
Aqib mencoba menghubungi Rose, ia meraih hape nya dan mencari dalam daftar kontak .
"Hallo Rose ini Aqib" sapa Aqib membuka obrolan.
"Iya kak Aqib, kakak dimana ?" tanya Rose.
"Kakkk.....!!!Yasir dimana, bagaimana keadaannya?" terdengar suara Kimberley.
"Rose gimana keadaan Kimberley? kalau tidak lemas, tolong antarkan dia ke Rumah Sakit Harapan. Aku ingin saat Yasir membuka mata nanti orang pertama yang dia lihat adalah Kimberley sehingga dia punya semangat untuk segera sembuh, bisa kan Rose." pinta Aqib sambil meneteskan air mata.
"Baik kak, sebenarnya bagaimana keadaan Yasir?" tanya Rose
"Yasir masih diruang operasi kata dokter keadaannya kritis, dia mengalami gegar otak, trauma leher, patah tulang kaki, tangan dan iga. yang membuat nya kritis karena terlalu banyak darah yang keluar akibat lambatnya penanganan , terima kasih ya Rose kamu sudah bantu merawat Kimberley " Aqib sangat menghargai pengorbanan Rose.
"Sama-sama kak, Kimberley adalah sahabat aku bahkan sudah seperti saudara. Sabar ya kak semoga operasi Yasir berjalan lancar dan cepat pulih." Rose berusaha memberi semangat Aqib.
"Amin" sahut Aqib.
"Oke kak saya siap-siap ke Rumah Sakit bersama Kimberley" ucap Rose.
"Baiklah telepon ya kalau sudah sampai" pesan Aqib.
"Oke kak bye" sahut Rose.
"Bye Rose" jawab Aqib
🌜🌜🌜
Kimberley sebenarnya ingin merampas telepon Rose banyak yang ingin ia tanyakan pada kak Aqib. Tapi apa daya kepalanya masih terasa berputar bila terlalu banyak bergerak.
"Rose apa kata kak Aqib,? bagaimana keadaan Yasir? Rosee....jawab Rose bagaimana keadaan Yasir?" tanya Kimberley histeris
"Kamu mau tahu keadaan Yasir kan?" Rose memeluk Kimberley memberi kekuatan.
Rose sebenarnya tidak kuat menahan tangis membayangkan apa yang dikatakan Aqib begitu parahnya keadaan Yasir bahkan kata dokter masih dalam kondisi kritis .
Tiba-tiba airnata Rose menetes."Hai bocah tengil kamu harus kuat ya... Kimberley membutuhkanmu aku yakin kamu bisa melalui semua ini, semangat Yasir " batin Rose dalam hati sambil memeluk erat Kimberley.
"Rose... ada apa? kenapa denganmu" tanya Kimberley
"Rose katakan ada apa? Yasir kenapa Rose" badan Kimberley terasa bergetar sampai saat ini tidak ada satupun yang memberitahunya tentang keadaan Yasir. Kimberley hanya bisa menangis dan berdoa semoga semua baik-baik saja.
"Yuk kita ke Rumah Sakit" ajak Rose berusaha tersenyum.
"Rumah Sakit?" tanya Kimberley.
"Iya katanya mau tahu keadaan Yasir, mau tahu tidak?" sahut Rose singkat sambil berlalu pergi.
"Iya iya Rose mau banget aku mau bertemu Yasir " Kimberley lalu menyambar tas nya lalu mengikuti Rose.
Di dalam mobil Kimberley kembali bertanya pada Rose tentang keadaan Yasir.
" Kim, kita kan lagi menuju Ke Rumah Sakit dan aku juga belum ketemu Yasir, yang sabar ya kita akan segera mengetahui nya" jelas
"Baiklah" jawab lirih Kimberley.
Setelah beberapa menit kemudian.
"Yuk Kim, kita turun" ajak Rose.
"Kim , turun yuk " ulang Rose.
Kimberley mengangguk cepat.
Terdengar Rose menghubungi Aqib.
Hati Kimberley berdebar tak beraturan. Membayangkan kekasihnya saat ini mengalami kecelakaan dan kini terbaring di Rumah Sakit. Semua terasa seperti mimpi
Timbul penyesalan yang sangat dalam karena saat itu ia menolak telefon dari Yasir."Maafkan aku sayang"
"Ayo Kim ditunggu Kak Aqib di depan ruang operasi." jelas Rose.
