
Mentari pagi telah menampakkan kuasanya. semilir angin sepoi sepoi menerobos masuk jendela kamar Kimberley.
Kimberley nampak masih tertidur pulas, tiba tiba saja .. bel rumah Kimberley berbunyi dan membangunkan serta membuyarkan mimpi indah Kimberley, dengan masih setengah sadar Kimberly mengintip siapa yang telah berani membangunkannya di hari liburnya.
Ternyata Rose bersama seorang ibu ibu ...sambil menggosok gosok matanya, Kimberley sepertinya mengenal sosok ibu yang dituntun Rose .
"Bukankah itu ....ibu" gumam Kimberley antara yakin dan tidak yakin.
Sudah belasan tahun mereka tidak pernah bertemu.
Lamunan Kimberley untuk kesekian kali nya terhenti karena bel rumah berbunyi.
"Iya sebentar" sahut Kimberley
Ceklik...bunyi pintu dibuka, ibu Kimberley menatap takjub anaknya, Kimberley tampak makin cantik dan dewasa dengan masih dalam balutan baju tidur, rambut tergerai panjang coklat ikal, tak terasa air mata ibu mengalir.
" Maafkan ibu nak, ibu tidak mendampingimu selama ini" tangis ibu sambil memeluk Kimberley.
Kimberley tak tahu harus berbuat apa disisi lain dia masih marah pada ibunya disisi lain dia kangen belaian lembut seorang ibu.Rose memberi isyarat agar Kimberley memeluk ibunya juga.
Akhirnya runtuh sudah pertahanan ego Kimberley selama ini, dia memeluk ibu nya sambil menangis melepaskan kerinduan yang mereka pendam selama ini.
Tidak berapa lama terlihat mobil Yasir berhenti di depan rumah.
Tampaklah Yasir keluar dari mobilnya berjalan menuju rumah Kimberley sambil menjinjing beberapa tas plastik berisi oleh oleh buat ibu dan Kimberley.
Kimberley memperkenalkan Yasir pada Ibunya, Yasir membungkuk dan mencium tgn ibu Kimberley sebagai tanda hormat,
"Ini cowok kamu Kim? guantengg Yoo pinter kamu " puji ibu. diikuti senyum malu Kimberley yang menambah keanggunan dirinya semakin terpancar.
"Bu saya tinggal mandi dulu ya sementara Rose dan Yasir yang menemani ibu dulu", sambil memeluk ibunya, ibu nya mengangguk tersenyum bahagia.
Tampak Ibu akrab dengan Rose mereka bercerita tentang kehidupan ibu sekarang dan Rose menceritakan bagaimana Kimberley tumbuh sebagai anak yang hebat dan sukses dengan bisnisnya. Yasir pun terkadang ikut membanggakan Kimberley.
"Kerja di mana, nak Yasir" tanya ibu Kimberley.
"Hmm saya pekerja seni Bu" jawab Yasir.
Ibu tampak kebingungan dengan jawaban Yasir.
"Artis Bu " jelas Rose singkat .
"Oalahh artis toh, sama seperti anak saya Tini " Ibu Kimberley menjelaskan kalau adik tiri Kimberley juga seorang artis saat ini sedang ada syuting di Surabaya
"Tini juga ada di sini Bu, syuting di Surabaya??" tanya Kimberley pada ibu.
Kimberley makin menawan setelah mandi dan berdandan tipis.
Kemudian Kimberly memandang Yasir, " Sayang emangnya ada sinetron lain lagi selain dari PH kamu yang lagi syuting di sini atau ada patner kerja kamu yang bernama Tini?" tanya Kimberley penasaran.
Kimberley tidak menyangka anak ibunya yang dulu terakhir bertemu masih duduk di bangku TK sekarang sudah menjadi seorang artis.
"Bisa jadi dari PH lain, di tempat aku tidak ada yang namanya Tini" jelas Yasir mantap .
"Hmm bisa juga Tini punya nama artis, apa ibu tahu nama artis Tini? " tanya Rose.
"Ibu tidak tahu nak, tapi tadi pagi ibu sudah WA memberitahunya kalau ibu sekarang di Surabaya di rumah kakaknya, dan kalau ia ada waktu ketemuan di sini saja, sekalian reuni keluarga kecil kecilan." jelas ibu.
