
"Kita samperin." celetuk Wenny dengan nada berapi-api.
Grace mencekal lengan Wenny, ketika wanita itu hendak menghampiri Rey dan wanita yang tidak dia kenali tersebut.
"Nggak usah Wen, mereka kemungkinan lagi meeting." jawab Grace menahan Wenny untuk tidak menghampiri mereka berdua.
"Meeting, bagaimana maksud Lo. Itu si cewek dandanannya nggak formal begitu. Lo liat bajunya aja kurang bahan begitu." timpal Wenny yang masih ingin melangkah ke resto.
"Udah, biarin aja Wen. Kalau memang mereka meeting beneran bagaimana? tiba-tiba kita samperin kan malu, Wen. Udah entar Gue aja yang nanya Kak Rey di rumah." jawab Grace, meskipun dia melihat Suaminya bersama wanita cantik layaknya pasangan. Dia masih mencoba berpikir positif.
"Ayo, Wen. Buruan." Grace berjalan mendahului Wenny supaya sahabatnya itu mengikuti langkah kakinya untuk meninggalkan area resto tersebut.
Wenny berdehem mulai melangkahkan kakinya untuk mengikuti Grace dan berjalan ke stand sepatu langganan mereka.
"Lo nggak lagi punya masalah kan Grace? Rumah tangga Lo baik-baik aja kan?" tanya Wenny ketika langkah kaki mereka sudah sejajar.
Grace menoleh dan menatap Wenny, senyuman palsu tercetak di wajah Grace. Berusaha menampilkan bahwa pernikahan dan kehidupannya sedang baik-baik saja.
"Baik Wen. Lo tenang aja deh." Grace merangkul pundak Wenny sahabatnya itu dengan senyuman yang ceria. Berpura-pura ternyata tidak mudah juga, pikir Grace dalam hatinya.
"Iya Gue curiga aja sama Lo, akhir-akhir ini Lo bawaannya aneh. Resign mendadak, terus nggak pernah cerita apapun lagi ke Gue. Kalau ada apa-apa itu cerita Grace." Wenny berbicara panjang lebar, seperti masih mengkhawatirkan Grace dan pernikahannya.
"Iya-iya. Lo cerewet amat sih." ucap Grace dengan tertawa dan masih menampilkan senyuman palsunya pada Wenny.
Wenny melengos malas melihat tingkah laku Grace, yang berpura-pura seperti itu.
"Awas aja kalau Gue denger masalah Lo dari orang lain, bukan Lo sendiri yang cerita ke Gue. Beneran Gue nggak mau lagi jadi sahabat Lo tau nggak." Wenny berbicara dengan nada mengancam, membuat langkah kaki Grace terhenti sejenak. Memikirkan ucapan Sahabatnya itu.
"Kenapa Lo?" tanya Wenny dengan curiga.
Grace dengan cepat menggelengkan kepalanya kuat-kuat, takut Wenny curiga dengan gelagatnya.
"Nggak kenapa-napa Wen. Gue jadi takut dengan ancaman Lo." ucap Grace dengan menyengir kaku.
"Makanya kalau ada apa-apa itu cerita Grace. Kita udah lama sahabatan, Gue udah nganggep Lo saudara Gue tau nggak." jawab Wenny menggandeng lengan Grace supaya berjalan kembali menelusuri mall.
"Iya... iya." jawab Grace dengan mengikuti langkah kaki Wenny, masih berusaha menganggap semua akan baik-baik saja pada pernikahannya.
Lama mereka berdua mencari sepatu dan berbelanja di mall tersebut. Grace bisa melupakan sejenak masalah dan kehidupan pribadinya bersama Sahabatnya itu. Saat sudah mendapatkan apa yang mereka cari, kini Wenny meminta untuk pulang karena keluarga Rezi, sedang bertamu ke rumahnya.
"Grace, nggak apa-apa ya kita pulang agak cepetan. Sungkan banget Gue sama calon mertua Gue." ucap Wenny ketika mereka sudah berada di dalam mobil dan hendak meninggalkan area mall.
"Nggak apa-apa kali, Wen. Santai aja kayak siapa aja Gue jadinya" jawab Grace sambil memasang seatbelt milikinya.
