Grace

Grace
Gagal mengungkapkan



Pagi itu Grace berniat untuk memberitahukan Suaminya, kalau dia akan mengundurkan diri dari perusahaan milik Ayahnya.


Grace melihat bahwa akhir-akhir ini Sang Suami yang sangat sibuk dengan proyek baru yang dia kerjakan membuat Grace kesulitan untuk berbicara secara serius dengan Rey mengenai keputusan yang sudah dia ambil tersebut.


"Kak?" ucap Grace di kala dia masuk ke ruangan kerja Rey yang sedang sibuk berkutat dengan pekerjaannya di malam hari ini.


Rey menatap sekilas ke arah sumber suara, namun kembali fokus pada pekerjaannya.


"Hm." balasnya dengan berdehem sambil tangan mengetik sesuatu di komputer miliknya.


"Kamu sibuk ya?" tanya Grace mendekatkan diri di sebelah Rey. Wanita itu langsung mengetahui Suaminya ternyata sedang mengerjakan proyek yang akan direncanakan ke depan.


"Lumayan." jawab Rey singkat, masih fokus pada pekerjaan.


Grace hanya diam saja sibuk berpikir, nanti saja dia memberitahu kalau dia akan keluar dari perusahaan pada Rey. Kasihan juga Suaminya sedang sibuk-sibuknya. Pikir Grace dalam hatinya.


"Kenapa?" tanya Rey menolehkan kepala melihat ke arah Istrinya karena tidak mendapat jawaban dari pernyataannya.


"Nggak apa-apa. Kamu lanjut aja ya kerjaannya. Kamu mau kopi, Kak?" tawarnya yang mendapat anggukan dari Rey.


"Sebentar aku buatin kopi ya." ucapnya sebelum melenggang keluar pintu dan menuju dapur apartemen mereka.


Setelah membuat kopi untuk Suaminya, Grace berpamitan untuk tidur duluan dan mengatakan kepada Rey agar segera menyusulnya ke kamar mereka setelah pekerjaan dia selesai.


Namun saat pagi harinya tiba, Grace tidak mendapati Sang Suami tidur di sebelahnya.


"Kak." Grace memanggil Rey di penjuru kamar mereka. Namun tidak mendapat sahutan dari Rey. Grace pun mengecek kamar mandi yang ternyata kosong dia dapati, tidak ada suaminya di dalam sana. Kemana dia? pikir Grace dalam hati.


Grace kemudian berjalan menuju ruang tamu mereka, keadaan yang sama dia dapati ketika sampai di ruang tamu. Rey tidak ada juga disana. Lantas kemana Suaminya itu pergi di pagi hari begini?.


Tidak puas mencari, Grace kini melangkahkan kakinya ke ruangan kerja Rey. Tempat terakhir Grace melihat Suaminya. Benar dugaannya, setelah membuka knop pintu, kini Grace tengah mendapati Rey sedang tertidur di meja dengan kepala yang bertumpu menggunakan lengannya. Grace Kemudian mendekati Rey yang masih tertidur, dia bisa melihat dokumen yang berserakan dan komputer yang masih menyala.


Sejenak Grace mengamati wajah Rey yang terlihat letih dan kantung mata sedikit menghitam menandakan bahwa Suaminya kurang tidur dan bekerja semalaman.


Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Grace mengguncang pelan bahu Rey dengan lembut supaya prianya itu terbangun.


Merasa guncangan di bahu membuat Rey seketika itu juga terbangun dan hal pertama yang dia dapati adalah melihat wajah istrinya yang sedang memanggil namanya.


"Sudah jam 7." jawab Grace melirik jam yang berada di ruangan tersebut.


Rey berdehem dengan suara malasnya di pagi hari. Masih menetralkan rasa ngantuk yang terasa berat sekali.


"Kamu tidur jam berapa Kak?" tanya Grace menatap Sang Suami yang berada di kursi kerjanya. Sedangkan dia masih setia berdiri di sebelah Rey.


Sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu, Rey menarik Grace mendekat ke arahnya. Setelah itu dia memeluk Sang istri dan menyembunyikan kepalanya di dada Grace dengan posisi Grace yang berdiri dan Rey yang duduk.


"Aku masih ngantuk." jawab Rey dengan suara malas. Bukannya menjawab pertanyaan Grace barusan dia malah menjawab hal lain dan bermanja ria di pagi hari.


"Kamu nggak ke kantor?" Grace bertanya sambil merapikan rambut Suaminya yang terlihat berantakan habis bangun tidur.


"hm." jawab Rey terdengar mengguman di balik tubuh Grace.


Pria itu menghirup aroma tubuh istrinya yang wangi dan menyenangkan. Membuat dirinya semakin memeluk Grace dan semakin mempersempit jarak tubuh mereka berdua.


