
Siapa lagi kalau bukan Rezi, yang duduk secara tiba-tiba tanpa permisi. Pria itu memilih duduk bersebelahan dengan Wenny yang keheranan menatapnya karena sangat jarang sekali terlihat makan di kantin seperti sekarang ini.
"Kenapa berhenti? Ayo, silahkan dilanjutkan." ucap Rezi yang menyadari tatapan kedua wanita itu sedari tadi tertuju ke arahnya.
Grace melanjutkan acara makan siangnya, berbeda dengan Wenny yang tadinya nafsu makannya meningkat malah mendadak tidak ingin lagi menghabiskan makan siangnya.
Sejenak Wenny melihat porsi nasi yang wanita itu ambil tadi. Banyak..... sangat banyak mungkin bisa dikatakan porsi yang wanita itu ambil adalah porsinya kuli. Ada sedikit rasa malu pada diri Wenny melihat porsi makanannya dengan milik Rezi yang meskipun dia adalah pria tetapi porsinya masih tetap terjaga dan sewajarnya.
"Makan, Wen." ucap Grace karena melihat Wenny mendadak tidak nafsu makan lagi.
Wenny menganggukkan kepala sejenak, mengacak-acak tumis kerang dara yang menjadi kesukaannya. Dia malu benar-benar malu melihat porsi yang berbanding terbalik dengan Rezi yang duduk di sampingnya.
Tumben sekali pria ini mau makan siang di kantin. Biasanya dia akan makan siang sendiri atau bersama client mereka.
Kenapa sekarang berubah seperti ini?.
"Kenapa?" tanya Rezi yang menyadari tatapan aneh Wenny terus tertuju ke arahnya.
Dengan santainya pria itu tetap melanjutkan makan siangnya, tanpa memperdulikan sekitar dan juga Wenny yang merasa terganggu akan kehadirannya.
"Oh... tidak apa-apa Pak. Silahkan dilanjutkan." jawab Wenny, hilang sudah nafsu makannya ketika melihat lelaki itu.
"Kamu kenapa nggak makan?" tanya Rezi menyadari Wenny tidak melanjutkan kembali makan siangnya.
"Sudah kenyang Pak." jawab Wenny seadanya padahal bukan kenyang yang ada dia malu melihat porsi nasi miliknya.
"Makan!" seru Rezi terdengar seperti perintah dan membuat wanita itu menganggukkan kepala mendengar seruan tersebut.
"Saya lagi banyak kerjaan dan butuh tenaga kamu buat membantu pekerjaan saya supaya cepat selesai. Saya tidak mau kamu pingsan saat saya sedang sibuk-sibuknya dan tidak akan membiarkan pekerjaan saya terbengkalai karena kamu." ucap Rezi lagi membuat Wenny patuh seketika itu juga menghabiskan makan siangnya dengan cepat.
Buset... judes amat. Pantes Wenny sering ngomel tentang dia.
Grace bermonolog dalam hatinya mendengar perkataan dari Rezi yang menyuruh Wenny segera menghabiskan makanan miliknya.
Mereka bertiga makan dengan hening, tidak ada yang ingin berbicara satu dengan yang lainnya. Wenny yang takut dengan sikap atasannya itu sementara Grace yang malas berbicara hanya untuk sekedar mencairkan suasana. Wanita itu memilih diam saja dan mengikuti perkembangan hubungan mereka nanti ke depannya.
Selesai acara makan siang, Wenny langsung menggandeng tangan Grace untuk membawanya pergi dari hadapan Rezi dan segera ke ruangan milik wanita itu.
Tanpa menyadari sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik wanita itu yang sudah bisa merasa kalau sedari tadi sang wanita berusaha untuk menghindar darinya.
*****
"Ngapain juga tuh anak tiba-tiba nongol di kantin coba." ucap Wenny terdengar seperti mengomel mengingat kehadiran Rezi tadi di kantin saat makan siang.
Grace mengedikkan bahunya acuh, "Mungkin mau dekat-dekat Lo kali" ucapnya asal sambil menghampiri kursi kerjanya. Melihat notifikasi handphone dan seketika itu juga wanita itu tersenyum karena Rey mengirimkan pesan agar Grace tidak lupa untuk makan siang. Membuat hati Grace menjadi senang karena sudah mendapat perhatian dari suaminya tersebut.
"Mau dekat sama Gue karena butuh tenaga Gue. Gitu maksudnya? Disangka Gue babunya dia kali ya. Terus si Sherli kerja apa coba?." ucap Wenny masih membara mengingat sikap judes atasannya itu tadi di kantin.
"Udah sono balik ke ruangan Lo, kan tadi Lo lagi dibutuhin sama Pak Rezi." Grace kemudian mendorong punggung sahabatnya itu untuk keluar dari ruangan miliknya.
"Grace, Gue sebentar aja disini ya... please.." Wenny memohon dengan mengatupkan kedua tangannya ke arah Grace.
"Kagak, kerja sono. Jangan makan gaji buta doang Lo mah." balasnya yang mengusir Wenny dan membuat wanita itu menghela napasnya kasar tanda frustasi.
