
"Apakah hubungan kita ini masih bisa kembali seperti semula?. Apakah kita masih bisa mempertahankan kembali hubungan kita?". Ucap Mitha dengan penuh keberanian sambil menatap wajah pria di depannya dengan raut wajah yang serius dan menunjukkan rasa cinta yang masih ada untuk pria itu.
Mendengar ungkapan Mitha yang sangat berani itu, seketika Rey melepaskan tautan tangan yang digenggam oleh Mitha.
"Semua tidak sama lagi, seperti yang bisa kamu harapkan" Rey berkata dengan tegas untuk kali ini.
Mitha melihat genggaman tangan yang dilepas oleh Rey, dan masih memandang pria itu dengan penuh harap.
"Maksudnya apa, Rey?". Tanyanya dengan tersenyum getir, belum bisa menerima kenyataan.
"Aku sudah menikah, meskipun aku mengatakan masih mencintaimu. Bukan berarti aku bisa kembali padamu. Itu adalah sebuah kesalahan kalau kita melanjutkan hubungan yang seperti ini". Rey sekaligus memandang mata Mitha yang mulai kembali ingin menangis di hadapannya.
"Aku sudah bahagia". Ucap Rey lagi yang terdengar tulus dan memang menunjukkan raut wajah yang penuh dengan kebahagiaan akan rumah tangga mereka bersama dengan Grace.
Mitha meletakkan kedua tangannya di bawah meja dan mulai menundukkan kepala. Dia merasa malu atas perkataannya tadi.
"Aku sudah punya kehidupan yang lebih baik dan bahagia. Aku harap, kamu juga bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri." Lagi-lagi Rey yang berbicara.
"Aku mengerti" Mitha berkata seraya menganggukkan kepalanya.
"Maaf atas perkataan ku yang tidak tahu diri tadi" Katanya lagi sudah mulai menerima kenyataan yang ada.
Rey yang melihat kalau Mitha sepertinya sudah bisa menerima, "Its, oke. No problem". Ucap Rey diiringi dengan senyuman.
"Baiklah, kita sampai disini" Kata Mitha membalas dengan senyuman.
"Sepertinya kali ini kita putus baik-baik" Ucap Mitha lagi, sambil meminum Capuccino latte yang sedari tadi belum dia minum.
Rey tertawa mendengar perkataan tersebut, "Ya. Sepertinya kali ini kita bisa memulai kehidupan kita masing-masing". Ucapnya
"Kita masih bisa berteman, kan?".Tanya Mitha
"Tentu saja" Rey menganggukkan kepala tanda menyetujui.
"Kalau begitu, terimakasih buat semuanya Rey." Mitha mengulurkan tangannya ke arah Rey seperti ingin berjabat tangan kepada pria itu.
Rey menerima uluran tangan tersebut, "Semoga kau bahagia" Kata Rey yang menatap Mitha.
"Ya, semoga kalian juga selalu berbahagia". Jawab Mitha yang sudah menerima kalau hubungan mereka harus berakhir sampai disini.
Selesai berjabat tangan Mitha pamit untuk kembali lagi ke kantor tempat dia bekerja, meninggalkan Rey yang masih duduk sendiri disana yang tampak berpikir dengan keputusan yang diambil tadi. Berkomitmen untuk tetap mempertahankan pernikahannya bersama Grace dan menerima wanita itu apa adanya serta untuk selalu berusaha agar cinta bisa datang di pernikahan mereka kelak.
***
Sementara di ruangannya, Grace tampak gelisah memikirkan Rey yang saat ini bertemu dengan Mitha mantan kekasihnya.
Bagaimana kalau dia sampai di tinggalkan?
Bagaimana kalau Mitha mengajak untuk kembali bersama?
Bagaimana kalau Rey suaminya lebih memilih Mitha daripada dia?
Bagaimana, bagaimana dan bagaimana selalu terlintas di kepala Grace. Kalau dia sampai ditinggalkan oleh Rey apa yang harus dia akan lakukan.
Apa dia harus menjalankan ide Wenny kemarin padanya yang mengatakan, kalau dia harus membuat Rey tambah cemburu dengan selalu berdekatan bersama Reno secara sengaja di depan matanya.
Kalau dia mengambil ide tersebut, Grace semakin takut kalau Rey tambah pergi meninggalkannya dan marah dengannya. Grace belum bisa memutuskan untuk mengambil ide Wenny kemarin atau tidak. Dia terlalu takut dengan resiko itu nantinya yang akan membuat Rey salah paham kemudian meninggalkannya.