Setengah berlari Kimberley dan Rose mencari ruang operasi.
"Itu Rose" tunjuk Kimberley.
"Hmm mana kak Aqib?" tanya Rose sambil melihat sekeliling.
Kimberley pun melayangkan pandangan nya ke penjuru sudut hanya tampak satu orang lelaki dengan baju penuh dengan darah menunduk lesu.
Kimberley menghampirinya berlahan, perasaannya mengatakan itu kak Aqib tapi..."Kak Aqib"
Mendengar namanya disebut dan seperti suara Kimberley Aqib menoleh ke sumber suara.
"Haa!!" sambil menutup mulut nya terkejut Kimberley melihat sosok dihadapannya,.
"Kak Aqib!! apa yang terjadi?!" pekik Rose.
"Maaf kalau aku --"
"Apa yang terjadi kak? Kenapa tidak diobati lukanya?! Kakak sudah dari tadi kan disini? kenapa tidak minta tolong perawat untuk diobati? susss!!! " panggil Kimberley panik sambil menyentuh lebam-lebam di wajah Aqib.
"Heii Kim, i am okay nanti juga sembuh sendiri. Aku cuman gak bisa ninggalin Yasir sendiri, aku gak mau Yasir merasa sendiri, aku gagal jadi kakak yang baik untuknya." suara Aqib semakin lirih tangis Aqib akhirnya pecah tubuhnya berguncang hebat semua perasaan yang tadi tertahan akhirnya lepas.
Kimberley yang melihat Aqib terguncang hebat, langsung memeluk Aqib. Melihat keadaan Aqib saat ini sungguh memprihatinkan.
Ia membiarkan Aqib menangis dalam pelukannya, semakin pecahlah tangisan Aqib "Aku gagal" ucap dalam tangis Aqib berulang ulang.
Kimberley hanya bisa memeluk dan ikut menangis.
Perasaannya mengatakan Yasir dalam keadaan parah.
Bila tidak, tidak mungkin kak Aqib terguncang begitu hebatnya.
"Keluarga di Kashmir sudah tahu?" tanya Kimberley setelah tangisan Aqib dirasa sudah mulai tenang.
Aqib hanya menggeleng.
"Aku takut ..aku takut mereka kepikiran, aku gagal menjalankan mandat ayah untuk menjaga Yasir" lirih Aqib menjawab
"Ini semua salah aku" Aqib ingat kejadian sebelumnya ia telah membuat perasaan adiknya hancur.
"Ini salah aku! maafkan kakak Yasir" kembali Aqib menangis penuh penyesalan.
Rose pergi meninggalkan mereka, Rose pergi membelikan T-Shirt untuk Aqib.
"Aqib harus ganti baju dan membersihkan wajahnya agar tidak tampak seram" batin Rose
"Ada apa bagaimana Aqib bisa terlibat perkelahian hingga seluruh wajahnya penuh lebam karena pukulan" batin Rose.
Setelah beberapa menit kemudian.
"Keluarga Yasir Mir" panggil dokter.
"Iya saya dok" sahut Aqib dan Kimberley yang langsung berdiri dan berjalan mendekati sang Dokter.
"Keluarga Yasir?" tanya dokter kembali
"Iya dok saya kakaknya." sahut Aqib.
"Pasien membutuhkan tambahan darah dan kebetulan stok kami masih kurang mohon bantuannya untuk mencarinya, kami membutuhkan secepatnya untuk detail darahnya silakan hubungi suster detailnya sudah ada di sana, dan Oh ya luka lebam kamu harus segera diobati takutnya infeksi. Suss tolong dibantu untuk membersihan luka lebamnya." perintah sang dokter
"Mari pak ikuti saya" kata suster.
"Sebentar ...kak Aqib ini ganti bajunya" Rose memberikan bungkusan yang berisi T-shirt.
"Terima kasih Rose" sahut Aqib singkat.
🌟🌟🌟
Hening suasana di sekitar ruang operasi .
Kimberley kembali gelisah sudah hampir dua jam tapi operasi belum selesai.
Rose yang tahu kegelisahan hati sahabatnya, lantas mengusap usap punggung nya untuk menenangkannya.
Rose ingin Kimberley tahu bahwa sahabat selalu ada dan bisa diandalkan untuk segala perputaran hidup kita, baik suka maupun duka.
"Hai .." sapa Aqib setelah dirawat dan dibersihkan luka luka lebamnya
Walau masih tampak bengkak dan lebam setidaknya noda darah sudah tidak nampak lagi.