"Tidak apa apa kan nak kalau adikmu ke rumah kamu ini?" tanya ibu hati hati pada Kimberley. karena ibu tahu Kimberley dulu membencinya.
"Tidak apa Bu, ayo Bu diminum, dimakan kuenya" tawar Kimberley
Tidak terasa mereka sudah saling berbagi cerita tertawa mengingat masa kecil Kimberley yang dari kecil sudah terlihat mandiri dan kuat.Sesekali Yasir mengelus rambut Kimberley dan menciumnya sungguh suasana yang begitu hangat dan menyenangkan.
Rose pun tidak menyangka akan berjalan dengan baik dan membahagiakan, Rose pikir sikap dingin dan cuek Kimberley pada ibunya akibat luka kecewa yang dialaminya, cukup susah ditaklukkan, ternyata semua itu hanyalah kamuflase dari seorang Kimberley Ryan untuk menutupi kerinduan nya akan sosok ibu.
Tiba tiba TEETTT .....bunyi bel rumah berbunyi.
"Itu mungkin Tini, nak .." timpal ibu.
"Saya buka kan dulu ya, kalian lanjutkan bernostalgia nya" ujar Rose tersenyum sambil berjalan menuju pintu depan.
"Kim... ini Tuti yang dulu suka dikepang dua sekarang sudah cantik lho , kamu sudah punya pacar Tin? pasti sudah donk cewek secantik kamu.." suara Rose terdengar sampai ke dalam
" Yuk Tini masuk, itu kakakmu masih ingat tidak? dan itu kekasihnya ..." tunjuk Rose pada Kimberley dan Yasir
"Kamu.....!!!?" Kimberley menatap tajam dengan wajah tidak suka, kemudian melihat ke arah Yasir.
"Ada apa ini " seru Rose penasaran.
Ibu langsung memeluk dan menghampiri Tini yang tidak kalah terkejut nya.
Tini terpaku sejenak, ternyata wanita yang Tini benci selama ini, yang merebut Yasir darinya adalah kakaknya sendiri Kimberley.
Mereka pernah bertemu sebelumnya waktu di pantai, tapi karena mereka tidak pernah bertemu lagi sejak Tini masih kecil, Kimberley pun tidak menyadari kalau ternyata wanita yang membuatnya cemburu itu adik tirinya.
Yaaa Kiki... ternyata Kiki adalah adik tiri Kimberley, dan gara gara dia jugalah Kimberley membenci ibunya dan baru saja luka itu sembuh Kimberley harus menelan pil pahit lagi kalau ternyata Tini adalah Kiki .
"Yasir..." seru Kiki sambil langsung memeluk dan bergelayutan di tangan Yasir.
"Kemana aja sih kok aku di tinggal" seru Kiki dengan polosnya.
Dada Kimberley semakin bergemuruh bagai air mendidih setelah bergantian menatap tajam Ke arah Kiki yang dengan tanpa permisi langsung memeluk dan bermanja manja di legan Yasir, dan berganti menatap Yasir jijik dan kecewa, tak terasa ada yang mengalir hangat di pipi Kimberley, lalu Kimberley berlari menuju ke kamarnya dan mengunci pintu.
Rose, ibu dan Yasir seperti membeku kaget, bingung dan yang pasti tidak pernah menyangka akan terjadi hal semacam ini, terlebih lagi ibu, merasa menyesal hubungan yang dulu sempat terkoyak dan baru saja terajut kembali bahagia sekarang harus terkoyak lagi.
Yasir yang kemudian sadar akan apa yang terjadi dan langsung memahami apa yang sebenarnya terjadi langsung menepis tangan Kiki dan berlari menyusul Kimberly ke kamar.
Ibu langsung menarik tangan Kiki untuk menjauh dari Yasir dan menahannya untuk tidak mengikuti Yasir.
Rose hanya bisa terdiam berusaha memahami apa yang sesungguhnya terjadi, tatapan tajam yang penuh gejolak rasa amarah, cemburu, kebencian yang tadi Rose lihat dari sorot mata Kimberley adalah 1 hal yang baru kali ini Rose lihat.
