkesan bersikap cuek meskipun wajah sang tuan rumah alias suaminya Grace menampilkan raut wajah yang dingin.
"Iya Ren. Sorry kalau rasanya nggak sesuai selera Lo. Gue juga baru belajar masak" Jawab Grace yang menyodorkan lauk lainnya ke hadapan mereka berdua, supaya dicicip. Lupa dengan panggilan aku kamunya Reno. Dan sang suami menatap Reno sekilas tanpa Reno ketahui.
"Enak kok" Ucap Reno sudah mulai menyantap tanpa melirik sang pemilik rumah yang hanya fokus dengan makanannya.
"Wen. Nggak usah malu-malu gitu Lo." Kata Grace pada Wenny tampak malu-malu biasanya juga malu-maluin.
"Hebat juga kamu Grace" Lagi-lagi Reno yang berbicara di meja makan.
"Wahh, senangnya kalau aku punya istri seperti kamu, Grace" Ucap Reno tanpa tahu malu sambil memakan sarapannya.
Mendengar hal tersebut membuat Rey berdehem sebentar. "Aku sudah selesai". Ucapnya segera beranjak dari meja makan.
"Ehhh. Iya Kak." Jawab Grace yang menyusul Rey untuk membantu keperluan suaminya sebelum ke kantor di sabtu ini.
"Gue, tinggal bentar. Kalian habisin aja ya makanannya. Nggak usah sungkan" Pamit Grace pada kedua temannya sebelum menyusul sang suami yang sudah berada di dalam kamar mereka.
Tampak Wenny dan Reno menganggukkan kepala mereka mendengar ucapan Grace tersebut.
Sesampainya di kamar, Grace malah mendapati Rey malah berganti baju dengan baju santai miliknya.
"Loh, katanya mau ke kantor dulu kamu, Kak?". Tanya Grace yang sudah berada di hadapan Rey.
"Nggak jadi" Jawab Rey sambil memakai jam tangannya.
Grace mengerutkan dahinya seketika, "kenapa lagi, nih anak". Ucapnya dalam hati melihat tingkah suami yang plin plan.
"Kenapa?". Tanya Grace
"Kamu berangkat ke Bogor sama aku. Aku nggak jadi ke kantor". Jawab Rey dengan berjalan menghampiri tas yang mereka persiapkan tadi.
"Kenapa tiba-tiba?". Tanya Grace masih bingung.
"Tadi kata kamu berangkat nya sama Wenny. Kenapa sekarang ada temen kamu itu?". Tanya Rey yang mulai sewot menjawab.
Oke.. Grace mulai mengerti sampai disini . Ternyata kalau suaminya sudah menunjukkan tanda-tanda cemburu lagi pada Reno.
"Ohh. Dia mau berangkat bareng, Kak. Mobil dia lagi di service". Jawab Grace menjelaskan kenapa Reno berangkat bareng mereka nanti.
"Ck, alasan dia aja itu. Aku tahu mobil di rumahnya itu banyak, Grace." Jawab Rey sambil berdecak tanda tidak suka.
"Yaa. aku mana tau, Kak" Jawab Grace sambil mengangkat bahunya.
"Kamu berangkat bareng aku" Suara terdengar tidak ada bantahan.
"Jadi nggak ke kantor, nih?". Tanya Grace balik.
"Nggak". Jawab Rey yang masih ketus.
Grace seketika tertawa melihat aksi cemburu suaminya itu.
"Kenapa kamu tertawa?". Rey menjawab dengan jengkel
"Nggak kamu lucu juga kalau cemburu" Kata Grace.
"Udah deh, nggak usah mulai" Jawab Rey yang sudah selesai mempersiapkan tas mereka untuk berangkat.
"idihh.. kamu ini" Ucap Grace mengelus pipi suaminya kemudian mencium pipi Rey yang membuat pria itu tersenyum dan tidak menampilkan wajah yang galak lagi.
"Aku ke depan dulu. Nggak bagus ninggalin mereka lama-lama" Kata Grace lagi yang sudah mulai beranjak keluar dari kamar tanpa menyadari senyuman sang suami masih terlihat di wajahnya yang semakin tampan.
Selanjutnya
***
Ini, Author buat yang manis manis dulu yaa. Jangan sampai diabetes kalian.
Author udah ada konfliknya sih, tapi naskah nya belum Author kembangin. Jadi kita baca dulu romantisnya kedua pasangan ini dan kegigihan Reno yang membuat babang Rey kebakaran jenggot.
Vote nya di tahan dulu untuk besok aja. Thankyou readers sayang ♥️