
Grace menangis sejadi-jadinya. Wanita itu membekap mulutnya agar suara tangisannya tidak terdengar oleh ibu dan anak tersebut.
Merasa tidak tahan mendengar ucapan Anita, seketika itu juga Grace melangkahkan kakinya menuju kamar mereka untuk menumpahkan kesedihannya.
"Ma!" seru Rey suaranya meninggi mendengar perkataan dari Anita yang menurutnya sudah keterlaluan.
Sejenak Anita terkejut akan suara dari putranya itu. "Begini kan, sebelumnya kamu itu nggak pernah membentak Mama seperti ini Rey. Kenapa sekarang kamu berubah, kamu jadi melawan orangtua. Apa sih yang dikasih Istri kamu itu, anak Mama nggak pernah seperti ini sebelumnya." ucap Anita suaranya mulai merendah, wanita itu masih terkejut dengan suara Rey tadi yang seperti membentaknya.
"Mama sudah keterlaluan." kata Rey, raut wajah kecewa sangat terlihat jelas di wajahnya.
"Keterlaluan bagaimana, maksud kamu. Rey. Mama hanya berbicara yang sebenarnya kok." Anita mengalihkan pandangannya, dia sadar kalau Rey sudah kelihatan marah kepadanya.
Sejenak Rey mengatur napas dan mengendalikan emosinya. Bagaimana pun juga yang saat ini dia hadapi adalah ibunya. Dia harus bersikap sopan kepada orangtua yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.
"Tapi Mama salah, Ma. Mama nggak ingat dulu waktu keluarga kita terlilit utang, Ayahnya Grace yang membantu keluarga kita. Sikap Grace yang manja seperti itu, juga kita harus memakluminya, Ma. Sejak kecil dia sudah tidak punya Ibu, dia hanya bisa bergantung pada Ayahnya. Coba kita di posisi keluarganya dia, pasti juga Laura akan mempunyai sifat manja seperti Grace, Ma. Rey sudah menerima istri Rey apa adanya. Jadi tolong ya ,Ma. Bersikap baiklah pada menantu Mama." ucap Rey panjang lebar dengan suara merendah agar Anita bisa memaklumi keadaan mereka saat ini dan tidak terlalu banyak ikut campur dalam rumah tangga mereka.
Anita mulai mengerti arah pembicaraan mereka. Tampaknya putra sulungnya ini sudah sangat mencintai Grace, wanita yang sudah dia jaga sejak dari kecil mereka bersama.
"Oke, Mama mengerti. Tetapi setidaknya kamu kasih pengertian ke istri kamu itu, supaya dia segera keluar dari perusahaan dan fokus sama kamu." kata Anita yang masih bersikukuh agar menantunya resign dari perusahaan.
Rey memijit pelipisnya, pria itu mulai pusing dengan tingkah laku Anita yang terlalu ikut campur terhadap rumah tangga mereka.
"Kalau masalah itu, Rey tidak bisa melarang Ma. Bagaimana pun juga Grace masih sangat dibutuhkan disana. Kasihan juga Ayah Gilang kalau Grace mengundurkan diri, pekerjaannya semakin banyak, Ma." jawab Rey, tatapannya menghiba ke arah Anita agar pembicaraan ini segera dihentikan.
"Terserah kamu deh, Rey. Pokoknya kalau dalam jangka waktu tahun ini istri kamu itu belum hamil juga, kamu seharusnya sudah bisa mempertimbangkan untuk menceraikan dia. Toh banyak gadis di luaran sana yang bersedia untuk menikah dengan kamu."
Rey tidak menjawab ungkapan panjang lebar dari ibunya tersebut. Bagaimana dia bisa berpikir untuk menceraikan Grace, sementara tidak melihat sang istri sehari saja rasanya dia sudah sangat merindukannya.
"Oh, iya. Mama dengar Sasa anak dari pak Herlambang baru kembali dari luar negeri. Sepertinya Papa kamu lagi ada proyek dengan perusahaan mereka. Terus --".
"Ma, aku capek lagipula pekerjaan aku masih banyak." Rey memotong pembicaraan Anita dengan tiba-tiba, dia sudah tahu gelagat ibunya yang berbicara dengan mencurigakan sekali.
Tampak Anita menghela napas, memang susah berbicara dengan Rey kalau anaknya itu memang tidak suka. Sebelum menikah dengan Grace, Rey juga seperti ini. Keras kepala dan pendiriannya tidak mau digoyahkan. Sampai Mitha sendiri yang meminta putus padanya.
Terbersit ide di kepala Anita, kalau Sang Putra yang tidak ingin meninggalkan istrinya. Maka dia sendiri yang akan membuat Grace meninggalkan Rey dengan sendirinya.
