Grace

Grace
Rival



Pagi itu di Perusahaan Wijaya Corporation mengadakan rapat pemegang saham terbaru sekalian memperkenalkan Glenn sebagai calon wakil direktur utama di perusahaan milik Ayahnya.


Grace yang sudah datang di ruangan rapat tersebut. Duduk di antara Glenn dan Ayahnya saat ini untuk memulai rapat yang akan segera dilaksanakan. Sementara Rey duduk berhadapan dengan pemilik perusahaan itu, di samping sahabatnya Rezi.


"Sepertinya yang kita tunggu belum datang". Ucap Gilang yang melihat anggota rapat yang sudah duduk di kursi yang telah disediakan.


"Selagi kita menunggu, saya ingin memperkenalkan Putra saya Glenardo Saputra Wijaya, yang baru lulus dari Jerman. Dan akan bekerja menggantikan menantu saya Reynaldo Aditama nantinya" Ucap Gilang Ayahnya Grace.


"Glenn, silahkan berdiri nak". Ucap Gilang lagi


pada anaknya.


Glenn pun berdiri sambil memperkenalkan dirinya. "Saya Glenn, mohon bantuannya." Ucapnya dengan nada yang berwibawa.


"Wah, ternyata adek gue meskipun pecicilan tapi bisa cool juga ya". Ucap Grace dalam hatinya melihat bagaimana cara Glenn memperkenalkan diri.


Setelah Glenn sudah memperkenalkan dirinya di hadapan orang yang hadir di rapat tersebut. Pintu ruangan rapat pun terbuka dan menampilkan sosok yang di kenal oleh Grace.


"Reno" Ucap Grace lirih.


"Nah, yang kita tunggu akhirnya datang juga". Ucap Gilang yang melihat sosok yang ditunggu akhirnya datang.


Reno yang sudah datang di dalam ruangan rapat itu segera masuk dan bergabung di dalam acara rapat pemegang saham itu.


"Perkenalkan ini pemilik saham yang baru menggantikan bapak Adjie Wicaksana namanya Reno Wicaksana anak dari bapak Adjie sendiri". Ucap Gilang memperkenalkan anak dari temannya.


"Saya Reno". Ucap Reno seadanya ketika memperkenalkan diri.


Rey yang melihat kehadiran seseorang yang membuatnya jengkel beberapa waktu lalu itu hanya bisa menatapnya dengan raut wajah yang kesal. Seolah-olah pertemuan mereka yang kemarin belum tuntas dan harus segera diselesaikan.


"Reno juga akan bekerja di perusahaan ini untuk membantu Grace di area kerja Operasional perusahaan". Ucap Gilang lagi.


Reno hanya menganggukkan kepala saja kemudian duduk di kursi yang telah disediakan tepatnya di samping Grace. Pria itu tidak melihat reaksi Rey yang sedari tadi menatapnya dengan raut wajah yang kesal, seperti miliknya akan diambil saja.


"Gue terkejut banget Lo bisa disini". Ucap Grace berbisik ke arah Reno. Dan wanita itu tidak memperhatikan kalau suaminya menatap mereka sedari tadi.


Reno yang melihat reaksi dan tatapan Rey yang tertuju ke arah mereka, dengan sengaja membalas ucapan Grace yang berbisik dan menunjukkan tingkah laku yang mesra dengan mendekatkan tubuhnya ke arah Grace.


"Gue juga senang bisa ketemu Lo" Ucap Reno berbisik tetapi menunjukkan gelagat yang aneh.


Grace yang sadar dengan tingkah laku Reno yang aneh itu hanya sedikit menjauhkan tubuhnya dari Reno, dan memilih untuk fokus mengikuti acara rapat.


Bahasan demi bahasan sudah dirapatkan di dalam ruangan tersebut. Program-program yang akan segera dijalankan dan evaluasi kedepannya juga sudah dibahas. Kini rapat yang dipimpin oleh Gilang akhirnya selesai.


Setelah rapat dibubarkan dan anggota yang hadir juga sudah keluar satu persatu kini hanya Gilang, Glenn, Grace, Rey dan Reno yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Grace pasti kamu sudah kenal Reno, bukan?" Tanya Ayahnya


"Iya sudah, Yah. Kami teman seangkatan dulu waktu SMA" Ucap Grace


" Reno ini akan membantu kamu di dalam operasional perusahaan, jadi kemungkinan kalian akan banyak menghabiskan waktu bersama untuk membahas mengenai operasional perusahaan". Ucap Gilang lagi.


"Iya, Yah". Jawab Grace


"Oh, iya Ren. Kamu juga pasti sudah kenal dengan menantu saya, dia juga kakak kelas kamu dulu". Ucap Gilang yang memperkenalkan Rey.


