
Selesai menemani Wenny makan siang, Grace langsung menemui Suaminya yang sedang menunggu di ruangan milik lelaki itu sendiri.
"Siang Bu". Sapa Andra selaku Sekretaris Rey yang meja kantornya berada di pintu depan ruangan tersebut
"Siang, Andra. Pak Rey nya ada?". Ucap Grace.
"Ada Bu, silahkan masuk". Ucap Andra ramah sambil membukakan pintu.
Ketika pintu di bukakan, Grace sudah bisa melihat bahwa ternyata Rey sibuk dengan dokumen kantor miliknya.
Grace pun bingung dengan pikirannya sendiri, untuk apa juga lelaki ini memanggilnya di waktu dia sibuk dan dirinya juga yang sibuk dan banyak kerjaan di kantor hari ini.
"Hmm". Ucap Grace sambil berdehem karena sepertinya dia tidak di gubris oleh suaminya yang aneh tersebut.
Mendengar suara sang istri, Rey menatap Grace dan seketika tersenyum dengan sungguh manis sewaktu melihat istrinya sudah datang di ruangannya.
"Kenapa, kamu senyum-senyum begitu?". Ucap Grace sambil mendudukkan dirinya di sofa ruangan tersebut.
Rey berhenti sementara untuk mengerjakan dokumen kantor miliknya dan menghampiri sang istri untuk duduk di sofa bersamanya.
"Emang, nggak boleh senyum sama istri sendiri?". Jawab Rey yang sudah duduk bersisian dengan istrinya itu sambil merapikan rambut Grace yang meskipun tidak berantakan.
Grace hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Rey dan lebih memilih menikmati belaian di rambut miliknya.
"Ada apa kamu manggil aku ke sini, Kak?". Tanya Grace yang menanyakan tujuannya datang ke ruangan Rey.
"Ohh, aku cuma mau bilang kalau Minggu depan aku udah resign dari perusahaan". Ucapnya sambil mendekatkan tubuh istrinya untuk di peluk.
"Kamu udah bilang ke Ayah?". Tanya Grace yang sudah menerima pelukan dari sang suami yang berada di samping nya.
Grace bisa merasakan anggukan kepala dari Rey yang mendengar pertanyaannya barusan.
"Aku baru diskusi ke Ayah tadi. Sepertinya Glenn juga sudah banyak belajar". Ucapnya masih memeluk sang istri dan mencium rambutnya yang wangi.
"Ohh, berarti aku nggak bisa bareng ke kantor lagi sama kamu dong?". Tanya Grace sambil melepaskan pelukan.
"Kamu kan selama ini udah biasa nyetir sendiri. Jadi tidak ada masalah kan?". Tanya Rey yang malah berbalik bertanya dengan kesanggupan Grace untuk menyetir sendiri ke kantor.
"Iya sih, tapi lebih enak disetirin sama kamu" Jawabnya yang ingin terkesan manja pada Rey.
"Nggak usah manja deh Grace. Bukannya kamu udah tau aku nggak suka dengan sifat manjanya kamu". Jawab Rey yang terdengar dingin kepada Grace mendengar perkataan Grace barusan. Padahal niatnya hanya ingin sekedar bermanja saja, apa salahnya. Pikir Wanita itu dalam hati.
Melihat reaksi suaminya yang mulai menunjukkan raut wajah yang tidak enak untuk di pandang. Grace pun menghentikan gerakan-gerakan yang bersifat manja pada suaminya.
"Iya.... iyaa". Ucapnya sambil tertunduk lesu.
"Kalau aku ada waktu, aku akan antar kamu ke kantor" Jawab Rey sambil berdiri dan kembali ke meja kerjanya.
"hmm". Jawab Grace seadanya karena malas untuk berdebat. Baru aja romantis kenapa mereka sekarang sudah menunjukkan tanda-tanda untuk berdebat. Pikirnya lagi
"Kalau nggak ada yang ingin kamu sampaikan lagi. Aku ke ruangan ku dulu, Kak". Jawabnya lagi sambil berdiri dan hendak meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan jengkel.
