Grace

Grace
Curahan Hati



Syelamatt Siang, Readers kesayangan.


Berhubung udah sejauh ini author nulis, author curhat dikit gak apa-apa yakk. 😂😂


Author mencoba jawab beberapa komentar readers yang buat author terkadang itu tuhh, ketawa sendiri tau bacanya. Meskipun Author terkadang nggak balas komentar nya, tapi author baca kok semuanya. Ini nih Author jawab yaa komentar para readers yang buat author ngakak.


1. Thor kalau bisa jangan sering-sering gunain kalimat bla-bla, bla-bla.


(Siap bapak/ibu akan author revisi segera)


2. Thor kependekan ceritanya, panjangin dong


(Mas/Mba,Kakak/adek, Setiap bab author buat paling minimal itu 900 kata nett cerita yaa. itupun kalau author malas ngetik. Kalau lagi rajin bisa sampai 1800 kata satu bab tau. Kalau nggak percaya hitung aja sendiri 😂😂)


3. Thor buat si itu itu jadi cepet bucin dong


(Nah gini nih, biasanya kalau sebuah cerita itu ada alur nya yang jelas, prosesnya yang jelas biar endingnya juga jelas yaa. Jadi bersabar aja nungguin ceritanya, jangan langsung dicepetin entar nggak berasa feel nya loh.


Emang pernah baca cerita ? "Pada suatu hari hiduplah si ani dan si anu, kemudian mereka menikah dan mempunyai anak dan cucu, kemudian mereka mati. Tamat").


4. Males baca cerita lo, Thor


(Lah, kagak usah baca neng/mpok,mas/bang susah amat, si amat aja kagak pernah susah di omongin terus. Vote kagak, comment iyeee Lo. 😂😂)


5. Thor yang semangat yaa nulisnya. Next Thor..


(Nah ini nih comment yang buat author senang pakai banget sampai nggak ketolongan, jadi semangat nulis kan gue)


6. Thor makasih loh udah up, aku kasih 1000 vote buat kamu yaa


(Serius aku cinta mati banget sama kamu ♥️😂. Thanks Sis/bro).


7. Thor mampir di cerita aku dong judulnya bla bla bla bla


(Siap author akan mampir, tunggu saja ya)


Sekian curahan hati author. Author nggak marah kok, sampai sampai nggak akan Up lagi. Berhubung Author sudah berkecimpung di dunia pekerjaan, author tetap profesional kok untuk selalu up dan memberikan cerita menarik untuk di baca sampai ending.


Jadi Happy Reading, kesayangan.


*****


Keesokan harinya pasangan pengantin yang baru menikah beberapa hari kemarin itu, langsung berangkat menuju negara tempat mereka direncanakan untuk berbulan madu oleh Papanya Rey.


Saat Pesawat mereka diharuskan untuk Transit di suatu Negara untuk melanjutkan penerbangan selanjutnya menuju tempat tujuan berbulan madu tersebut. Mereka berdua memutuskan untuk menunggu di bandara dan tidak memesan hotel, karena hanya transit beberapa jam saja. Daripada banyak menghabiskan biaya nantinya jadi lebih baik menunggu saja, toh hanya beberapa jam. Fikir mereka.


Selagi menunggu di kursi tunggu transit bandara, mereka pun duduk tanpa adanya pembicaraan.


"Kamu haus?". Tanya Rey pada Grace yang sedari tadi diam semenjak mereka meninggalkan Indonesia.


Grace yang mendengarkan pertanyaan dari Rey hanya menoleh kepalanya sebentar.


"Nggak, Kak. Aku nggak haus". Jawab Grace yang sibuk melihat kebawah.


"Muka kamu kayak pucat gitu" Tanya Rey lagi yang masih sibuk memandangi wajah istrinya.


Grace pun menggelengkan kepalanya. "Nggak kok Kak, aku cuma kecapekan aja"Jawabnya lagi.


Melihat Grace yang dengan wajah pucat dan kecapekan seperti itu, Rey jadi tidak tega.


"Sebentar aku beli minum dulu buat kita". Ucap Rey yang berdiri dan Grace hanya mengangukkan kepalanya saja.


Bukan tanpa alasan Grace sedari tadi diam, semenjak pembicaraan mertuanya yang mengharuskan mereka untuk berbulan madu. Rey terlihat tidak senang untuk berbulan madu bersamanya. Itulah yang menyebabkan Grace tambah merasa menjadi beban dan banyak merepotkan Rey.


