
"Gak bisa pah! J harus kesana Sekarang!" teriak Jevaro.
"Tapi keadaan kamu tidak memungkinkan nak," cegah ayah
"Bisa! kan ada kursi roda pokoknya J mau menemui Kimberley" Jevaro masih ngotot untuk menemui Kimberley.
Rose yang mendengar dari depan pintu langsung segera masuk untuk berusaha menenangkan Jevaro..
"Pak Jevaro! anda ingin membuat Kimberley bersedih dan merasa bersalah?" ancam Rose.
Jevaro menoleh ke sumber suara begitu pula suster ibu dan ayah.
"Apa maksudmu?" tanya Jevaro tak mau kalah
"Bapak sayang Kimberley kan?" Rose semakin berani mengintimidasi Jevaro.
Jevaro hanya diam dan menatap tajam Rose.
"Kalau bapak sayang Kimberley, fokus, semangat untuk segera sembuh nanti pada saatnya bapak juga bisa menemui Kimberley" saran Rose.
Jevaro tidak memperdulikan omongan Rose dalam benaknya Jevaro hanya ingin melihat kondisi Kimberley
"Keadaan Kimberley bagaimana Rose? benar iya tidak bisa berjalan sehingga ia tidak bisa datang kemari? aku hanya ingin menjenguknya, bawa aku menemui Kimberley please" rengek Jevaro.
"Pak Jevaro, bapak sendiri masih harus banyak istirahat untuk pemulihan, bagaimana mungkin bapak memikirkan kondisi orang lain?" tanya Rose
"Kimberley bukan orang lain buat aku " sahut Jevaro lantang
Rose tersadar Kimberley mempunyai ruang tersendiri di hati Jevaro.
Kedua orang tua Jevaro mencoba untuk memahami apa yang terjadi.
"Pak percayalah Kimberley hanya terkilir karena terpeleset dan sekarang sedang proses disembuhkan oleh tukang pijit urut, mungkin besok atau lusa pasti sudah bisa berjalan kembali, jangan terlalu kuatir tentang Kimberley, dia dikelilingi orang-orang yang menyanyanginya." tegas Rose.
"Itu sebabnya aku harus datang, aku menyanyangi Kimberley" ceplos Jevaro.
" Menurut saya bapak fokus saja dengan kesembuhan bapak, Kimberley pasti lebih senang mendengar bapak pulih daripada bapak datang menemuinya dalam keadaan seperti ini, yakin pak dia akan sedih dan menyalahkan diri karena gara gara dia bapak jadinya memaksa kan diri untuk keluar dari Rumah Sakit" tegas Rose.
"Tapi aku ingin mendampinginya, memberinya semangat " jawab Jevaro.
"Sudah ada Yasir yang mendampingi dan merawatnya, nanti bapak jatuhnya makin sakit hati kalau melihatnya." sengaja Rose berkata tajam dan menusuk hati Jevaro berharap Jevaro tidak menggebu gebu lagi menemui Kimberley.
Mendengar kata Yasir yang merawat Kimberley, membuat hati Jevaro langsung menciut.
Sekarang Jevaro hanya menarik nafas dalam-dalam dan diam seribu bahasa.
Setelah Jevaro tenang suster yang tadi ikut menahan Jevaro satu per satu meninggalkan ruangan
Ibu dan ayah Jevaro pun bernafas lega anaknya sudah tenang dan tidak merengek lagi untuk menemui Kimberley.
Setelah Jevaro tertidur, Rose berpamitan pulang .
Sewaktu ayah mengantar Rose keluar ruangan, ayah bertanya pada Rose"Maaf Yasir itu siapa ya, yang waktu itu datang bersama kalian, saat Jevaro masih di ruang operasi kah?" tanya ayah.
Rose bingung menjelaskannya pada ayah dan ibu, tapi kalau tidak disampaikan sekarang terlalu lama orang tua Jevaro salah paham dan harapannya akan sia sia belaka.
" Iya betul yang datang bersama kami waktu itu"
Ibu mengangguk angguk tanda mencoba untuk memahami.
"Yasir itu kakaknya Kimberley?" tanya ayah mendesak
"Hmm bukan" sahut Rose singkat.
