
(Beberapa bulan kemudian)
Ehhmm .... oooaahhmmm.
Jevaro yang dari tadi memperhatikan istrinya tidur hingga menggeliat bangun, tersenyum penuh arti.
Merasa ada yang memperhatikan, Kimberley pun membuka matanya.
Setelah sadar suaminya sudah bangun dan sedang tersenyum memandang dirinya.
Kimberley tersipu malu. " Hai sayang sudah bangun?" tanya basa basi Kimberley menutupi perasaan malunya.
Masih dengan posisi tangan satu menopang kepala menghadap Kimberley, Jevaro masih saja tak henti hentinya memandang wajah istrinya sambil tersenyum bahagia.
"Ihh Aroo kok gitu sih lihatnya". rengek Kimberley malu.
"Kamu tahu gak, bangun tidur begini saja kamu sudah cantik banget apalagi kalau sudah mandi dan dandan wow bagai bidadari" sahut Jevaro sambil tersenyum tipis
"Ih apaan sih gombal !" Kimberley mencubit lengan suaminya lalu turun dari tempat tidurnya.
"Heiii nyonya Jevaro mau kemana?" panggil Jevaro.
"Pipis" jawab Kimberley singkat.
"Ikut" rengek Jevaro.
"Stop tuan Jevaro! saya cuman pipis bentar mau lanjut tdr masih ngantuk.Kalau tuan ikut bisa-bisa, kelarnya ntar siang" sungut Kimberley.
"Hahahaha" Jevaro terkekeh mendengar larangan istrinya.
Karena bila ia ikutan masuk bersama Kimberley, yang ada bukan hanya pipis saja. Tetapi bisa-bisa pelepasan yang lain juga dan itu bisa dipastikan membutuhkan waktu yang lumayan lama.
"Sayang .... ikut donk" rayu Jevaro.
Kimberley hanya tersenyum sambil menggoyangkan jari telunjuknya. Lalu masuk ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian terdengar jeritan Kimberley.
"Tidakkk ! Aroooo ... kenapa begini.!?" Terdengar jeritan Kimberley dari dalam kamar mandi.
Jevaro langsung melompat dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada apa sayang!" panik Jevaro mendapati istrinya terduduk dan menangis.
"Aroo ...!" Kimberley menangis ketakutan.
Jevaro langsung memeluknya, menenangkannya.
"Ada apa sayang katakan!?" tanya bingung Jevaro.
Kimberley menunjukan cairan yang terus keluar tapi bukan air kencing.
Jevaro sendiri bingung, tetapi ia tetap berusaha tenang, lantas ia menelepon ibu Kimberley, dan menceritakan pada ibu apa yang terjadi pada Kimberley.
Ibu tahu persis Jevaro sebenarnya juga panik tapi berusaha mengontrol perasaannya demi istrinya.Ibu menyuruh Jevaro menelepon dokter kandungan Kimberley dan menceritakan apa yang telah terjadi .
Setelah mendengar nasehat ibu. Jevaro langsung menelepon dokter kandungan Kimberley.
Setelah Jevaro menceritakan secara detail apa yang terjadi pada istrinya, lantas dokter menganjurkan agar Kimberley segera dibawa ke Rumah sakit karena air ketubannya telah pecah.
Jevaro lantas membantu istrinya menyiapkan apa saja yang harus dibawanya ke rumah sakit. Dan kemungkinan istrinya harus langsung menginap di Rumah Sakit.
"Pak Totok tolong siapkan mobil sekarang juga.! Ibu harus segera ke Rumah Sakit ketubannya pecah."jelas Jevaro.
"Baik tuan!" jawab sopir Jevaro ikut panik, melihat tuannya terlihat panik .
"Pak Totok ayo!" ajak Jevaro.
"Lho saya ikut tuan?, saya kira cuman siapin mobil?" Lalu ia bergegas membukakan pintu untuk tuan dan nyonya nya.
Mata Jevaro melotot marah.Ia paling tidak suka, perintahnya dibantah apalagi urusan istri dan anaknya.
Kemudian melaju lah mobil menuju ke Rumah Sakit.
"Maaf tuan saya salah paham, biasa kan tuan bawa mobil sendiri kalau pergi bersama nyonya jadi saya pikir tadi ya tuan setir sendiri" ucap pak Totok
"Iya pak saya minta maaf tadi tidak memberitahu terlebih dahulu,.Istri saya harus cepat ke Rumah Sakit kemungkinan akan lahiran. Jadi mana mungkin saya bawa mobil sendiri." jelas Jevaro.
Sepanjang perjalanan Jevaro terus memeluk istrinya cemas.
"Sakit sayang?" tanya Jevaro cemas.
Kimberley menggeleng kan kepala.
"Cuman gak berhenti-henti, keluar terus" cemas Kimberley
"Maaf, nyonya jatuh kah?" tanya pak Totok.
"Bukan pak, kata dokter ketuban pecah" sahut Jevaro singkat.
