
"Jadi Lo, pernah di deketin sama pak Rezi dulu?. Kok nggak pernah cerita ke kita?". Seru Grace dengan nada marah karena sahabatnya itu tidak pernah bercerita tentang kisah mereka dulu sewaktu kuliah.
"Kejadiannya udah lama, Grace. Waktu itu kita juga masih sibuk jadi mahasiswa baru, ya gue memilih nggak usah cerita". Ucap Wenny dengan raut wajah bersalahnya.
Grace menghela nafasnya sejenak mendengar perkataan Wenny yang baru dia dengar itu.
"Setidaknya, Lo cerita ke kita Wen. Lagipula Pak Rezi kan beda kampus dengan kita. Lagian kok Lo berdua udah bisa kenal sih, sewaktu jaman kuliah dulu?". Tanya Grace yang mengingat kalau Rezi bukanlah kakak tingkat mereka dulu di kampus.
"oohh, itu.. Gue kenal dia dari nyokap gue. Kebetulan ibu nya dia teman nyokap gue". Ucap Wenny menjelaskan bagaimana awal mereka bisa kenal.
"Jadi Lo berdua udah lama kenalnya?". Tanya Grace lagi dan Wenny hanya menganggukkan kepala tanda membenarkan.
"Gak heran gue, kenapa Lo bisa cepet akrab banget kerja dengan pak Rezi. Gue aja nggak terlalu dekat banget dengan dia". Ucap Grace
"Ya begitulah". Menjawab seadanya saja, malas untuk membahas orang yang di sebut.
"Lain kali kalau ada apa-apa cerita Wen. Percuma Lo bilang kita Sahabat Lo, tapi nggak pernah cerita sama sekali". Tampak Grace dengan raut wajah kecewa.
"Sorry deh". Wenny tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya.
"Lo aja ini ya, tau masalah rumah tangga gue. Sementara gue nggak tau apa-apa sama sekali tentang Lo. Adil nggak sih menurut Lo?". Tanya Grace yang masih kecewa dengan sahabatnya tersebut.
"Iya.. iya maafin gue". Ucap Wenny
"Terus kenapa dia dulu Lo tolak?". Masih penasaran dengan kisah cinta Wenny.
"Dia dulu penampilannya cupu banget. Pakai kacamata, bawa buku tebel kemana-mana. Nggak iya banget deh. Terus anak mami banget dulu kayaknya. Ya gue tolak lah". Jawab Wenny sambil memakan permen yang tersedia di atas meja kerjanya Grace.
"Tapi kalau gue lihat sekarang penampilannya nggak seperti yang Lo bilang, Wen". Ucap Grace.
"Iya itu dulu, sekarang udah berubah style dia". Jawab Wenny.
"Udah ah, gue kesini mau ngajakin Lo makan tau, kok jadinya malah bahas dia sih". Jawab Wenny lagi sambil berdiri hendak keluar dari ruangan Grace.
"Ehh. tunggu mau kemana Lo". Tanya Grace mencegat lengan Wenny
"Ya mau makan lah, lapar gue. Lo kan udah makan sama suami lo tadi". Ucap Wenny
"Gue temenin, tapi Lo harus cerita semuanya tentang Lo sama pak Rezi ke gue. Oke!". Seru Grace menampilkan wajah yang serius.
"Iya..iya buruan. Dah lapar gue". Ucap Wenny seraya merangkulkan lengannya ke leher Grace.
"Nggak usah cepet-cepet jalannya Wen" Ucap Grace sambil berjalan cepat karena leher masih di rangkul oleh Wenny.
"Lahh, kenapa emang?". Jawab Wenny seketika berhenti saat berjalan.
"Nggak kok nggak kenapa-napa, kita santai aja jalannya". Jawab Grace sambil melepaskan rangkulan lengan Wenny di lehernya.
Wenny seketika menyipitkan matanya ke arah sahabatnya itu tanda mencurigai sesuatu.