"Eh, iya om. Saya sudah kenal dengan Bang Rey. Hai bang, kita bertemu lagi" Ucap Reno ramah tetapi yang disapa sepertinya tidak menggubris sapaan tersebut.


"Baiklah, disini dulu pembahasan kita hari ini. Saya tunggu program kamu selanjutnya ya, Ren" Ucap Gilang kepada Reno


"Baik om. Terimakasih atas kesempatan yang sudah diberikan". Ucap Reno sopan.


Gilang pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut bersama Glenn putranya untuk membahas hal kedepannya.


Kini tinggallah mereka bertiga di dalam ruangan itu yang sibuk diam satu sama lain dengan canggungnya.


"Ayo, Ren. Aku kenalin sama kamu proyek-proyek sebelumnya bagaimana". Ucap Grace yang memecah keheningan diantara mereka.


"Oke. Mohon bantuan nya Ibu Grace". Ucap Reno dengan mengedipkan matanya ke arah Grace.


Rey yang melihat interaksi kedekatan mereka langsung bertanya kepada istrinya itu.


"Proyek apa?" Ucapnya dengan nada dingin.


"Oh, proyek yang kemarin kita adakan di Bandung, Pak". Ucap Grace formal kepada suaminya.


"Kamu ke ruangan saya saja jika ingin bertanya sesuatu". Ucap Rey kepada Reno dengan nada yang ketus.


"Untuk hal-hal yang menyangkut operasional saya lebih memahaminya daripada Grace, kamu bisa tanyakan ke saya secara langsung". Ucap Rey lagi dengan nada yang tidak ingin dibantah.


"Grace, kamu ke ruangan saya. Ada hal lebih penting yang harus kamu kerjakan, untuk Reno biar saya yang mengajarinya." Ucap Rey memutuskan percakapan diantara mereka bertiga sambil menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan rapat tersebut.


Meninggalkan Reno seorang diri dengan raut wajah yang kesal karena sepertinya Rey menghalanginya untuk berdekatan dengan Grace.


"Oke, bang. Sampai dimana usaha Lo buat jauhin gue dengan Grace" Ucap Reno sambil melihat kedua pasangan itu yang sudah keluar dari ruangan tersebut. Dengan sang suami yang menggenggam tangan istrinya secara possesive.


****


Rey menarik tangan istrinya keluar ruangan dengan sedikit kasar.


"Sakit, Kak". Ucap Grace


Mendengar ucapan Grace langsung saja Rey melonggarkan genggaman tangannya agar tidak menyakiti wanita itu.


"Kita mau kemana?". Ucap Grace bertanya karena mereka tidak berjalan menuju ruangan Rey melainkan tempat tangga darurat kantor tersebut.


Setelah membawa istrinya ke tangga darurat, Rey langsung menutup pintu tersebut dan menatap wanita itu dengan tatapan tajam.


"Kamu kenapa, Kak?" Ucap Grace terdengar gugup karena ditatap seperti itu oleh suaminya.


"Kamu kenapa, Kak. Aku takut" Grace mengaku dengan jujur melihat tingkah sang suami yang menurutnya sangat aneh dan membuatnya ketakutan.


"Bukannya aku sudah bilang dari kemarin, kalau kamu nggak boleh dekat dengan Alan maupun temanmu itu". Ucap Rey seraya mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya yang ketakutan.


Grace mendorong pelan dada suaminya agar tidak terlalu dekat dan berusaha untuk menghindari tatapan dari pria itu.


"Iya..aku tahu kak. Tadi kami hanya mengobrol saja, nggak lebih" Ucap Grace sambil mengusap bagian dada kemeja Rey untuk menenangkan suaminya yang terlihat seperti cemburu itu, fikirnya.


Mendengar pengakuan dari Grace tentang apa pembicaraan mereka tadi bersama Reno. Rey langsung mencuri kecupan di bibir sang istri sekilas kemudian memeluknya dengan erat.


Grace yang menerima perlakuan seperti itu hanya bisa terkejut dan melototkan matanya menerima pelukan hangat sang suami di ruang tangga darurat yang sepi.


"Kamu kenapa sih Kak?. Kalau kamu memang cemburu bilang aja. Kamu seperti orang cemburuan, tau nggak". Ucap Grace saat Rey masih memeluknya.


"Nggak tau, aku nggak suka aja liat kamu ngobrol sama dia. Terus temanmu itu sepertinya genit sama kamu .". Aku Rey dengan jujur mengungkapkan perasaannya.


Grace terkekeh mendengar pengakuan dari Rey mengenai perasaanya saat ini terhadapnya.


"Itu tandanya kamu memang cemburu, Kak". Ucap Grace lagi masih di dalam pelukan Rey.


"Aku nggak tau dengan perasaan aku bagaimana ke kamu tapi kita pelan-pelan aja ya" . Ucap Rey seraya mengelus rambut istrinya itu.