****
Sesampainya di dalam apartemen, Grace terduduk lemas di sofa ruang tamu mereka. Saat wanita itu pulang, dia belum mendapati Suaminya di rumah. Grace kini mengecek pesan terakhir yang wanita itu kirimkan pada Rey, namun nihil tidak ada balasan tertera di pesan tersebut.
Ada apa dengan Suaminya, akhir-akhir ini. Grace merasa Rey tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kamu kenapa sih, Kak.?" ucap Grace lirih berbicara pada diri sendiri sambil menidurkan tubuhnya di atas sofa. Wanita itu sungguh-sungguh merasa kesepian saat ini.
"Tenang Grace, semua pasti baik-baik aja kok. Semua baik-baik aja, Lo harus yakin." ucapnya lagi menenangkan pikirannya yang berkecamuk selama di mall tadi hingga sekarang.
Grace berusaha menghalau pikiran negatif yang menerpa otaknya dengan membersihkan diri dan memasak untuk makan malam mereka berdua.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.30, Rey masih belum pulang juga. Pesan Grace pun belum terbalas sama sekali. Sesibuk apa Suaminya, hingga tidak mengecek handphone sampai sekarang?
Grace berusaha untuk melakukan panggilan, namun hal serupa dia dapati. Panggilan tersebut memang terhubung namun tidak di jawab oleh si empunya nomor.
Setelah melakukan panggilan yang entah keberapa kalinya, akhirnya Grace memutuskan untuk menunggu saja. Nanti kalau Rey sudah pulang dia akan bertanya mengenai apa yang terjadi tadi siang dan siapa wanita yang bersama Rey tadi.
Setelah menata makan malam di atas meja, Grace menunggu Rey untuk pulang sambil membuka handphone miliknya untuk mengalihkan pikiran-pikiran buruk yang berkelabat.
Merasa bosan dengan membuka akun media sosial dan lainnya, kini Grace menatap jam yang berada di ruangan tersebut. Sontak dia terkejut ternyata jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam hari, dan sampai sekarang Rey belum membalas pesan dan memberinya kabar sedari pagi.
"Kamu kemana sih, Kak. Jangan buat aku takut deh." Grace berbicara sembari melakukan panggilan lagi tetapi suaranya sudah hampir menangis.
Baru saja Grace kembali menekan nomor Rey, tiba-tiba pintu apartemen mereka terbuka dan menampilkan Rey yang sudah pulang.
Mendengar suara pintu apartemen yang terbuka, Grace langsung melihat siapa yang datang. Wanita itu langsung menangis karena melihat Suaminya sudah pulang. Grace berjalan dengan cepat menghampiri Rey yang masih di dekat pintu dengan air mata yang bercucuran.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Rey saat Grace sudah menghampirinya.
"Kamu kemana aja sih Kak seharian ini nggak ngabarin aku. Pesan aku juga nggak di balas dari pagi. Sesibuk apa sih Kamu?" tanya Grace sudah terisak sambil memukul lengan Rey. Agar pria itu tahu bagaimana rasanya tidak mendapat kabar seharian.
"Udah-udah, jangan nangis." Rey menarik Istrinya itu untuk dia peluk tetapi Grace menolaknya.
"Jelasin kamu kemana seharian ini?" tanya Grace kembali, menghapus sendiri air matanya dengan kasar.
"Aku meeting Grace, kan aku udah bilang tadi pagi."
"Maksud kamu apa sih? ya meeting dengan client lah Grace. Terus sama siapa lagi." Rey menjawab dengan nada meninggi, karena dia sudah capek seharian ini ditambah mendapat sambutan yang tidak bagus dari Grace. Memuat moodnya berantakan seketika.
"Kamu kok marah, jadinya?" tanya Grace tidak mau kalah.
Rey tidak menjawab pertanyaan dari Grace, pria itu langsung melangkah menuju kamar dan meninggalkan Grace sendirian di ruang depan.
"Kak?" panggil Grace, air mata kembali menghiasi pipinya. Baru kali ini Rey marah padanya selama mereka menjalin rumah tangga. Melihat Rey marah seperti itu, membuat Grace takut dan tidak ingin lagi memancing kemarahan Suaminya.
