Find The Perfect Love

Find The Perfect Love
Gelap



"Nih buat kamu!" Jevaro menyodorkan jus alpokat dan wafel nya pada Rose.


"Untuk aku??" setengah tidak percaya Rose menerima bungkusan dari Jevaro.


Setelah melihat isi bungkusan tersebut Rose tahu untuk siapa sebenarnya makanan ini dipesan.


Jevaro tahu pasti Rose pasti menyadari untuk siapa sebenarnya jus alpokat dan wafel tersebut, karena keduanya memang favoritnya Kimberley.


"Maaf Rose, tadinya ya seperti pikiran kamu memang buat Kimberley tetapi melihat kondisi saat ini ,..." Jevaro tertunduk sedih.


"Tetapi kalau kamu gak mau ya gak apa apa, buang saja atau kamu berikan ke salah satu suster, kalau aku yang berikan gak enak, takut menimbulkan salah paham " sahut Jevaro melihat kegundahan Rose saat melihat isi bungkusan.


"Hahaha" sontak Rose tertawa


"Bapak ini lucu deh pede ya pak,benar pak kalau bapak yang berikan takutnya si suster mengira bapak jatuh cinta padanya waduh kacau ya pak hahaha" kembali Rose tertawa terpingkal pingkal sambil berusaha menahan suaranya agar tidak menganggu pasien.


Jevaro melirik Rose, sekilas tersenyum tawar "Ah sudahlah terserah kamu lah Rose" lalu meninggalkan Rose sendiri.


Tidak lama setelah Jevaro pergi. Aqib kembali dengan wajah gamang dan tatapan kosong.


Rose yang melihatnya, langsung menghampirinya, ia tahu Aqib baru saja bertemu dengan Dokter Wahyu di ruangannya.


"Kak Aqib .., apa kata dokter?" Rose merasa ada yang tidak beres.


Tiba-tiba Aqib memeluknya"Rose ..apa yang harus aku katakan pada Kimberley dan ayah" Aqib kemudian jatuh pingsan.


"Kak Aqib...kak! suster tolong...tolong!" seru Rose meminta bantuan.


Jevaro yang berada tidak jauh dari Rose berlari untuk memberikan bantuannya.


"Kenapa Rose? apa yang terjadi?" Jevaro dan Rose berusaha membopong Aqib.


Untungnya tidak lama beberapa suster mendatangi mereka dan membawa ranjang dorong, kemudian mereka menidurkannya di ranjang tersebut dan membawa Aqib ke instalasi gawat darurat untuk diperiksa lebih lanjut.


Jevaro dan Rose pun mengikuti suster yang mendorong Aqib menuju instalasi gawat darurat.


"Wait ...." panggil kak Azlan.


Jevaro dan Rose pun saling berpandangan, lalu mereka memutuskan berhenti.Azlan terlihat berlari menghampiri Jevaro dan Rose.


"Kalian tahu kemana Aqib?" tanya kak Azlan .


Jevaro dan Rose saling berpandangan.Kemudian tanpa dikomando mereka menunjuk ke arah suster yang mendorong Aqib.


"Aqib! apa yang terjadi?!" Azlan panik kedua adiknya sama sama tak sadarkan diri.


"Tenang kak Aqib baik-baik saja kok!" Jevaro mencoba menenangkan Azlan.


"Tapi itu.." sambil menunjuk ke arah suster yang sedang bergegas membawa Aqib.


"Kak Aqib hanya pingsan kak!" sahut Rose.


"Kalau kakak mau, yuk kita ikuti suster ke ruangan Gawat Darurat." ajak Rose.


"Ayoo" kemudian mereka pun mengikuti suster perawat.


................🌹🌹🌹🌹🌹...........


Yasir setengah sadar dan berusaha untuk membuka matanya samar samar ia melihat Kimberley dan ayah??


"Benarkah itu ayah? atau hanya halusinasi ku saja?" batin Yasir


"Yasir.." seru ayah ketika melihat anaknya mulai membuka matanya.


