
Pecah sudah tangisan yang dari tadi di tahan Aqib.
Walaupun sebenarnya ia sudah tahu akan berakhir seperti ini tapi tidak secepat ini.
Tadi pagi sewaktu Dokter Wahyu memanggilnya untuk datang ke ruangannya, dokter sudah mengatakan bahwa pasien tinggal menunggu saatnya saja, karena akibat luka dalam yang diderita Yasir ternyata menimbulkan infeksi yang sangat parah dan dalam keadaan seperti itu biasanya pasien tidak akan bertahan lama tinggal menunggu waktu dan mujizat.
Saat mendengar itu Aqib merasa kakinya lemas tak mampu lagi menopang diri, tapi untungnya dari awal dokter Wahyu sudah mengantisipasinya agar ia duduk sehingga tidak terjatuh.
Ayah dan Azlan menangis berpelukan, ayah meraung sejadi jadinya"Kenapa jadi begini nak, dulu kamu pamit kerja disini untuk membanggakan ayah, tetapi sekarang kamu pulang hanya tinggal nama"
Dokter Wahyu pun ikut meneteskan air mata ia tahu betul perjuangan Yasir untuk bertahan, hingga Minggu kemarin semua mengira akan baik baik saja bahkan ia sendiripun memprediksi tiga hari lagi Yasir sudah bisa pulang ke rumah tapi takdir mengatakan lain.
"Pak Aqib bisa ke kantor sebentar, untuk urus administrasinya?" ucap suster agar mereka bisa segera melakukan prosedur selanjutnya.
Dengan langkah gontai Agib mengikuti kemanapun suster melangkah sambil sesekali menyeka air matanya.
Sedangkan Kimberley sudah berada di instalasi gawat darurat untuk diperiksa lebih lanjut dan dicoba untuk dikembalikan kesadarannya.
Jevaro dan Rose disarankan suster agar menunggu di luar agar dokter jaga bisa bekerja dengan optimal.
Mereka berdua terdiam, Rose sesekali menyeka air matanya.
"Aku tidak menyangka akhirnya akan seperti ini, kemarin mereka masih tertawa bahagia merencanakan tema pernikahan mereka nantinya, Yasir ingin setelah keluar dari Rumah Sakit ini, segera menikahi Kimberley, dokter pun kemarin bilang mungkin tiga hari lagi Yasir lulus dari Rumah Sakit ini, tapi kenyataannya? kenapa harus lulus dengan cara seperti ini? kenapa?" Rose kembali terisak .
Rose dulu pernah sangat membenci Yasir ia sangat tidak suka dengan sikapnya yang easy going dan selalu menyakiti hati Kimberley, menghilang sesuka hati dan sekalinya muncul seolah olah tidak bersalah.Tak jarang justru menyalahkan Kimberley.
Tetapi sekarang Yasir telah berubah menjadi laki laki yang penuh tanggung jawab.
Setelah ia menyadari kesalahannya dan bertobat kenapa justru maut yang memisahkan mereka
Rose tak habis pikir kenapa kebahagiaan sempurna dan cinta sempurna Kimberley pada akhirnya harus pergi untuk selamanya.
Ia mengambil nafas dalam-dalam.
Kemudian Rose menoleh ke arah Jevaro dan menatapnya cukup lama.
"Apakah benar orang yang ku kagumi dan kucintai ini justru jodoh Kimberley sebenarnya? pupus sudah segala harapan untuk dapat dekat dan mendapatkan hatinya".pikir Rose resah.
Jevaro yang merasa dirinya ada yang memperhatikan spontan menoleh ke arah Rose.
"What...why?" tanya Jevaro sambil menyatukan alis.
"Bapak beneran cinta sama Kimberley?"tanya Rose memastikan.
"Menurut kamu?" Jevaro balas bertanya.
"Selamat ya akhirnya bapak beneran bisa bersanding dengan Kimberley." sahut sinis Rose
Jevaro ganti tersenyum tawar .
"Mimpi kamu Rose" Jevaro menerawang jauh ke depan.
"Maksud bapak?" tanya Rose tidak mengerti dengan jalan pemikiran Jevaro.
"Katanya kalian sudah bersahabat lama harusnya kamu paham sifat Kimberley, dan seberapa besar cintanya pada Yasir" jelas Jevaro.
"Iya paham, Kimberley memang sangat mencintai Yasir. tapi kan ---" Rose merasa tidak enak melanjutkan
Jevaro menarik nafas dalam-dalam.
"Rose... aku memang mencintai Kimberly dan ingin menikah dengannya , tetapi aku tidak ingin kami menikah karena terpaksa , aku ingin dia benar-benar menerima dan menginginkan diriku untuk menjadi pendamping hidupnya bukan karena mandat atau suruhan siapapun.Aku tidak ingin ada penyesalan dalam dirinya nantinya " jelas Jevaro.
