
Haloo... Maaf untuk jadwal update yang tidak menentu. Saat ini Author lagi disibukkan dengan urusan pribadi. Semoga para readers dapat memaklumi ya. Author juga akan selalu sempetin update untuk segera tamatin karya ini.
So, makasih masih setia bersama GRACE.
****
****
Calon Papa sekaligus Suami dari Grace, yang tak lain adalah Rey terlihat sudah sampai di Bandung.
Lelaki itu disambut oleh sejumlah pegawai dari cabang perusahaan mereka dan diantarkan terlebih dahulu sejenak untuk beristirahat di hotel.
Sesampainya di hotel, Rey bergegas menghubungi nomor Istrinya untuk memberitahu kalau dia sudah sampai di tempat tujuan.
Tidak lama menunggu, wajah Sang Istri kini sudah memenuhi layar ponsel Rey. Tak lupa dengan senyum cantiknya. Sepertinya wanita itu sangat senang di hubungi oleh Rey.
"Sudah makan?" tanya Rey ketika Grace mengangkat video call tersebut.
Saat ini Istrinya itu sedang tidur-tiduran di kamar.
"Sudah," masih dengan raut wajah yang senang Grace menjawabnya.
"Kamu baru sampai Kak?" tanya Grace.
"Sudah setengah jam yang lalu. Aku di hotel sekarang. Istirahat dulu nanti sore baru kunjungan sebentar."
"oh..."
Tidak ada lagi pembicaraan dari mereka, keduanya sibuk memandangi wajah satu dengan yang lainnya.
"Kenapa liatin Aku begitu?" tanya Grace yang memecah keheningan.
Rey pun terkekeh, "Emangnya nggak boleh ngeliatin Istri sendiri?" tanyanya dengan menjengkelkan dan dibalas decakan dari Grace.
..."Kamu sendirian aja Kak yang handle acara?"...
Ada keraguan sejenak dari Rey ketika menjawab pertanyaan dari Istrinya itu.
"Nggak..... Sasa ikut." Jawab Rey dengan jujur. Biasanya kalau Rey menjawab dengan jujur, Grace pasti selalu mengerti dan memahami kondisi dan situasinya saat ini.
"Oh.... berdua aja?" ada terselip nada cemburu disana.
"Iya, Kamu nggak apa-apa kan? Kami hanya partner doang kok." Jawab Rey supaya Istrinya itu memaklumi.
"Iya.. menurut Kamu partner tapi menurut cewek centil itu nggak partner. Dia itu cewek penggoda tau Kak" Ucap Grace dengan ketus. Kembali lagi hormon ibu hamilnya menjadi judes.
"Hushh... Kamu ini nggak boleh begitu sama orang. Belum tentu dia seperti itu." Rey menasihati Istrinya itu supaya tidak berpikir yang aneh mengenai Sasa.
Grace memutar bola matanya malas, "Terserah deh," jawabnya sambil memiringkan tubuh dan mencari posisi yang nyaman untuk bervideo call ria.
"Kamu mual hari ini?"
Grace menggelengkan kepalanya, "Nggak... tapi tadi siang aku pengen sandwich buatan kamu." Timpal Sang Istri.
"Terus gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana, jadinya makan apa aja yang dibuatin bi Imah."
"Nanti sampai Jakarta, Aku buatin ya."
"Hm..."
Tiba-tiba suara bel kamar hotel Rey pun berbunyi di saat mereka masih berbicara.
"Aku udah dicari, nanti malam Aku telfon lagi ya." Kata Sang Suami yang mendapat anggukan dari Grace.
"Semangat kerjanya, jangan lupa makan. Terus awas Kamu kalau deket deket Sasa." Grace mengancam Suaminya itu untuk menjauhi si Wanita centil.
Rey tertawa, "Iya Sayang." jawabnya.
"Kalau Kamu macem macem disana, Aku bakalan nyusulin Kamu ke Bandung." Ancamnya lagi.
"Iya.... nggak macam macam kok"
"Hm.. ya udah kalau gitu."
"Aku matiin telfonnya dan jangan lupa minum susu nanti." Ucap Rey mengingatkan Wanita itu.
"Bye..bye Papa. Yang semangat ya kerjanya." Grace berbicara dengan menirukan gaya anak kecil. Seolah-olah anak mereka yang berbicara pada Rey.
"Iya Sayang." Balas Rey dan diakhiri kecupan dari lelaki itu untuk wanitanya. Meskipun berbicara hanya sebatas ponsel saja.
***
***
"Mas" panggil Sasa saat mereka sudah ada di salah satu kantor perwakilan yang sebentar lagi akan dibuka.
Wanita itu segera mendekati Rey yang saat ini tengah sibuk berbicara dengan manajer disana.
Tampaknya setelah beberapa jam kedatangan Rey di Bandung, Sasa baru sampai dengan membawa sopir keluarganya.
"Sorry, Aku baru sampai nih Mas. Tadi macet banget." Katanya dengan suara centil dan gelagat pura pura kelelahan. Padahal dia hanya duduk manis saja di belakang kemudi. Seharusnya yang lelah kan supirnya, kenapa jadi dia yang kelelahan.