"Grace?". Panggil sang suami.
Grace pun menoleh sejenak ke arah Rey.
"Kamu marah?". Tanya Rey lagi.
"Nggak, untuk apa juga aku marah". Jawab Grace berbohong.
"Aku kirain kamu marah". Ucap Rey yang sudah duduk di meja kerjanya.
"Aku keluar dulu kak". Jawab Grace yang memilih untuk tidak menjawab pertanyaan barusan.
"Grace?". Masih memanggil sang istri seolah-olah pembicaraan mereka belum selesai
Grace lagi lagi menoleh dan hanya mengerutkan dahinya saja. Apa lagi sih, ucapnya dalam hati.
"Nanti aku resign, jangan coba-coba untuk berdekatan dengan teman kamu itu". Ucap sang suami yang mengutarakan niat sebenarnya memanggil Grace ke ruangannya.
***
Grace yang mendengar perintah dari suaminya untuk menjauhi Reno seketika marah karena tidak ada rasa percaya padanya dalam menjalani pernikahan ini.
"Kamu pikir, aku gampang di goda seperti itu sama orang lain?". Ucapnya dengan nada yang marah, belum di tambah rasa jengkel nya tadi yang mengingat Rey bersikap dingin padanya.
"Kamu nggak percaya sama aku?". Ucapnya masih berdiri di ambang pintu ruangan tersebut.
"Kamu keterlaluan tau nggak sih, Kak". Ucapnya lagi sambil keluar dari ruangan itu dan membanting pintu dengan keras.
Grace masih bisa mendengar dari luar ruangan, suara teriakan suaminya yang sedang memanggil namanya. Wanita itu langsung berlari menuju lift dan segera masuk ke ruangan miliknya sendiri.
"Dimana, dia?". Tanya Rey pada Andra yang segera menyusul keluar ruangan setelah sang istri terlihat marah.
"Ibu, sudah memasuki lift pak". Jawab Andra yang sepertinya kebingungan kepada sepasang pengantin tersebut.
Rey segera memasuki ruangan istrinya itu tanpa mengetuk pintu dari luar, ketika di dalam Rey sudah mendapati Grace sedang sibuk dengan dokumen kantor miliknya.
"Aku sibuk, kita bicara nanti aja". Ucap Grace ketus kepada Rey ketika wanita itu melihat kalau suaminya sudah memasuki ruangannya.
"Kamu marah?". Jawab Rey yang kini berdiri di samping kursi meja kerja istrinya.
"Menurut kamu?" Tanya Grace masih sambil mengecek dokumen, tidak memperdulikan Rey yang berdiri di sampingnya.
"Menurut aku kamu marah". Jawab Rey
"Itu tau". Ucap wanita itu lagi.
"Ya udah maaf deh". Bujuk sang suami sambil menyentuh dagu Grace dan mengarahkan pandangan istrinya supaya melihatnya.
Bertatapan lagi dengan suaminya yang menjengkelkan di hadapannya ini, Grace segera menepis tangan Rey yang sudah mengangkat dagu nya tersebut.
"Nanti aja ngobrol nya, aku sibuk". ucapnya lagi masih dengan nada ketus.
Rey yang melihat kalau sang istri masih terlihat marah meskipun dia sudah meminta maaf, langsung menarik kursi kerja Grace dan segera mendekatkan nya supaya bisa berhadapan langsung dengannya.
Sejenak Rey menghela nafasnya untuk berbicara kepada istrinya itu.
"Aku minta maaf". Ucapnya seperti orang yang serius meminta maaf.
Melihat kesungguhan permintaan maaf tersebut, akhirnya Grace luluh juga. " iya...iya. Kamu ngeselin tadi tau nggak". Jawab Grace yang sudah mulai tidak berbicara ketus lagi.