'"Bukan lah pah, beda sama Kimberley, sepertinya Yasir juga bukan orang Indonesia" sahut ibu
"Terus siapa Yasir?" desak ayah pada Rose.
Ayah penasaran kenapa saat Rose bilang ada Yasir yang merawatnya Jevaro langsung diam, dan tidak melawan lagi seperti sebelumnya.
"Hmm, Yasir itu---''
"Selamat siang pak saya Dokter Afandi yang menangani kasus anak bapak" sapa dokter Afandi
Kemudian ayah dan dokter terlibat pembicaraan serius , kesempatan inilah yang digunakan Rose untuk melarikan diri dari pertanyaan yang diajukan ayah Jevaro.
Rose secepat kilat pamit ke ibu Jevaro dan melangkah menjauh meninggalkan Rumah Sakit Harapan
Setelah masuk mobil, Rose barulah benar benar bisa bernafas lega.
"Biarlah Jevaro sendiri yang menjelaskan dan bukan hak aku juga mencampuri urusannya, aku juga tidak tahu apa yang dikatakan Jevaro pada orang tuanya tentang Kimberley" batin Rose.
Rose kembali mengarahkan mobilnya ke rumah Kimberley..
................~~~................
(Baramulla--Kashmir)
"Revaaa!" teriak Aqib
Lalu ia terbangun dari tidurnya, entah kenapa beberapa hari terakhir ini Aqib selalu bermimpi tentang Reva.
"Reva aku kangen kamu, bahagia dirimu disana ya sayang" gumam Aqib.
Sudah hampir seminggu ini Aqib selalu bermimpi didatangi Reva dia tersenyum padanya dan menggandeng tangannya serta tangan... Kimberley, lalu menghilang.
Mimpi ini berulang dan selalu sama.
"Kimberley??kenapa ada dia?apa maksudnya??" pikir Aqib.
"Ada apa dengan Kimberley? apa ia ada masalah atau dalam bahaya?" kembali pikiran pikiran yang membuat dirinya tidak nyaman berlarian dalam benaknya
Aqib bangun dari tempat tidurnya ia membuka jendela dan melihat ke arah beranda, tiba-tiba ia teringat saat Kimberley meminjamkan bahunya sebagai tempat dirinya menangis ketika merindukan Reva.
Entah mengapa ada perasaan nyaman dalam pelukan Kimberley.
Perasaan nyaman yang biasanya hanya ia rasakan saat bersama Reva tiba-tiba kembali ia rasakan saat bersama Kimberley.
"Arrgh... aku mikir apa sih tidak tidak... Kimberley calon adik ipar ku, tapi memang tidak bisa dipungkiri ada perasaan nyaman jika berdekatan dengannya" batin Aqib.
"Hmm sedang apa dia sekarang? Yasir semoga kamu bisa menjaga Kimberley dengan baik dan tidak menyakiti hatinya." Aqib menatap jauh ke depan .
Jam sudah menunjukkan jam dua pagi, Aqib mencoba tidur kembali tapi tidak bisa, bayangan Reva dan Kimberley entah kenapa selalu terbayang bergantian.
Setelah berpikir berulang kali, Aqib meraih ponselnya lalu menekan beberapa angka.
"Halo kak Aqib pa kabar?" tanya suara di seberang.
"Hai kabar baik, kamu baik kan, kalian semua baik kan disana?" pancing Aqib.
"Baik kak, kakak dimana?"
"Di rumah, kamu juga pasti masih di apartemen?" tanya Aqib memastikan.
"Di rumah Kimberley kak" sahut Yasir
"Lho ada apa bukannya disana masih jam 4 pagi?" tanya Aqib penasaran.
"Kimberly kakinya terkilir jadi aku sama Rose menemani dia di sini" jelas Yasir santai.
"Kaki Kimberley terkilir?? kok bisa??sudah di bawa ke dokter?" tanya Aqib kuatir.
"Tadi sudah panggil tukang pijit urat langganan ibu" jawab Yasir
"Lho kok ga dibawa ke Rumah Sakit terkilirnya kenapa? takutnya ada tulang yang retak atau apa jangan sembarangan dipijit" jelas Aqib kuatir.
"Yasir, kalau sampai besok belum ada perubahan apapun, kamu langsung bawa Kimberley ke dokter ya" pesan Aqib.
