Find The Perfect Love

Find The Perfect Love
Kembali berpijak




Beberapa Minggu terakhir setelah Kimberley tahu dirinya hamil ia hanya bisa termenung diam tidak berbicara sepatah katapun. Tatapannya kosong ke depan, baik ibu dan Rose pun sudah berusaha untuk mengajaknya berbicara namun apa daya Kimberley sama sekali tidak merespon.


Sinar mentari pagi mulai keluar dari peraduan


Pagi ini udara terasa sangat sejuk, walaupun matahari masih malu malu menampakkan sinarnya.


Ibu dan Rose dibuat bingung oleh sikap Kimberley, bagaimana tidak Kimberley dalam keadaan mengandung tetapi bila tidak diingatkan dan dipaksa ia selalu saja lupa untuk makan, semua khawatir dengan kesehatan Kimberley dan anaknya.


Ayah dan Jevaropun dibuat pusing dengan sikap Kimberley.Hal inilah yang membuat Jevaro berpikir keras mencari cara agar Kimberley kembali berpikir rasional, karena kesehatan sang ibu adalah kesehatan anaknya juga.


................................................


"Hmm ini tidak bisa dibiarkan terus, Kimberley harus sadar bahwa ia sedang mengandung. Bayi yang dikandungnya itu sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari ibunya dan dirinya tidak boleh stress demi kesehatannya sendiri dan bayi yang dikandungnya." pikir Jevaro


Kemudian Jevaro menyambar kunci yang ada disamping tempat tidurnya. Lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah Kimberley.


...................................................


"Pagi Om...Tante..," sapa Jevaro pada kedua orang tua Kimberley.


"Hai nak Jev ..., silakan masuk, darimana ini?" tanya ayah terkejut dengan kedatangan Jevaro Tiba-tiba.


"Dari rumah om. Kimberly...??" tanya ragu Jevaro sambil melihat ke arah kamar Kimberley.


"Biasa nak masih di kamar, " sahut ayah sedih


Lalu Jevaro meminta ijin dan mengutarakan maksud kedatangannya kali ini, ia ingin membuat Kimberley sadar dan bangkit dari kesedihan berkepanjangannya.


Setelah mendengar niat dan rencana Jevaro tersebut, tidak perlu banyak berdebat, kedua orang tuanya langsung setuju


Jevaro ijin untuk menemui Kimberley dan mengajaknya keluar ia ingin membuka pikiran Kimberley. Berharap ia segera sadar dimana ia harus berpijak.


Setelah Jevaro mendapat ijin untuk melaksanakan niat baiknya itu. Jevaropun naik ke atas untuk menemui Kimberley.


Jevaro mengetuk pelan pintu kamar Kimberley. Hening ... sepi tetap tidak ada jawaban dari dalam .


Akhirnya Jevaro memberanikan diri untuk membuka pintu kamar tersebut, Kimberley masih saja diposisi memandangi jendela dan menitikan air mata.


Perlahan ia menghampiri Kimberley dan menyentuh pundaknya, "Pagi Kimberley"


Merasa ada yang menyentuh pundaknya ia pun menoleh, sambil mengusap air matanya. setelah ia mengetahui bahwa Jevarolah yang datang, Kimberley pun tersenyum tawar.


"Hai Aro..pa kabar ?" tanya lirih Kimberley.


Mendengar Kimberley membalas sapaannya Jevaro tidak menyia-nyiakan waktu lagi.


"Kim kita keluar ya sarapan, sambil jalan-jalan." tawar Jevaro sambil berdoa dalam hati Kimberley menerima ajakannya.


Kimberley hanya diam sambil berpikir, melihat Kimberley masih berpikir, Jevaro yang tidak ingin rencananya kali ini gagal, ia lantas menarik tangan Kimberley sedikit memaksa.


"Yukk mikir apa lagi, kamu butuh udara segar biar lebih fresh,dan pikiran jadi lebih rileks."ajak Jevaro .


"Bentar Aro aku belum ganti baju" Kimberley mencoba menarik tangannya.


"Untuk apa?? yang kamu pakai sudah layak, sopan dan kamu terlihat cantik dengan pakai dress begini " sahut Jevaro tidak memberi kesempatan Kimberley menolak dirinya.


Akhirnya setelah berpamitan dengan kedua ortu nya, Kimberley pun pergi bersama Jevaro.


Ayah dan ibu tersenyum bahagia akhirnya Kimberley mau diajak keluar jalan-jalan.


"Jevaro memang hebat, selain Yasir yang bisa menundukkan Kimberley, Jevaro pun juga bisa.' gumam ayah.


"Semoga Jevaro bisa menyadarkan Kimberley ya " harap ibu.


"Amin" sahut ayah.


...............................................


Di dalam mobil suasana hening menyelimuti, Kimberley sibuk dengan pikirannya sendiri sambil menatap kosong jendela mobil.


Jevaro yang dari tadi diam-diam mengamati Kimberley. menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Lalu Ia memutar musik untuk memecah kesunyian, sengaja musik yang diputarnya adalah musik klasik, karena yang ia tahu alunan musik klasik sangat berpengaruh pada emosi dan kecerdasan bayi di dalam kandungan.


"Kim.., hari ini kamu mau makan apa?" tanya Jevaro mencoba memecah keheningan.


"Hmm,aku pengen makan soto daging yang kecut pedas" sahut Kimberley ngeces.


"Okay kita meluncur ke warung soto, tapi jangan terlalu pedas ya ingat kamu lagi hamil, kasihan baby-nya" ucap Jevaro berusaha mengingatkan .


Kimberley memandang Jevaro lekat, lalu berganti ke arah perutnya dan mengelusnya sedih.