"Iya. maaf deh". Ucap Rey sambil mengelus pipi Grace.
"Kamu tuh ya kak, harusnya percaya sama aku. Dari ucapan kamu tadi jelas banget tau nggak kamu nggak pernah percaya sama aku". Sambil ngedumel mengingat perlakuan Rey tadi di ruangan miliknya.
"Iya... Aku nggak suka aja nanti kalau aku sudah resign, kamu jadi deket-deket sama si Reno itu.". Jawab Rey.
Grace menggaruk keningnya yang tidak gatal, bagaimana caranya menghadapi rasa cemburu suaminya ini, pikirnya.
"Aku nggak akan deket sama dia kok, tenang aja kamu". Ucap Grace sambil melepaskan kursinya dari tangan Rey dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih terlihat banyak di meja tersebut.
"Ya udah aku keluar dulu". Pamit Rey kepada istrinya itu namun Grace tidak menyahut atau menjawab pamitan tersebut.
***
Sampai jam pulang kantor mereka dan kembali ke apartemen milik Rey, keduanya masih enggan berbicara satu sama lain. Grace yang biasanya untuk mengajak memulai pembicaraan duluan memilih untuk banyak diam dan tidak ingin berdebat kembali.
Sewaktu makan malam berdua pun terdengar hening dan hanya suara sendok dan garpu saja yang berbunyi. Mereka sama-sama diam dan tidak ada yang ingin memulai pembicaraan duluan.
Selesai makan malam, Grace mencuci piring yang kotor dan Rey masuk ke dalam ruangan kerja miliknya yang ada di apartemen tersebut.
Melihat sang suami yang masuk ke ruang kerja miliknya, Grace memilih untuk masuk ke kamar dan tidur duluan. Wanita itu masih bingung dengan pernikahan mereka yang di landasi rasa cemburu suaminya tetapi belum ada kata cinta terucap. Lantas rasa apa yang dimiliki Rey saat ini padanya mengingat rasa cemburu yang besar seperti itu.
Detik demi detik, jam demi jam Grace belum bisa tertidur. Wanita itu melihat jam yang di pajang di kamar mereka berdua dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun sang suami sepertinya belum selesai dari urusan kerjanya.
Mendengar suara pintu terbuka, seketika itu juga Grace langsung berbalik dan memunggungi Rey serta memejamkan matanya untuk berpura-pura tertidur.
Merasakan adanya pergerakan dari tempat tidur dan pelukan hangat dari Rey yang kini memeluknya dari belakang. Grace masih mencoba untuk memejamkan matanya.
"Kamu sudah tidur?". Tanya Rey
Tidak ada jawaban terdengar dari Grace.
"Sepertinya kita harus banyak komunikasi, Grace". Ucap Rey lagi namun tidak ada jawaban.
"Aku belum banyak mengerti dengan sifat kamu yang seperti ini. Kalau kamu banyak diam aku juga bingung harus bagaimana". Ucap Rey lagi.
Mendengar perkataan suaminya itu, Grace langsung berbalik dari tidurnya menjadi berhadapan dengan Rey untuk berbicara.
Melihat Grace yang kini sedang memandangnya. Rey pun membawa wanita itu masuk ke dalam dekapannya.
"Kamu masih marah, ya?". Ucapnya lagi.
"Nggak kok, aku cuma bingung aja". jawab Grace.
"Bingung kenapa?" Sambil mengelus rambut sang istri.
"Kamu cemburuan, tapi belum bilang cinta ke aku". Jawab Grace jujur
Rey terkekeh mendengar pengakuan dari istrinya itu.
"Aku juga nggak tau kenapa, Grace. Ya mungkin aku udah cinta sama kamu". Jawab Rey.
"Yakin kamu, Kak? Terus perasaan kamu sama Mitha bagaimana?". Ucap Grace kini.
"Kita nggak usah bahas ini. Kita tidur aja". Jawab Rey yang menghindar dari pertanyaan Grace.
Selanjutnya