
Hari demi hari berlalu, membuat Grace sudah mantap dengan keputusan yang beberapa hari terakhir ini dia pikirkan. Akhirnya Grace memutuskan untuk keluar dari perusahaan Wijaya Corporation dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Wanita itu mengambil keputusan tersebut tanpa berbicara dahulu dengan Rey. Dia juga berpikir apapun yang dia putuskan, pasti Suaminya akan mendukung apapun itu.
Saat ini Grace akan mendatangi kantor Gilang, untuk mengutarakan niatnya. Berharap Ayahnya itu mengerti dan menyetujui keinginannya untuk melepaskan pekerjannya di perusahaan tersebut.
Tok.... tok..... tok
" Ayah, Grace masuk ya." ucap Grace seraya mengetuk pintu kantor ruangan Gilang Wijaya.
Meskipun tidak ada sahutan dari dalam , Grace tetap memasuki ruangan tersebut. Grace melihat ternyata Ayahnya lagi sibuk mengurus dokumen-dokumen kantor yang menumpuk di mejanya.
"Ayah sibuk?" tanya Grace mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Gilang.
"Lumayan, Nak. Ada apa?" tanya Gilang kembali, menatap wajah Grace sebentar kemudian fokus pada dokumen tersebut.
Sejenak ada keraguan di dalam diri Grace untuk menyampaikan niatnya.
"Ayah, Grace mau bicara serius." kata Grace terdengar gugup. Wanita itu menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Gilang yang berada di depannya saat ini.
" Bicaralah, Ayah mendengarkan." jawab Gilang dengan suara yang lembut, supaya putrinya tidak ketakutan untuk berbicara padanya.
Seketika itu juga Grace mengangkat kepala dan menatap wajah Ayahnya dengan keberanian.
" Ada apa, hm?" tanya Gilang kembali pada Grace.
"Hm... Ayah janji nggak marah." Grace menyodorkan jari kelingkingnya kepada Gilang untuk mengucapkan janji terlebih dahulu.
Tentu saja perbuatan tersebut disambut baik oleh Gilang, "Iya.. Ayah janji. Mau bicara apa Nak?" tanyanya lagi sambil menautkan jari kelingkingnya pada Grace.
"Grace, boleh resign nggak Yah?" Grace langsung menunduk, dia takut melihat ekspresi Ayahnya saat ini.
Gilang mengerutkan dahinya, apa dia tidak salah dengar dengan ucapan putrinya tadi?
" Resign? maksud kamu artinya kamu tidak bekerja lagi?" tanya Gilang kembali memastikan apa yang barusan dia dengar.
Grace menganggukkan kepalanya, "Iya, Yah." ucapnya kemudian. Dia masih merasa takut akan penolakan.
"Boleh Ayah tahu apa sebabnya, kamu tiba-tiba ingin tidak bekerja lagi?"
"Grace cuma mau fokus sama pernikahan Grace , Yah." ucapnya
"Ada masalah dengan rumah tangga kamu, Nak?" tanya Gilang dengan penasaran. Selama ini putrinya itu tidak pernah menceritakan bagaimana kondisi rumah tangga mereka. Hal itu membuat Gilang ingin mengetahui lebih tentang mereka.
"Tidak ada kok, Yah. Grace cuma mau fokus saja. Kalau Ayah tidak mengizinkan, Grace akan menurut, Yah." jawab Grace, matanya menatap Sang Ayah dengan penuh keyakinan akan kondisi rumah tangga mereka.
Gilang sejenak menghirup napas dalam-dalam, mengatur suasana hatinya. Sebenarnya dia juga sangat keberatan kalau putrinya itu tidak bekerja lagi dan menghabiskan banyak waktu di rumah.
"Apa anak Ayah bahagia?" tanya Gilang yang belum menjawab permintaan Grace tadi.
"Bahagia kok, Yah." suara Grace tercekat dan menunjukkan keraguan di dalamnya.
"Kalau ada apa-apa cerita Nak. Selama ini kamu tidak pernah cerita ke Ayah mengenai pernikahan kamu. Kamu harus tahu apapun yang kamu alami sangat penting buat Ayah." ucap Gilang.
"Kita duduk di sofa." ucap Gilang lagi sambil berlalu dan menuntun putrinya agar berbicara dengan nyaman di sofa. Grace pun menyusul Sang Ayah dan mengikutinya untuk duduk di sofa yang bersebelahan dengan Gilang.
"Katakan ada apa, Nak?" tanya Gilang saat mereka sudah duduk bersebelahan.
Grace langsung memeluk Ayahnya itu dan menyandarkan kepalanya di bahu Gilang.
"Nggak ada apa-apa, Yah. Grace mau program kehamilan aja, jadi Grace mau mengurangi jadwal Grace beraktivitas. Supaya Ayah bisa segera dapat cucu. Hehehe." Grace mengucapkannya dengan nada lucu yang terkesan dipaksakan.
"Benarkah?" tanya Gilang antusias dan mendapatkan anggukan dari Grace yang masih memeluk Sang Ayah untuk bermanja.
