Find The Perfect Love

Find The Perfect Love
Hancur



"Yuk kita coba dobrak lagi, semoga kali ini kita berhasil," ajak Rose, Yasir serta merta berdiri dan menuju ke kamar Kimberley, di depan kamar ia bertemu dengan Jevaro, mereka sempat saling menatap dalam diam, sampai akhirnya Rose datang "Come on nunggu apa lagi," seru Rose.


Kemudian mereka bertiga berusaha sekuat tenaga mendobrak pintu kamar Kimberley, sampai beberapa kali mencoba, pintu tetap tak bergeming, Rose dan Jevaro mulai kehabisan tenaga dan berhenti sejenak karena hampir kehabisan nafas .


Tetapi tidak dengan Yasir dalam diam dan kesedihannya Yasir mengerahkan seluruh tenaganya berbalut cinta dan penyesalan yang ada di hatinya. Yasir terus mencoba... Yasir mengambil ancang ancang mundur ke belakang agak jauh kemudian berlari secepat mungkin mendobrak pintu dan .."BRAK"...


pintu kamar Kimberley berhasil di dobrak bersamaan dengan suara eraangann kesakitan "aaauuh" Yasir terpelanting ke dalam sambil memegang lengannya.


Jevaro dan Rose kemudian menghampiri Yasir "Kamu tidak apa-apa?" tanya Rose cemas melihat Yasir merintih kesakitan memegang tangan nya


"Sepertinya ada tulang yang patah" ujar Jevaro.


"I am okay ,.. don't worry about me" Yasir berusaha bangun dan menghampiri Kimberley.


"Kim ..dear are you okay?" sambil meringis menahan nyeri yang dirasakan pada lengannya,Yasir berjalan mendekati Kimberley yang terkulai lemas di lantai .


Jevaro dan Rose saling memandang dan baru sadar kalau tujuan mereka adalah membawa Kimberley ke Rumah Sakit sesegera mungkin, tapi melihat kondisi Yasir membuat mereka prihatin, Yasir memeluk Kimberly dengan air mata berlinang "Kim wake up please ... i am so sorry ..


i promise i Will not hurt you anymore ..i love you Kim" .


Untuk sesaat Rose dan Jevaro terdiam membisu, Rose baru menyadari ada aliran hangat menyusuri kedua pipinya, Rose tak kuat melihat semua yang terjadi .., tapi Rose pun merasa tak bisa berbuat banyak untuk Kimberley dan Yasir.


Jevaro terlihat sibuk menelepon Rumah Sakit untuk minta dikirim ambulance.


Ibu yang mendengar pintu berhasil di dobrak langsung berlari ke kamar Kimberley,


"Rose ...bagaimana Kimberley,"


Rose masih belum mampu menjawab air matanya masih mengalir melihat dua hati yang saling mencinta di depannya harus hancur karena obsesi seseorang.


"Kimberley tidak apa apa Bu, sebentar lagi ambulance datang ." jelas Jevaro.


Tak lama Ambulance datang, Yasir berusaha menggendong Kimberley sambil menahan nyeri yang ia rasakan di lengannya.


Jevaro yang melihat Yasir kesulitan berusaha untuk membantunya, tapi Yasir langsung menatap tajam Jevaro yang menyiratkan permohonan untuk membiarkan dirinya sendiri yang menggendong Kimberly, sambil berlinang mata.


Rose yang melihatnya, menahan Jevaro dan membiarkan Yasir menggendong Kimberley sendiri.


Akhirnya dengan susah payah sambil meringis menahan rasa sakit, Yasir berhasil menggendong Kimberley dan membawanya masuk ke ambulance diikuti Rose, ibu dan Jevaro.


Saat menuju pintu depan mereka berpapasan dengan Kiki, melihat Yasir menggendong Kimberley, api cemburu merayapi hatinya, hampir saja ucapan kasar dan menyakitkan meluncur dari mulut Kiki tapi,...melihat tatapan tajam penuh kemarahan kebencian yang terpancar dari sorot mata Yasir padanya Kiki hanya diam membisu dia tahu ini bukan saat yang tepat untuk meluapkan perasaan CEMBURU nya.


Kemudian berangkatlah mobil Ambulance dengan Kimberley dan Yasir di dalamnya.


"Rose, ibu mari ikut mobil saya kita ke Rumah Sakit" ajak Jevaro.


"Aku ikut," seru Kiki semua menatap ke arah Kiki tidak suka .


"Mau apa lagi biang kerok ini" batin Rose sambil menatap ke arah Kiki penuh kebencian.


"Calon suami aku di sana, jadi aku juga harus ikut." jelas Kiki sambil menunjuk ke arah mobil Ambulance.


Tak mau berdebat yang tak perlu , mereka satu per satu masuk ke dalam mobil Jevaro.