"Santai aja lihatnya,". Ucap Grace seraya mengusap wajah Wenny.
"Habisnya Lo mencurigakan banget tau nggak, Jadi bener kalian udah begituan?". Tanya Wenny dengan suara yang agak keras.
Grace langsung menutup mulut sang sahabat menggunakan tangannya agar orang sekeliling mereka tidak mendengar apa yang mereka perbincangkan.
"Sekalian aja Lo teriak, biar semua orang denger". Ucap Grace sambil berbisik melihat sekeliling.
"Hehehe iya deh. Sana Lo jauh-jauh dari anak Gadis macem gue. Soalnya gue nggak mau deket sama orang yang nggak segelan lagi". Ucap Wenny sambil terkekeh.
"Gue masukin sambel entar ke mulut Lo. Biar tau rasa lo". Balas Grace sambil berjalan mendahului Wenny.
"Ett dah. Tungguin Gue, perasaan gue yang ngajak, kok jadi Lo yang duluan". Ucap Wenny sambil berteriak
"Suara Lo Wen, dikira ini hutan apa". Seru Grace.
"Posisi gue aman disini. Kan ada Lo". Ucapnya dengan raut wajah yang sombong
"Itu namanya KKN tau nggak. Nggak akan gue tolongin Lo. Perasaan barusan Lo bilang kita nggak usah deket-deket tadi". Jawab Grace membalas perkataan Wenny barusan.
"Hehehe iya deh, bercanda gue. Lo sahabat gue yang cantik dan baik hati banget kok Grace. Gue mau kok selalu deket sama Lo". Ucapnya dengan raut wajah memelas.
"Penjilat Lo". Ucap Grace sambil tertawa.
"Hahaha baru tau Lo". Jawab Wenny lagi sambil tertawa berjalan keluar dari kantor tersebut.
*****
Masih dengan acara menemani makan siangnya Wenny, dan acara curhatan masa lampau sahabatnya itu. Tiba-tiba handphone Grace berbunyi tanda ada notifikasi masuk.
12.30
Kak Rey ♥️ : Dimana?
Menerima pesan dari suaminya itu membuat Grace tersenyum senang dan segera menjawab pesan dari sang suami
12.33
Grace : Di tempat bakso langganan
Belum ada satu menit balasan dari Grace kepada suaminya di ujung sana. Handphone nya berbunyi seketika menampilkan nama Rey sedang menelfonnya.
"Iya kak?". Jawab Grace
"Dengan siapa?". Nada suara seperti tidak suka.
"Hagh, maksudnya?". Jawab Grace kebingungan.
Terdengar decakan di ujung telfon seberang sana.
"Maksud aku dengan siapa, makan bakso disana?". Jawab Rey
"Ohh.. sama Wenny kak". Ucap Grace
"Dengan Wenny doang kamu?". Tanya sang suami.
"Iya kami cuma berdua". Ucap Grace
"Selesai makan datang ke ruangan aku". Terdengar seperti tidak boleh adanya bantahan.
Memang dasarnya Grace kalau tidak membantah bukan Grace namanya.
"Loh, ngapain kak". Jawab Grace bingung
"Udah datang aja. Aku tunggu". Jawab Rey
Belum sempat membalas ucapan sang suami telfon tersebut sudah di putus sepihak oleh suaminya yang menjengkelkan itu.
"Dasar ya, punya suami kok aneh begini sih". Ucap Grace menggerutu sambil mengganti nama kontak suaminya menjadi 'Suami aneh'.
"Kenapa Lo" Ucap Wenny
"Nih kak Rey nyuruh gue datang ke ruangannya. Emang gue nggak ada kerjaan lain apa".
" Meskipun Lo bilang aneh, gitu-gitu Lo cinta mati sama dia kan?". Tanya Wenny sambil mengejek Grace.
"Dasar lo" Jawab Grace sambil menggelengkan kepalanya.
Selanjutnya