"Baiklah, Mama pulang dulu. Antar Mama sampai dapat taksi." ucap Anita sambil berlalu dan melangkahkan kakinya keluar.
"Mama tidak mau berpamitan dulu pada Grace." kata Rey ketika dia melihat ibunya hendak melangkah menuju pintu keluar.
"Mama juga capek. Bukan kamu aja yang bisa capek." jawab Anita seperti menyindir perkataan Rey barusan untuknya.
"Iya... iya." jawab Rey mengikuti langkah Anita dan mengantarkan ibunya itu untuk keluar apartemen mereka.
****
Sementara itu, Grace sengaja mengurung diri di dalam kamar mandi dan melanjutkan tangisannya. Dia mengunci pintu kamar mandi dan menyalakan kran air supaya suaranya yang menangis tidak di dengar oleh Rey ketika masuk ke dalam kamar nanti.
Grace pun memutuskan untuk mencuci wajahnya yang sangat kelihatan sekali habis menangis. Rey tidak boleh mengetahui kalau dia habis menangis seperti ini.
Lama berkutat di dalam kamar mandi, Grace pun memutuskan untuk tidur duluan. Dia sudah mengetahui kalau Rey masih sibuk dengan proyek dan pekerjaannya akhir-akhir ini. Memang selama mereka berumah tangga, tidak ada yang berubah dari sifat suaminya.
Sama seperti dulu Grace mengenal lelaki itu. Lelaki yang baik meskipun Rey sering kali marah kalau Grace membantah ucapannya. Tetapi Rey selama ini, tidak pernah menyinggung atau memaksa kehendak untuk segera mempunyai keturunan. Mereka jalani dengan santai dan penuh dengan keromantisan. Tak jarang juga pernikahan mereka lalui dengan keterbukaan dan kejujuran satu dengan yang lainnya. Tidak ada masalah yang dibiarkan berkembang sampai berlarut-larut.
Mengapa setelah satu tahun masa pernikahan cobaan semakin berat?
Memang benar apa kata orang, pernikahan penuh dengan keromantisan hanya mampu bertahan sebentar saja.
Jika bahtera rumah tangga itu berjalan tahun demi tahun, cobaan akan selalu datang silih berganti. Entah itu cobaan dari pihak mereka sendiri ataupun cobaan dari luar pihak. Semua masalah yang terjadi, pasti mereka bisa lalui tergantung bagaimana mereka menyikapinya.
Namun, untuk masalah keturunan yang belum di percayakan oleh yang Maha Kuasa. Bagaimana Grace harus menyikapinya?
Grace melamun sambil memikirkan pilihan apa yang harus dia pilih. Keluar dari perusahaan dan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga atau tetap bertahan namun harus menghadapi mertua yang akan membuat dirinya semakin dibenci.
Pintu kamar mereka pun terbuka, menampilkan Rey yang sudah masuk ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaan kantor pria itu. Grace yang mendengar suara pintu terbuka dan gerakan dari ranjang tanda Sang Suami yang sudah bergabung bersamanya, seketika itu Grace berpura-pura tertidur dan memejamkan mata. Dia sungguh takut jika Rey mengetahui kalau Grace mendengar pembicaraan mereka tadi secara keseluruhan.
"Kamu sudah tidur?" tanya Rey yang kini memeluk istrinya itu di pinggang Grace serta menciumi rambut Sang Istri, karena Grace tidur dengan memunggunginya.
Tidak ada jawaban dari Grace, dia masih berusaha untuk tidur.
Namun, Rey semakin mengeratkan pelukan mereka dan menciumi tengkuk Sang Istri dan membuat Grace kegelian setengah mati. Wanita itu semakin sulit untuk tertidur.
Grace yang kini merasakan gelagat dari Rey, karena suaminya tak berhenti mencium tengkuk dan tangan yang sudah menelusup ke perutnya. Seketika itu juga membuat Grace menahan tangan Rey supaya berhenti untuk mengganggu tidurnya.
"Aku capek, Kak. Kita tidur aja ya." jawab Grace akhirnya, masih memunggungi Rey yang berada di belakangnya.
Terdengar helaan napas dari Rey, mendengar penolakan dari istrinya itu. Pria itu pun mengerti dan berhenti untuk berbuat lebih di malam ini.
"Hm, tidurlah." ucap Rey sambil menaruh kepalanya di punggung Grace sedangkan tangan masih memeluk istrinya dengan erat.
Selanjutnya
**
**
**
Halo, sebelumnya Author berterimakasih buat para readers yang masih setia menunggu cerita ini. Terimakasih juga buat doanya untuk Author ya.
Selanjutnya, Author akan selalu update rutin seperti biasanya.
Terimakasih sayang.