"Baik kak" jawab Yasir.
"Oke kabarin kakak ya"
"Ok" sahut Yasir lalu hubungan telepon putus.
Aqib kembali teringat mimpinya kembali.
"Apakah mimpi kemarin adalah pertanda ada sesuatu yang terjadi pada Kimberley? tetapi kenapa ada Reva? kenapa Reva menggandeng Kimberley dan tersenyum padaku?" berbagai pertanyaan terlitas dalam pikirannya.
Sinar matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya.
Sisa-sisa hujan salju semalam masih nampak, menambah dinginnya udara di Kashmir.
Sejak terbangunnya ia dari mimpinya semalam, Aqib belum juga bisa tidur kembali.
Bayangan Reva dan Kimberley kembali bergantian melintas dalam pikirannya.
Aqib memakai baju hangatnya dan memandang hamparan salju di sekitar rumahnya, hatinya mulai terasa galau rasanya ingin menyusul adiknya dan kembali bekerja di Indonesia.
Dinginnya udara yang sangat menusuk tulang membuat tekadnya untuk kembali bekerja di Indonesia semakin kuat.
"Aku akan coba hubungi patner kerja aku dulu, mungkin dia tahu info lowongan kerja yang cocok untukku, bila ada barulah aku menyusul Yasir ke Indonesia." batin Aqib.
"Mungkinkah ini pesan Reva untuk diriku agar kembali ke Indonesia, tetapi kenapa Reva menggandeng Kimberley?" pikir Aqib kembali
"Aku akan sampaikan ke ayah tentang rencanaku ini, agar ayah siap mencari pegawai baru andai aku jadi berangkat dan bekerja di Indonesia kembali." tekad Aqib.
Aqib mengambil perlengkapan mandinya lalu ia membersihkan badan lalu bersiap untuk sarapan bersama keluarga tercinta.
Setelah sarapan Aqib melihat ayahnya dalam keadaan aman hatinya, jadi Aqib bertekad untuk menyampaikan rencananya untuk kembali bekerja di Indonesia pada sang Ayah.
Diluar dugaannya ayah menyetujuinya dengan catatan Aqib harus move on jangan sampai keputusannya bekerja kembali di Indonesia justru membuat Aqib semakin terpuruk terjebak dalam kenangan bersama Reva.
Sudah hampir lima tahun sejak kejadian tragis itu membuat Aqib terkurung dalam kenangan yang tak berujung bersama Reva.
Ayah seringkali mengingatkan Aqib untuk mencoba membuka hatinya kembali, sudah saatnya Aqib memikirkan kebahagiaan dirinya sesungguhnya bukan hanya terjebak dalam kebahagiaan yang tejah berlalu.
"Qib sudah saatnya dirimu memikirkan kembali kebahagiaan dirimu sesungguhnya, belajar buka hatimu untuk yang lain, di luar sana masih banyak Reva Reva lain yang mungkin sebaik Reva atau bahkan jauh lebih baik dari Reva, bukalah hatimu nak, ini adalah saatnya dirimu untuk melangkah melanjutkan hidup bersama orang baru yang kau sayangi." pesan ayah.
Aqib pun hanya terdiam
"Baik ayah doakan Aqib untuk segera bertemu jodoh Aqib sesungguhnya." jawab Aqib singkat.
"Pasti nak doa kami berdua selalu untuk kebahagiaan kalian bertiga" jawab ayah tersenyum dan memeluk Aqib.
Aqib sengaja tidak memberitahu Yasir terlebih dahulu rencananya untuk kembali bekerja di Indonesia sampai ia nanti mendapatkan kepastian pekerjaan terlebih dahulu.
...................💕💕💕......................
Buat pembaca setia Find the Perfect Love
Terima kasih banyak ya sudah selalu mengikuti perjalanan Kimberley menemukan cinta sempurnanya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya baik like atau komen jadikan favorit juga🤗
agar tidak tertinggal up
Mau kirim hadiah bunga atau apa saja boleh, author terima dengan senang hati untuk kebahagiaan dan kelanjutan kisah Kimberley mencari cinta sempurnanya.
Jangan lupa ikuti terus kisahnya ya ...., Happy Reading