
Rey masih menatap wajah didepannya dengan penuh kerinduan. Berbulan-bulan tidak bertemu satu dengan yang lainnya, justru membuat Rey ingin sekali bertanya banyak hal mengenai apa saja yang sudah dilakukan wanita di hadapannya sekarang.
""Kalau ku lihat, kau baik-baik saja". Wanita itu tak lain adalah Mitha sang mantan kekasih. Mengucapkan sapaan dengan senyuman yang manis seperti biasanya mereka berjumpa.
Rey tersenyum sejenak, sambil membuka buku menu yang sudah tersedia di atas meja sedari tadi dia menunggu.
"Kau ingin memesan apa?". Tanya Rey yang menyodorkan buku menu ke hadapan Mitha.
"Seperti biasa Rey, capuccino latte". Masih dengan senyuman yang manis ketika menjawab pertanyaan Rey.
"Baiklah" Kata Rey seraya memanggil salah satu pelayan di cafe tersebut.
"Aku dengar kau sudah menikah" Mitha berbicara lebih dulu.
Rey menganggukkan kepala, "Ya, aku sudah menikah dengan Grace". Ucapnya kali ini terpancar dengan raut wajah sumringah yang menurut Mitha kalau lelaki di depannya ini memang berbahagia dengan pernikahan mereka.
"Sepertinya kau berbahagia, Rey?". Tanya Mitha to the point dan tidak berbasa-basi.
Lagi-lagi Rey menganggukkan kepala, sebelum menjawab. "Aku memang bahagia". Ucapnya tersenyum lebih antusias.
"Dan kau tidak mengundangku ke pesta pernikahan kalian". Ucap Mitha yang membalas pernyataan barusan.
"Dan kau membohongiku". Rey mengangkat alisnya dengan muka yang penuh tanda tanya.
"Kenapa kau berbohong?". Tanyanya lagi, masih penasaran kenapa Mitha tega berbohong ketika Rey ingin mempertahankan hubungan mereka.
"Maafkan aku". Ucap Mitha dengan kepala yang tertunduk ke bawah.
"Kenapa kau melakukan hal itu?". Tanya Rey masih antusiasnya.
Sebelum menjawab kini Mitha mengangkat kepalanya dan memulai untuk berbicara serius dengan Rey. "Aku melakukan hal itu karena aku merasa tahu diri Rey". Ucapnya secara serius yang menunjukkan kesungguhan.
"Tahu diri bagaimana maksudmu?". Bertanya dengan raut wajah yang masih bingung mendengar pengakuan Mitha.
"Aku cukup tahu diri Rey, dibandingkan dengan keluargamu bersama dengan keluargaku yang hidup dengan sederhana, aku cukup tahu diri untuk itu". Ucapnya dengan mengaku jujur pada Rey.
"Itu bukan alasan, kalau memang menurutmu keluarga kita tidak pantas satu sama lain. Mengapa selama ini kau masih bertahan denganku?. Kita sudah menjalaninya bertahun-tahun Mitha". Suara Rey terdengar seperti kecewa dengan alasan yang tidak masuk akal itu menurutnya.
"Maafkan aku....maafkan aku". Mitha meminta maaf kini wajah Mitha sudah dipenuhi penyesalan.
"Katakan sejujurnya, apa alasanmu membohongiku?". Tanya Rey lagi.
Sebelum menjawab dan mau membuka suaranya, Mitha berhenti sejenak karena pelayan menghampiri mereka untuk mengantarkan menu yang mereka pesan tadi.
"Rey?". Ucap Mitha yang menatap capuccino latte yang perempuan itu pesan. Namun belum meminumnya sedikit pun.
Mendengar namanya di sebut seperti itu membuat Rey cuma bisa menautkan alisnya satu sama lain. Jujur dia sangat kecewa dengan keputusan yang telah diambil oleh mantannya ini karena mengakhiri hubungan mereka. Jauh didasar lubuk hatinya Rey masih ingin berjuang bersama untuk wanita yang masih dicintainya itu.
"Sebenarnya aku berbohong mengenai perjodohan itu, karena aku sudah tahu. Kalau Grace selama ini sudah menyukai kamu sejak dulu, aku melihatnya mempunyai rasa suka denganmu semenjak kita kuliah dulu. Aku hanya merasa kasihan dengannya. Ditambah waktu itu kamu cerita ke aku kalau kamu dijodohkan bersamanya. Aku cukup tahu diri Rey, aku nggak bisa egois seperti itu yang terus mempertahankan hubungan kita. Terus papa kamu sepertinya belum bisa menerima kehadiran aku kan. Jadi aku hanya bisa mengalah saja untuk melepasmu dengan Grace." Ucap Mitha panjang lebar dengan keputusannya untuk berpisah dengan Rey waktu itu.