Hanya Jevaro yang terlihat bingung dengan perkataan Kiki tadi "Calon suami aku?bukannya di dalam Ambulance tadi hanya ada Kimberley, Yasir dan petugas Ambulance?" pikir Jevaro, "Lantas siapa yang disebut calon suami cewek aneh ini..ahh nanti aku tanya Rose saja" gumam Jevaro, kemudian ia membawa mobilnya melaju mengikuti mobil Ambulance di depannya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Kimberley langsung diberi cairan infus dan Yasir masuk ke ruangan foto Rontgen untuk mengetahui keadaan lengannya.


Ibu, Jevaro, Rose dan Kiki menunggu di luar. Kiki mondar mandir cemas dengan keadaan Yasir. "Kiki duduk! pusing aku melihat kamu seperti setrika baju, maju mundur, maju mundur gak jelas" ucap Rose.


"Kakak tidak tahu ya yang di dalam ruangan itu siapa? kakak belum tahu sih bagaimana rasanya kalau calon suami kakak tangannya patah hanya karena menolong wanita lain, awas saja ya sampai ada apa-apa dengan calon suami aku" ancam Kiki bersungut sungut.


"Ki kamu tuh bisa sadar gak sih, semua ini tidak akan terjadi kalau bukan karena kamu, karena obsesi kamu!" bentak Rose jengkel.


"Rose sabar ..kecilkan suara kamu, ini Rumah Sakit entar kita bisa diusir kalau bikin ramai disini" cegah Jevaro.


"Iya nak Rose .., sabar ya"


"Sini ikut aku Rose, ibu kami berdua keluar sebentar ya kalau ada berita tentang Kimberley ataupun Yasir tolong kabari Rose atau saya ya bu" Jevaro menggandeng tangan Rose mengajak keluar dari Rumah Sakit, Ibu pun mengangguk tanda mengerti.


Rose dengan raut wajah masih kesal mengikuti saja kemana Jevaro mengajaknya pergi.


Sesampainya di taman kota di dekat Rumah Sakit, Jevaro memberondong Rose dengan berbagai pertanyaan, semua hal yang mengganjal hati dan pikirannya sejak tadi, Jevaro utarakan.


Rose pun menceritakan semua yang terjadi, termasuk pengakuan Kiki tentang bagaimana terjadinya malam petaka itu bahwa semuanya itu hanyalah upaya Kiki untuk mendapatkan Yasir, tetapi sayangnya Rose tidak sempat merekamnya karena Rose tidak menyangka akan serumit ini dan setragis ini apalagi sampai Ayah meminta pertanggung jawaban dari Yasir untuk menikahi Tini, sama sekali tidak terpikir oleh Rose, jadi sekarang Rose tidak punya bukti untuk membela Yasir, dan hal itulah yang saat ini menyiksa hatinya.


Sekarang Jevaro paham kenapa tadi Rose melarangnya membantu Yasir menggendong Kimberley padahal jelas jelas Yasir terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa pada tangannya.


Tiba- tiba bunyi telepon berdering, Rose melihat ke arah hapenya dan disana tertulis ibu, Rose mengangkat teleponnya, yang ternyata ibu mengabarkan kalau Kimberley sudah mulai siuman


Setelah mendapat kabar bahwa Kimberley sudah mulai siuman, Tanpa berlama lama lagi Rose dan Jevaro kembali ke Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit, terlihat Ibu sedang berusaha membujuk Kimberley untuk makan. Tetapi Kimberley diam membisu membuat Ibu kebingungan dan kuatir.


Melihat ibu kebingungan Rose menghampiri Kimberley dan mengambil piring yang dipegang ibu kemudian berusaha untuk membujuk Kimberley untuk makan.


"Kim makan yuk ... dikit saja, atau kamu lagi ingin makan apa? nanti aku pesenin deh, semalam kata ibu kamu belum makan, makan yuk biar kuat, terus nanti kita jalan-jalan ke Mall lagi atau kamu ingin kemana nanti aku antar." bujuk Rose .


Tetapi Kimberley hanya diam tak bergeming.


Jevaro yang melihat hal itu akhirnya berinisiatif untuk juga ikut membujuk Kimberley.


"Haii Kim, makan dikit yukk aku suapin yaa" sambil mengambil piring dari tangan Rose.


"Nanti kalau kamu sudah kuat aku ajak kamu lagi ke Cafe Apung, disana kita lihat sunset lagi.. kamu suka kan? kita pergi bareng Rose juga ya... biar lebih seru menikmati sunsetnya" bujuk Jevaro sambil tersenyum manis.


Tiba tiba Yasir mengambil piring yang dipegang Jevaro, melihat kedatangan Yasir, Rose dan Jevaro dengan serentak bergeser memberi ruang.


