Grace

Grace
Bogor



Sesuai rencana Rey tadi, dengan berat hati Reno harus mengalah membiarkan pujaan hatinya pergi bersama suami yang sekaligus rivalnya itu untuk pergi ke Bogor. Padahal niat lelaki itu tadi ingin melakukan pendekatan pada Grace selagi penjaganya alias si Abang Rey tidak ikut bersama mereka.


Dan lagi-lagi nasib Reno tidak mujur, tiba-tiba saja si wajah datar itu (Julukan Reno pada Rey), ikut dan mengantar Grace ke Bogor menggunakan mobil mereka sendiri.


Alhasil Reno hanya bisa menerima keadaan sekaligus menghela nafasnya, karena hanya berangkat berdua bareng Wenny dan siap-siap saja dia akan di bully oleh Wenny. Pikir Reno.


Didalam mobil Wenny ketika mereka sudah berangkat ke tempat tujuan, cuma suara gadis itu yang terdengar tertawa sangat kencang mengejek nasib nya Reno yang gagal maning..gagal maning..


"Hahaha, kan udah gue bilangin dari kemarin-kemarin sama Lo, Ren. Hati-hati sama penjaganya. Soalnya penjaga Grace itu galak." Mengucapkan sambil tertawa.


Sesuai dugaan Reno, si Wenny ini akan mengejeknya dari awal mereka berangkat sampai tiba nanti di Bogor.


"Diem, Lo. Kalau nggak gue turunin Lo ditengah jalan". Ucap Reno yang sedang menyetir dengan kesal.


"Yee .. mobil siapa juga. Ini kan mobil gue kalau Lo lupa" Jawab Wenny masih dengan tersenyum geli melihat nasib temannya, yang melakukan pendekatan tetapi selalu gagal.


Tidak ada jawaban dari Reno, Pria itu hanya fokus menyetir tetapi masih menunjukkan raut wajah yang kesal. Mengingat Grace tadi menolak ajakan mereka untuk berangkat bersama, karena Rey tiba-tiba ingin ikut ke Bogor.


"Udahlah, Ren. Lupain aja Grace. Dia itu istri orang tahu. Lo mau di cap jadi pebinor?". Tanya Wenny menoleh ke wajah Reno yang masih kesal.


"Lo tahu gue, Wenn. Gue nggak mudah menyerah" Ucap Reno dengan berapi-api.


Wenny sudah mulai bosan harus berkali-kali menasehati Reno, tetapi selalu saja lelaki ini menolak dan tidak mau menerima kenyataan.


"Oke, sebagai teman lo. Gue cuma bisa ngasih saran". Ucap Wenny yang memiringkan tubuhnya ke arah Reno di sebelahnya.


"Gue tahu banget sama sifatnya Grace dari kita sekolah sampai dewasa begini. Itu anak nggak akan mudah luluh hatinya. Kalau Lo ngedeketin dia terus seperti ini, yang ada dia malah semakin jauh dari Lo, Ren" Jawab Wenny yang terdengar serius untuk memberi saran.


"Iya gue juga tau, kali" Ucap Reno mengingat setiap kali dia mendekati Grace, wanita itu selalu memberi jarak padanya.


" Nah itu Lo tau. Mending Lo pikirin lagi deh, Ren. Soalnya gue liat Grace itu udah bahagia sama Kak Rey. Mending Lo mundur" Ucap Wenny, agar sahabatnya itu tidak terlalu terluka nantinya jika tidak sesuai dengan apa yang lelaki itu harapkan.


Mendengar nasihat sekaligus saran dari Wenny, Reno tampak diam dan memikirkan hal tersebut. Benarkah dia harus merelakan Grace dan melupakan wanita yang dia cintai itu selama bertahun-tahun lamanya? Kali ini dia harus bisa memastikan kalau Grace memang hidup bahagia. Jika pun nanti wanita itu memang bahagia di pernikahannya, maka Reno akan merelakannya secara perlahan dan memilih untuk mundur.


***


Sementara itu, di mobil yang berbeda dari Reno. Terdengar suara Grace menyanyikan lagu favoritnya dengan bersemangat. Wanita itu tampak sangat kelihatan senang sekali, bisa pergi berdua bersama pujaan hatinya sambil bernyanyi seperti ini. Membuat Grace merasa kalau mereka sedang akan piknik bersama dan menghabiskan banyak waktu berdua.


