
Grace yang belum sempat menjawab pertanyaan dari Mertuanya itu.
Kini dengan tiba-tiba, Rey kembali bergabung bersama mereka untuk duduk di sebelah Grace saat ini.
Tampak Farhan juga ikut bergabung di sebelah Istrinya. Setelah Rey menghampiri Farhan di ruang kerjanya dan menceritakan sesuatu untuk dibahas. Farhan segera menyusul putranya tersebut untuk mendengar apa yang perlu mereka bahas.
"Ma" Sapa Rey pada Anita, ketika mendaratkan tubuhnya di samping Grace.
"Hm" Anita menjawab dengan sedikit malas, karena kesal kalau mengingat Rey membentaknya untuk pertama kali ketika Putranya itu terakhir berkunjung.
Sementara Grace hanya diam saja, tidak ingin untuk banyak berbicara saat ini.
"Kamu apa kabar, Grace?" Akhirnya Farhan yang menanyakan kabar Menantunya tersebut.
Grace kemudian menoleh ke arah Farhan, "Baik Pa," jawab Grace.
"Papa dengar Kamu sudah resign dari kantor?" tanya Farhan lagi.
Grace menganggukkan kepala, "Iya Pa, Grace sudah resign dari perusahaan." Jawab Grace sambil melirik ke arah Anita yang tidak membuka suara sejak tadi.
Rey yang sedari tadi, duduk di sebelah Istrinya itu kemudian merangkul bahu Grace dan tersenyum ke arah Istrinya.
"Lagipula Grace sedang hamil Pa, Ma. Jadi seharusnya nggak boleh terlalu lelah." Timpal Rey dan membuat Farhan serta Anita terkejut mendengar ucapan tersebut.
"Kamu hamil, Grace?" tanya Anita. Raut wajah yang sangat terkejut tercetak jelas di wajahnya.
Grace menggangguk dengan malu, namun wajah yang bahagia tak lupa dia sematkan sebelum menjawab Sang Mertua.
"Iya, Ma." Jawabnya tersenyum ke arah Anita yang masih nampak terkejut dan belum percaya mendengar berita barusan.
Farhan tersenyum dengan senang, lelaki paruh baya itu tidak menyangka sebentar lagi dia akan menjadi seorang kakek.
"Ma, sebentar lagi kita punya cucu." Seru Farhan, raut wajahnya terlihat sangat senang sekali mendengar kabar bahagia tersebut.
Anita menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan Sang Suami.
"Wah, Selamat Nak. Akhirnya kalian akan menjadi orangtua." Lagi-lagi Farhan yang banyak berbicara.
Sementara Anita, hanya diam saja. Pikirannya menerawang jauh masih sulit untuk mencerna ataupun untuk merespon kabar tersebut.
"Makasih, Pa." Rey menjawab Farhan, rasanya dia juga masih belum percaya sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.
Ternyata begini rasanya, dia akan menjadi seorang Ayah. Pantas saja pasangan yang telah menikah sangat senang sekali kalau mendapatkan anugerah yang seperti ini.
"Mama nggak kasih ucapan selamat?" Sergah Farhan kemudian karena Istrinya itu diam sedari tadi.
Mendengar ucapan dari Sang Suami, Anita pun langsung gelagapan untuk menjawabnya.
"E... eh. Selamat Grace. Jaga kandungan Kamu baik-baik." Ucapnya kemudian yang terdengar dingin.
Tetapi Grace hanya mencoba untuk selalu berpikir positif pada Mertuanya itu. Tidak akan terlalu berpikir keras bagaimana menghadapi Anita.
Yang hanya dia pikirkan adalah selama menjalani kehamilannya ini dia harus bahagia dan tidak boleh stress agar calon anak mereka tetap sehat.
"Iya. Benar itu. Kamu harus jaga kandungan Kamu, Nak. Dan Kamu juga Rey harus menjadi Suami yang siaga." Farhan membenarkan perkataan dari Istrinya barusan.
Rey menganggukkan kepalanya mengerti, "Iya Pa. Pasti." Ucap lelaki itu kemudian.
"Jangan ceroboh, Grace. Kamu kan orangnya sangat ceroboh." Timpal Anita lagi secara tiba-tiba, masih memberikan nasihat pada calon ibu dan ayah itu.
"Iya, Ma. Grace mengerti." Grace menjawab dengan nada kalem.
Terserahlah apapun perkataan yang diucapkan oleh Anita. Saat ini Grace hanya akan mendengar ucapan dari Dokter mereka saja kalau masalah kandungan.
Sementara perkataan Anita hanya dianggap selingan saja oleh Grace. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Daripada dia sakit hati mendengar ucapan dari Sang Mertua, mending dia tidak terlalu bawa perasaan apapun yang diucapkan Anita.
***
***
Hari demi hari pun berlalu, seperti apa yang menjadi nasehat oleh Farhan. Saat ini Rey selalu menjadi Suami yang siaga untuk Istrinya.
