
Sudah hampir sebulan sejak Yasir meninggalkan semuanya untuk selama lamanya.
Tetapi Kimberley masih setia dengan kesedihan dan rasa kehilangannya.
Tiada hari tanpa ia memandang ke jendela dan meneteskan airnata sambil terus memeluk foto Yasir.
Saat ini keadaan Kimberley jauh berbeda dari sebelum Yasir meninggalkannya.
Tubuhnya semakin kurus matanya sembab dan cekung karena terlalu sering menangis.
Tiada lagi senyum manis di bibirnya.Kini tinggallah tatapan sayu, pandangan kosong dan pikiran yang jauh menerawang entah kemana.
.................................................
Di ruang tamu telah berkumpul Ayah, ibu, dan Rose.
Mereka terlihat sedang berdiskusi serius tentang keadaan Kimberley.
"Kita tunggu Jevaro saja Bu. kita tanya padanya apa yang harus kita lakukan agar Kimberley kembali dari masa berkabungnya." ucap ayah
"Iya Bu, biasanya Jevaro sangat paham dengan keadaan Kimberley dan tahu apa yang harus ia lakukan agar Kimberley kembali seperti sedia kala" jelas Rose.
"Iya hanya Jevaro dan Yasir lah yang bisa membuat Kimberley menurut." ibu teringat waktu Kimberley mengurung diri di kamar hanya Jevarolah yang bisa membuat Kimberley keluar dari kamar dan makan
"Selamat pagi semua" sapa Jevaro.
"Haii pagi nak Jevaro... ayoo masuk" ayah mempersilakan Jevaro
Kemudian Jevaro duduk bersama Rose, ayah dan ibu.
Jevaro menyebarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari sosok yang diharapkan ia temukan tapi nihil.
Rose yang melihatnya lalu tersenyum penuh arti.
"Bapak mencari Kimberley ya?" sambil tersenyum Rose berusaha menebaknya.
"Kimberley ada si kamarnya nak, dan masih seperti biasa selalu melamun dan menangis." cerita ibu.
"Ibu tinggal sebentar ya, mau lihat keadaan Kimberley, mungkin kalau ibu bilang nak Jevaro datang, ia mau turun" harap ibu
"Silakan Bu," ucap Jevaro.
"Seminggu yang lalu kak Aqib menelepon mengabarkan kalau belum bisa kembali ke Indonesia,karena masih banyak yang harus dia urus di sana" ucap Rose mencoba menjelaskan.
"Iya kasihan dia, ayahnya terpukul sekali dan melarang anak-anaknya keluar kampung halamannya.Karena dulu kak Aqib kehilangan kekasihnya terus pulang dalam keadaan linglung, sekarang Yasir menjalin hubungan dan hampir menikah, juga pulang tinggal nama,dan itu cukup membuat ayah kak Aqib trauma."jelas Jevaro.
" Jadi itu yang bikin kak Aqib sampai sekarang belum balik ke Indonesia" Rose mulai paham sekarang.
"Iya Rose, kak Aqib belum dapat ijin ayahnya kembali ke Indonesia,ayahnya masih trauma takut kehilangan anaknya lagi." jelas Jevaro
"Ayah paham perasaan ayah Yasir, dia hanya ingin melindungi anak-anaknya dan tidak ingin kehilangan lagi"
Semua hening
Tiba-tiba ibu turun dengan wajah panik "Rose ..ikut ibu yuk! Kimberley...Rose... Kimberley!"
"Kimberley kenapa Bu?" Jevaro langsung berdiri.
"Anu itu ... Kimberley muntah muntah, katanya kepalanya pusing dan mual" sahut ibu.
Rose kemudian bergegas naik menuju kamar Kimberley.
"Pak Jevaro tolong! kita harus bawa Kim ke dokter sekarang juga!" teriak Rose dari atas.
Ayah dan Jevaro langsung berlari mengikuti Kimberley.
Mereka mendapati Kimberley lemas di tempat tidur. Wajahnya pucat dan sayu.
Saat ayah menghampiri tempat tidur, Kimberley kembali merasa mual dan muntah-muntah
Ibu terlihat cemas dengan keadaan Kimberley.
"Kim, yuk kita ke dokter" ajak Jevaro dan langsung mengendong Kimberley
"Tidak Aro! turunkan aku! turunkan! nanti Yasir cemburu aku gak mau membuat Yasir sedih" teriak Kimberley.
Semua terdiam saat Kimberley menolak dibopong Jevaro.
Begitu juga Jevaro tiba-tiba ada perasaan tergores nyeri di hatinya, lalu ia menurunkan kembali Kimberley ke tempat tidurnya.
Rose yang melihatnya kemudian protes menarik tangan Jevaro keluar kamar.
Jevaro hanya diam dan mengikuti saja kemana Rose menarik dirinya.
"Bapak ini kenapa sih! kenapa tidak langsung bapak bawa Kimberley ke mobil, kita harus segera membawanya ke dokter!" protes Rose.