Rose terdiam berusaha memahami maksud perkataan Jevaro
"Saudara Rose!" panggil suster perawat.
"Iya sus! saya" Rose melangkah menghampiri suster perawat.
"Saudara Kimberley sudah stabil tapi memang masih belum sadarkan diri." jelas suster.
"Baik sus terima kasih, kami akan menungguinya." ucap Rose.
"Rosee! Rosee..." teriak Aqib
Mendengar Aqib memanggil manggil Rose, Jevaro menghampirinya.
"Rose di dalam kak bersama Kimberley" jelas Jevaro.
Aqib hanya berhenti sebentar dan mendengarkan, lalu pergi meninggalkan Jevaro, tanpa menoleh sedikit pun. Ada sorot kebencian terpancar dari matanya.
Jevaro hanya mengerutkan keningnya berpikir "Ada apa dengan kak Aqib Kenapa ia sepertinya membenciku?"
"Rose... bagaimana Kimberley keadaannya?" tanya Aqib tiba tiba.
"Hai kak, semua stabil kata suster tinggal tunggu siuman saja." sahut Rose.
Aqib menatap sedih Kimberley yang lemas tak berdaya, terlihat sekali mata sembabnya akibat menangis tadi. Disisi lain ia sedih karena Yasir telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya, bersamaan dengan itu ia juga harus melupakan perasaannya pada Kimberley.
Ada perasaan sakit di dadanya, serta marah dan kecewa kenapa adiknya justru lebih memilih Jevaro untuk mendampingi Kimberley, kenapa bukan dirinya padahal ia sangat tahu dirinya juga menyanyangi Kimberley.
Padahal dulu Yasir lah yang dengan penuh semangat menginginkan dirinya segera move on dari Reva, setelah sekarang ia telah berhasil move on kenapa justru ia dipaksa harus melupakannya?
Takdir cinta sepertinya tidak berpihak padanya .
Tetapi bagaimanapun Aqib sudah berjanji pada Yasir untuk melupakan perasaannya itu.
"Tidakkk! Yasir!" teriak Kimberley tiba-tiba dan bangun dari pingsannya.
Baik Rose, Aqib dan Jevaro pun menghampiri Kimberley.
Rose kemudian berusaha menenangkan Kimberley.Ia menggenggam erat tangan Kimberley.
"Rose ..katakan padaku aku hanya mimpi buruk Kan?" tangan Kimberley terasa dingin dan bergetar .
Kemudian Kimberley menatap Aqib, lalu Jevaro bergantian .
"Kak Aqib, Yasir baik-baik saja kan ? kemarin dokter bilang tiga hari lagi sudah boleh pulang." Kimberley menyeka air matanya dan terus saja berusaha menolak kenyataan.
Jevaro hanya menatap sedih Kimberley. Sakit rasanya melihat orang yang ia sayangi begitu terpukul tak berdaya.
Aqib meraih tangan Kimberley.
"Kim .." Aqib berusaha tersenyum tetapi matanya kembali terasa berembun.
"Kamu benar Yasir sudah sembuh ,ia sudah tidak merasakan sakit lagi, ia sudah bisa berlari lari , dan bernyanyi lagi ,kamu senang kan?" Aqib berusaha menahan air mata nya.
" Ia juga sedang tersenyum bahagia sekarang , tetapi ...sekarang ia tersenyum dalam hati dan ingatan kita, " Aqib tak mampu lagi meneruskan kata-katanya."Ia sangat mencintaimu Kimberley Ryan, sampai kapanpun" lalu Aqib melepaskan tangannya dan berlalu pergi dari hadapan Kimberley.
Kimberley menangis sejadi jadinya dalam pelukan Rose.
Rose pun tak mampu lagi membendung air matanya ia hanya bisa membelai dan mengusap rambut Kimberley.
"Yang sabar ya Kim, kak Aqib benar Yasir sudah terlepas dari segala sakitnya, ia laki laki kuat bisa bertahan dan selalu berhasil melewati masa kritisnya , tapi bagaimana pun juga takdir bukanlah kita yang menentukan. Yasir kuat kamu pun juga harus kuat jangan bikin Yasir sedih disana" Rose mencoba menguatkan Kimberley.
Tiba tiba Kimberley berusaha turun dari ranjang dan berlari keluar .
Sedetik Rose dan Jevaro pun saling berpandangan kemudian berlari mengejar Kimberly.
"Kim...! tunggu" teriak Jevaro.
Rose pun ikut berlari menyusul Kimberley bersama Jevaro.
....................................................
Brakkk...
Pintu ruangan kamar Yasir sebelumnya, dibuka kasar oleh Kimberley.
Kimberley menatap nanar ke arah ranjang yang biasa Yasir terbaring disitu, kosong...