Menghadapi tingkah laku Grace yang terkadang manja dan mood swing justru membuat Rey tidak banyak mengeluh menuruti permintaan Istrinya itu.
Seperti saat ini, Rey yang harus disibukkan oleh rutinitas pekerjaannya harus banyak bersabar.
Sedari pagi, Grace sudah membangunkan lelaki itu untuk mengajaknya keliling kompleks apartemen mereka untuk mencari bubur ayam.
Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi yang seharusnya Rey tengah bersiap untuk berangkat ke kantor. Malah sibuk menemani Istrinya untuk mencari bubur ayam tersebut sejak subuh dan sampai sekarang belum ketemu.
"Apa Aku bilang, di sekitaran sini itu nggak ada Grace yang jual bubur ayam. Mending kita order aja ya." Ucap Rey untuk membujuk Istrinya itu supaya mereka kembali ke apartemen.
"Tapi aku pernah liat di sekitar sini itu ada yang jual Kak." Grace masih tetap bersikukuh kalau di sekitar apartemen mereka itu ada yang menjual bubur ayam.
Terlihat Grace berpikir untuk mengingat, "Kapan ya?" ucapnya dengan nada yang menggantung tak lupa dengan pipi tembemnya yang semakin berisi. Membuat Rey semakin gemas untuk mengigit.
Namun pria itu tahan, karena tempat mereka sekarang ini adalah tempat umum.
"Lupa Kak." Jawab Grace akhirnya dengan menyengir seperti orang tidak berdosa.
"Kayaknya yang aku lihat itu, penjual bubur kacang hijau deh, bukan bubur ayam." Kata Grace lagi memberitahu Sang Suami kalau dugaannya salah.
Gubrak
Seketika itu juga Rey ingin guling-guling di jalan raya mendengar penuturan dari Istrinya itu tanpa rasa berdosa sama sekali.
Jadi hampir satu jam mereka keliling kompleks apartemen ternyata salah dan hanya sibuk berputar putar saja.
Rey memijit pangkal hidungnya.
Sabar.... sabar.... Istri Gue lagi hamil. Ucap pria itu dalam hati.
"Hehehe... Kita kembali ke apartemen lagi aja ya, Kak. Terus pakai mobil cari bubur ayam di kompleks sebelah." Kata Grace sambil berlalu meninggalkan Sang Suami yang masih kebingungan menuruti permintaannya.
Rey pun menyusul Istrinya itu dan mencekal lengannya dengan lembut.
"Sayang.... Aku udah telat ke kantornya. Kalau kita keliling lagi. Akunya pasti dimarahi Papa . Kita order aja ya." Pinta Rey dengan nada yang memelas supaya Istrinya itu mau dirayu.
"Emang sekarang jam berapa?" tanya Grace memiringkan kepalanya dengan imut.
Rey melihat jam di pergelangan tangannya, "Jam 7." jawab Rey.
"Hmmm.... ya udah kita order aja. Tapi nanti malam kita makan malam di restoran sea food ya, Kak." Ucap Grace.
Yes..... Akhirnya. Pikir Rey dalam hati.
"Iya... iya apapun keinginan Kamu nanti malam aku turutin deh." Kata Rey dengan senangnya.
"Kita pulang ya, bubur ayamnya kita order di rumah aja." Rey merangkul bahu Istrinya itu dengan lembut seraya mencium puncak kepala Grace.
Istrinya ini semakin hari semakin menggemaskan saja.
***
***
Setelah menghabiskan bubur ayam yang menjadi kesukaannya Grace. Lelaki itu masih menemani Sang Istri di meja makan untuk menghabiskan sarapan mereka. Tiba-tiba handphone Rey berbunyi. menampilkan nama Anita disana
Dengan sigap Rey pun mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Ma?"
"Kamu dimana Rey, jam segini kok belum berangkat ke kantor?"
"Masih di apartemen. Tumben Mama telpon pagi-pagi begini. Ada apa Ma?" tanya Rey.
"Ini Mama lagi di kantor nemenin Papa Kamu. Hari ini Papa lagi sakit tapi dia maksa buat ke kantor jadinya Mama nemenin."
"Oh.." Jawab Rey singkat.
"Kamu buruan kesini, sebentar lagi ada rapat."
" Loh rapat apa Ma?" Rey tidak tahu kalau ada rapat dadakan tersebut.
Terdengar decakan malas dari Anita.
"Kamu gimana sih Rey. Kan Minggu ini kita ada pembukaan cabang baru di Banding. Kan Kamu yang gantiin Papa kesana nanti. Oh iya bareng Sasa juga."
Rey memutar bola matanya malas mendengar perkataan dari Anita.
"Alan aja deh Ma yang gantiin aku kesana."
"Nggak bisa, Sasa maunya Kamu yang kesana nemenin dia." Jawab Anita dengan tegas.
"Tapi, Ma.."
Tut... Tut.. Tut
Sambungan telpon tersebut diputuskan sepihak oleh Anita tanpa mendengar jawaban dari Rey yang ingin menolak.
*
*
*