
Seharian Kimberley tidak keluar kamar, ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi semalam.
Kimberley berharap semua itu hanyalah mimpi, tetapi cincin berlian yang kini berada di meja samping tempat tidurnya bukti nyata bahwa apa yang terjadi malam tadi adalah nyata terjadi.
"Aroo kenapa ini harus terjadi?" jerit batin Kimberley.
Rasanya Kimberley tak sanggup untuk memilih.
"Bagaimana mungkin aku bisa memilih antara kamu dan Yasir. kalian berdua adalah laki-laki yang sangat penting dalam hidupku dan aku tak mungkin mengkhianati Yasir " gumam lirih Kimberley.
Kimberley meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping, ragu sebentar mengamati ponselnya lalu menekan beberapa nomer.
Tut..Tut... Tut...tut
Kimberley terlihat kecewa Rose yang ia hubungi sedang dalam panggilan lain.
"Bagaimana ini, aku harus bagaimana arrrghhh Aroo kenapa sih kamu harus memberiku peer yang sulit " Kimberley benar benar dalam posisi yang tidak nyaman
Tok..tok .. bunyi pintu kamar Kimberley diketuk.
"Iya siapa?" tanya Kimberley setengah hati.
"Aku Kim" sahut Yasir datar.
"Oh sebentar" jawab Kimberley sambil menyambar cincin Aro dan memasukanya ke dalam laci mejanya.
Kimberley lalu membuka pintu kamarnya "Haii"sapa Kimberley.
Yasir tanpa senyum hanya dengan wajah datarnya, langsung masuk ke kamar.
Kimberley terdiam dan berpikir, "Ada apa ini? tidak seperti biasanya, tidak seperti Yasir yang kukenal"
Kimberley kemudian berbalik badan dan berusaha bersikap sebiasa mungkin.
"Dari mana, kok tumben gak telepon dulu" tanya Kimberley.
Yasir menyodorkan hape nya.
Kimberley terdiam memandang hape Yasir yang disodorkan padanya,"Hmm ada apa ini, kenapa pikiran aku jadi gak enak"
"Ini ambil lihat " terang Yasir.
Agak berdebar Kimberley mengambil ponsel Yasir.
Kimberley menarik napas dalam-dalam.
Akhirnya Kimberley memberanikan diri untuk menerima ponsel dan melihatnya.
Sedetik berikutnya Kimberley terlihat terkejut dan terus skrol skrol dan skrol.
Kimberley kemudian menatap Yasir
Seakan tahu arti tatapan Kimberley, Yasir menjawab masih dengan wajah datarnya"Dari Kiki"
Kimberley menghembuskan napasnya"Kiki lagi Kiki lagi, kehabisan akal licik ia akhirnya ada titik kesempatan sekecil apapun ia manfaatkan untuk merusak hubunganku dengan Yasir" batin Kimberley.
"Iya ini semua benar' jawab Kimberley sambil menghela nafas.
Wajah Yasir langsung berubah warna menjadi merah menahan amarah.
"Benar?? bukan rekayasa Kiki?" seru Yasir bernada tinggi.
Kimberly hanya menggeleng dan tertunduk diam, dia tahu Yasir saat ini sedang marah padanya.
"Apa maksud semua ini Kim?! aku sudah berusaha sabar, berusaha untuk berpikir positip pada---damn dia menusukku dari belakang!" umpat Yasir
"Aku mengijinkan kalian bertemu dan pergi bersama kemarin karena aku berusaha menghargai apa yang kalian bilang sebagai persahabatan tapi ternyata?? ini yang namanya persahabatan" Yasir menunjukan foto-foto Kimberley dan Jevaro.
Foto kiriman Kiki benar-benar membuat orang yang melihatnya akan mengira bahwa Jevaro dan Kimberley adalah pasangan yang berbahagia.
