
Sorenya Rey kembali ke apartemen mereka, mendapati Sang Istri yang tengah tidur-tiduran manja di atas sofa. Membuat hatinya tersentuh ketika mendapati kalau ternyata Sang Istri menunggunya pulang dari bekerja.
Lelaki itu bergegas menghampiri Sang Istri dan mencium dahinya ketika sudah berada di dekat Grace.
"Kamu sudah pulang Kak?" Grace mendudukkan tubuhnya dari tidur tiduran manja di sore hari.
"Hm."
"Tumben jam 5 sudah pulang?" tanya Grace lagi sambil menyadarkan kepala di bahu Sang Suami.
"Iya, besok Aku mau ke Bandung soalnya " Rey kembali mengingatkan percakapan mereka tadi pagi.
Terdengar helaan napas dari Grace saat akan pergi ditinggalkan ke luar kota.
"Aku ikut ya?" pintanya.
"Aku cuma 2 hari doang, habis itu langsung balik Jakarta, Sayang." Rey memberi pengertian.
"Jadi aku sendiri dong di rumah?"
"Kamu nggak mau ke rumah Ayah?" Sambil berbicara Rey menyelipkan helaian rambut sang Istri di belakang telinga.
Bukannya menjawab Grace malah memeluk Rey dan mendekap pinggang Suaminya itu dengan erat.
"Besok Aku anter ke rumah Ayah ya?" Rey kembali mengulang kalimatnya.
Namun kembali lagi tidak ada jawaban dari Grace.
"Jangan cemberut gitu dong." kata Rey yang berusaha menundukkan pandangannya untuk melihat raut wajah Grace yang memeluknya.
"Aku cuma beberapa hari kok disana," Masih berusaha untuk membujuk.
"Kak?" jawab Grace akhirnya.
"Hm"
"Aku ikut ya" pintanya lagi dengan nada memelas.
"Kamu kan lagi hamil Grace, sampai disana nanti kecapekan. Belum lagi selesai kembali kesini acara pertunangannya Sahabat Kamu besok harinya." terang Rey, bagaimana pun Istrinya itu sedang hamil muda. Masih rawan sekali untuk kesana kemari.
Grace menghembuskan napasnya, "Iya Aku tahu." Jawabnya.
"Kalau tahu kenapa masih mau ikut?"
"hmm... pengen liat Kamu aja seharian." Grace berbicara jujur.
Mendengar ungkapan dari Sang Istri barusan membuat Rey terkekeh dengan gemas.
"Nanti kalau Aku nggak sibuk, Kita video call aja." Kata Rey yang membuat Grace tersenyum dengan senang.
"Beneran?" ucap Grace dengan mata yang berbinar senang.
"Iya,"
"Janji" Grace menyodorkan kelingkingnya seperti anak kecil supaya Rey nanti disana akan selalu memberinya kabar.
"Awas kalau Kamu lupa. Mending nggak usah pulang sekalian." Ancam Grace saat Rey membalas tautan kelingking tersebut.
"Iya.... Kamu kok seremin gini sih?" Rey tertawa melihat raut wajah Grace yang seperti mengancam tetapi masih menggemaskan.
Ditambah lagi pipi berisinya itu yang membuat Rey tidak tahan untuk selalu mengigit.
Grace berdecak dengan malas, "Iyalah... soalnya kemarin ada orang yang cuekin Istrinya sampai berhari-hari nggak kasih kabar saking sibuknya sama kerjaan." Sindir Grace yang membuat Rey meringis seketika.
"Kamu nyindir Aku ya?" bukannya marah Rey malah menaik-turunkan alisnya seperti pria penggoda.
"Kamu merasa tersindir?" tanya Grace alih alih bukan menjawab.
"Kok sepertinya buat Aku ya, perkataan Kamu barusan." Rey semakin mengurung Istrinya itu menggunakan kedua tangannya.
Seketika Grace memberi jarak menggunakan kedua tangannya karena melihat aksi Sang Suami yang menunjukkan gelagat aneh.
"Kalau Kamu merasa ya udah," ucap Grace ingin lari dalam kurungan Suaminya itu.
"Eitss.... mau kemana?" kata Rey ketika Grace ingin menjauh dan seketika itu juga mendekap lembut tubuh Istrinya.
"Kamu mau ngapain, Kak?"
"Mau hukum Kamu, karena udah berani nyindir Suami." Ucap Rey dengan senyum yang jahil tercetak jelas di wajah.
"Di sofa?" kata Grace, bukannya menolak. Wanita itu malah seperti menawarkan.