Masih sibuk melamun dengan apa yang akan mereka lakukan nanti di saat bulan madu di negara orang tersebut, muncullah Rey dengan membawa 1 botol air mineral dan beberapa snack yang akan menjadi camilan mereka selagi menunggu.


"Ini, kamu minum duku. Muka kamu pucat banget soalnya". Ucap Rey yang masih fokus melihat wajah istrinya sambil menyodorkan air mineral.


"Terimakasih, Kak". Jawab Grace mengambil air mineral tersebut.


"Kok, kakak cuma beli satu airnya. Kakak nggak minum?" Tanya Grace yang melihat isi plastik yang di bawa hanya berisi satu air mineral saja.


"Gak apa-apa kita bagi dua aja. Kamu minum aja dulu". jawab Rey lagi masih sambil melihat wajah istrinya dengan serius.


"Kamu kenapa liatin wajah aku begitu?" Tanya Grace yang menyadari tatapan Rey sambil memegang wajahnya apa ada kotoran di wajahnya atau tidak.


"Kamu pucat banget, sini tidur di bahu aku. Sambil kita nunggu penerbangan selanjutnya". Ucap Rey lagi sambil menepuk bahu miliknya.


Grace pun langsung mengernyit heran mendengar tawaran yang sangat jarang sekali dia dengar tersebut. Ada apa dengan pria ini?Fikirnya dalam hati.


"Kenapa, ayo. Sini kepala kamu" Ucap Rey lagi sambil mengarahkan kepala istrinya supaya bersandar di bahunya.


Grace menolak tawaran tersebut, dengan menggelengkan kepalanya. " Aku nggak apa-apa kok, Kak". Ucap Grace lagi menolak tawaran tersebut.


"Sudah, aku nggak suka dibantah". Ucap Rey yang sudah mengarahkan kepala Grace sedikit paksa ke bahunya supaya bersandar.


Grace akhirnya mengalah untuk menurut saja. Selain karena memang dia kecapekan dan membutuhkan waktu istirahat setelah acara pernikahan mereka yang benar-benar menguras tenaga.


Beberapa saat masih hening dan tidak ada yang memulai obrolan.


"Aku tau kamu nggak suka kita pergi bulan madu". Ucap Grace yang memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Emang siapa bilang aku nggak suka". Tanya Rey kembali yang mendengar penuturan dari istrinya.


"Ck, wajah kamu itu kelihatan jelas banget tau nggak sih kak. Udah kebaca sama aku kalau kamu memang nggak mau berlibur". Jawab Grace yang kini kepalanya sudah tidak bersandar lagi. Lebih memilih untuk berhadapan dengan Rey saat mereka berbicara.


Tampak Rey mengenal nafasnya sejenak sebelum menjelaskan. " Aku cuma kecapekan aja, Grace. Dengan acara pernikahan kemarin di tambah lagi kita langsung berlibur seperti ini, itu namanya nggak efisien. Yang ada waktu berlibur nanti kita jadi kecapekan. Kayak wajah kamu nih sekarang". Ucapnya lagi sambil mengusap wajah istrinya.


Grace pun menepis usapan tangan dari wajahnya itu. "Udah kamu jujur aja Kak, aku nggak apa-apa kok, nggak usah sungkan juga sama aku." Ucapnya lagi sambil menyandarkan kepala nya di kursi duduk bandara.


"Loh, emang begitu kenyataannya kok. Aku nggak bohong". Jawab Rey terdengar sewot dan memindahkan kepala Grace untuk bersandar kembali lagi ke bahunya.


Grace menurut saja kepalanya di pindahkan lagi ke bahu yang nyaman milik suaminya itu.


"Kak?". Tanya Grace lagi


"Udah kamu tidur aja, nggak usah banyak tanya. Pesawat kita masih beberapa jam lagi terbangnya" Jawab Rey yang mulai memejamkan matanya.


"Aku mau tanya, Kak" Ucap Grace bersikukuh.


"Apa".


"Mengenai yang kamu bilang kemarin sama Mama dengan Papa kamu" Tanya Grace


"Emang aku bilang apa" Balik tanya dengan senyum penuh maksud.


"iihh, nggak jadi deh". Sambil memukul lengan suaminya merasa jengkel.


Rey langsung meluruskan badannya dan menghela Grace supaya duduk dengan tegap untuk melihat reaksinya.


"Mengenai cucu?" Tanya Rey masih memegang bahu Grace


Grace hanya menganggukkan kepalanya tanda membenarkan.


