Grace

Grace
Belikan Aku Bunga



Sesampainya di kantor, Grace sedari tadi melihat handphone yang tidak berbunyi ataupun memunculkan notifikasi dari Rey. Padahal tadi pesan wanita itu untuk segera mengabarinya setelah sampai di kantor.


10.00


Grace: Sudah sampai kantor, Kak?


Akhirnya Grace menanyakan kabar Rey duluan karena tidak mendapat kabar sedari pagi mereka berangkat ke kantor.


Tidak mendapat jawaban dari Sang Suami di ujung sana, Grace kemudian tersadar kalau Suaminya itu tengah sibuk dengan proyek baru yang lelaki itu ceritakan pagi tadi.


"Oh iya, dia lagi sibuk." ucapnya berbicara sendiri sambil termenung melihat riwayat obrolan mereka yang tidak menampilkan balasan dari Rey.


10.30


Grace: Semangat Sayang 🤗


Grace mengirim pesan kembali dan memilih sibuk dengan pekerjaan yang harus dia bereskan sebelum keluar dari kantor milik Ayahnya ini.


Saat tengah sibuk berkutat dengan pekerjaan, Reno memasuki ruangan Grace dan menyerahkan beberapa dokumen ke hadapan Grace.


"Ini laporan pertanggung jawaban dua bulan terakhir. Aku minta persetujuan kamu." kata Reno setelah menaruh berkas tersebut di atas meja Grace.


"Terima kasih, Ren. Nanti aku periksa." balas Grace sambil menyisihkan dokumen tersebut.


Ya, setelah pengungkapan perasaan Reno terhadap dirinya, Grace semakin mengambil jarak untuk menjauh agar tidak menimbulkan salah paham nantinya.


Sepertinya Reno juga mengerti akan sikap Grace akhir-akhir ini terhadapnya, lelaki itu juga tidak memaksakan kehendak kepada Grace dan membuat wanita itu menjadi tidak nyaman saat berada di dekat Reno.


"Sabtu ini ada peresmian cabang kita di Bandung. Aku harap kamu bisa ikut untuk pekerjaan kamu yang terakhir." jawab Reno lagi dengan suara yang terdengar datar dan dalam.


"Iya, aku usahakan."


"Hm, aku permisi dulu Grace. Kalau perlu bantuan hubungi aku." ucap Reno kemudian segera berlalu dan meninggalkan ruangan tersebut.


Grace hanya mengedikkan bahunya santai saat melihat reaksi Reno akhir-akhir ini terhadapnya.


Wanita itu memilih fokus kembali pada pekerjaan dan tidak perlu memusingkan hal-hal yang menguras energi.


Tidak terasa kehadiran Wenny yang sudah menjemput Grace untuk mengajak dia makan siang menandakan waktu sudah menunjukkan jam istirahat. Namun, pesan yang dikirim oleh Grace barusan belum mendapat balasan dari Suaminya.


"Kenapa Lo, liatin jam mulu daritadi." Wenny berbicara setelah mereka duduk di meja makan favorit milik mereka di kantor itu.


"Nggak ada, habisin aja makanan Lo." ucap Grace menaruh handphone kembali di sebelahnya.


Wenny hanya manggut-manggut kepala saja sambil melahap habis makanan yang sudah wanita itu ambil tadi dalam porsi yang banyak.


"Mana pacar Lo, Wen. Tumben nggak ikut kita makan siang." ucap Grace yang baru menyadari tidak hadirnya Rezi di antara mereka.


"Ohh.. Lagi sibuk dianya sama si sekretaris centilnya itu." jawab Wenny malas.


"Husss, omongan Lo. Pacar Lo di ambil baru tahu rasa Wen. Nangis-nangis Lo."


"Kalau begitu bukan Gue yang nangis kali Grace."


Grace mengerutkan dahi, "Terus siapa yang nangis, Rezi?" tanyanya.