Grace hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan sang suami yang sepertinya sudah mulai ada rasa suka terhadapnya.


"Kita pelan-pelan aja". Ucap Grace sambil melepaskan pelukan mereka.


"Baiklah" Jawab Rey sambil merapikan rambut Grace ke belakang telinganya.


"Ayo, keluar. Kita disini seperti anak SMA aja yang sembunyi-sembunyi takut ketahuan guru sedang pacaran". Kata Grace.


"Iya ya, bagaimana bisa aku membawamu kesini". Ucap Rey yang baru tersadar dimana mereka berada.


"Tadi kamu nakutin, tau kak. Wajah kamu seram banget tadi". Jawab Grace lagi.


"Iya, makanya jangan dekat sama orang genit itu". Ucapnya dengan nada ketus lagi mengingat interaksi sang istri yang sangat akrab di ruangan rapat tadi.


"Iya.. iya" Ucap Grace akhirnya mengalah seraya berjalan menuju pintu keluar tangga darurat.


Ceklek


Ceklek


"Kenapa?". Tanya Rey yang melihat sang istri tidak bisa membuka pintu.


"Nggak bisa di buka pintunya". Ucap Grace panik


"Astaga, ini kan otomatis ya?" Ucap Rey seketika tersadar kalau pintu tangga darurat tersebut otomatis dan hanya bisa keluar jika ada yang membukanya dari dalam.


"Ha?". Dengan raut wajah yang semakin panik.


"Kak, bantuin kek. Gimana kita bisa keluar coba". Ucapnya dengan mengeluh karena sang suami hanya diam saja di belakangnya.


"Percuma Grace harus ada yang membukanya dari luar". Ucap Rey lagi yang terdengar santai seperti tidak terjadi apa-apa.


"Karena kamu ini, kita jadi terkurung begini. Ngapain sih kamu bawa aku kesini tadi". Ucapnya lagi dengan nada yang masih mengeluh.


"Ya, mana kepikiran Grace, aku tadi mau bawa kemana, aku liat ruangan begini langsung masuk ajalah". Ucap sang suami yang terdengar menjengkelkan.


Terdengar decakan malas dari Grace mendengar perkataan Rey yang seolah-olah tidak mau disalahkan dengan insiden terkurung nya mereka.


"Ren.. Reno". Ucap Grace menggedor-gedor pintu ruangan dari dalam sambil meneriakkan nama temannya itulah.


"Ngapain kamu manggil nama dia?". mulai sewot lagi mendengar nama tersebut.


" Ya.. minta bantuan lah. Kan cuma dua orang terakhir yang ada di lantai ini". Ucap Grace sambil masih menggedor pintu.


"Awas, coba biar aku yang buka". Ucap Rey yang tidak suka istrinya itu menyebut si tukang genit menurutnya.


"Nggak bisa kan?". Ucap Grace lagi yang melihat sang suami seperti kesusahan membuka pintu ruangan tersebut.


"Kamu sih, bawa-bawa aku kesini. Nggak dipikirin kita bisa keluar atau nggak. Mana aku nggak bawa handphone lagi". Ucapnya wanita itu lagi sambil masih jengkel dengan ulah suaminya.


"Mana hp kamu?". ucap Grace sambil menyodorkan tangannya.


"Di ruangan aku" Menjawab dengan santai tanpa perasaan bersalah sama sekali.


Grace sontak langsung memukul dada suaminya yang menjengkelkan sekali itu dengan keras.


"Kamu nih ya, buat aku kesel dari pagi sampai sekarang tahu". Ucapnya lagi sambil menuruni tangga darurat meninggalkan sang suami yang masih mengelus dadanya yang habis kena pukul.


"Mau kemana kamu?". Ucap Rey yang melihat sang istri menuruni tangga.


" Ya minta bantuan lah, turun ke lantai utama. Kalau aku nggak kuat sampai ke bawah. Kamu harus gendong aku kak". Ucap sang istri yang sudah di lantai bawah.


"Emang kuat?. Ini lantai 12 loh Grace" Ucap Rey tetapi mengikuti sang istri turun tangga juga


"Kan udah aku bilang kamu harus gendong aku nanti kalau aku mau pingsan". Jawab Grace sambil masih bersungut-sungut.


"Kalau kamu nggak mau, aku bakal pecat kamu"Ucap Grace dengan nada mengancam.


Sontak Rey tertawa mendengar perkataan sang istri yang menurutnya lucu sekali itu. Pria itu langsung berjalan cepat menuruni tangga untuk menghampiri istrinya yang sudah ada di lantai bawah, kemudian mencuri ciuman di bibir manis sang istri lagi.


"Kak". Teriak Grace karena Rey selalu mencuri ciuman darinya dan sang suami hanya tertawa dengan sangat menjengkelkan sambil menuruni tangga untuk meminta bantuan.


Selanjutnya