"Aku tunggu di mobil, aku akan antar Kimberley ke dokter tapi maaf aku tidak bisa membantu kalian membawanya ke mobil seperti dia bilang aku tidak berhak menyentuhnya" kemudian Jevaro meninggalkan Rose yang masih tidak percaya dengan sikap Jevaro.
Rose hanya bisa menatap kepergiaan Jevaro dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.
"Sepertinya dia lagi sensitif" batin Rose
"Ada apa dengan Jevaro, biasa dia yang paling rasional dalam bertindak, seperti peristiwa di kamar mayat waktu itu, dia dengan keyakinan yang besar, menyadarkan Kimberley untuk sadar akan kenyataan sesungguhnya tapi hari ini kenapa ia pasrah begitu saja ,? malah baper dengan perkataan Kimberley" pikir Rose pusing
Kemudian Rose kembali ke kamar disana ia mendapati ibu sedang mengantar Kimberley ke kamar mandi dan terdengar kembali Kimberley muntah-muntah.
"Rose.. dimana Jevaro? "tanya ayah
"Menunggu di mobil, sepertinya ia tersinggung dengan cercau Kimberley tadi" ucap Rose.
Setelah Kimberley keluar dari Kamar mandi bersama ibunya, ayah kemudian langsung membopong Kimberley dan membawanya ke mobil Jevaro.
"Yuk Bu "ajak Rose untuk ikut dengannya ke mobil Jevaro.
Setelah semua masuk ke dalam mobil. Jevaro kemudian melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit tanpa sepotong kata pun.
Semua terdiam, Kimberley terkulai lemas dalam dekapan ibunya.
Sesekali Rose menyeka keringat dingin Kimberley yang menetes.
Sesampainya mereka di Rumah Sakit, Kimberley ditemani ibu dan Rose menemui dokter .
Sedangkan ayah menemani Jevaro yang terlihat memendam kesedihan dan amarah.
Ayah menepuk bahu Jevaro."Jev atas nama Kimberley, ayah meminta maaf ya." sahut ayah pasrah.
Jevaro menoleh ke arah Ayah"Maaf untuk apa om?" sambil mengerutkan keningnya
"Maaf atas kata-kata pedas Kimberley tadi, percayalah Jev Kimberley tidak bermaksud menyakiti hatimu dia hanya terlalu sedih dan terkadang belum bisa menerima kenyataan Yasir telah pergi untuk selamanya." ucap ayah.
Jevaro menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Kimberley bukannya lupa kalau Yasir sudah tiada tetapi ia sendiri yang mencoba menolak kenyataan itu, entah untuk berapa lama, dan itulah om yang membuat saya bingung harus dengan cara apa lagi menyadarkannya bahwa hidup harus terus berjalan." sahut Jevaro.
Kemudian Jevaro pun tersenyum pada ayah Kimberley.
"Tenang saja om saya tidak marah kok dengan omongan dan sikap Kimberley tadi,saya sangat memahami keadaan psikologi Kimberley saat ini, hanya saja saya agak kesal dengan diri saya sendiri, karena belum berhasil menemukan cara agar Kimberley berpijak tanah kembali." jelas Jevaro dengan pandangan menerawang.
Tidak lama kemudian Kimberley terlihat keluar dari ruangan dokter bersama ibu dan Rose.
Ayah bergegas menghampiri Kimberley.
"Belum tahu yah masih nunggu hasil dulu, setengah jam lagi katanya" jawab ibu.
"Ibu, Rose pamit sebentar ya mau ke kantor, barusan ditelepon tim promo" pamit Rose.
"Baiklah nak, lho kamu naik apa ke kantor?" tanya ibu
Ayah yang mendengar pembicaraan ibu dan Rose, lalu menghampiri Jevaro
"Nak Jevaro ayah pinjam mobilnya ya untuk antar Rose, biar ibu dan nak Jevaro yang menemani Kimberley." sambil menghampiri Jevaro.
"Ini om kuncinya" Jevaro menyerahkan kunci mobilnya pada ayah Kimberley.
.....................................................
Hampir setengah jam mereka menunggu, ibu berpamitan ingin ke toilet'.
Tinggal Kimberley dan Jevaro berdua di ruang tunggu.
Jevaro menyodorkan sebuah botol air mineral pada Kimberley yang terlihat lesu dan lemas.
"Minumlah Kim jangan sampai kamu mengalami dehidrasi seperti waktu itu." pesan Jevaro.
"Terimakasih Aro..., " sambil mengambil botol yang disodorkan padanya.
"Kimberley Ryan"
Kimberley dan Jevaro pun saling berpandangan sejenak.
"Kamu dipanggil tuh" sekilas Jevaro melihat sekeliling tapi tidak nampak ibu maupun Rose yang tadi ikut menemani Kimberley di dalam ruang dokter.