Wenny melangkahkan kakinya dengan malas menuju divisi wanita itu. Seperti yang dia duga, Rezi sudah menunggunya di dekat bilik mejanya sembari mengobrol dengan manajer lain.
Melihat Wenny yang sudah tiba ke meja kerjanya, Rezi kemudian menghampiri wanita itu dengan langkah yang cepat.
"Ikut ke ruangan saya." ucapnya tiba-tiba sembari melangkah keluar terlebih dahulu.
Wenny dengan langkah gontai mengikuti atasannya tersebut, pria itu berjalan sangat cepat sementara dia hanya mampu berjalan pendek-pendek mengikuti langkah kaki Rezi yang lebar.
Sesampainya di ruangan Rezi, hanya mereka berdua yang berada di ruangan itu. Sherli yang sudah terbiasa dengan kehadiran Wenny di ruangan Rezi, seketika itu juga menyuguhkan teh seperti biasa untuk mereka berdua kemudian segera meninggalkan ruangan tersebut.
Wenny sudah tahu dan sangat hapal bagaimana menyelesaikan pekerjaannya, oleh karena itu dia tidak banyak berbicara dan fokus pada pekerjaan yang di berikan agar cepat selesai.
Rezi berdehem sejenak untuk mencairkan suasana, "Wenny?" tanyanya dari sekian lama mereka berdua di dalam ruangannya.
"Iya Pak?" ucap Wenny tanpa mengalihkan kedua matanya untuk menatap Rezi. Wanita itu masih sibuk menyelesaikan dokumen yang berada dihadapannya.
"Hm..." Ada keraguan di dalam perkataan Rezi sebelum mengutarakan niatnya.
Wenny mengalihkan pandangannya, menatap atasannya itu dengan serius. Mungkin ada pengarahan, pikirnya dalam hati.
"Sabtu ini.... kamu ada acara?" tanya Rezi lagi, suaranya terdengar gugup menyampaikan hal tersebut.
Wenny mengerutkan dahinya, Sabtu? Apakah mereka akan mengunjungi proyek lain Sabtu ini? pikirnya kembali.
"Hm... sepertinya tidak Pak." balas Wenny yang ketika sudah mengingat rutinitasnya di setiap Sabtu.
"Oh..." Rezi masih ragu mengutarakan niatnya pada wanita itu.
"Ada apa ya Pak?" tanya Wenny dengan penasaran. Haghh... yang benar saja dia lembur di hari sabtu, gagal dong me time nya dia di setiap sabtu yang sudah sering dia lakukan.
"Bagaimana, kalau Sabtu pagi saya jemput di rumah kamu. Saya ingin mengajak kamu keluar?" ucap Rezi akhirnya, pria itu langsung melihat ekspresi Wenny yang kebingungan mendengar perkataannya.
"Maksudnya, Pak?" tanya Wenny dengan polosnya.
Terdengar helaan napas dari Rezi, kenapa wanita ini lemot sekali tidak mengerti perkataannya.
"Maksudnya, Saya mau mengajak kamu keluar di hari Sabtu ini." ucapnya lagi.
Wenny berpikir sejenak sebelum menjawab ajakan itu, "Bersama siapa saja Pak?" tanyanya kemudian belum menjawab ajakan Rezi.
"Cuma kita berdua" Rezi mengucapkannya dengan cepat.
"Tidak ada orang lain yang ikut, Pak?" Memang Wenny yang belum pernah berpacaran, jadi dia tidak peka akan ajakan atasannya itu.
"Tidak ada. Hanya kita berdua." ucap Rezi yang sudah mulai jengkel menghadapi kepolosan Wenny.
"Bagaimana?" tanyanya ulang.
Melihat Rezi menatapnya dengan serius, membuat Wenny tidak sadar menganggukkan kepalanya setuju untuk pergi bersamanya di sabtu ini.
"Baiklah". ucap Wenny. Tidak ada salahnya juga dia pergi bersama pria kaku seperti Rezi, dia akan menjahili pria itu nanti. Wenny tersenyum ketika membayangkan hal apa yang akan dia buat untuk menjahili atasannya yang kaku itu.
Dulu kau boleh menolakku. Tapi untuk sekarang akan ku pastikan kau tidak akan menolakku kembali. (Rezi Narendra)
Selanjutnya
*****
*****
*****
Sebelumnya Author sudah menjelaskan, kalau part pemeran utama itu nanti di beberapa chapter berikutnya, agar ceritanya nggak berputar-putar di mereka terus. Mungkin ada beberapa novel yang alurnya cepat dan penyelesaian masalahnya juga cepat. Tapi Author juga punya versi sendiri menulisnya. Kalau readers merasa bosan atau jenuh nggak apa-apa, Author tetap konsisten menulis apa yang Author ingin tulis ya.
Terimakasih bagi yang selalu setia mengikuti novel ini.
Jangan lupa Like dan Comment Next yahh. Kalau vote mah Author udah pasrah aja wkwkwk.
Salam sayang dari Author.