"Ibu mau istirahat di hotel dulu?" bukan Rey yang bertanya malah manajer tersebut yang memperhatikan gerak-gerik wanita itu.
"Menurut Mas Rey gimana?" tanya Sasa kepada Rey dan membuat lelaki itu mengerutkan dahinya tidak mengerti. Kenapa jadi bertanya ke dia.
"Maksudnya?" tanya Rey dengan bingung.
"Hm... Aku bisa istirahat dulu? takutnya Mas Rey nyariin Sasa." ucap Wanita itu dengan centil.
"Terserah Kamu." Rey melenggang pergi untuk melihat hal yang lain dan seketika itu juga manajer disana langsung mengikuti langkah kaki Rey.
Sasa mendengus dengan sebal, lagi-lagi dia diacuhkan oleh lelaki itu.
Jiwa wanita itu semakin tertantang saja untuk lebih mengenal lelaki dingin seperti Rey. Baru kali ini dia ditolak dan diacuhkan oleh lelaki lain.
Secara selama ini sewaktu dia di laut negeri, Sasa yang selalu dikejar-kejar oleh lelaki. Karena fisiknya yang cantik dan pintar di tambah lagi dengan kekayaan Sang Papa membuat Sasa menjadi wanita idola dulunya.
Itu dulu, tidak buat Rey yang selalu mengacuhkannya. Meskipun dengan terang-terangan wanita itu bersikap menggoda di hadapannya.
Ya.. Rey adalah lelaki yang tidak peka dan tidak peduli pada objek yang tidak menyita perhatiannya.
"Oke, sampai dimana Kamu bisa bertahan?" ucap Wanita itu dengan memandang sinis Rey yang sudah meninggalkannya sedari tadi.
***
***
"Jadi kamu extend disana?" tanya Grace pada Suaminya itu.
Saat ini Rey menelpon Istrinya untuk mengabari kalau ada masalah sedikit di tempat pekerjaan lelaki itu yang mengharuskan Rey menunda kepulangan untuk kembali ke Jakarta.
"Iya. Cuma dua hari aja kok." ucap Rey seperti merasa sungkan karena tidak bisa menepati janjinya untuk segera pulang.
"Besok pertunangan Wenny, Kak. Jadi Aku sendiri nih yang datang?"
"Nggak apa-apa ya. Minta temani Glenn kesana." Jawab Rey membujuk Istrinya itu.
Grace menghela napasnya, "Dua hari itu lama loh Kak. Tahu gitu Aku ikut kamu kemarin." Sesal wanita itu.
"Iya. Tiba-tiba ada keadaan mendesak di sini."
"Ya udah deh." Grace memahami akhirnya.
"Iya. Maaf ya."
"Hm."
"Jangan marah. Nanti pulang aku dari Bandung. Aku ambil cuti deh." Bujuk Rey pada Istrinya itu.
Grace langsung tersenyum senang, "Beneran?" tanyanya antusias.
"Iya.. nanti kemanapun kamu mau, aku anterin tapi jangan ke luar kota dulu." Terang lelaki itu kemudian.
"Yeay... ya udah. Cepatin urusan Kamu disana. " ucap Grace masih dengan senyum yang bahagia mendengar kabar tersebut.
"Iya. Jaga kesehatan ya." Ucap Lelaki itu.
"Iya Kak."
"Aku tutup telfonnya." Jawab Rey kemudian dan mengakhiri panggilan dari Grace.
Sementara itu, Sasa yang mendengar obrolan mereka di balik tembok yang lain tersenyum dengan senang karena rencananya berhasil untuk membuat Rey menunda kepulangannya.
Wanita itu sengaja membuat masalah perizinan dengan daerah tersebut. Sehingga menghambat peresmian kantor cabang mereka.
"Ngapain Kamu disini?" tanya Rey tiba-tiba, saat wanita itu tenggelam dalam pikirannya.
Sasa ketahuan telah mencuri dengar obrolan mereka.
"Ehh.... tadi Sasa juga lagi nyari cari sinyal Mas. Susah sinyal disini ternyata." Sasa gelagapan mencari alasan yang tepat untuk Rey.
Rey tidak mempedulikan alasannya tersebut, lelaki itu malah memasang wajah yang dingin kearahnya.
"Saya tidak tau Kamu itu benar-benar lulusan luar negeri atau bukan sehingga mengurus masalah perizinan saja tidak bisa. Sudah saya ingatkan dari kemarin agar pihak dari daerah ini saja yang mengurusnya. Jujur saya kecewa dengan masalah seperti ini." Ucapnya dingin.
"Saya harap lain kali, kita bisa bekerjasama lebih baik lagi Nona Sasa. Sehingga waktu saya untuk keluarga saya pun tidak terbuang sia-sia." Kata Rey lagi dengan berbicara formal pada wanita itu.
Ditatap dingin seperti itu membuat Sasa mati kutu. Dia juga bingung menghadapi reaksi Rey yang sangat dingin terhadapnya.
"Iy.. iya Mas" ucapnya terbata sambil menundukkan kepala. Wanita itu tidak mengetahui kalau Rey sudah pergi dari hadapannya setelah tepat mengatakan apa yang dia katakan barusan.
Tanpa mendengar jawaban Sasa terlebih dahulu.
**
**
**