
Yasir! Kimberley terbangun dan memanggil nama Yasir.
"Kim kamu sudah sadar?" Rose berusaha untuk menenangkan.
"Minum dulu Kim" Rose menyodorkan segelas teh hangat pada Kimberley.
"Rose...Yasir?.bagaimana Yasir?!" Kimberley panik mencari tahu kabar tentang keadaan kekasihnya sambil berusaha bangun dari posisi tidur.
"Syukurlah Kim semua baik-baik saja berkat bantuan teman-teman yang bersedia membantu kita menyediakan darah yang dibutuhkan Yasir dan seijin Tuhan juga, Yasir sudah melalui masa kritisnya." jelas Rose.
Kimberley memegang kedua pundak Rose dan menatap Rose lekat berusaha mencari kebenaran disana.
"Kamu bukan hanya menghiburku kan?"tanya Kimberley meyakinkan.
"Tidak Kim, Yasir benar-benar sudah melalui masa kritisnya, kita tanya dokternya yuk kapan bisa menjenguknya, sekarang masih dalam observasi." jelas Rose.
Kimberley memeluk Rose erat "Terima kasih Tuhan."
Mereka saling berpelukan bahagia.
Aqib yang mendengar percakapan Rose dan Kimberley, terdiam membisu .
"Kak Aqib?" tanya Jevaro yang kebetulan ingin menjenguk Kimberley.
"Oh hei.. Je titip ini buat Kimberley dan Rose mereka belum makan dari tadi siang" setelah menyodorkan dua nasi bungkus, lalu Aqib berlalu dari hadapan Jevaro.
Jevaro terdiam menatap Aqib hingga menghilang dari pandangannya.
"Hmm kenapa aku merasa ada tatapan benci di matanya saat melihatku" batin Jevaro.
"Ah mungkin hanya perasaanku saja" kemudian Jevaro melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Hai guys apa kabar" sapa Jevaro.
"Wow lagi berpelukan, boleh ikutan gak? mau dong di peluk juga" goda Jevaro.
"Aro??" ucap Kimberley terkejut melihat kedatangan Jevaro.
"Nih dari Kak Aqib buat kalian" Jevaro menyodorkan dua nasi bungkus pada Kimberley dan Rose.
Rose dan Kimberley mencari-cari sosok Aqib.
"Dia sudah pergi, cuman titip ini terus pergi" jelas Jevaro
Kimberley dan Rose saling tukar pandang sejenak.
"Terima kasih Aro" ucap Kimberley.
"Lho bukan dari aku, Kak Aqib yang bawa" timpal Jevaro.
"Kalian sudah jenguk Yasir? aku dengar dia sudah berhasil melewati masa kritisnya." tanya Jevaro.
"Belum kata dokter masih di observasi, mungkin besok baru boleh dijenguk" jelas Rose.
"Siapa bilang? sudah boleh kok, tadi suster menawariku untuk menjenguknya tapi gak boleh rame-rame maximal dua orang " jelas Jevaro.
"Oh ya? yuk Rose aku mau ketemu Yasir" ajak Kimberley.
"Tapi ia belum sadar " sahut Jevaro kembali.
Tampak kesedihan terlukis jelas di wajah Kimberley..
"Semangat Kim kita terus berdoa untuk kesembuhan Yasir, dia itu tangguh aku yakin Yasir bisa melalui ini semua, buktinya ia berhasil kan melewati masa kritisnya." Rose berusaha memberi semangat Kimberley.
"Yup kamu benar Yasir hebat dia kuat dia berhasil melalui masa kritisnya, kalau ia saja bisa, aku juga harus lebih kuat untuk terus memberinya semangat" sahut Kimberley.
"Yes thats my BESTie". seru Rose.
"Yuk kita temui Yasir" Rose menarik tangan Kimberley untuk mengikutinya.
Jevaro tersenyum samar."Kamu begitu mencintai Yasir, dari awal aku tahu kamu sangat mencintainya, kehilangan Yasir sama dengan kehilangan separuh jiwamu" pikir Jevaro.
"Pupus sudah semua harapan untuk dapat bersanding denganmu, berbahagialah kalian berdua untuk selamanya. Bahagiamu adalah bahagiaku juga. Dan aku akan tetap mencintaimu dalam diam." batin Jevaro
Jevaro mengikuti mereka dari belakang.
πΉπΉπΉ
Di ruangan ICU Aqib menatap adiknya yang terbaring tak berdaya.
Kepala dan dada penuh dengan perban. Tangan dan kaki di gips.
Tubuh masih terhubung dengan mesin penunjuk aktivitas detak jantung.
Air mata Aqib tidak terasa berlomba menetes mengalir di pipi.
Baru kali ini Yasir adiknya yang ia kenal sejak masih bayi hingga sekarang yang kesehariannya selalu aktif, teman bermain sejak mereka masih kecil, sekaligus sahabat tempat ia curhat apalagi saat ia kehilangan Reva, kini terbaring lemah tak berdaya, tak ada lagi celetukan tengilnya, sikap semau gue nya tapi sebenarnya hatinya lembut dan peduli.
Air mata Aqib terus mengalir sebagai tanda penyesalannya.
"Andai saja saat itu aku tidak sebodoh dan seegois itu membiarkan diri mencintai hak milikmu, kejadian ini tidak mungkin terjadi. Kamu akan tetap menjadi adikku yang enerjik. Maafkan aku"
Aqib menggenggam tangan Yasir, tubuhnya bergetar penuh penyesalan.