We were both young when I first saw you


I close my eyes and the flashback starts


I'm standin' there


On a balcony in summer air


See the lights, see the party, the ball gowns


See you make your way through the crowd


And say, "Hello"


Little did I know


That you were Romeo, you were throwin' pebbles


And my daddy said, "Stay away from Juliet"


And I was cryin' on the staircase


Beggin' you, "Please don't go, " and I said


I'll be waiting, all there's left to do is run


You'll be the prince and I'll be the princess


It's a love story, baby, just say, "Yes".


Taylor Swift-- Love story.


Grace menyanyikan lagu tersebut dengan tawa dan senyum yang bahagia. "Ayo, Kak. Nyanyi" Ucapnya sambil menoel-noel dagu sang suami yang hanya memperhatikan kelakuan hebohnya.


"Kamu aja" Kata Rey sambil fokus menyetir tak ayal tersenyum juga melihat tingkah laku istrinya.


"Kamu nggak tahu lagunya ya?". Tanya Grace masih tersenyum dan mengerakkan kepala mengikuti iringan lagu.


"Tahu" Kata Rey yang menolehkan kepala sejenak melihat Grace


"Cukup kamu aja yang ngerusak lagunya" Ucapnya dengan tersenyum dan sudah mengacak-acak rambut Grace tanda gemas.


Terdengar decakan dari Grace atas sindiran Rey tersebut. "Bilang aja kalau suara aku jelek" Kata Grace merapikan rambutnya yang sudah diacak-acak.


Rey langsung tertawa dan menggelengkan kepalanya, tidak menyangka kalau hidupnya bisa menikah dengan wanita yang sudah dia kenal ini sedari mereka kecil. Wanita yang apa adanya, yang menunjukkan dirinya memiliki sifat yang sederhana walau anak orang yang kaya dan tidak menunjukkan kelakuan yang dibuat-buat.


Setelah itu masih terdengar ocehan-ocehan Grace di sepanjang perjalanan mereka menuju Bogor, menemani aktivitas Rey yang menyetir kendaraan mereka supaya pria itu tidak mengantuk dan tetap fokus pada jalan di depan mereka.


***


"What's up, bro". Sapa Rezi dengan toss ala-ala mereka saat melihat Rey sudah datang di acara tersebut.


"Wow, semenjak menikah makin berisi aja lo" Kata Rezi yang melihat badan Rey dari atas sampai bawah yang memang kelihatan berat badannya bertambah.


"Serius, Lo?. Beneran". Tanya Rey dengan tidak percaya.


"Sepertinya Lo, bahagia ya, nikah sama anak pemilik perusahaan" Ucap Rezi dengan bercanda.


"Bisa aja Lo" Jawab Rey yang telah duduk di kursi yang sudah disediakan sambil melihat istrinya yang mengobrol bersama Wenny di depan mereka. Dan tak lupa ada Reno yang mengekori wanita itu sejak tadi.


"Itu buktinya, badan Lo makin makmur aja, Gue lihat" Ucap Rezi mengambil tempat duduk di sebelah Rey.


"Gimana nggak tambah gemuk, gue. Tiap hari dijejelin makanan sama Grace" Jawab Rey masih memperhatikan gerak-gerik sang istri di depannya.


"Wah..wah. Kayaknya masakan Grace enak nih. Boleh dong gue mampir ke apartemen kalian". Rezi menepuk bahu Rey supaya di perbolehkan untuk datang berkunjung.


"Ogah, nggak modal banget Lo. Makan sendiri Sono" Jawab Rey membalas ucapan Rezi.


Melihat Reno yang sudah beraksi mendekati istrinya lagi, dengan selalu berdekat- dekatan. Seketika itu juga Rey beranjak dari kursinya dan menghampiri Grace.


"Gue cabut dulu" Ucapnya berpamitan pada Rezi dan meninggalkan pria itu sendirian, segera menghampiri sang istri yang kelihatan seperti ingin ditikung darinya.


"Ehh. Bukannya itu pak Rey, ya?". Sherli datang secara tiba-tiba menghampiri Rezi.


Rezi hanya menganggukkan kepala saja tanda membenarkan.


"Saya permisi sebentar ya, Pak". Ucap Sherli yang berpamitan pada Rezi. Seketika itu juga Rezi merasa heran kenapa dia selalu ditinggalkan duduk sendirian. Ucapnya dalam hati sambil melihat tingkah laku sekretarisnya yang sudah berjalan ke arah Rey dan Grace.


Barulah Rezi menyadari sepertinya dia harus mencari pendamping hidup agar tidak selalu merasa sendiri. Kemudian mata pria itu hanya fokus memandang ke arah Wenny yang sedari tadi ada bersama Grace yang berada di depannya.


Selanjutnya