
Jevaro menatap nanar ke jendela kamar.
Air hujan membasahi kaca jendela kamar inap Jevaro, hujan sejak semalam seolah mengiringi tangisan hatinya.
"Kim aku kangen kamu, pernahkah sedikit saja dalam hatimu memikirkan aku?" gumam Jevaro.
Berkali kali Jevaro melihat ke arah ponselnya, hatinya galau keinginan hati untuk menghubungi kimberley sangatlah besar.
Keluar masuk aplikasi WhatsApp, ingin rasanya sekedar menyapa menanyakan kabarnya tapi bila mengingat Kimberley milik orang lain, keinginan itu tiba-tiba tertahan.
Jevaro mengurungkan lagi niatnya untuk menghubungi Kimberley.
Jevaro hanya bisa memejamkan mata mencoba menyentuh hati yang disana dengan jeritan rindu batinnya, tak terasa ada yang mengalir hangat di ujung pelupuk matanya.
"Andai aku mampu mengatakan apa yang aku rasa" gumam Jevaro.
Jevaro teringat pertama kali ia bertemu Kimberley di perempat an lampu lalu lintas saat itu mobil Kimberley tetap berhenti di depan mobilnya di saat lampu hijau sudah menyala, kejadian itu lah sedikit membuat dirinya gregetan karena sudah mepet dengan waktu meeting yang akan diikutinya.
Tak disangkanya ternyata justru pimpinan perusahaan tempat Jevaro menghadiri rapat itu adalah pemilik mobil yang tadi menghalangi mobilnya sewaktu di lampu merah.
Ya Kimberley Ryan pemilik PT Sukses Cemerlang, ternyata pemilik mobil yang saat lampu hijau menyala masih berhenti tak bergeming di depannya.
Seorang wanita yang smart selalu tanggap dengan setiap ide ide yang diajukan kepadanya dan selalu bisa memberi masukan untuk membuat ide awal menjadi lebih sempurna.
Itulah sosok Kimberley Ryan dimatanya saat itu, Jevaro mengira wanita seperti Kimberley adalah tipe wanita yang kaku.
Tetapi pertemuan tak terduganya dengan Kimberley di cafe Cinamon malam itu mengubah segalanya.
Saat itu Jevaro baru saja mendapat info bahwa janji temu dengan PT Abadi Setia diundur, karena ia sudah terlanjur datang, akhirnya Jevaro memutuskan untuk menikmati alunan live music cafe sambil menyeruput coffe late dan roti bakarnya.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok wanita yang terlihat berantakan, awalnya ia hanya melihatnya sambil lalu saja, tapi entah mengapa hatinya terus menyuruhnya untuk lebih fokus melihat sosok wanita tersebut.
Wanita muda dengan rambut Curly cantik berwarna coklat, sedang menangis sambil menatap nanar ke arah ponselnya, "Peduli amat " pikir Jevaro saat itu, tetapi entah mengapa dan darimana datangnya, hatinya terus menyuruhnya untuk lebih memperhatikan wanita tersebut.
Acuh ia lebih memperhatikan lagi,"lho bukannya itu----"
Tiba-tiba dirinya sudah berada didekat wanita itu sambil menyodorkan sapu tangan berwarna birunya.
Yahhh itu awal dari semua keruwetan perasaan yang ia rasakan.
Sejak saat itulah Jevaro sering terlibat ditengah tengah permasalahan cinta antara Kimberley dan Yasir.
Semakin sering melewati suka duka bersama, membuat ia semakin mengenal dan semakin sayang pada Kimberley.
Perasaan aneh dan nyeri yang dirasakannya di dada tiba-tiba muncul setiap melihat Kimberley kembali mesra bersama kekasihnya.
Ternyata selama ini hatinya berharap ada tempat, walau sedikit di hati Kimberley untuknya.
Tetapi Jevaro sadar bahwa apa yang dirasakannya itu hanya dirinyalah yang merasakannya.
