
Malam mulai merambat, sinar bulan menembus kegelapan malam, di dalam mobil yang dikendarai Rose, nampak hening, mereka tenggelam dalam pikirannya masing masing.
Rose tersenyum puas, hari ini dia makin mengenal pribadi seorang Jevaro Pranoto, keseharian yang ditemuinya adalah sosok Jevaro pembisnis muda dengan gaya bicara yang formal dan tertata rapih, penampilan perlente, yang membuat setiap orang yang bertemu dengannya mengangguk hormat dan segan , tetapi yang ia temui tadi sisi lain Jevaro, dengan penampilan kasual sederhana, ketampanan wajahnya tidaklah pudar.
"Jevaro benar-benar menakjubkan, ternyata pribadi Jevaro tidak lah berbeda dengan pemuda seumuran dengannya, dia juga seorang yang humoris, hmm ternyata begitu menyenangkan dan menenangkan, yang pasti setiap wanita akan merasa betah bersama laki laki seperti Jevaro" pikir Rose sambil tersenyum tipis.
Disaat pikiran Rose berkutat pada Jevaro justru Kimberley masih setia dengan kegalauan hatinya.
"Hmm dimana Yasir sekarang kenapa ia tidak menghubungiku? apakah ia masih ada jadwal syuting? kenapa setiap aku mencoba untuk mengharapkan mu, percaya padamu kamu selalu menghancurkan semua harapanku? aku tidak menuntut mu untuk selalu ada setiap waktu bersamaku, tapi aku juga butuh perhatian mu dan kepedulianmu, please Yasir jangan biarkan aku kecewa dan membencimu, setiap aku butuh dirimu untuk pengakuan diri bahwa aku punya kamu yang selalu bisa aku andalkan tapi kamu justru selalu membuatku kecewa dan sedih," jerit batin Kimberley.
"Kim,besok kamu ke kantor dulu kan sebelum ke PT Sinar Baja Sejati ? " tanya Rose menghentikan lamunan Kimberley sesaat.
"Besok ?? aku ada janji ketemu jam delapan pagi dengan Bapak Andhara, jadi sepertinya aku langsung ke PT Sinar Baja, jangan kuatir aku antar kamu ke kantor dulu baru lanjut ke PT Sinar Baja, mobil kamu di kantor kan? karena kemarin kamu yang bawa mobil aku ke rumah, makasih ya Rose" sambil tersenyum menyenggol bahu Rose.
"Hehe kamu tahu aja Kim yang aku pikirkan, oh ya besok kamu ikut ya ke cafe Cinamon, Jevaro pasti senang kalau kamu juga ikut gabung, aku jemput kamu di rumah" tawar Rose.
"Hmm aku belum yakin Rose" lirih Kimberley menjawab.
"Sampai saat ini pun Yasir belum menghubunginya, dimana dia, sedang apa, bagaimana besok? semua masih kabur," batin Kimberley sedih.
"Okay, aku telepon kamu nanti ya, mungkin kalau acara kamu dan Yasir ditunda, ikut kami aja, janji?Kim jangan bersedih lagi kami akan selalu ada untuk kamu," hibur Rose mengingatkan.
"Kami??" sambil mengeryitkan kening nya tanda tidak mengerti .
"Iya, kami ... ,aku dan Jevaro" jawab Rose sambil tersenyum yakin.
"Ingat ya aku dan Jevaro akan selalu ada buat kamu" Rose meyakinkan Kimberley.
"Kok Aro dibawa bawa?" Kimberley heran kenapa Jevaro diikutsertakan? sejak kapan Aro jadi bagian Kami? pikir Kimberley
"Hahaha, Kim kok kamu seperti orang bingung sih?" ledek Rose melihat wajah Kimberley yang kebingungan.
"Kamu tidak sadar kah atau pura pura tidak tahu ?" sindir Rose sambil tertawa merasa menang bisa membuat seorang Kimberley Ryan berpikir serius.
Kimberley menggeleng kan kepala pelan sambil terus menatap tajam ke arah Rose.
"Rosee ih kenapa sih kamu ketawa terus aku kan memang tidak tahu" rengek Kimberley.
"Hahaha, Tuan putri Kimberley yang cantik makanya kalau main yang jauh, jangan cuman mainnya sama Yasir aja, bodoh tuh jadinya, kebanyakan dibodohin sama Yasir sih, jadi awet bodohnya " ledek Rose sambil tertawa lebar.
Kimberley langsung pasang wajah manyun diledekin Rose, diantara mereka ledek-ledekan seperti itu sudah biasa walau terdengar menyakitkan tapi terkadang banyak benarnya, karena biasanya tujuannya untuk menyadarkan salah satu pihak.
" Tadi Jevaro sekarang Yasir kamu bawa - bawa , kamu tuh memang tidak suka sama Yasir, selalu dia kamu salahkan " sahut Kimberley merajuk.
"Hmm ini anak memang harus diberi pencerahan biar tidak buta, kasihan kalau terus dipermainkan Yasir," batin Rose.
"Kim jujur nih kamu sekarang lagi galau kan, coba aku tebak karena Yasir tidak ada kabar?? tidak balas pesan ataupun telepon kamu kan?" tanya Rose serius.