Yasir tersenyum pada ayah,kemudian melihat kekasihnya tertidur disampingnya ia berusaha membelai rambutnya, matanya berkaca-kaca.


Kemudian ia melihat ke arah ayah yang sudah berdiri di ujung kakinya.Lalu Yasir mengulurkan tangannya, ayah menyambut tangan anaknya lalu menangis.


"Jangan menangis ayah, semua baik-baik saja, mana kak Azlan kata kak Aqib ayah datang bersama kak Azlan ?"


Ayah menyeka air matanya."Azlan sedang mencari Aqib."


Yasir tersenyum dan mencium tangan ayahnya.


"Ayah.., apapun yang terjadi nanti pada Yasir, tolong ayah jangan sedih ya, anak laki laki ayah yang lainnya pasti bisa lebih membanggakan ayah mereka akan mendampingi ayah dan meneruskan bisnis ayah." Yasir meyakinkan ayahnya agar tidak perlu khawatir.


"Kamu ini ngomong apa, kamu pasti pulih dan bisa berkumpul bersama kami lagi, kita kembali ke Kashmir jadi ayah bisa menjaga kalian semua." jawab Ayah.


Yasir hanya tersenyum .


Yasir merasa sangat lelah sekali, badannya tiba-tiba terasa lemas.


"Kamu kenapa nak?" tanya ayahnya


Kimberley yang mendengar suara ayah kemudian terbangun, melihat Yasir sudah tersadar dan berkeringat di ruangan ber-AC.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" Kimberley mengusap keringat dingin Yasir.


"Minum dulu nak " Ayah menawarkan segelas air putih pada Yasir.


Kimberley membantu Yasir untuk minum.


"Kim... Kak Aqib , Jevaro dan Rose kemana?" tanya Yasir sambil melihat sekeliling ruangan.


Kimberley mengeryitkan dahi berpikir, "Sejak kapan Yasir mencari dan peduli dengan kehadiran Jevaro.".


..................................................


(Di ruang Instalasi Gawat Darurat)


"Yasir!...jangan tinggalkan kakak" jerit Aqib.


"Kak Aqib!" Rose menghampiri Aqib.


"Rose ...adikku ...adikku..." Aqib seperti kebingungan.


Azlan kemudian menghampiri Aqib, melihat kakaknya datang Aqib langsung bercerita serius dengan wajah sedih, Azlan terlihat terkejut dan menyimak cerita Aqib dengan serius mereka terlibat pembicaraan yang terlihat seperti sesuatu hal yang masih dirahasiakan dan kemudian mereka berdua pun tertunduk menangis.


Rose dan Jevaro saling berpandangan melihat dua bersaudara saling menangis, sayangnya mereka tidak tahu apa yang dikatakan Aqib pada kakaknya karena Aqib dan kakaknya berbicara menggunakan bahasa urdu.


Dering ponsel Rose memecahkan suasana, "Iya hallo Kim ada apa? kenapa? oke oke kami ke sana sekarang" Rose menutup telepon dari Kimberley.


Rose sempat terdiam sejenak perasaannya tidak enak, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.


Semua yang ada disitu baik Jevaro, Aqib dan Azlan menatap Rose cemas.


"Ada apa Rose? Kimberley bilang apa?" desak Jevaro.


"Yasir mencari kita semua, ada yang ingin ia sampaikan pada kita" nada suara Rose semakin rendah perasaannya semakin tidak karuan.


Aqib langsung menghembuskan nafas dan kembali merebahkan diri, Azlan hanya tertunduk lemas.


"Yasir juga mencariku?"Jevaro mencoba meyakinkan diri.


"Sepertinya tidak mungkin karena aku bagi Yasir adalah penghalang terbesar dirinya dengan Kimberley." batin Jevaro.


"Terutama kamu dan kak Aqib Yasir ingin bicara empat mata kata Kimberley." jawab Rose.


Tanpa diduga Aqib turun dari ranjangnya dan berlari keluar.


"Aqib wait!' teriak Azlan.


Kemudian Azlan, Jevaro dan Rose pun mengikuti Aqib.


.....................................................