Membuat penampilan Aqib tidak seseram sebelumnya.
"Rose bisa minta tolong sebarkan ini?" Aqib menunjukkan format permintaan bantuan darah .
"Oh baik kak, saya akan infokan ke semua kontak saya dan group wa " sahut Rose.
Melihat Kimberley tertegun ke arah pintu ruangan Operasi.
Aqib bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Kimberley.
Diapun gelisah tapi sebagai kakak saat ini ia harus fokus memimpin untuk mencari donatur darah bagi adiknya yang sedang berjuang di meja operasi.
Tiba tiba hape Kimberley bergetar karena di Rumah Sakit ia sengaja ganti mode silent.
"Iya hallo " belum sempat Kimberley melihat siapa yang menghubunginya .
"Hai Kim apa yang terjadi ??? siapa yang membutuhkan darah? tadi baru saja aku terima berita di group bahwa Rose membutuhkan donor darah, kamu baik-baik saja kan?" tanya Jevaro.
"Aro... bantu doa ya" sahut singkat Kimberley.
"Pasti Kim tapi ada apa?" tanya Jevaro menyelidik.
"Yasir kecelakaan, dan butuh darah banyak stok Rumah Sakit dan PMI tinggal sedikit" jelas Kimberley.
"Yasir kecelakaan? kapan ?"
"Semalam, aku juga baru dapat info pagi ini dari kak Aqib" jelas Kimberley.
"Baiklah ada di Rumah Sakit mana aku akan kesana sekalian ikut tes donor darah mungkin cocok dengan yang dibutuhkan." ucap Jevaro.
" Rumah Sakit Harapan. Terima kasih banyak Aro " sahut Kimberley.
"Sama-sama Kim, aku segera kesana sekarang" lanjut Jevaro.
"Iya makasih ya"
"Hei Kim ...kalau butuh bantuan apapun jangan sungkan hubungi aku ya. mungkin aku bisa bantu " sahut Jevaro.
'Iya, makasih Aro" jawab Kimberley.
Banyak sekali yang bersedia untuk jadi donatur darah Yasir.
Rose sampai kewalahan mendata siapa saja yang bersedia diperiksa untuk jadi pendonor .
"Hmm orang baik akan selalu dikelilingi berkat yang melimpah" gumam Rose.
Aqib pun mempersilakan suster untuk mengambil darahnya dan mengetesnya lebih lanjut.
"Yasir semoga kamu bisa segera melewati masa kritis mu ya ..semangat bro kamu pasti bisa " harap batin Aqib sambil mendonorkan darahnya untuk Yasir
"Bagus pak, biasanya darah yang berasal dari keluarga lebih banyak cocoknya." timpal suster yang mengambil dan mengetes darah Aqib.
"Amin. semoga adik saya segera bisa melalui masa kritisnya." sambung Aqib.
"Iya pak Amin" sahut suster Rumah Sakit.
Kemudian Rose dan Kimberley bergantian untuk diperiksa juga .
Dokter baru saja memanggil Aqib dan memberitahukannya
"Bahwa keadaan pasien saat ini sangat mengkhawatirkan ! "
"Banyak- banyak berdoa ya semoga pasien bisa melalui masa kritisnya. Hanya doa dan keyakinan kita yang bisa membantu saudara Yasir melalui masa kritisnya " ucap dokter .
Melihat Aqib sedang di panggil dokter lagi, Kimberley berusaha untuk meneliti apa yang disampaikan oleh sang dokter dari gerakan bibir mereka berdua .
Lemas sudah kaki Kimberley untuk bertumpu, mengetahui dokter mengatakan banyak-banyak berdoa, hanya mujizat yang bisa menyembuhkan.
"Yasir.." air mata kembali menetes, pandangan Kimberley kembali gelap, sendi-sendi tubuhnya terasa lemas dan..
"Kim...!!" Aqib dengan sigapnya berlari dan memeluk tubuh Kimberley sebelum terjatuh, kembali Kimberley pingsan mendengar keadaan Yasir.
................ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...................
Haii tunggu kisah selanjutnya ya semoga mujizat itu ada untuk Yasir.
Jangan lupa like komen dan favorit ya untuk membatu Yasir kembali bisa bersama kita lagi
Terima kasih buat semua yang telah mendukung.
Sambil menunggu up kalian bisa mampir ke karya teman aku
🌹 Happy Reading 🌹