"Ayah senang kan bisa dapet cucu dari Grace?" tanyanya balik.
"Ya senang banget Grace." jawab Gilang sangat antusiasnya.
"Jadi bagaimana Yah, apa Grace boleh keluar dari perusahaan?" tanya Grace dengan hati-hati takut Gilang akan menolak permintaan tersebut.
"Jawab Ayah dulu. Apa kamu benar-benar bahagia?" tanya Gilang menatap Grace untuk menyelidiki kebenaran yang terpancar di mata Sang Putri.
"Grace bahagia banget kok, Yah. Kak Rey baik banget. Pokoknya Grace bahagia banget sama pernikahan Grace, Yah." jawab Grace masih memeluk Sang Ayah yang berada di sebelah tempat dia duduk.
"Terus kalau kamu keluar dari perusahaan, pasti kamu akan bosan Grace di rumah terus. Suami kamu juga kan kerja, apa kamu nggak akan bosan?" Gilang menatap Grace dengan pandangan lembut, agar anaknya lebih memikirkan keputusan yang dia ambil secara matang agar kedepannya nanti tidak akan menyesal.
"Kalau Grace bosan, Grace akan mampir kesini Yah. Bantuin Ayah kerja." jawabnya meyakinkan Gilang.
Tidak ada jawaban dari Gilang, sejujurnya dia merasa berat untuk melepaskan putrinya supaya tidak bekerja lagi. Namun, demi kebaikan dan kebahagiaan Grace, seorang Ayah seperti Gilang pasti akan melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya, bukan?
"Kalau kamu bahagia , Nak. Ayah setuju." jawab Gilang, sambil mengelus rambut Grace dengan lembut. Tak lupa mengusap kening Sang Putri sebagai tanda sayangnya dia.
Grace melebarkan pandangan ke arah Gilang dengan antusiasnya, " Beneran, Yah." ucapnya kegirangan seperti mendapat hadiah.
Gilang menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaan Grace, putrinya.
"Terima kasih Ayah, Sayang." ucap Grace mengeratkan pelukannya terhadap Gilang dan di balas ciuman di kepala miliknya oleh Sang Ayah.
"Yang penting kamu harus bahagia, ya." kata Gilang kemudian.
"Iya, Yah. Pasti."
"Sebelum kamu resign, kamu harus persiapkan Reno sebagai pengganti kamu, Nak. Ayah belum bisa mempercayai orang lain selain dia." ucap Gilang dengan serius.
Grace menyetujui permintaan Ayahnya, "Baik Yah." balasnya.
"Ayah akan beri kamu waktu selama satu bulan untuk membereskan semua kerjaan kamu."
"Iya, Yah."
"Asal yang penting Kamu bahagia terus jangan lupa sering kunjungi Ayah, ya." Gilang mengucapkannya dengan nada yang berat dan terdengar sedih.
"Pastilah Ayah. Mana mungkin Grace tahan tidak melihat wajah Ayah." jawab Grace yang menghamburkan diri kembali memeluk Ayahnya.
"Cepat beri Ayah cucu."
"Doain Grace ya Yah. Biar Ayah segera dapat cucu."
"Hm."
"Kalau Ayah perlu bantuan Grace, Ayah bilang aja ke Grace. Ayah tidak boleh kerja terlalu berat. Oke!" seru Grace dengan nada yang memerintah.
"Iya." jawab Gilang mencium puncak kepala Grace, putrinya yang sudah dia besarkan selama ini.
"Kamu juga, kalau ada apa-apa itu cerita Nak. Biar Ayah juga tahu keadaan kamu." jawab Gilang lagi.
"Siap, Ayah Sayang." balas Grace.
"Ayah sehat-sehat terus ya."
"Iya."
"Ayah nggak boleh kecapekan."
"Hm."
"Terus Ayah jangan lupa konsultasi ke dokter."
"Iya, Nak."
"Jangan lupa minum obat, Yah."
"Kamu ini kok jadi cerewet banget." Gilang berkomentar.
"Pokoknya kalau ada apa-apa, Ayah harus kasih tahu Grace. Nanti Grace telfon Ayah setiap hari deh." jawabnya.
"Iya Nak."
Hening
Grace masih memeluk Gilang dengan nyamannya di sofa ruangan tersebut.
"Yah?"
"Terima kasih sudah menjadi Ayah Grace dan Glenn, yang sangat baik."
"Tumben kamu ngomong begitu?" tanya Gilang dengan terkekeh.
Grace menggelengkan kepalanya, "Nggak apa-apa, pokoknya terima kasih Ayah." ucap Grace dengan senyuman.
" Iya."
"Grace sayang banget sama Ayah." jawab Grace sambil mencium pipi dan memeluk Gilang. Biarlah hanya dia yang tahu bagaimana kondisi hatinya saat ini. Ayahnya tidak boleh tahu, cukup Ayahnya melihat dia bahagia itu sudah membuat Grace sangat senang.
Selanjutnya