Brak!...


Bunyi pintu dibanting.


Kimberley dan ayah langsung menoleh ke arah pintu.


"Yasir!" terlihat Aqib tergopoh-gopoh memasuki ruangan.


Yasir pun melihat Aqib, di bibirnya tersungging sebuah senyuman.


"Yasir ada apa? kamu butuh bantuan kakak? apa yang sakit? bilang sama kakak sayang nanti kakak akan tanyakan pada dokter obatnya, apakah ada yang nyeri atau pusing? " berbagai pertanyaan diajukan Aqib pada adiknya.


Yasir masih dengan senyumnya kemudian menoleh ke arah Kimberley.


"Kim...ayah ...maaf bisa tinggalkan kami berdua?" ucap Yasir.


Kimberley sebenarnya ingin protes ia ingin tetap berada di dekat Yasir tapi tatapan mata Aqib mengisyaratkan agar ia menuruti perintah Yasir.


Kimberley dan ayah pun meninggalkan mereka berdua.


Melihat Kimberley dan ayah keluar, Rose menghampiri Kimberley.


'Kim ada apa?" tanya Rose.


"Yasir baik-baik saja kan?" Rose mencoba mengabaikan firasat buruknya.


Kimberley melihat kak Azlan yang seperti orang kehilangan harapan duduk sambil kepala tertunduk dan kedua tangan mencengkeram rambutnya.


Kemudian Kimberley mencoba menghampiri Azlan untuk memberinya pengertian bahwa adiknya dalam kondisi baik.


"Kak Azlan jangan khawatir, Yasir baik kok dia sudah sadar dan sekarang lagi ngobrol dengan kak Aqib, kakak jangan sedih ya" hibur Kimberley.


Tetapi Azlan justru semakin menangis.


"Andai kamu tahu Kim apa yang terjadi dengan Yasir" batin Azlan.


Kimberley hanya bisa terdiam dan menunggu kak Azlan berhenti menangis.


..................................................


"Yasir.." Aqib menggenggam tangan adiknya erat


"Duduklah kak" Yasir menerawang ke langit-langit kamar.


"Maafkan Yasir kak" ucap Yasir lirih.


"Tidak Yasir, kakak yang seharusnya minta maaf mungkin jika malam itu---"


"Jangan menyalahkan takdir kak, ini semua sudah jalan aku, ada tidaknya kejadian itu semua ini pasti terjadi." ucap lirih Yasir.


"Tidak Yasir ini salah kakak, tidak seharusnya kakak melukai hatimu" Aqib kembali menangis dan semakin menggenggam erat tangan adiknya.


"Kakak berjanji kakak akan melupakan perasaan kakak itu.Kimberley milikmu dan selamanya ia akan jadi milikmu." sahut Aqib.


Yasir hanya tersenyum tawar.


"Kita berdua tidak ditakdirkan memiliki Kimberley." mata Yasir menerawang jauh.


Aqib menatap dalam Yasir.


"Percayalah kak, kelak kakak akan menemukan pengganti kak Reva, tapi dia bukanlah Kimberley. Bila kakak merasa saat ini memiliki perasaan khusus pada Kimberley itu hanya karena akhir-akhir ini Kimberley lah wanita satu satunya yang kakak kenal dan dekat sehari-hari, tapi percayalah kak Kimberley bukanlah wanita yang kakak butuhkan." jelas Yasir.


"Iya kamu benar, hanya karena sering bersama, kakak salah mengartikan perasaan kakak,maafkan kakak " sahut Aqib lirih.


Yasir mengangguk perlahan.


"Kak bila nanti aku pergi, aku harap kakak ikhlas Kimberley menikah dengan takdir cintanya." ucap Yasir.


"Tidak Yasir jangan bicara seperti itu, kamulah yang berhak dan kamulah takdir cinta Kimberley" seru Aqib.


Yasir tersenyum tipis.


"Seperti yang kubilang tadi, kita berdua bukanlah takdir cinta Kimberley, tetapi seseorang yang selalu ada disampingnya disaat ia bersedih dan mampu membuatnya kembali tersenyum, dialah takdir cinta Kimberley." jelas Yasir.