"Iya' jawab lirih Kimberley dan berusaha berdiri dan berjalan ke ruangan dokter.
"Aku temani ke dalam boleh? ibu dan Rose tidak ada disini, mereka belum kembali " tawar Jevaro.
Mata Kimberley pun menyusuri ruangan dan memang hanya ada Jevaro yang ada dihadapannya saat ini.
"Kimberley Ryan"
'Kim boleh? namamu dipanggil lagi tuh" tanya Jevaro.
"Iya Aro tidak apa-apa." sahut Kimberley.
Lalu Jevaro menuntun Kimberley masuk ke ruangan dokter.
Sesampainya disana kembali Kimberley mual dan muntah.Untungnya di ruangan dokternya terdapat wastafel dan kamar mandi.
Setelah selesai dokterpun mempersilakan mereka duduk, lalu Kimberley menyerahkan hasil laboratorium tadi kepada dokter untuk dibaca.
Sang dokter pun membaca hasil yang diperoleh dari laboratorium tadi setelah mempelajarinya, lalu sang dokter pun tersenyum penuh arti.
"Bagaimana dok?" tanya Jevaro cemas dan penasaran.
'Hmm" kembali sang dokter tersenyum penuh arti.
"Saya tidak apa-apa kan dok" tanya Kimberley.
"Tidak perlu khawatir berlebihan, semua normal pada saatnya nanti semua yang dirasakan saat ini akan hilang dengan sendirinya" jawab dokter.
"Tapi penyebabnya kenapa dok? cuaca yang berganti, kecapean atau hanya masuk angin?" tanya Jevaro .
Kimberley pun menatap tajam ke arah dokter mencoba mencari jawaban.
"Bukan semuanya" sahut singkat dokter.
"Lantas dok, Kimberley kenapa? stres?" tanya Jevaro lebih detail.
"No jangan stress Bu Kimberley, kasihan bayi yang ada di kandungan ibu" kata sang dokter sambil tersenyum.
Jevaro dan Kimberley pun saling memandang, Kimberley pun tak sadar menggenggam tangan Jevaro.
"Maksud dokter?" tanya mereka bersamaan.
"Selamat ya kalian berdua sebentar lagi akan mempunyai buah hati" sang dokter pun langsung mengulurkan tangannya kepada Jevaro dan Kimberley
"Maksud dokter.... Kimberley hamil?" tanya Jevaro meyakinkan diri dengan apa yang didengarnya.
"Iya" sahut dokter.
"Selamat ya.." sekali lagi dokter memberikan ucapan selamat.
Jevaro mengulurkan tangannya sebagai tanda formalitas dan mengucapkan terima kasih pada sang dokter, sambil memandang Kimberley yang masih diam terpaku tak percaya dengan yang didengarnya.
Lalu sang dokter pun menyerahkan hasil laboratorium nya tadi kepada Jevaro.
Dengan sigap Kimberley mengambilnya dari tangan Jevaro, dan membaca hasil yang tertera tersebut bahwa ia positip hamil.
Dengan pikiran kacau antara percaya tidak percaya antara senang dan sedih, semua bercampur aduk menjadi satu.
Mereka meninggalkan ruang dokter dengan hati gamang dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing
Jevaro hanya bisa terdiam ketika menuntun Kimberley keluar dari ruangan dokter.
Di luar ternyata sudah berkumpul ayah, ibu dan Rose mereka dengan cemas menunggu hasil diagnosa dokter.
"Bagaimana Kim? apa kata dokter? kamu baik-baik kan? tidak ada yang serius kan"tanya Rose sambil bergantian menatap Kimberley dan Jevaro mencari jawaban.
"Pak Jevaro Kimberley tidak apa-apa kan?"desak Rose
"Kim kamu baik-baik saja kan?" tanya ibu
Ayah menatap Jevaro mencari jawaban.
"Aku hamil" jawab Kimberley lirih.
Semua hening
"Kim aku tidak salah dengar kah?" tanya Rose kembali.
"Tidak Rose kamu tidak salah dengar, kata dokter Kimberley hamil dengan usia kehamilan satu bulan" kata Jevaro.
Ayah langsung mengusap wajahnya "Anak Yasir"ucap lirih ayah.
Rose ternganga tak percaya sambil menutup mulutnya" Ini mungkin arti kata Yasir waktu itu ,aku akan selalu bersamamu dan menjagamu, aku tidak akan pergi jauh darimu, aku akan selalu ada di dekatmu, ternyata Yasir sudah meninggalkan warisan dirinya pada Kimberley berupa buah hati mereka berdua" batin Rose.
Ibu langsung memeluk Kimberley mencoba menguatkan anaknya yang mendapatkan cobaan hidup yang bertubi-tubi.
.......................................................
Tunggu kisah selanjutnya ya ...
Jangan lupa like komen dan hadiah hadiah lainnya
Bagi vote nya dong untuk Kimberley bila masih ada
Terima kasih
Happy Reading ❤️