"Pagi dear, makan ya aku suapin, kamu harus kuat, kamu gak boleh sedih, aku tahu kamu kuat, aku yakin kamu, aku bisa melalui ini semua, kalau kamu sedih aku juga sedih," ujar Yasir lirih matanya sudah berkaca-kaca.


Tiba tiba air mata di pelupuk Kimberley mengalir perlahan, tidak sengaja Kimberley melihat salah satu lengan Yasir digips.


Ingin sekali Kimberley bertanya tapi mulutnya tidak mampu untuk berucap hanya mampu menatap dengan mata berlinang air mata.


Rose yang mengetahui benar isi pikiran sahabatnya itu menjelaskan bahwa tangan Yasir patah sewaktu mendobrak pintu kamar Kimberley untuk menolongnya.


"Gak patah kok sayang, kata dokter cuman retak saja, kamu gak usah kuatir aku baik-baik saja, beberapa hari lagi juga sembuh, kamu makan ya.." ucap Yasir sambil berusaha menyuapi Kimberley.


"Heiii apa-apaan ini stop! kamu tuh calon suami aku, ngapain kamu suapin orang lain" bentak Kiki yang tiba-tiba muncul bersama Ayah


"Tin..jaga nada bicara kamu!" sahut ibu.


"Anak ibu tuh yang gak tahu diri, pakai pura-pura pingsan, bikin repot semua orang, lihat tuh akibat ulah kamu tangan calon suami aku patah! puas kamu!" umpat Kiki pada Kimberley.


"Tini! jaga bicara kamu, itu kakak kamu hargai dia" hardik Ayah


"Hargai?? dia tuh yang mulai duluan sudah tahu kami akan menikah masih berani-berani nya mendekati dan merayu calon suami aku." bantah Kiki.


"Dan kamu Yasir, kamu mau aku sebarin ke semua kru film kita, kalau kamu telah menodaiku?" ancam Tini


Yasir hanya diam menahan segala emosi yang ia rasakan


Ingin sekali rasanya membungkam mulut Kiki, Yasir tidak ingin Kimberley bersedih lagi, semua hujatan caci makian sejahat apapun yang ditujukan padanya dia akan terima, tapi jangan sakiti hati Kimberley hanya itu harapannya. Kimberley sudah cukup terluka dan hancur dengan kejadian ini, dan ini adalah penyesalan terdalamnya.


"Aroo..." panggil Kimberley lirih sambil berusaha tegar menahan sakit yang tiba-tiba mengiris hatinya.


" Iya Kim," jawab Jevaro tak tega melihatnya.


"Aku ... lapar.." Jevaro tahu maksud Kimberley tapi Jevaro bingung disisi lain dia tidak tega untuk meminta bubur yang ada di tangan Yasir, ia hanya memandang Yasir penuh arti.


Melihat tatapan Jevaro, Yasir pun sadar, dengan menahan nyerii sakit yang tiba tiba ia rasakan di dadanya, Yasir kemudian memberikan sepiring bubur yang ada di tangannya kepada Jevaro.


"Asal Kimberley mau makan dan tersenyum lagi aku rela walau sakit yang aku rasakan." batin Yasir


"Bro... titip Kimberley ya, bahagiakan dia..." pesan Yasir lirih, kemudian mencium kening Kimberley dengan lembut, "I am sorry dear, i love you so much" dan berlalu pergi meninggalkan mereka semua dengan hati remuk, sakit dan penuh penyesalan tapi Yasir sadar dia adalah seorang laki-laki yang harus bertanggung jawab akan apa yang telah ia lakukan walaupun ia sendiri tidak yakin melakukannya.


Kiki mengikuti nya di belakangnya, dengan raut wajah penuh kedengkian , tetapi tersenyum samar tanda kemenangan.


Yasir sengaja meninggalkan mereka semua terutama Kimberley agar Kimberley tidak tersakiti lagi perasaannya dengan ucapan-ucapan jahat Kiki. Yasir tidak ingin Kimberley menangis lagi dan hancur lebih dalam.


Semua di ruangan itu hanya bisa terdiam dan menitikan air mata.


Kimberley pun tak mampu lagi membendung air matanya yang semakin deras mengalir di pipi nya, saat menyadari Yasir telah pergi.Ingin rasanya Kimberley menahan kepergian Yasir, memeluknya dan mengucapkan terima kasih sudah menolong dirinya hingga menyebabkan tulang lengannya retak, tapi teringat ucapan Kiki bahwa Yasir kini calon suami Kiki membuat Kimberley hanya bisa menangis merelakannya.


Rasa kehilangan yang sangat meremukan hati dan jiwa dan hanya dengan menangislah Kimberley mengeluarkan semua emosi yang bergejolak di dadanya.


................~~~~...............