Grace pun menyusul Rey ke dalam kamar, dia melihat Rey tengah bersiap untuk mandi.
"Kamu sudah makan?" tanya Grace untuk mengalihkan suasana.
"Belum" jawab Rey seadanya, sambil berjalan ke dalam kamar mandi dan segera menutup pintu.
Saat Rey sudah selesai mandi, Grace memberanikan diri untuk mendekati lelaki itu.
"Ayo makan." ajak Grace dengan takut-takut, dan hanya dijawab deheman saja oleh Rey. Sepertinya Rey marah kali ini. Terbukti pria itu tidak mau menatap wajah Grace sedari tadi.
Tidak ada perbincangan di antara mereka berdua, hanya bunyi sendok saja yang menghiasi apartemen tersebut. Grace masih takut untuk memancing kemarahan Rey saat ini. Nanti setelah makan dia akan menanyakan semuanya pada Rey.
***
"Kak." Grace menahan Rey saat pria itu hendak masuk ke ruang kerjanya.
"Aku mau ngomong." ucap Grace lagi sembari menundukkan kepala.
"Ngomong apa?" nada suara Rey sudah melembut, membawa wanita itu untuk duduk di sofa. Mereka duduk bersebelahan saat sudah sampai disana.
"Aku tadi ngeliat kamu di mall." ucap Grace dengan berani menatap wajah Sang Suami untuk melihat reaksinya.
Terlihat rasa terkejut tercetak jelas di raut wajah Rey.
"Wanita itu client kamu?" tanya Grace lagi dan mendapat anggukan dari Rey.
"Ohh.. terus Papa kemana?" Grace masih belum puas untuk bertanya.
"Papa nggak jadi datang." jawab Rey, mengalihkan pandangannya ke depan.
"Jadi tadi kalian meeting berdua aja?"
"Hm." Rey menjawab seadanya.
"Kok di mall sih Kak, meetingnya?
"Dia maunya di mall, jadi aku turutin."
"Terus kamu kemana seharian ini, nggak bales pesan aku?" lagi-lagi Grace bertanya dengan penasaran.
Rey menghembuskan napasnya dengan kasar, "Aku sibuk Grace, seharusnya sebagai pegawai kantoran kamu juga udah tahu bagaimana sibuknya aku." jawab Rey, lelaki itu tidak mau menjelaskan lebih pada Grace seperti biasanya mereka berkomunikasi untuk meluruskan kesalahpahaman.
Grace hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ya udah aku beresin pekerjaan aku dulu." jawab Rey sembari melangkah masuk ke ruangan kerja miliknya. Kembali meninggalkan Grace seorang diri disana. Yang masih belum puas dengan jawaban pria itu.
***
Grace melihat jam di kamar mereka, ternyata Rey memasuki kamar dan bergabung untuk tidur di sebelahnya pada saat dini hari menunjukkan pukul 2 pagi.
Ada yang berubah dari pria itu, dulu kalau Grace tidur memunggungi Rey seperti sekarang ini. Rey akan memeluknya dari belakang dan membawa Grace masuk ke dalam dekapannya. Tetapi sekarang Rey tidur sendiri tanpa memeluk Grace yang sudah menjadi kebiasaannya selama ini.
"Sudahlah, mungkin dia lagi capek." Grace berbicara dalam hati. Melanjutkan tidurnya dan tidak ingin berpikiran lebih.
Tring.... tring.... tring
Suara handphone membangunkan Grace dari tidurnya, Grace baru menyadari ternyata pagi sudah datang. Dia juga mendapati Rey sudah tidak ada di sebelahnya. Tenyata Suaminya itu sedang berada di kamar mandi.
Grace mengambil handphone Rey yang berbunyi sedari tadi, menampilkan nama 'Mama' tertera disana.
Grace menjawab panggilan tersebut, "Ha.." ucapannya terpotong ketika Anita sudah berbicara duluan di seberang sana.
"Halo, Rey. Kamu udah di jalan? Buruan Rey keluarga pak Herlambang sudah datang." ucap Anita dengan nada suara yang memerintah. 😒
*
*
*
Siapkan tisu dan batu gengksss... Jan pelit vote, biar Author nggak pelit update 😅