Mendengar ucapan tersebut Rey langsung mengerutkan dahinya.


"Maksudnya?". Tanya Rey


"Ya, masalah mengenai cucu. Kita nggak akan mungkin kasih mereka cucu". Jawab Grace


"Kenapa nggak mungkin?" Rey tanya kembali


"Aku tau, yang kamu bilang bakal usaha kemarin itu, biar mereka senang aja dengernya kan" Jawab Grace yang kini mulai menyandarkan kembali kepalanya lagi ke kursi bandara.


"Aku serius dengan perkataan aku ke mereka. Aku nggak bercanda" Jawab Rey yang mulai mengejutkan Grace.


Mendengar ucapan dari suaminya itu, Grace langsung mengubah arah duduknya mengahadap Rey.


"Kamu serius kak?" Grace tanya kembali.


"Iyalah, entar sampai di Hawaii kita usaha" Ucap Rey sambil tersenyum penuh maksud.


Dan seketika itu juga Grace membelalakkan kedua matanya, terkejut mendengar ucapan dan melihat senyum yang aneh itu.


***


Melihat senyum yang sangat menjengkelkan itu, membuat Grace langsung berfikiran yang aneh-aneh di dalam kepalanya.


Nggak, dia nggak mau serahin semuanya sama pria ini sebelum dia bisa mencintai dirinya terlebih dahulu.


Sontak Grace langsung mencubit pinggang Rey dengan gaya dan senyumnya yang menjengkelkan tersebut.


"Enak aja, aku nggak mau". Ucapnya sambil mencubit pinggang suaminya.


Terdengar suara kesakitan lelaki itu sekilas sambil masih tersenyum. "Aduh, sakit Grace". Ucapnya masih dengan senyum yang aneh.


Grace langsung melepaskan cubitannya karena melihat sang suami memang seperti kesakitan akibat cubitan yang dia berikan.


"Emang kamu kemaren nggak dengar, Papa sama Mama, pengen cepat-cepat punya cucu?". Tanya Rey sambil mengusap pinggangnya yang baru di cubit.


"Ya denger ,Kak. Tapi aku nggak mau". Ucap Grace yang menggeser jaraknya menjauh di kursi tunggu sebelahnya.


Rey yang melihat istrinya langsung menjauh , seketika ikut bergeser juga ke arah kursi istrinya. "Yakin, nggak mau? Nolak suami itu dosa loh,Grace". Ucapnya lagi sambil menaik turunkan alisnya. "Seru juga menggoda wanita ini", fikirnya dalam hati.


Ditawari hal yang seperti itu, membuat pipi Grace terasa panas dan memerah.


Rey yang melihat rona merah di pipi gadis itu, langsung mengacak-acak rambut miliknya kemudian sambil tertawa dengan gemas.


"ihh, berantakan rambut aku, Kak. Malu di liat orang." Protes Grace yang diacak-acak rambutnya.


Bukannya meminta maaf atau berusaha memperbaiki rambut milik Grace. Pria itu malah mengulang pertanyaannya tadi.


"Jadi gimana?" Masih tersenyum aneh dan alis masih naik turun.


"Nggak, aku tetap nggak mau. Enak di kamu, nggak enak di aku dong". Jawab Grace yang masih sibuk merapikan rambutnya yang acak-acakan.


"Namanya suami istri , Grace". Ucap Rey yang masih ingin sekali menggoda istrinya ini.


"Iya, aku tau Kak. Tapi kamu harus mencintai aku dulu. Kalau belum jangan harap". Jawab Grace.


"Ya udah, aku cinta kamu". Ucap Rey yang asal masih bermaksud ingin menggoda wanita didepannya ini.


Mendengar pengakuan yang asal-asalan itu membuat Grace sontak marah karena merasa semakin kesal dan ingin menangis.


"Kamu pikir perasaan aku ke kamu itu, main-main?". Ucapnya yang kali ini terdengar serius dan hampir menangis.


Rey yang melihat mata sang istri mulai berkaca-kaca langsung menghentikan candaannya dan merasa bersalah.


"Aku, nggak main-main, Kak. Aku beneran sayang sama kamu. Kalau aku serahin semua ke kamu tapi ujung-ujungnya kamu tetap nggak cinta aku, gimana?. Aku nggak punya apa-apa lagi yang bisa aku banggain nantinya kalau aku udah pisah sama kamu. Kamu ngerti nggak sih". Bentaknya dengan suara yang agak keras dan mulai menangis.