"Kagak, Gue bakalan buat si Sherli yang nangis karena rebut milik Gue." ucap Wenny sambil menggoreskan garpu ke piringnya sehingga menimbulkan bunyi yang tidak enak.


"Gila Lo." Grace hanya menggelengkan kepala mengingat tingkah laku sahabatnya itu yang tidak pernah berubah.


"Grace?"


"hm?"


"Gue udah dilamar." ucap Wenny.


Seketika itu juga Grace menengadahkan kepala dan menatap Wenny dengan serius.


"Serius Wen?" tanyanya dengan raut wajah tersenyum senang dan mendapat anggukan pasti dari Wenny.


Grace kegirangan di kantin. "Selamat Wen, ya ampun akhirnya Lo bentar lagi melepas masa suram di hidup Lo." kata Grace sambil bertepuk tangan heboh.


"Sekalian aja Lo pakai toa, umumin deh biar satu perusahaan denger." jawab Wenny membungkam mulut Grace.


"Hehehe," Grace hanya bisa menyengir tidak jelas.


"Selamat ya,Wen." ucap Grace lagi kali ini terdengar tulus.


"Iya. Nanti kalau tanggal pertunangan Gue, udah pasti. Kasih Gue kado yang mahal ya Grace." jawab Wenny seperti biasa dengan tidak tahu diri.


Grace tertawa, "Iya Lo tenang aja. Coba ceritain gimana dia ngelamar Lo, Wen." Grace masih penasaran.


Wenny sejenak berpikir sebelum mengungkapkan. "Dia bawa Gue ke resto favorit kita, terus kasih bunga, habis itu kasih cincin udah selesai." kata Wenny menjelaskan.


"Gitu doang?" tanya Grace memasang wajah tidak puas mendengar kisah lamaran Wenny.


"Ya iyalah Grace, jadi maksud Lo gimana harusnya." timpal Wenny.


"Nggak ada kata romantis atau nuansa romantis kek." ucap Grace lagi.


Wenny tertawa, "Mana bisa dia romantis Grace, dia orangnya kaku begitu." kata Wenny.


" Iya juga ya. Gue jadi iri sama Lo, Wen." Grace menyelesaikan makan siangnya dan lebih antusias mendengar cerita dari Wenny.


"Iri kenapa?"


"Iya iri aja, Lo bisa dilamar seperti itu sementara Gue nggak pernah dilamar, malahan yang ada sepertinya Gue yang meminang anak lelaki orang." ucap Grace sambil memasang senyuman paksa.


"Lo lihatnya seperti itu?" tanya Grace yang mendapat anggukan dari Wenny.


"Asal Lo tahu aja Wen, dia nggak pernah bilang cinta ke Gue."


"Ya, setiap lelaki itu beda Grace untuk mengungkapkan perasaan mereka. Ada yang mengungkapkan dengan perkataan terus ada juga yang mengungkapkan dengan perbuatan." Wenny mulai melakukan konseling pada Grace.


"Iya juga sih, Lo bener juga." Grace menggut-manggut kepala membenarkan.


"Kalau kalian saling jujur dan berkomunikasi dengan baik, semua masalah pasti ada jalan keluarnya kok." kata Wenny layaknya motivator sejati.


"Iya deh," ucap Grace memahami perkataan sahabatnya itu.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, tetapi pesan yang sedari pagi dikirim oleh Grace pada Suaminya tak kunjung mendapat balasan dari Rey di ujung sana.


Sudahlah, dia menunggu saja. Toh, pasti kalau tidak sibuk, Rey akan segera menghubungi.


Benar dugaan Grace, baru saja dia memikirkan Suaminya itu. Kini handphone yang sedari tadi dia genggam berbunyi dan memunculkan nama Rey disana.


"Halo, Kak." jawab Grace dengan senang menerima panggilan tersebut.


"Kamu sudah selesai di kantor?" tanya Sang Suami.


"Sudah, kamu sibuk banget ya? kalau sibuk kamu nggak usah jemput aku, biar nanti Glenn yang anter aku pulang." kata Grace yang memahami kondisi Suaminya saat ini.


