Find The Perfect Love

Find The Perfect Love
Cinta Abadi



Aqib memandangi gelapnya malam, ia berusaha memahami kenyataan yang terjadi saat ini, adiknya sudah terlepas dari masa kritisnya, tetapi efek dari luka dalam yang ia derita telah menimbulkan komplikasi ke berbagai organ tubuh lainnya.Itulah yang menyebabkan Yasir tidak bisa berpikir terlalu berat yang akan memicu kerja syaraf di otaknya berpacu keras yang bisa mengakibatkan ketegangan pada syaraf dan menyebabkan kejang-kejang.


"Sepertinya sudah saatnya diriku memberitahukan keadaan Yasir sebenarnya pada keluarga di Kashmir " pikir Aqib


Lalu Aqib mengambil telepon genggam nya dan menghubungi ayahnya.Aqib menceritakan keadaan Yasir saat ini dan luka apa saja yang di deritanya.


Ayah Aqib syok mendengar kabar Anak laki-laki bungsunya saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit. Ayah memutuskan akan berangkat ke Indonesia besok bersama Azlan kakak pertama mereka.


Lega sudah perasaan Aqib, akhirnya ia bisa mengatakan kepada ayahnya kondisi Aqib sebenarnya.


Tiba-tiba ada yang menyentuh punggung nya. "Kak Aqib ini jaket kakak"


Aqib menoleh ke arah suara di belakangnya.


"Kimberley?" Aqib tidak menyangka Kimberley akan menghampirinya.


"Bagaimana kata dokter? kamu sudah bertemu dengan dokternya?" tanya Aqib beruntun, menutupi kegundahan hatinya.


"Dokter cuman bilang, biarkan Yasir beristirahat dulu dan sebisa mungkin jangan buat Yasir berpikir terlalu berat." sahut lirih Kimberley.


"Oh ya kak, ini jaket kakak. Dipake kak, disini anginnya kencang ntar kakak bisa masuk angin" saran Kimberley.


"Kamu saja yang pake, ntar kamu juga masuk angin lho, kamu gak bawa jaket kan? kalau aku kan sudah biasa, di Kashmir lebih dingin dari ini, kamu tahu sendiri, betapa dinginnya Kashmir." jelas Aqib tersenyum, kemudian memakaikan jaketnya pada Kimberley.


"Terima kasih kak Aqib" ucap Kimberley.


Sesaat mata mereka beradu hanya berjarak dua centi antara wajah Kimberley dan Aqib, angin dingin kembali menerpa mereka, ada sesuatu yang berdesir di seluruh tubuh Aqib, mata indah itu bibir ranum, membuat gejolak dada Aqib berdetak begitu cepatnya, ingin rasanya dirinya ******* bibir manis dihadapannya saat ini. Tiba-tiba... ,


"Kimberley!.... Kimberley!.....Yasir mencarimu.!" teriakan Rose membuat Aqib tersadar dan cepat kembali ke dunia nyata.Ia menghembuskan nafas sekuatnya ia sadar hampir saja ia mengingkari janjinya sendiri pada adiknya.


Kimberley menoleh ke arah Rose , " Yasir sudah sadar?"


"Iya dia terus memanggil namamu, ayoo!" Rose menarik tangan Kimberley cepat dan menjauh dari Aqib.


Mereka berlari sangat cepat seolah tidak ada kesempatan lagi dan tak ingin mengecewakan Yasir.


Sesampainya di depan ruangan Yasir, mereka berhenti sejenak dan mengatur nafas terlebih dahulu.


Jevaro yang melihat Kimberley dan Rose berlari tergopoh-gopoh lalu menghampirinya.


"Hei ada apa? kenapa kalian berlari?" tanya Jevaro sambil menatap Rose dan Kimberley bergantian.


"Kata Rose Yasir memanggilku ia mencariku!?" Kimberley langsung melangkah hendak masuk ke ruangan Yasir.


Jevaro terlihat kebingungan, "Memanggil dan mencari Kimberley? sadar saja belum bagaimana mungkin." pikir Jevaro.


"Pak Jevaro titip Kimberley bentar ya" lalu Rose berlalu meninggalkan mereka.


Jevaro masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, ia menatap kepergian Rose dengan penuh tanda tanya.


Saat Jevaro menoleh ke arah Kimberley, ia sudah tidak ada ditempat.


Jevaro lalu mengikuti Kimberley, ia masuk ke ruangan Yasir. Disana ia melihat Kimberley sedang menggenggam tangan Yasir dan meletakan kepalanya di dekat bahu Yasir.


"Sayang...., bangun dong kata Rose tadi kamu mencariku tapi kenapa kamu sekarang tidur lagi? aku sudah berusaha cepat datang kesini, kamu cape banget ya, jadi kamu tidur lagi." ceracau Kimberley sambil terus menggenggam tangan Yasir.


Jevaro mendengar ada perasaan sedih dari kata-kata yang diucapkan oleh Kimberley.


Melihat ia nyaman bersama Yasir, Jevaro lalu kembali keluar dari ruangan Yasir.


"Kamu sangat mencintai Yasir dan sebaliknya, bagaimana bisa aku mencoba memisahkan kalian, betapa jahatnya diriku" batin Jevaro. Lalu ia terdiam menyelami perasaannya sendiri.


.................🌸🌸🌸.......................


'Kakak telah mengkhianati adik sendiri, benarkah?" tuduh Rose .


Aqib yang sedang mengagumi bintang yang berlomba menerangi bumi dengan sinarnya dengan cepat menoleh ke sumber suara.