Disitu terlihat saat Kimberley digendong Jevaro menuruni tangga, dan juga saat Jevaro melamar Kimberley, serta menyematkan cincin di jari manis Kimberley.
"Yasir...., tidak seperti yang kamu pikirkan tidak semua benar seperti yang tampak" jelas Kimberley.
Yasir menatap Kimberley intens terlihat jelas Yasir menahan amarah dan kekecewaan serta kesedihan.
"Okay, kamu tahu Kim, awal aku mendapatkan foto tersebut aku berusaha berpikiran positif kalau semua ini hanyalah rekayasa Kiki, salah satu akal licik Kiki tapi tiap kali melihat lebih seksama lagi foto-foto itu aku jadi ragu karena foto-foto itu lebih terlihat nyata daripada sekedar foto rekayasa. " keluh kesah Yasir.
"Sayang dengar dulu, maksud aku foto-foto tersebut memang benar dan bukan rekayasa tetapi semua yang terlihat di foto itu, nyatanya tidak benar-benar seperti itu."
Yasir menunggu kelanjutan penjelasan Kimberley dengan mata berkaca-kaca dan hati yang kacau.
"Iya benar Jevaro melamarku malam itu---" belum selesai Kimberley menjelaskan.
Yasir lalu berdiri sambil mengumpat dan bersiap akan pergi"Awas kau Je, kamu telah menyalahgunakan kepercayaan ku padamu "
"Yasir tunggu, kamu mau kemana, aku jelaskan dulu" teriak Kimberley sambil menahan tubuh Yasir.
"Lepaskan Kim akan aku buat perhitungan dengannya, karena dia telah berani mencoba merebut mu dariku" seru Yasir.
"Sabar Yasir dengarkan dulu !" seru Kimberley tak mau kalah.
Yasir lalu meraih tangan kiri Kimberley dengan kasar, meneliti jari tangannya dan berganti meraih tangan kanan Kimberley dan kembali meneliti jari tangannya.
Kimberley hanya terdiam bingung harus bagaimana berkata jujur atau kah...,
"Aku tahu aku belum mampu membelikan kamu cincin berlian semahal itu" seru Yasir
"Yasir stop! aku tidak menerima lamaran Jevaro" jelas Kimberley.
"Kamu pikir aku percaya kamu menolak cincin berlian semahal itu! aku sadar aku tidak melamarmu secara mewah megah dan seresmi itu kemarin, bahkan aku tidak memberimu cincin berlian, pastilah kamu lebih memilih menerimanya daripada diriku laki laki kere " sahut Yasir.
Plak
"Keluar! keluar kataku aku gak nyangka kamu punya pemikiran seperti itu terhadap aku, serendah itukah diriku di mata kamu?!" Kimberley merasa tercoreng harga dirinya.
"Dengar Yasir aku tidak pernah sedikitpun berpikiran seperti yang kamu pikirkan, tanpa apapun saat kamu melamarku kemarin di hadapan ibu aku langsung menerima mu, aku sungguh kecewa dengan perkataan mu tadi, kamu telah menyakitiku " sahut Kimberley .
Yasir sedikit terkejut, tidak menyangka Kimberley akan semarah itu padanya.
Melihat Kimberley semarah itu, Yasir sadar perkataannya telah menyakiti Kimberley.
Sebenarnya ia tahu Kimberley bukan gadis matre dan tidak mungkin Kimberley menerima lamaran hanya karena cincin berlian, tetapi rasa cemburunya dan perasaan kalah dengan Jevaro karena mampu memberi Kimberley sesuatu yang sangat berharga sedangkan dirinya....,
"Kim ..., dengar dulu"
Kimberley mendorong Yasir untuk keluar dari kamarnya sambil menangis.
"Kim..., please ijinkan aku masuk ..oke.. oke aku minta maaf, aku minta maaf please" Yasir tidak menyangka Kimberley akan bereaksi seperti itu.