Jevaro yang melihat dari sudut matanya, ada kesedihan yang terpancar saat Kimberley memandang dan mengelus perutnya.


"Yuk ..turun sudah sampai kita" Jevaro lalu turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Kimberley.


Sejak dahulu perlakuan Jevaro sangatlah simpati dan selalu berhasil membuat dirinya merasa nyaman.


Setelah mereka selesai sarapan, "Bagaimana cocok soto disini?" tanya Jevaro lembut


Kimberley mengangguk sambil tersenyum."Aku suka Aro,"


"Sekarang minum obat kamu dulu, terus kita lanjut ke suatu tempat." ucap lirih Jevaro sambil memandang Kimberley.


"Obat??"tanya Kimberley kebingungan.


"Iya obat, vitamin untuk kandungan kamu" jelas Jevaro.


Kimberley terdiam menelan Saliva.


"Jangan katakan kamu tidak pernah meminumnya?" selidik Jevaro


Kimberley tertunduk diam.


lagi-lagi Jevaro menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan perasaan sedihnya.


Lalu Jevaro mengacak-acak rambut Kimberley.


"yuk" gandeng Jevaro menuju ke mobilnya.


Di mobil suasana kembali sunyi.


"Kita kemana Aro,?" tanya Kimberley saat ia merasa tidak pernah melalui jalan yang saat ini mereka lalui


"Ke suatu tempat yang ku harap bisa membuatmu membuka mata hati dan hati nurani kamu, dan kembali membawamu berpijak pada bumi" harap Jevaro akan keajaiban, untuk mengubah Kimberley kembali sadar dengan sekelilingnya.


Tidak lama kemudian sampailah ia di sebuah Panti Asuhan.


Kimberley membaca ulang tulisan yang terpampang besar di dinding bangunan "Panti Asuhan Kasih Tuhan"


"Yuk Kim turun" ajak Jevaro


"Kita ke panti asuhan Aro? " tanya Kimberley.


"Iya aku mau berbagi sedikit rejeki buat mereka Kim, yuk " sahut Jevaro sambil mengendong beras dan berbagai sembako, dan membiarkan Kimberley mengikutinya.


Disana terlihat anak-anak kecil sedang bermain sendiri. Ada juga suara balita menangis sehingga membuat hati Kimberley trenyuh karena tidak ada satupun yang mengajak mereka bermain dan menghiburnya.


Dia menatap tajam ke arah bayi yang terus menerus menangis mungkin ia memanggil manggil kedua orang tuanya yang mungkin telah pergi


Jevaro melihat Kimberley menatap tajam ke arah bayi dan mengusap perutnya , ia pun merasa ini lah saatnya menyadarkan Kimberley.


Setelah menyerahkan sembako dan dana untuk kelangsungan Panti Asuhan pada pengurus yayasan. Jevaro menghampiri Kimberley dan ikut mengusap perut Kimberley.


"Kim.. anak yang ada di dalam kandungan mu ini, adalah anak kamu, darah daging kamu, aku rasa kamu tidak ingin kan anakmu dan Yasir ini menjadi bagian di Panti Asuhan ini " ucap Jevaro


"Tidak Aro! kamu ngomong apa, anakku masih punya aku ibunya, walau papanya telah pergi tapi kami masih bisa survive'"seru Kimberley tak mau kalah.


Jevaropun tersenyum bahagia misinya sedikit berhasil.


"Aku percaya kamu Kim'' sahut Jevaro tersenyum tipis


Kembali Jevaro melancarkan serangannya untuk membuat sadar Kimberley dan bangkit dari segala kesedihan.


"Anak yang kamu kandung ini, adalah bagian dari Yasir dan dirimu, kamu mencintai Yasir kan? ia sudah memberikanmu seorang teman, dan sahabat untuk menemanimu sebagai pengganti dirinya.Tega kah kamu menyakitinya dan menyia-nyiakannya ? Yasir pasti menangis sedih melihat keadaan mu sekarang terlebih lagi kamu tidak mengurus bagian dari dirinya." bujuk Jevaro.


"Kim...,Kamu tidak ingin dia sedih kan?" tanya Jevaro


"Tidak Aro aku ingin Yasir selalu bahagia dimanapun ia berada" sahut Kimberley.


"Okay kalau begitu sadarlah Kim, kembalilah.... berpijaklah kembali pada kenyataan yang ada, yang sudah tiada kita doakan. Tapi hidup akan selalu berjalan. Kamu harus bisa bangkit dan tunjukan pada Yasir bahwa kamu menyanyanginya, dan juga akan menyanyangi anak kalian sebagai wujud cintamu pada dirinya." nasehat Jevaro.


Kimberley kembali meneteskan air matanya dan mengusap perutnya " Maafkan mama nak,mama janji akan selalu menyanyangimu dan menjaga serta mendidik dirimu menjadi anak yang tangguh, tegar dan kuat yang akan membanggakan papamu di sana" ucap lirih Kimberley.


Jevaro lega akhirnya Kimberley telah berpijak kembali pada bumi.


"Aku senang mendengarnya" bisik lirih Jevaro di telinga Kimberley.


"Yuk kita mendoakan Yasir bersama-sama agar ia bahagia dan ditempatkan di tempat yang terindah, ingat selalu Kim hidup akan selalu berjalan, jangan kamu sia -siakan kesempatan hidup di dunia ini hanya dengan meratapi seseorang yang sudah bahagia disana." Jevaro memegang kedua pundak Kimberley lalu mencium keningnya. Lalu merekapun berpelukan.


"Terima kasih Aro" ucap lirih Kimberley.


........................................................


Ikutilah kelanjutan kisah Kimberley Ryan berikutnya.


Jangan lupa like komen dan hadiah hadiah lainnya.


Happy Reading