Melihat istrinya menangis seperti itu, Rey langsung memeluknya. Ada perasaan sakit yang hinggap di dalam dirinya ketika melihat Grace menangis di depannya.


"Iya.. iya. Maaf, aku cuma bercanda tadi. Udah maaf ya". Ucapnya yang masih memeluk Grace sambil mengelus rambutnya.


Grace langsung memukul dada suaminya itu. "Bercandaan kamu nggak lucu tau" Sambil memukul.


"Iya, aku tau maaf ya. Udah dong, kita entar diliatin satu bandara. Kamu nggak malu apa" Ucapnya bercanda untuk menenangkan gadis itu.


mendengar ucapan barusan, seketika Grace langsung melepas pelukan suaminya dan mengusap air matanya.


"Pokoknya aku masih tetap, nggak mau". Bahas Grace lagi sambil mengambil tisu dari tasnya.


"Iya.. kita nggak usah bahas ini ya". Ucap Rey yang mengalah daripada semakin memperkeruh suasana, pikirnya.


Grace hanya diam saja mendengar ucapan dari Rey untuk tidak membahas hal itu lagi. Melihat aksi diam Grace, lelaki itu langsung mengambil tisu dan membantunya untuk menghapus sisa air mata di wajahnya.


"Udah, jangan nangis. Aku minta maaf" Ucap Rey lagi sambil menyeka air mata istrinya.


Perlakuan yang manis dari Rey yang menyeka air mata miliknya. Langsung membuat Grace menepis tangan Rey menjauh dari wajahnya.


"Gak usah buat aku baper, tau nggak" Ucapnya yang menepis tangan suaminya itu.


"Loh, aku nggak buat kamu baper. Aku cuma bantu kamu ". Ucap Rey yang bingung dengan perkataan Grace.


"Aku bisa sendiri". Ucapnya sambil berdecak menghapus sisa air matanya.


"Emang salah perhatian sama istri?". Ucapnya yang malah membuat Grace semakin kesal.


"Kalau suami istri normal, nggak ada masalah Kak. Kita itu nggak suami istri normal di luaran sana. Kamu itu menikah dengan aku aja secara terpaksa, kan?. Perhatian kecil kamu itu bisa buat aku berharap lebih tau nggak". Ucapnya dengan kesal.


"Jadi kalau aku nggak bisa nyentuh atau perhatian sama kamu. Terus kamu sendiri bisa seenaknya peluk-peluk aku tiap malam, gitu?". Ucap Rey mulai sewot karena nggak boleh memberi perhatian sedikitpun.


"Iyalah biar kamu baper sama aku" Ucap Grace tidak mau kalah.


"Aku nggak mau kalau gitu, kalau kamu peluk aku, aku juga nggak akan segan-segan nyentuh kamu". Ucap Rey yang masih sewot dengan sentuhan sepihak tersebut.


"Ya udah. Terserah kamu. Aku nggak akan peluk kamu lagi waktu kita tidur" Ucap Grace tidak mau kalah.


Rey pun hanya bisa melongo takjub mendengar kata terserah dari istrinya. Tidak dipungkirinya kalau beberapa malam ini sang istri yang memeluknya ketika malam hari sewaktu mereka tidur sudah membuatnya terbiasa dan merasa hangat tidur di dekat wanita itu.


Membayangkan tidur tanpa pelukan wanita itu disampingnya nanti, membuat perasaannya ada yang berbeda. Seolah-olah akan merasakan kehilangan kehangatan kalau sang istri tidak memeluknya ketika tidur nanti. "Nggak ini nggak bisa dibiarin". Ucapnya dalam hati


"Aku nggak mau tau, pokoknya kita tidur nanti kamu harus tetap peluk aku" Ucap Rey seketika dan membuat Grace mengernyitkan dahinya, tanda kebingungan.


"Kalau kamu nggak mau peluk aku, aku yang akan peluk kamu. Aku nggak menerima bantahan kali ini". Jawab Rey lagi yang masih tidak ingin memutuskan pelukan hangat istrinya.


Grace hanya diam dan masih dengan raut wajah yang heran mendengar ucapan tersebut.


"Kalau kamu mau baper terserah. Pokoknya aku tetap akan peluk kamu" Mulai sewot karena tidak mendapat respon dari Grace.


"Iya, suka-suka kamu deh, Kak. Kamu rajanya kok". Ucap Grace yang jengah melihat tingkah laku suaminya yang seperti kekanakan tersebut.


Selanjutnya