"Tapi kan kamu sudah tahu, aku masih ingin berjuang untuk hubungan kita kedepannya waktu itu, Mitha". Jawab Rey yang masih terdengar kecewa dengan suara yang hampir seperti membentak.
Rey terdengar menghela nafasnya kasar, melihat perempuan di depannya ini sedang menahan tangis. Dia jadi tidak tega untuk berbicara dengan kasar.
"Kamu sudah tahu juga selama kita menjalani hubungan ini, aku tidak pernah memandang Grace sedikit pun dari awal kita jadian. Iya aku memang tahu sejak dulu dia memang sudah menyukaiku. Tetapi kamu bisa lihat sendiri kalau aku lebih memilihmu waktu itu dan banyak tidak memperdulikan dia sama sekali. Kamu juga sepertinya tahu kalau aku hanya menganggapnya seorang adik kan?. Sudah berulang kali aku menjelaskan padamu mengenai perasaan ku dengan Grace. Tapi Mit?".... Ada jeda sejenak sebelum Rey berbicara lagi. "Jujur aku sungguh kecewa denganmu". Ucap Rey akhirnya yang mengutarakan perasaannya kini dengan Mitha.
"Iya Rey, aku tahu aku yang salah disini". Mitha sudah menangis mengucapkannya.
Melihat Mitha yang sudah mulai menangis, Rey seketika dipenuhi rasa bersalah yang justru membuatnya merasa sakit ketika melihat wanita yang dia cintai menangis di depannya.
"Sudah jangan menangis". Ucapnya yang berpaling untuk tidak melihat Mitha yang sedang menangis. Bagaimana pun Rey masih memiliki rasa suka terhadap wanita ini, melihatnya menangis seperti itu justru membuat nya juga terluka.
Mitha seketika mengambil tisu di dalam tasnya dan menyeka air matanya yang sudah mengalir deras membasahi pipinya, di dalam lubuk hati wanita itu justru ada rasa penyesalan mengapa dia bisa melepas kekasihnya kepada wanita lain.
"Apa kau marah denganku". Kata Mitha lagi ketika sudah menyeka air matanya dan menetralkan perasaan di dalam hatinya.
"Kenapa aku harus marah denganmu. Aku tidak marah. Aku hanya kecewa saja". Ucap Rey kini dengan suara yang melembut.
Mitha cuma bisa memahami dan mengerti dengan perkataan Rey yang mengatakan kalau kecewa dengannya. Mitha hanya menundukkan kepalanya ke bawah, terlihat ada rasa sedikit penyesalan dengan keputusan yang dia ambil secara sepihak itu dulunya. Di saat Rey ingin berjuang dia malah melepaskan pria itu ke pelukan wanita lain, dan dia kini mulai menyesalinya.
"Bagaimana kabarmu, apakah kau baik-baik saja selama ini?". Ucap Rey akhirnya yang belum menanyakan sama sekali kabar wanita itu daritadi.
"Aku baik-baik saja Rey, seperti yang kau lihat" Kata Mitha seraya menganggukkan kepalanya , wajahnya sudah mulai tersenyum kembali.
"Ohh" Jawab Rey seadanya.
"Rey, apa kau masih mencintai ku?". Tanya Mitha memberanikan diri untuk bertanya hal seperti itu kepada suami orang lain.
Bukannya menjawab Rey justru bertanya kembali. "Kau, apakah masih mencintai ku selama ini?". Tanya Rey yang tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Aku masih mencintai mu, Rey. Aku masih sayang denganmu". Ucap Mitha masih dengan tersenyum penuh keyakinan seraya menggenggam tangan Rey yang berada di atas meja.
"Bagaimana denganmu?". Tangannya masih memegang tangan Rey. Dan Rey juga tidak menolak genggaman tersebut.
"Aku masih mencintaimu". Ungkap Rey jujur.
Seketika itu juga Mitha tersenyum mendengar pengakuan dari mantannya tersebut. Dia masih yakin hubungan mereka masih dapat dipertahankan, pikirnya di dalam hati.
"Rey?"... Ada jeda sejenak sebelum Mitha mengutarakan keinginannya.
"Apakah hubungan kita ini masih bisa kembali seperti semula?. Apakah kita masih bisa mempertahankan kembali hubungan kita?". Ucap Mitha dengan penuh keberanian sambil menatap wajah pria di depannya dengan raut wajah yang serius dan menunjukkan rasa cinta yang masih ada untuk pria itu.
Selanjutnya
***
Sabar masih diketik, boss
Jangan lupa vote. Sorry kalau banyak typo