"Tidak apa tuan , nyonya jangan banyak bergerak atau berdiri dulu, tiduran lebih bagus , coba nyonya dibaringkan kemudian kakinya sejajar tubuh." saran pak Totok.
"Baik pak" Jevaro lalu membaringkan Kimberley perlahan di mobil.
"Tapi tidak akan berpengaruh apa-apa kan pak pada bayinya?" tanya Jevaro khawatir.
"Setahu saya sih tidak, asal jangan sampai air ketubannya habis tuan, kalau tidak salah " sahut pak Totok sopir Jevaro sambil garuk garuk kepalanya.
Jevaro kemudian menggenggam erat tangan Kimberley, di dalam hati Jevaro sebenarnya panik, cemas dan khawatir tapi karena dia merasa sebagai penguat istrinya, ia harus bisa menenangkannya dan memberinya contoh untuk tenang agar tidak panik.
"Sabar sayang, semua pasti baik-baik saja. Pak .... bisa dipercepat lagi?!" perintah Jevaro tidak sabar.
"Baik tuan saya usahakan " sahut pak Totok.
Sesampainya di Rumah Sakit, Kimberley langsung di dorong menuju ruang bersalin. Jevaro mengurus semua keperluan administrasi Rumah Sakit.
Setelah semua beres, Jevaro menunggu dengan cemas di depan ruang bersalin. Tak lama kemudian kedua orang tua Kimberley datang.
"Bagaimana nak Jev, Kimberley bagaimana?" tanya ibu khawatir.
"Sudah ada di dalam Bu, tunggu dokternya katanya" jawab Jevaro .
"Semoga semua baik-baik saja"harapan ibu.
"Sabar Bu kita doakan saja ibu dan bayinya dalam keadaan baik." timpal ayah.
Jevaro cemas dan khawatir memikirkan istri dan bayi dalam kandungannya. Serba tidak nyaman duduk sebentar, lalu berdiri, jalan ke kanan balik lagi ke kiri.
"Je... bagaimana istrimu nak?!" sapa mama Jevaro yang datang bersama papanya.
"Ma ... pa ..." sapa Jevaro lalu mencium pipi papa mamanya.
"Belum tahu pa .... ma .... masih di dalam." sahut Jevaro cemas sambil menatap pintu ruang bersalin.
"Keluarga ibu Kimberley?!"
"Iya sus saya!" sahut Jevaro.
"Bagaimana keadaan istri saya sus?" tanya Jevaro khawatir.
"Tenang pak, pasien dalam keadaan baik tekanan darah juga normal, tinggal menunggu lahiran saja masih bukaan dua. Sabar ya pak, nanti kami info lagi" jelas suster perawat.
"Iya sus, kami tunggu kabar baiknya. Terima kasih suster" ucap Jevaro sedikit lega.
...................................................
Satu jam berlalu
"Itu mereka!" tunjuk Rose pada Aqib.
Tadi pagi Rose ditelepon ibu, memberitahu kalau Kimberley sekarang ada di Rumah sakit, Sedangkan kak Aqib ditelepon langsung oleh Jevaro kalau kemungkinan keponakan nya lahir hari ini. Kemudian mereka sepakat berangkat bersama ke Rumah Sakit.
Perasaan Aqib sebenarnya campur aduk antara bahagia dan sedih, mengingat adiknya yang seharusnya ada di sisi Kimberley saat ini menemani dan melihat anaknya lahir ke dunia, tetapi sayang takdir berkata lain.
"Kak Aqib ayoo!" ajak Rose setengah berlari.
"Iya" Aqib mengikuti Rose menuju ruang bersalin.
"Pak Jevaroo!" panggil Rose.
Rose terlihat tergopoh-gopoh.
Setelah berhasil mengatur nafasnya. "Kimberley???"
Jevaro tersenyum melihat kehebohan Rose."Kamu memang sahabat terbaik Kimberley. Terima kasih ya Rose."
"Terbaik kok tidak dihubungi! Bapak jahat!" sungut Rose.
Jevaro terdiam mengingat."Oh iya maaf Rose tadi aku cuman hubungi kak Aqib,maaf ya aku panik tadi" jelas Rose.
"Hmm" sahut Rose singkat.
Lalu Rose mengambil beberapa makanan dari tas yang dibawanya.
"Nih buat Bapak, estafet pak ... " perintah Rose untuk membagikan makanan buat semuanya.
"Pasti semua belum sempat sarapan kan langsung ke sini tadi?, jadi aku bawakan sarapan buat semuanya. " ucap Rose.
"Terima kasih ya Rose " ucap semua yang hadir disana kompak.
"Rose memang sahabat yang bisa diandalkan." ujar Ayah Kimberley bangga.
"Ahh ayah .... ini semua kan ungkapan rasa syukur aku, karena keponakanku akan lahir hari ini , hmm kira-kira laki-laki atau perempuan ya.?" Rose mencoba menerka nerka.
"Hmm kalau Cewek, pasti cantik seperti mamanya, kalau cowok ganteng seperti-----" Rose terdiam takut melukai hati seseorang.