Kimberley menangis ia tidak menyangka Yasir menuduhnya seperti itu, "Kamu jahat Yasir aku sama sekali tidak tertarik sedikit pun dengan cincin berlian itu kalaupun aku terpaksa harus memilih aku memilih pun bukan karena cincin semata, kamu keliru menilaiku, ternyata waktu yang lama berkenalan dan kebersamaan tidak menjamin seseorang mengenal kita dalam arti sebenarnya." tangis Kimberley.
Kiki yang melihat Yasir diusir oleh Kimberley dari kamarnya, tersenyum penuh arti di dalam hati ia tertawa bahagia.
"Yes akhirnya aku bisa membuat mereka tidak lagi saling percaya, langkah berikutnya aku akan jadi malaikat bagi Yasir, hmm lihat Kim aku akan buktikan padamu aku bisa mengambil Yasir dari mu sampai kapanpun aku tidak rela Yasir jatuh dalam pelukan orang lain, Yasir milikku sampai kapanpun" batin Kiki.
Yasir masih nampak memohon pada Kimberley.
Ibu yang mendengar pertengkaran Yasir dan Kimberley merasa curiga melihat Kiki tersenyum licik.
"Senyum itu kenapa terkesan mengerikan" gumam ibu.
"Jangan-jangan pertengkaran mereka disebabkan oleh Tini?" ibu mulai mencurigai Tini
Ibu lalu memutuskan untuk menghampiri Yasir.
Yasir terduduk di depan pintu kamar Kimberley sambil terus mengetuk pintu kamar Kimberley.
"Please Kim buka, aku minta maaf aku salah tidak seharusnya aku menuduhmu, please Kim" pinta Yasir berulang kali.
Ibu menyentuh bahu Yasir
"Ikut ibu yuk ...,biarkan Kimberley mengeluarkan dan meluapkan perasaannya terlebih dahulu, nanti kita coba bersama untuk membujuk Kimberley lagi." saran ibu.
Dengan setengah gontai Yasir bangkit dan mengikuti ibu.
"Duduk nak Yasir, ibu mau tanya ada apa sebenarnya, kalian bertengkar karena apa?" tanya ibu.
Yasir menyodorkan ponselnya pada ibu dan memperlihatkan foto-foto yang ia dapat dari Kiki.
Ibu sangat terkejut ini kan waktu Jevaro datang menjemput Kimberley dan ibu ada di sana.
Menurut ibu tidak ada yang salah dengan foto pertama
Ibu menjelaskan pada Yasir pada saat Kimberley di gendong oleh Jevaro ibu ada disana.
Ibu menjelaskan, Jevaro hanya menawarkan bantuan pada Kimberley saat itu karena ia melihat Kimberley kesusahan dalam menuruni tangga.
"Maafkan ibu nak, ibu kira saat itu tidak ada yang salah dengan di gendongnya Kimberley oleh Jevaro toh mereka bersahabat" jelas ibu.
"Dan ini?" Yasir menunjukan foto Kimberly disematkan sebuah cincin berlian putih yang sangat indah.
"Ibu belum tahu soal itu, maaf nak, nanti coba ibu tanyakan pada Kimberley apa sebenarnya yang terjadi" sahut ibu.
"Maaf nak boleh ibu tanya, kamu dapat foto-foto ini darimana?" selidik ibu
Sebenarnya ibu sudah bisa menebak dari mana asal foto tersebut karena pada saat itu yang ada di rumah hanyalah dirinya, Kimberley dan .....,
"Kiki saya dapat dari Kiki " jawab Yasir.
Kembali terbayang di pikiran ibu senyuman Tini, senyuman mengerikan penuh dendam dan iri dengki.
..................********.,.......................
Hai hai... terima kasih yaa sampai saat ini masih setia mengikuti kisah Kimberley
Ditunggu up nya ya......
Sambil menunggu up mampir ke karya Nazwa Talita dengan judul Cinta Karmila
❤️ Happy Reading ❤️