Aqib menatap Rose penuh arti.Sesaat ia masih mencoba untuk mengerti apa yang baru saja diucapkan Rose.


Aqib masih meraba-raba kemana arah pertanyaan Rose.


"Kakak juga mencintai Kimberley kan?" kembali pertanyaan yang sangat menusuk hati, Rose lontarkan pada Aqib.


"Kamu ngomong apa?" Aqib berusaha mengelak ia tidak mau apa yang ia rasakan sampai terdengar Kimberley. Aqib sudah berjanji untuk mengunci rapat-rapat perasaannya dan membiarkan Yasir berbahagia dengan cintanya.


"Ayo lah kak, saya yakin sekali kakak mengerti maksud saya." timpal Rose sekali lagi.


"Apa perlu saya paparkan lebih lanjut fakta-fakta yang ada?" ancam Rose.


"Fakta apa? kamu ini kenapa Rose?" Aqib khawatir ada yang mendengar percakapan mereka.


Aqib tidak ingin ada yang tahu soal perasaannya pada Kimberley. Cukup dirinya dan Yasir saja ia tidak ingin orang lain mengetahuinya. Karena Cinta yang ia rasakan adalah suatu kesalahan.


"Coba jelaskan kenapa waktu itu wajah kakak lebam lebam? dan kakak terus meraung saat Yasir kritis untuk minta dimaafkan dan kakak sendiri bilang ini semua terjadi karena salah kakak, apa maksudnya?" tanya Rose.


Aqib menarik nafas dalam-dalam. "Dengar ya Rose apapun yang terjadi padaku, tidak ada hubungannya denganmu dan tidak ada kewajiban diriku untuk melaporkan apapun padamu ingat itu ! " Aqib berlalu meninggalkan Rose.


Rose semakin yakin ada yang dibunyikan Aqib, sepertinya dugaannya benar bahwa Aqib jatuh cinta juga pada Kimberley.


Tadi tidak sengaja ia melihat Aqib memakaikan Jaket pada Kimberley, dengan tatapan mata yang teduh dan penuh cinta bahkan tadi sepertinya hendak mencium Kimberley.


Itu sebabnya ia berteriak, memanggil Kimberley dan mengatakan bahwa Yasir mencari dirinya, padahal Yasir masih belum sadar.


"Hmm kalau dugaan ku benar betapa jahatnya kak Aqib, mencintai milik adiknya sendiri." batin Rose.


"Kamu memang hebat Kim. semua laki-laki yang ada disekitarmu, semua mencintai dirimu.' pikir Rose dalam hati.


Kemudian Rose kembali menuju ke ruangan Yasir.


Disana ia mendapati Jevaro, sendiri melamun melihat gelapnya malam yang disinari oleh cahaya bintang gemerlap dari jendela Rumah Sakit.


Rose kembali pergi ke kantin untuk membeli 4 botol kopi, lalu kembali lagi ke tempat Jevaro tadi.


"Selamat malam pak Jevaro, ini kopi nya" Rose menyodorkan kopi instan kemasan pada Jevaro.


"Minumlah pak, biar bapak gak ngantuk ntar perjalanan pulang ke rumah." ucap Rose.


"Terima kasih ya Rose, iya sebentar lagi saya mau pulang dulu, besok setelah membereskan beberapa urusan di kantor saya kesini lagi." jawab Jevaro.


"Baiklah pak, nanti saya akan sampaikan pada Kimberley kalau bapak pulang terlebih dahulu." sahut Rose.


Malam semakin larut, Kimberley pun tertidur didekat bahu Yasir sambil tangan tetap saling menggenggam .


Dalam mimpinya pun Yasir selalu menggenggam tangannya , mereka berlari-lari di tengah rumput ilalang tertawa lepas berdua, lalu tiba-tiba di ujung berdirilah seseorang yang mirip dengan kak Aqib.


Ya...itu kak Aqib, ia melambaikan tangannya kepada mereka sambil tersenyum. Yasir dan Kimberley pun tampak berlari menuju ke arah kak Aqib dan setelah dekat Yasir tiba-tiba, melepas genggaman tangannya, dan menyerahkan tangan Kimberley pada Aqib, untuk digenggam olehnya. Setelah itu Yasir berjalan menjauh dari mereka sambil tetap tersenyum, dari kejauhan terlihat Reva menunggu dan tersenyum, akhirnya Yasir dan Reva pun bergandengan lalu menghilang.


"Yasir!" Kimberley terbangun, jantungnya kembali berdetak dengan kencang, keringat dingin menetes dari keningnya padahal di ruangan itu ber-AC.


Dilihatnya Yasir masih tidur di samping nya, hening... hanya suara mesin pendeteksi detak jantung yang terdengar bersuara.


Kimberley mengusap wajahnya, "mimpi apa tadi, kenapa Yasir menghilang bersama Reva?" batin Kimberley.


Melihat Yasir masih belum sadar, Kimberley mengusap kepala Yasir dengan penuh kasih sayang dan mengecup keningnya," Cepat sembuh sayang, aku mencintaimu, sangat mencintaimu" bisik Kimberley. Lalu ia tidur lagi di dekat Yasir sambil tetap menggenggam tangan Yasir.


..............🌹🌹😥😥....................


Simak terus ya kelanjutannya


jangan lupa dukungannya tinggalkan jejak like komen dan lain-lain.


Terimakasih yang selama ini selalu mendukung..


Love you all ❤️❤️