"Ini aku udah selesai, satu jam lagi aku jemput kamu."


"Ya udah, kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut." jawab Grace.


"Hm, aku tutup telfonnya."


"Iya, aku tunggu kamu ya."


"hm." seperti biasa Rey selalu kaku di telfon dan menjawab sekenanya saja.


Satu jam pun berlalu, kini Rey sudah menunggu di halaman lobby kantor milik mertuanya. Sementara itu Grace tengah berjalan menuju mobil yang dia parkir saat ini di halaman Lobby kantor dengan wajah yang tersenyum dengan cantiknya pada Rey.


"Bagaimana pekerjaan Kamu, Kak.?" tanya Grace saat sudah memasuki mobil dan mencium pipi Suaminya.


"Seperti biasanya." jawab Rey yang sudah mulai menyetir dan keluar menuju jalan raya.


"Ohh."


Di dalam perjalanan pulang hanya suara radio dari mobil Rey yang terdengar, mereka berdua tidak terlibat pembicaraan satu dengan yang lain. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Kak?"


Rey menolehkan kepalanya ke arah Grace sejenak.


"Kamu tahu nggak, kalau dua minggu yang lalu anniversary pernikahan kita." ungkap Grace akhirnya.


Rey terkejut mendengarnya, "Oh iya?" ucapnya tersenyum kikuk menandakan kalau dia lupa akan hari itu.


Grace berdecak, "Aku udah tahu kamu lupa." jawabnya dengan jengkel kalau mengingat kejadian tersebut.


"Hehehehe, maaf." ucap Rey dengan mengelus rambut Grace sebagai permintaan maafnya.


"Sudah aku maafin."


"Tapi kok kamu ketus gitu jawabnya kalau sudah maafin aku.?"


"Iya aku memang begini." jawab Grace asal.


"Ya udah deh, kamu mau apa?" tawar Rey dengan membujuk Grace, istrinya itu.


Mendengar hal tersebut, Grace langsung tersenyum senang. "Beneran?" tanyanya.


"Iya, kamu mau apa?"


"Aku mau kamu beliin aku bunga yang banyak, kamu kan selama ini nggak pernah kasih aku bunga." jawab Grace dengan memelas mengucapkan permintaannya selama ini.


"Cuma itu?" tanya Rey lagi.


Sejenak Grace berpikir, apalagi ya? "Hmmm, aku juga mau makan malam ke resto yang romantis." Grace mengingat acara lamaran Wenny tadi saat wanita itu menceritakan lamaran mereka.


Rey menganggukkan kepala, " Ya udah, kita ke toko bunga dulu. Terus kamu bisa pilih bunga kesukaan kamu. Habis itu kita makan malam di resto deket apartemen." kata Rey dengan santai tidak ada romantisnya sama sekali.


Grace terkekeh mendengar ucapan Rey barusan, memang benar kata Wenny. Meskipun dia belum mendengar ungkapan cinta dari Rey, dia bisa merasa kalau Suaminya sudah menunjukan tanda cinta meskipun dengan perbuatan. Tetapi itu sudah cukup baginya.


Grace mencium pipi prianya itu, "Makasih sayang." ucapnya terdengar tulus dan mendapat balasan dari Rey dengan mencium tangan Sang Istri yang sedari tadi dia genggam selama mengemudi.


*


*


*


Halo, sebelumnya Author minta maaf untuk update yang mulai jarang. Sepertinya Author lagi mengalami Writer Block hehehehe. Akhir-akhir ini untuk nulis satu bab saja butuh waktu satu hari lebih padahal dulu biasanya satu hari itu bisa update tiga bab. Semoga selalu sabar menanti cerita ini ya wkwkwk.


Tenang aja bakalan tamat kok, nggak akan digantungin hehehe.


Author cantik juga minta dukungan Vote, Like dan Comment dong, supaya Author semangat update dan lancar ngetiknya.


Terimakasih Readers Sayang.