Karena Yasrlah kebahagiaan Kimberley sesungguhnya.
Hal itu jugalah yang membuat dirinya memutuskan untuk menjauh dan tinggal di Singapura.
Ternyata Jevaro salah, menjauh dari Kimberley bukanlah solusi yang tepat, menjauh dari Kimberley justru membuat rindu di hatinya semakin tak terbendung, terbiasa menatap mata lembut Kimberley, senyum manis bibir merahnya, serta sikap manjanya, dan kebahagiaan itu semua sirna, hampa saat jauh dari dirinya.
"Inikah yang dinamakan cinta? masih bolehkah aku mencintaimu disaat aku tahu cintamu adalah dia, dia yang justru sering membuatmu menangis." gumam Jevaro.
"Bila kau ijinkan dan bila kau berikan sedikit saja ruang dihatimu untukku, aku berjanji seluruh hidupku untuk kamu, aku akan selalu siap melindungi, menjagamu dan membuatmu selalu tersenyum bahagia, takkan kubiarkan setetes air mata mengalir di matamu. " pikir Jevaro.
Sudah seringkali kedua orang tua Jevaro menyuruhnya untuk segera mencari pendamping hidup, bahkan mereka sering berusaha menjodohkannya dengan anak kolega mereka, belasan mungkin sudah puluhan foto sudah disodorkan padanya dan sering pula kedua orang tuanya mengadakan makan malam dadakan bersama kolega dan sahabat-sahabatnya hanya untuk mengenalkan anak mereka padanya.
Tetapi tidak satupun baik dimata dan dihati yang cocok baginya.
Yaaaa hati dan kepala Jevaro sudah penuh dengan sosok Kimberley.
Hal itulah yang menyebabkan Jevaro mengatakan pada kedua orang tuanya untuk berhenti mencarikan dirinya pasangan.
Jevaro mengungkapkan pada mereka bahwa ia sudah punya kekasih hati yang bernama Kimberley dan ia sangat mencintai serta menyayanginya suatu saat di saat yang tepat ia akan mengenalkannya pada mereka.
Tetapi sekembalinya Yasir ke dalam kehidupan Kimberley lagi, membuatnya dirinya merasa mulai jauh dari Kimberley.
Kimberley sudah tidak membutuhkan pundaknya lagi, hari-hari Kimberley sekarang hanya ada Yasir Yasir dan Yasir.
Hingga kejadian malam itu yang mengakibatkan dirinya sekarang berada di Rumah Sakit, sungguh kejadian luar biasa yang benar-benar memukul dirinya..
Tetapi Jevaro tidak bisa lagi memungkiri perasaannya, semakin ia coba menutupi semakin menyiksa dirinya.
Jevaro menarik nafas dalam-dalam, "Sepertinya sudah saatnya bagi ku untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan, apapun yang akan terjadi setelah ini aku tidak peduli, yang penting perasaanku sudah tersampaikan" ujar Jevaro.
"Oke dua hari lagi setelah aku keluar dari sini aku akan ajak Kimberley tempat yang aku yakin ia suka, disana akan aku ungkapkan perasaanku yang sebenarnya padanya" tekad Jevaro.
Kemudian Jevaro menghubungi toko perhiasan langganan mamanya, yang pemiliknya adalah sahabat mamanya.
"Selamat malam, saya Jevaro tante" sapa Jevaro.
"Iya Tante" sahut Jevaro.
"Ada yang bisa tante bantu Je?"
"Jevaro mau pesan cincin yang model terbaru pokok nya yang paling bagus, untuk 2 hari lagi bisa tante?" tanya Jevaro.
"Cincin? untuk kekasih kamu ya? kamu mau tunangan sayang? kok tante tidak diundang?"
"Oh bukan tante, belum tunangan kok, mohon doanya tante biar lancar" sahut Jevaro.