"Ayo, sudah jam 7 Kak. Nanti kamu telat." kata Grace mencoba melepaskan pelukan mereka sementara Rey masih memeluk istrinya dengan erat. Tidak mau melepaskan Sang Istri.


"Iya." jawab Pria itu namun tidak beranjak juga.


"Mandi, gih." kata Grace lagi seraya menepuk bahu Rey dengan gemas karena tidak mau beranjak berdiri.


"Mandi bareng." Rey menjawabnya dengan suara manja yang dibuat-buat. Sontak Grace memijat pangkal hidungnya karena melihat tingkah laku Rey.


"Ya udah, ayo." jawab Grace mengalah pada akhirnya. Mendengar hal tersebut Rey langsung tersenyum sumringah dan segera beranjak berdiri.


"Ayo." ucapnya menggandeng tangan Grace dan beranjak keluar dari ruangan tersebut.


Grace yang sudah sangat hapal melihat tingkah laku Rey yang seperti sekarang ini, langsung mengatakan "Mandi aja ya Kak, nggak ada acara tambahan." jawabnya ketika mereka sudah berjalan menuju kamar. Merasa curiga dengan gelagat Rey dan senyuman yang mesum tercetak di wajah.


"Kita bermain sebentar." jawab Rey dengan santainya, sementara tangannya masih setia menggenggam tangan Grace.


Pasrah... hanya itu lah yang bisa Grace lakukan ketika mendengar jawaban yang berasal dari Rey. Mau apa dikata, Grace hanya bisa patuh dan menurut saja. Entah apa yang akan mereka perbuat di kamar mandi nanti. Grace memasrahkan diri dan melayani kebutuhan Suaminya semaksimal mungkin.


***


Seusai mendapatkan jatahnya di pagi hari, Rey terlihat sangat segar dan menunjukkan aura penuh kepercayaan diri. Pria itu bersiul sambil memasak sarapan untuk mereka sebelum akan berangkat ke kantor. Sementara Sang Istri terduduk lemas di kursi meja makan mereka menunggu Rey selesai memasak dan sarapan bersama.


Selagi sarapan, Rey dengan cepat melahap makanan miliknya dan sedari tadi melihat jam tangan yang menunjukkan dia sudah telat untuk datang ke kantor.


"Kamu berangkat naik taksi saja ya, nanti sore sepulang kantor aku jemput." kata Rey sambil menghabiskan sarapan dan mendapat anggukan dari Grace.


"Kamu akhir-akhir ini sibuk banget, Kak." ucap Grace yang penasaran dengan kesibukan Suaminya.


"Iya, aku ada proyek baru dengan Alan. Kemungkinan dua minggu lagi baru selesai." balasnya.


"ohhh.." jawab Grace. Ada sedikit keraguan di hatinya untuk mengungkapkan rencana untuk keluar dari perusahaan.


"Kak, aku mau ngomong kalau aku....."


Bunyi Handphone milik Rey terdengar, memotong ucapan Grace yang akan berbicara serius dengan Rey saat ini.


"Halo,Lan." jawab Rey ketika mengangkat panggilan tersebut.


Grace jadi mengetahui kalau Alan yang tengah menelpon lelaki itu untuk membicarakan pekerjaan mereka.


"Kamu udah selesai?" tanya Rey ketika dia sudah mengakhiri panggilan dari Alan barusan.


"Sudah, Kak."


"Ayo, aku antar Kamu sampai dapat taksi. Hari ini jangan nyetir dulu." jawab lelaki itu, Grace pun langsung mengambil tas miliknya dan milik Rey untuk segera berangkat ke kantor. Sepertinya Rey sangat terburu-buru sampai melupakan tas kantor yang akan dia bawa.


"Makanya Kak, minta jatah itu di malam hari. Kalau pagi hari begini kamu juga kan yang repot." Grace berbicara sambil menyerahkan tas Rey dan merapikan dasi milik Suaminya yang terlihat belum rapi.


"Iya."


"Ayo." jawab Rey lagi sambil menggenggam tangan Istri kesayangannya menuju pintu keluar dan mencarikan taksi untuk Grace sebelum dia berangkat.


Sesampainya di dalam taksi yang sudah mereka dapatkan, Grace berkata "Jangan ngebut Kak. Hati-hati di jalan, nanti hubungi aku kalau sudah sampai ya." ucapnya sesudah menurunkan kaca mobil.


"Iya." jawab Rey dengan mencium pipi Grace dan segera berlalu menuju mobil miliknya tanpa mendengar jawaban dari Sang istri lagi.


Grace menggelengkan kepala melihat tingkah laku Rey yang seperti itu, saat di dalam perjalanan Grace baru menyadari kalau dia lupa menyampaikan niat dan rencananya tadi pada Rey.


"Hagh, sudahlah nanti malam saja." ucapnya menyandarkan kepala dan menikmati perjalanan.