Mesin pendeteksi jantung pun dalam keadaan mati.Botol infus pun juga tidak ada.
Kamar itu kosong ...sepi...,
"Yasir ...Yasir kamu dimana!? Kimberley kebingungan memutari seisi kamar, airnatanya terus mengalir.
Melihat Kimberley setengah kehilangan akal sehatnya.
Jevaro pun berpikir semua ini harus segera diakhiri, Kimberley tidak boleh dibiarkan terus berada dalan zona nyamannya ia harus segera disadarkan akan apa yang terjadi.
"Kim... Kimberley Ryan cukup!" Jevaro sengaja menaikan nada suaranya.
"Aro...Aroo Yasir...Yasir kemana dia sudah pulang ? kok aku tidak diberitahu?" Kimberley masih terus menolak kenyataan.
Kimberley menarik tangan Jevaro " Yuk Aro antar aku ke apartemen Yasir dia pasti sudah---"
Jevaro melepaskan tangannya dan memegang kedua pundak Kimberley. dan menatap lekat kedua mata Kimberley," Cukup Kim...cukup, sadarlah terimalah kenyataan bahwa Yasir sudah meninggal"
Kimberley kembali meneteskan air matanya dia hanya terdiam.
"Tidak Yasir ku sudah sembuh dia sekarang sedang beristirahat di rumahnya dan sebentar lagi kami akan menikah." sahut Kimberley sambil menahan air matanya.
"Okey ...ikut aku" Jevaro menarik tangan Kimberley
" Lepaskan! aku mau menemui Yasirku!" teriak Kimberley sambil berusaha melepaskan tangannya dari Jevaro.
Tetapi Jevaro terus saja menarik tangan Kimberley.
"lepaskan! jangan sakiti Kimberley" suara Aqib terdengar lantang.
Jevaro berhenti dan menoleh ke arah Aqib.Rose terdiam melihat Jevaro dan Aqib berseteru.
"Kak saya cuman ingin menyadarkannya, keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan terus.kimberley harus bisa dan mau menerima kenyataan yang terjadi kalau kita menuruti setiap penolakan penolakan Kimberley hanya karena kasihan, dia bisa benar-benar gila" jelas Jevaro.
"Iya kak, Kimberley harus bisa dan mau menerima kenyataan ini, aku setuju dengan bapak Jevaro" sahut Rose.
Akhirnya Aqib pun membiarkan Kimberley ditarik paksa oleh Jevaro "Kak Aqib....kak .tolong Kim kak ...antar Kim menemui Yasir" teriak pilu Kimberley.
Sesampainya di ruang mayat Jevaro terlebih dahulu minta ijin ke petugas jaga untuk melihat jasad Yasir.
"Kim... sekarang aku mau kamu kembali ke dunia nyata.please terimalah kenyataan bahwa Yasir telah meninggal." jelas Jevaro.
Kimberley menggeleng gelengkan kepalanya cepat dan memalingkan wajahnya,"Tidak...tidak...tidak!"
"Kim ayolah lihat lah terimalah kenyataan ini, kita semua menyanyangi Yasir tapi Tuhan lebih menyanyanginya, ikhlaskan Kim terimalah kenyataan ini" ucap Jevaro menyadarkan Kimberley.
Perlahan Kimberley melihat jasad Yasir terbujur kaku dan di sudut bibirnya tersungging sebuah senyuman manis.
Untuk beberapa saat Kimberley hanya terdiam memandangi jasad kekasihnya yang telah terbujur kaku tapi masih meninggalkan senyuman manisnya, airnatanya menetes tak terbendung.
Kimberley akhirnya memeluknya menangis sejadi jadinya meluapkan semua kesedihannya.
'Yasir.. kenapa kamu meninggalkan aku?! kenapa?? kenapa harus seperti ini ? kamu janji kita akan menikah setelah kamu keluar dari Rumah sakit, kata dokter tiga hari lagi kamu sudah boleh pulang kenapa kamu sekarang meninggalkan ku? kenapa kamu ingkari janjimu kenapa Yasir kenapa?! You promise me not to leave me! you promise me !" jerit Kimberley.
Rose memeluk Kimberley berusaha menguatkan Kimberley.
"Kim ikhlaskan Yasir biarkan ia pergi dengan bahagia, benar kata kak Aqib, Yasir sudah tidak sakit lagi, sekarang dia sudah bisa berlari lari dan bernyanyi nyanyi lagi disana, ikhlaskan ya" Rose memeluk Kimberley dan membawanya menjauh dari Yasir.
Kemudian mereka keluar dari kamar mayat tersebut.
Jevaro pun akhirnya lega usahanya untuk menyadarkan Kimberley berhasil
.....................................................
Ditunggu like dan komennya
Hadiah hadiah dan dukungan lainnya.
Kalau masih punya vote bisa dibagi
Happy Reading 🌹