"Pasti tante doakan, oke Tante akan bikinkan cincin special buat kekasih mu"
"Terimakasih, nanti tagihannya langsung hubungi Jevaro ya Tante" ucap Jevaro
"Oke, semoga lancar ya"
"Amin" sahut Jevaro kemudian hubungan telepon berakhir.
Jevaro merasa sedang ikut dalam suatu peperangan walaupun sebenarnya ia sudah tahu kemungkinan dirinya untuk menang dalam peperangan ini sangatlah kecil.
Tapi tekatnya sudah bulat menang kalah bukanlah prioritas baginya, saat ini yang utama adalah Kimberley tahu ada hati yang mencintai dirinya tulus apa adanya.
"Kalaupun aku kalah setidaknya Kimberley tahu aku mencintainya dan bila ternyata dia tidak berjodoh dengan Yasir, Kimberley tahu hati siapa yang siap untuk memberinya kebahagiaan bukan air mata." batin Jevaro.
"J.... kamu pesan cincin untuk Kimberley kah? benar nak?" tanya ibu setengah berteriak kegirangan.
"Pah akhirnya anak kita sudah mulai memikirkan kebahagiaan dirinya" seru ibu Jevaro.
Ayah Jevaro hanya tersenyum bangga.
"Papa setuju dengan pilihanmu nak, Kimberley gadis yang baik sopan dan sangat sayang padamu" ucap ayah.
Jevaro mengeryitkan keningnya, mencoba memahami maksud perkataan ayah.
"Kimberley sayang J?" tanya Jevaro sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya Kimberley sangat mencintai mu, papa yakin itu" sahut papa
"Hmm apa yang bikin papa berpikir Kimberley sayang J?" selidik Jevaro
"Waktu kamu masih tidak sadarkan diri, melihat keadaan kamu yang begitu berantakan ia menangisimu," jelas ayah.
Jevaro terdiam larut dalam lamunannya.
"Benarkah sesungguhnya di hatimu ada aku Kim?" tanya Jevaro dalam hati.
"Ataukah hanya sekedar rasa kasihan saja padaku"
"Mama doakan semoga rencanamu melamarnya berhasil nak" harap ibu bahagia.
"Iya nak kalau berjalan dengan sukses, langsung kabari papah ya kita akan melamar secara resmi ke orang tua Kimberley" timpal ayah.
Jevaro menarik nafas dalam-dalam, dan tersenyum bahagia, ternyata bukan hanya dirinya saja yang suka pada Kimberley, kedua orang tuanya pun menyetujui dan menyanyangi Kimberley.
"J papah tanya ya, Yasir itu siapanya Kimberley?" tanya ayah
Mendengar pertanyaan ayah Jevaro langsung tersedak.
"Minum dulu nak " Ibu mengambilkan segelas air putih untuk Jevaro.
Ayah menatap intens Jevaro mencoba mencari jawaban dari wajah Jevaro.
"Selamat siang semua" sapa Rose yang tiba-tiba masuk ke ruangan Jevaro.
"Hai Rose pa kabar"tanya Jevaro dengan wajah yang ceria
Jevaro merasa kedatangan Rose menyelamatkan dirinya dari pertanyaan ayahnya.
"Rose ....,Kimberley bagaimana, kakinya sudah pulih kan?" tanya Jevaro cemas.
"Aman pak! tadi pagi sudah belajar jalan pelan-pelan" jawab Rose.
"Baguslah" Jevaro tersenyum lega.
"Oke papah dan mamah tunggu di luar dulu ya silakan lanjutkan" pamit ayah Jevaro.
Ayah Jevaro masih terus penasaran "Hmm ada yang aneh baik Rose dan Jevaro setiap aku tanya tetang Yasir wajah mereka langsung berubah panik seolah olah mereka menyembunyikan sesuatu ada apa ini sebenarnya?" pikir Ayah.
"Besok akan aku coba bertanya lebih serius lagi" pikir ayah.
...............BERSAMBUNG,.............