Semua terdiam. "Upss sial aku bikin suasana ga enak nih.Duh bodoh bodoh bodoh! kenapa lagi sih kamu Rose .... mulut mulut lecek amat !"
"Seperti pamannya donk ..." jawab Aqib singkat, sambil pura pura bergaya macho. Berusaha mengalihkan dan mencairkan suasana.
"Seperti kakeknya! " seru ayah tak kalah lantang.
Lalu mereka pun tertawa bersama.
"Suami ibu Kimberley!' panggil suster.
"Iya sus saya, bagaimana istri saya sus?" tanya Jevaro .
"Bapak, ibu sudah hampir lahiran . Dokter menawarkan apakah bapak mau menemani ibu di dalam atau menunggu proses lahiran disini saja.?" Suster perawat menawarkan pilihan pada Jevaro.
Jevaro ingin sekali menemani Kimberley dan ingin selalu mendampinginya dalam proses persalinannya.
Tetapi mengingat anak yang dilahirkan nya ini adalah anak Yasir, Jevaro berpikir untuk meminta ijin Aqib terlebih dahulu. Bagaimana pun juga Aqib perwakilan dari Yasir.
"Sebentar ya sus, saya minta waktu sebentar." ijin Jevaro.
Jevaro menghampiri Aqib.
"Kak .... aku sadar seharusnya yang menemani Kimberley saat ini , dan menyaksikan kelahiran anaknya adalah Yasir papa biologisnya untuk itu selaku suami Kimberley aku mohon ijin, untuk mendampingi Kimberley melahirkan anaknya."ucap Jevaro.
Aqib menghela nafas sesaat.
"Jev benar memang yang dilahirkan Kimberley memang anak biologis Yasir, tetapi saat ini kamu adalah suami sah nya Kimberley, dan kamu berhak penuh atas Kimberley dan anaknya.Justru aku atas nama Yasir sangat berterima kasih padamu, telah menerima dan menganggap anak Yasir sebagai anak kamu sendiri karena itu tidaklah mudah. Pergilah Jev temani istri kamu, dia membutuhkan kamu." kata Aqib sambil menepuk pundak Jevaro.
"Baiklah kak, terima kasih." Lalu pergilah Jevaro bersama suster masuk ke ruang bersalin.
Sudah hampir lima belas menit berlalu, belum ada kamar dari suster ataupun dokter tentang keadaan Kimberley dan anaknya.
Aqib nampak yang paling tidak tenang berjalan mondar mandir di depan ruang bersalin.
"Kak Aqib ... duduk sini kak!" ajak Rose.
"Kok lama ya Rose .... ada apa ya ? semua berjalan lancar kan?" cemas Aqib terus memandangi pintu ruang bersalin.
"Yasir ... anak kamu lahir hari ini, saat ini Kimberley sedang berjuang untuk melahirkan anak kalian semoga diberi kelancaran dan keduanya sehat ." gumam Aqib dalam hati
"Keluarga Kimberley"
"Iya sus" sahut semua keluarga kompak dan cemas .
"Ibu Kimberley saat ini ....." kata suster.
Baik Aqib, Rose dan kedua orang tua Kimberley dan Jevaro pun terdiam berdebar menantikan kabar keadaan Kimberley dan anaknya.
.......................................................
Ada apa dengan Kimberley? bagaimana keadaan Kimberley? bagaimana keadaan bayinya laki-laki kah seganteng kakek atau pamannya? atau perempuan secantik mamanya?
Yuk tunggu kisah selanjutnya ya...
Jangan lupa like komen vote dan hadiah hadiah lainnya ya
Terima kasih banyak buat dukungan nya selama ini hingga Find the Perfect Love bisa sejauh ini i love you all ❤️❤️❤️
Sambil menunggu up berikutnya ikuti karya teman aku yang berjudul Pernikahan Terpaksa Tamara.
Tamara mendapat hukuman dari ayahnya untuk pindah sekolah dan dimasukkan ke pesantren. Namun, siapa sangka justru di pondok itu ia bertemu dengan cinta pertamanya dan berlanjut hingga bertunangan tetapi dia harus LDR selama empat tahun untuk menyelesaikan kuliahnya setelah itu baru diberikan restu untuk menikah. Ketika waktu pernikahan tiba, tunangannya yang bernama Reza menghilang entah kemana. Dia hanya memberikan kabar kalau tidak bisa menikah dengan Tamara. Ayahnya yang sudah menyebarkan undangan kepada semua rekan kerjanya tentu sangat malu. Pada saat yang bersamaan Tamara mendapat lamaran dari guru ngajinya. Kemudian ayahnya memaksa dia untuk menerima lamaran ustad tersebut. Hatinya sangat hancur, terluka dua kali. Oleh pengkhianatan Reza dan pemaksaan ayahnya. Tamara harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai demi menyelamatkan nama baik keluarganya dari rasa malu. Bagaimana perasaan Tamara menerima nasibnya?