Rey tertawa, "Kamu mau dimana?" tanyanya.
"Kamar aja."
"as you wish, Honey" jawab Rey sambil menggendong Istrinya itu ala bridal style untuk dibawa ke kamar.
****
****
"Ayah, Rey titip Grace ya." ucap Rey ketika mereka sudah duduk di ruang tamu milik Gilang.
"Ck, emangnya Aku anak kecil dititipin." Grace menggerutu dari kemarin karena mendengar dia dititipkan.
Gilang pun tertawa, "Iya Nak, semoga pekerjaan Kamu sukses ya." Jawab Gilang.
"Iya, Yah."
"Bagaimana kabar Papa Kamu?" tanya Gilang lagi.
"Baik Ayah. Hanya merasa sering kecapekan saja beberapa hari ini." jelas Rey yang mengingat kondisi Papanya.
Terlihat Gilang hanya manggut-manggut saja tanda mengerti.
"Rey pamit ya Yah." ucap Rey sambil berdiri dan di ikuti Grace yang hendak mengantar Sang Suami sampai di depan rumah.
"Iya Nak. Hati-hati di jalan."
"Sering kasih kabar, Kak. Disana jangan telat makan." Grace mengingatkan Suaminya itu saat mereka sedang berjalan menuju teras rumah.
"Iya, Sayang." bisiknya.
"Awas Kamu kalau macam-macam disana." Ancam wanita itu lagi.
"Iya... iya. Kamu semakin hari semakin judes aja sih." Kata Rey yang mulai mengacak-acak rambut Istrinya.
"Aku berangkat," katanya lagi sambil menyodorkan tangan dan disambut oleh Grace.
"Hmm, hati-hati. Sampai sana kasih kabar." Jawab Grace.
"Iya," ucap Rey sebelum memasuki mobil dan segera menuju Bandung untuk tugas pekerjaan.
****
****
Ting... Ting
Suara notifikasi handphone milik Rey, berbunyi saat pria itu masih menuju perjalanan hendak ke Bandung seorang diri menggunakan mobilnya.
Melupakan rekan kerjanya, Sasa. Yang dia tidak tahu sudah sampai sana atau belum dan diantar oleh siapa.
Rey mengabaikan notifikasi tersebut, karena pikirnya sampai di Bandung saja dia akan membalas semua pesan yang dia terima sejak tadi.
Menit demi menit berlalu, bunyi notifikasi itu masih setia Rey dengar di handphonenya terus menerus.
Takut ada apa-apa dari rumah maupun Sang Istri yang menghubunginya, Rey pun memarkirkan sejenak mobilnya di pinggir jalan.
Dan dugaannya salah, bukan Grace maupun orang rumah yang menghubungi. Melainkan Sasa yang menghubungi sejak tadi.
Wanita itu mengatakan masih di Jakarta dan ingin berangkat bersama ke lokasi.
Rey pun mengerutkan dahinya melihat tingkah aneh wanita tersebut.
"Menyusahkan saja " jawabnya ketika melihat puluhan notofikasi dari Sasa yang seperti spam tersebut.
Rey tidak menjawab pesan dari Sasa. Malahan pria itu mengabaikan dan melanjutkan perjalanannya agar segera sampai di tempat tujuan.
Baru beberapa menit Rey kembali melajukan kendaraannya, handphonenya berbunyi kembali tanda panggilan masuk.
Rey pun menjawab dengan gusar ketika melihat nama yang tertera disana.
"Halo," jawabnya tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.
"Mas, Kamu dimana?" tanya perempuan di ujung sana yang tak lain adalah Sasa.
"Saya lagi di jalan. Sebentar lagi sampai Bandung." Ucap Rey.
"Kok nggak ngabarin kalau berangkat kesana sih Mas. Kan kita bisa berangkat bareng." Katanya lagi.
Rey mengerutkan dahinya, untuk apa pula dia memberi kabar belum berangkat atau tidak pada wanita ini. Jelas-jelas mereka tidak ada hubungan sama sekali selain menyangkut pekerjaan.
"Oh," jawab Rey asal.
"Sasa sama siapa dong berangkatnya Mas?" tanya perempuan itu.
"Kamu bisa minta antar supir kan?" saran dari Rey.
"Tapi, Mas..." ucapan Sasa terpotong oleh Rey.
"Sasa ini saya lagi di jalan, saya matikan dulu telfonnya. Sampai bertemu di Bandung." Jawab Rey kemudian mematikan sepihak telfon dari Sasa tanpa mendengar jawaban dari perempuan itu di ujung sana.
***
***
***