"Hmm tapi dia memang tadi pamitnya syuting mungkin dia lagi syuting jadi----" belum sempet Kimberley melanjutkan pembelaannya terhadap kekasihnya, Rose langsung berusaha menyadarkannya,
"Kim sadarlah, sudah saatnya kamu minta ketegasan Yasir mau dibawa kemana hubungan kalian ini, bila memang ia tidak serius, aku sarankan segera akhiri saja. Lebih baik kamu mulai memikirkan Jevaro, dia lebih cocok dengan kamu, dan lagi ----" Rose tidak sempat meneruskan perkataannya.
"Ccccciiiitttt " suara ban mobil bersentuhan dengan aspal jalan
Tiba tiba Rose mengerem mobilnya.
Rose seperti melihat seseorang yang dikenalnya ... ya Yasir, Rose melihat Yasir sedang menggandeng seorang wanita dan masuk ke dalam hotel.
"Hei Rose hati hati! ada apa?" tanya Kimberley heran sambil menoleh depan, kanan , kiri untuk mencari penyebab Rose menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
Rose menatap Kimberley, ingin rasanya mulutnya mengatakan apa yang tadi ia lihat tapi...,
"Bagaimana ini apa aku harus mengatakan pada Kimmy apa yang kulihat tadi, tapi aku sendiri belum yakin dan kalau ternyata pengelihatanku salah, bisa bisa Kimmy tidak lagi mempercayaiku," perang batin Rose.
"Hmm lebih baik aku kumpulkan bukti dulu, kalau memang ada wanita lain selain Kimmy dalam hidup bocah tengil itu, baru aku akan ceritakan pada Kimmy, tidak bisa aku membiarkan bocah tengil itu seenaknya mempermainkan sahabat aku, siapa yang berani menyakiti Kimmy harus berhadapan denganku" gerutu greget Rose.
"Rosee ada apa !?" Tanya Kimberley penasaran.
"Ah enggak Kim, itu tadi ... kucing iya kucing, tiba tiba berlari di depan mobil, jadi spontan aku injak rem " sahut Rose sekenanya.
"Kucing?? aku tidak melihat kucing? " ujar Kimberley sambil mencari-cari keberadaan kucing yang dimaksud Rose tapi tidak menemukan nya.
"Ah sudahlah Kim, mungkin sudah lari tuh kucing sambil menggondol ikan asin" jawab Rose acuh sambil melajukan kembali mobilnya, menuju rumah Kimberley.
Suasana di dalam mobil Kimberley, kini kembali hening.
...........~~........
Sesampainya di rumah Kimberley, mereka berdua langsung membersihkan diri dan beristirahat karena hari sudah larut malam jam di dinding menunjukan pukul dua belas tengah malam.
"Akhirnya .... bisa rebahan juga, hari yang melelahkan tapi menyenangkan " seru Rose sambil merebahkan diri diatas kasur, dan disambut senyuman mengiyakan dari Kimberley yang juga mengikutinya untuk tidur disamping Rose.
Besok mereka masih harus menyelesaikan tugas masing-masing, Rose dengan keribetannya mengatur jadwal meeting, pertemuan-pertemuan penting, mencari sponsor dan masih banyak lagi tugas yang harus di selesaikannya, sebagai tangan kanan Kimberley Ryan owner PT Sukses Cemerlang, dan Kimberley pun harus menemui Bapak Andhara dari PT Sinar Baja Sejati untuk meeting tender pembuatan logo perusahaan.
"Kim...," panggil Rose lirih.
Kimberley sebenarnya belum tidur tetapi ia merasa lagi malas ngobrol dan berdebat dengan Rose. Karena ia tahu pasti Rose mendesaknya lagi tetang Yasir.
Tak terasa air mata Kimberley menetes, "ingin sekali aku membela Yasir tapi kenapa Yasir terus mengecewakanku, rasanya aku ingin sekali menjerit karena aku merasa walau aku memiliki kekasih, tapi seperti tidak ada," jerit pedih Kimberley.
"Ingin rasanya aku menceritakan semua kegundahan hatiku pada Rose, tapi aku takut Rose akan mendesakku putus dengan Yasir, aku belum siap untuk kehilangan dan jauh darinya," isak sedih Kimberley.
Disisi lain Rose galau dengan perasaannya, bayangan Yasir yang sedang berpelukan dan bergandengan tangan dengan seorang wanita dan masuk ke hotel sangat mengganggu nya, ingin sekali ia memberitahu hal itu pada Kimberley tetapi ia belum yakin, kalau tuduhannya salah bisa merusak persahabatan mereka yang telah mereka rajut sejak kecil, " tidak persahabatan kami tidak boleh terkoyak hanya karena seorang bocah tengil, akan kupastikan dulu dan kucari tahu terlebih dahulu bukti buktinya, baru setelah yakin benar akan kusampaikan pada Kimberley, aku tidak akan membiarkan bocah tengil itu melukaimu lebih dalam Kim, akan kutepati janjiku pada Ibumu untuk selalu menjagamu dan tidak akan membiarkan kamu terpuruk dan bersedih lagi." sumpah Rose.
Jam sudah menunjukkan pukul satu, tanda hari sudah berganti mereka baru terlelap dalam mimpi dan pikiran mereka masing-masing.