Masih dengan acara masak memasaknya Grace, terdengar pintu apartemen terbuka dan muncullah Rey yang menjadi bahan pikirannya satu harian ini.
Grace tersenyum seperti biasa dengan manisnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Selamat datang suamiku" Ucapnya masih dengan senyuman yang terlihat di wajahnya. Menghampiri Rey dengan mengambil tas kerja miliknya kemudian mencium pipi suaminya itu yang sudah menjadi kebiasaannya ketika lelaki itu pulang dari kantor.
Selalu mendengar ucapan selamat datang yang hangat itu membuat Rey tidak bisa untuk tidak tersenyum dan langsung membalas kecupan sang istri di bibirnya yang mungil tersebut. "Terima kasih" Ucap Rey dengan kekehan yang menggemaskan akan tingkah laku Grace padanya.
"Sama-sama" Ucap Grace yang kali ini sudah tertawa. Wanita itu semakin yakin kalau Rey tidak akan meninggalkannya. Membuat Grace bertambah semangat untuk meletakan tas kerja milik Rey di ruangan kerja kemudian melanjutkan acara memasaknya.
Di saat mereka makan malam, seperti biasanya tidak ada obrolan hanya pandangan Grace yang selalu melirik ke arah Rey sesekali tetapi Rey tidak menyadari akan lirikan itu. Grace masih belum bisa memberanikan diri untuk bertanya tentang pertemuan mereka tadi siang.
Sesudah makan malam dan membersihkan diri, Grace langsung menuju ke kamar milik mereka dan Rey yang masih berada di ruangan kerja miliknya seperti biasa.
Grace tampak menonton tv tetapi pikirannya tidak tertuju pada acara yang disiarkan di Televisi tersebut. Wanita itu masih sibuk memikirkan acara pertemuan sang Suami beserta mantannya tadi siang.
"Kamu belum tidur?". Ucap Rey yang kali ini tanpa Grace sadari sudah mulai menaiki ranjang mereka.
Grace menggelengkan kepalanya, " Belum ngantuk". Ucapnya.
Rey yang sudah menaikkan selimut mereka berdua sampai sebatas dada kemudian menarik istrinya itu supaya bisa dia peluk.
"Nggak ada yang mau kamu omongin ke aku" Ungkap Grace akhirnya masih dalam pelukan Rey
Rey terkekeh, "Jadi daritadi kamu mikirin aku?" Tanya Rey masih terkekeh.
Terdengar decakan malas dari Grace, " Ya iyalah, masak suami orang yang aku pikirin. Ya tentu kamu lah". Nada bicara Grace agak sedikit sewot.
Kemudian Grace melepaskan pelukan suaminya dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Tadi bagaimana?". Ucapnya yang menurutnya Rey pasti mengerti akan pertanyaannya yang menjurus ke arah mana.
"Kami cuma mengobrol biasa kok". Ucap Rey yang berbohong dan memilih untuk tidak mengatakan pada Grace yang sebenarnya mengenai ajakan Mitha tadi.
"Ngobrol biasa kalian itu yang bagaimana, Kak?. Aku nggak tau" Terlihat masih sedikit jengkel kalau membahas sang mantan.
"Tadi kami cuma ngobrol menanyakan kabar satu dengan yang lainnya, dan Mitha juga sepertinya sudah terlihat bahagia dengan hidupnya sendiri. Udah itu aja". Ucap Rey menjelaskan yang kini sudah mengikuti Grace untuk duduk.
"Terus alasan dia berbohong ke kamu itu apaan?". Ucap Grace yang masih belum bisa menerima alasan Rey.
"Ohh itu". Rey tampak berfikir sejenak sebelum berkata, " Katanya dia mau nerusin karir nya dan tidak ingin di pusingkan oleh masalah hubungan dulu". Ucap Rey berbohong tidak ingin Grace mengetahui alasan sebenarnya kalau Mitha hanya merasa kasihan dengannya dulu.
Grace tampak menghela nafasnya lega mendengar perkataan suaminya.
"Ya udah". Ucap Grace yang sudah mulai tidur dengan membelakangi Rey.
"Kok kamu tidurnya punggungi aku terus sih". Berkata dengan jengkel melihat sang istri selalu memunggunginya ketika tertidur.
"Aku lebih nyaman posisi begini". Ucap Grace asal.
"Ck, berbalik nggak" Kata Rey lagi.
"Kalau nggak berbalik aku makan kamu" Nada ancaman yang mematikan.
"Iya-iya" Mengalah juga akhirnya dengan berbalik dan masuk ke pelukan sang suami.
Selanjutnya