Kimberley yang selama ini Rose kenal adalah sosok yg lembut, ramah, mandiri dan tegar tak pernah sekalipun menunjukan sorot mata seperti yang baru saja Rose lihat tadi.
"Hmm Tini kah wanita idaman lain bocah tengil itu? mungkinkah yang ia lihat malam itu adalah...mereka?" pikir Rose.
Ibu memarahi Tini untuk tidak mengikuti Yasir. "Tin ada apa ini, dan apa yang kamu lakukan barusan, itu tadi pacar kakak kamu, datang datang tidak beri salam pada kakak kamu kok malah kamu nempel ke pacarnya!" bentak ibu pada Tini.
"Apa ah ibu ...kak Yasir itu milik aku bukan milik anak kesayangan ibu itu " sahut Kiki.
Kiki tahu ibunya hanya lah ibu sambung yang hanya merawat dia sejak kecil tapi hati ibunya selalu pada kakaknya itu sedikit sedikit dia selalu dibanding bandingkan dengan Kimberley, dulu saja Kiki sudah membenci Kimberley terlebih sekarang dia tahu Kimberley penghalang terbesarnya untuk mendapatkan Yasir.
"Jangan Tin, jangan kau ganggu milik orang lain !" seru ibu.
"Yasir milik aku Bu!" jerit Kiki sambil menangis, Kiki cape kenapa tidak ada yang mendukungnya, Yasir adalah hidupnya hanya pada Yasir ia menemukan apa yang dia cari walau ia tahu Yasir hanya kasihan padanya tapi Yasir juga tetap bisa membuatnya bahagia walau semu.
Di dalam, Yasir terus berusaha membujuk Kimberley untuk membuka pintu kamar, tapi tidak berhasil.
Setelah Rose memahami situasi yang terjadi, ia berjalan menuju kamar Kimberley meninggalkan ibu yang terus berusaha menyadarkan Kiki .
Rose tahu saat ini perasaan Kimberley sangatlah hancur, baru saja ia memaafkan ibunya baru saja ia merasa bahagia bertemu ibunya setelah terpisah belasan tahun yang lalu dan baru saja ia mencoba berdamai dengan keadaan menerima kehadiran adik tirinya yang dulu ia anggap perebut ibunya ternyata....juga perebut kekasihnya.
"Kim... Kim ini aku Rose tolong Kim buka pintunya aku tahu kamu sedang sedih sekarang, aku temani kamu di dalam ya.." hibur Rose.
Kimberley sama sekali tak menjawab yang terdengar hanyalah Isak tangis Kimberley.
"Sayang please open the door,
i love you Kim trust me tidak ada apa apa antara aku dan Kiki,
Kiki memang seperti itu kamu tahu sendiri kan waktu di pantai, dia juga yang terus berusaha mendekati aku" Yasir berusaha menjelaskan dan meyakinkan Kimberley bahwa hubungannya dengan Kiki hanya teman.
"Kamu pikir aku bodoh!?, aku dengar dia tadi menanyakan keberadaanmu karena kamu meninggalkan dia itu berarti kalian pernah bersama kan ? sudahlah Yasir akuilah seorang wanita tidak akan menjatuhkan harga dirinya kalau tidak ada apa-apa dan no respon dari laki lakinya. Kiki berharap banyak ke kamu itu tandanya kamu pun juga memberikan harapan padanya." seru Kimberley sambil menangis dari dalam kamar .
"Pergi... tinggalkan aku, berbahagialah bersama Kiki " Kimberley tak mampu lagi menahan emosi di dirinya. ia kembali menangis .
"Bersama bagaimana?, aku selalu ada bersama kamu, kemarin pun kita bersama di cafe bukan, please Kim jangan berpikiran yang aneh aneh, buka pintunya aku akan jelaskan" ungkap Yasir berusaha melunakan hati Kimberley.
Rose bingung bagaimana lagi caranya membujuk Kimberley, ia yakin sekali saat ini Kimberley membutuhkan seseorang di sampingnya.
Tiba tiba dia teringat selain dirinya ada satu orang lagi yang mampu membuat Kimberley percaya dan menurut ..lalu Rose menelepon nya.
Beberapa menit kemudian, tampak Ibu masih terus menasehati Tini , dan Yasir terduduk lesu di depan kamar Kimberley sambil terus memohon untuk dapat menemuinya.