"Bangunlah Yasir, Kimberley membutuhkan dirimu dia sangat terpukul dan aku yakin dia tak sanggup untuk kehilangan dirimu. Bukalah matamu tatap lah dunia bersamanya, bahagia lah kalian berdua, Aku cukup merasa bahagia bila kalian bahagia. Karena kalian berdua sangat berarti dalam hidupku. Jangan khawatir soal diriku, mungkin kesendirian sudah menjadi takdirku dan mencintai Reva adalah satu-satunya hal terindah dalam hidupku. Aku janji akan kusimpan rapat-rapat perasaan cinta dan sayangku terhadap Kimberley." gumam Aqib.
"Bangunlah dan berbahagialah bersamanya." Aqib kembali mencium kening adiknya dan tetap menggenggam tangan Yasir.
πΊπΊπΊ
Setelah meminta ijin suster untuk menjenguk Yasir. Suster hanya mengijinkan satu orang lagi karena di dalam masih ada satu orang dan belum keluar.
"Kamu saja yang masuk Kim di dalam pasti ada kak Aqib" ucap Rose.
"Baiklah aku duluan" sahut Kimberley tak sabar melihat kondisi Yasir.
Setelah Kimberley masuk betapa terkejutnya dirinya melihat keadaan kekasihnya.
"Yasirrr ...kenapa bisa begini?!' pecah air mata Kimberley dengan derasnya
Kakinya terasa menancap di bumi tak mampu ia gerakan, tubuhnya bagaikan dialiri listrik lemas tak berkutik.
Aqib yang mendengar jerit lirih Kimberley, langsung menoleh ke belakang dilihatnya Kimberley menangis sesenggukan sambil berlutut tak mampu ia berdiri lebih lama melihat kondisi Yasir yang begitu parah.
Aqib cepat-cepat menghapus air matanya.
Kemudian ia menghampiri Kimberley, menuntunnya mendekat pada Yasir.
"Tidakkk , kenapa kak,?! kenapa Yasir ku , kenapa bisa begini?!" tangis pilu Kimberley sambil menyembunyikan kepalanya di dada Aqib, Kimberley tak tega melihat kondisi Yasir saat ini.
Lemas sudah persendian tulang-tulangnya , otot-otot nya pun tak mampu lagi menopang dirinya.
Aqib memeluk erat Kimberley ia takut Kimberley akan jatuh pingsan lagi.
Air matanya tak kuasa menetes lagi. Penyesalannya semakin dalam lagi, tak henti hentinya Aqib mengutuki dirinya, ia merasa menjadi manusia yang paling jahat karena keegoisan nya ia telah membuat adiknya sendiri mengalami hal buruk .
Aqib berusaha menenangkan Kimberley.
"Yang kuat Kim, kita harus mendukung dan terus memberi semangat pada Yasir untuk pulih, kita harus jadi penguat untuknya bukan semakin membuatnya sedih, aku yakin kalau ia sadar saat ini, ia tidak ingin melihatmu bersedih, kamu pasti mengenal sifat Yasir kan?" Aqib berusaha menguatkan Kimberley.
Kimberley mengangguk cepat.
"Iya kak , kakak betul bila Yasir tahu dia tidak akan senang bila melihat kita bersedih untuknya" lirih Kimberley menjawab.
Kimberley cepat-cepat menghapus air matanya, dan melepaskan diri dari pelukan Aqib.
Ia meraih tangan Yasir menciuminya "Sayang bangun yuk..., aku nunggu kamu disini, kalau kamu bangun nanti, aku akan belikan makanan kesukaanmu, aku juga akan suapin kamu, kita akan cerita-cerita lagi. Cepat sembuh ya ..nanti kita akan jalan-jalan lagi berdua, katanya kamu mau ajak aku jalan-jalan? Aku janji gak akan bikin kamu sedih dan kecewa lagi, maafkan aku ya, kemarin aku gak mau ngobrol sama kamu, aku masih marah saat itu , aku nyesell ...bangun Yasir ...bangun... aku pengen kita ngobrol-ngobrol lagi..." tangis Kimberley memecah kesunyian .
Aqib tak kuat melihatnya.
Ia merasa karena dirinya ia telah membuat dua orang yang sangat penting dalam hidupnya menderita.
Aqib mengusap kepala Kimberley dan mencium kening Yasir kembali " Maafkan aku, cepatlah sadar, Kimberley membutuhkanmu, hanya kamu yang bisa membahagiakannya." lirih Aqib berbisik di telinga Yasir.
Aqib lalu pergi tak kuat lagi ia melihat mereka berdua menderita karena keegoisan dirinya.
Aqib yakin kecelakaan itu pasti karena peristiwa malam itu.
Yasir pasti sangatlah hancur perasaannya dan kecewa berat terhadap dirinya, sehingga ia tidak fokus dalam mengendarai mobilnya di tengah malam saat hujan lebat.
Aqib keluar dari kamar ICU tanpa banyak kata, ia hanya melewati begitu saja Rose dan Jevaro, ia hanya berusaha menghapus air mata nya yang terus mengalir.
"Kak Aqib.." sapa Rose
Tetapi Aqib terus berjalan tanpa merespon apapun.
................πππ.....................
Tunggu kelanjutannya ya...
Jangan lupa like komen dan favorit untuk mendukung Yasir dan Kimberley.
Terima kasih sudah setia mengikuti kisah Find the Perfect Love
Sambil menunggu up bisa mampir ke karya teman aku
Dukung terus ya..
β€οΈ Happy Reading β€οΈ