"Kak berjanjilah, bahagiakan dan temani lah ayah, biarkan ayah bangga memiliki anak-anak yang bisa melanjutkan dan membesarkan bisnisnya." harap Yasir


Aqib mengangguk tanda ia berjanji.


"Tahu kah kak, kakak adalah kakak idola aku, terima kasih selama ini selalu menjadi pahlawan aku. Sejak kecil kita selalu bersama." Yasir tersenyum sambil membalas genggaman tangan kakaknya.


Aqib hanya mengangguk, "Kita akan selalu bersama membanggakan Ayah "


Yasir hanya tersenyum gamang.


"Bisa minta tolong panggilkan Rose, Kimberley dan Jevaro kak" pinta Yasir sambil memegang dadanya dan menahan rasa nyeri di dadanya.


"Baiklah, tunggu ya" kemudian Aqib keluar dan memanggil Jevaro, Kimberley dan Rose.


Kemudian mereka bertiga pun masuk menemui Yasir dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.


"Hai Yasir bagaimana keadaan mu?" tanya Jevaro


"Haii Je, terima kasih ya kamu selalu datang menjenguk ku dan mendampingi Kimberley." ucap Yasir lirih tenaganya terasa mulai berkurang lemas.


Jevaro bingung ada apa ini kenapa Yasir jadi baik banget yang biasa selalu pasang gigi taring bila ia berdekatan dengan Kimberley sekarang melunak seperti bayi.


"Sayang...aku minta maaf gak bisa memenuhi janji aku " Yasir terdiam sambil memegang kembali dadanya, menahan sakit di dadanya, nyeri yang begitu menyayat ia rasakan saat ini.


"Sayang sudahlah jangan banyak omong dulu, kesehatan mu adalah yang utama saat ini" ucap Kimberley.


"Tidak sayang aku rasa saat ini adalah saat yang paling tepat untuk memberitahumu, karena waktu aku tidak banyak lagi." jelas Yasir.


"Rose .. jaga Kimberley oke, pastikan dia akan selalu bahagia.' himbau Yasir kepada Rose.


Rose pun mengangguk sedih, perasaannya semakin tidak enak


Yasir meraih tangan Kimberley dan Jevaro lalu menyatukan kedua tangan mereka "Je aku titipkan Kimberley ku padamu, aku yakin hanya kamulah yang bisa membuatnya bahagia. Jagalah dirinya dan bahagiakan lah dia, aku yakin dan percaya kamu mampu membuat Kimberley tersenyum bahagia."


Kimberley bingung kenapa Yasir bicara seperti itu.


"Tidak Yasir ...tidak...kamu ini ngomong apa! aku gak suka!" protes Kimberley sambil menangis.


"Kim waktu aku tidak banyak, aku bisa merasakan itu. Terimalah kenyataan, takdir cintamu sesungguhnya adalah Jevaro, bahagia lah bersamanya aku yakin Jevaro mampu membuat mu bahagia." jelas Yasir sambil tersenyum.


'Tidak Yasir kamu sudah janji padaku, sebentar lagi setelah kamu keluar dari Rumah Sakit kita akan menikah, kamu masih ingat kan" seru Kimberley.


Yasir kembali tersenyum.


"Terkadang manusia berencana, tetapi Tuhanlah yang menentukan takdir kita." ucap lirih Yasir.


"Aku akan selalu bersama kalian, percayalah " lirih Yasir meyakinkan Kimberley.


Yasir menyentuh wajah Kimberley dan berusaha menghapus air matanya."Aku sangat mencintaimu Kimberley Ryan, bila kita tidak bisa bersatu di kehidupan ini, aku janji di kehidupan berikutnya, aku adalah orang pertama yang akan mencarimu dan kita akan kembali bersama selamanya."


Yasir kembali terbatuk batuk dan Kimberley pun dengan sigapnya mengambil gelas di sampingnya dan memberikan pada Yasir.


"Jangan banyak bicara dulu sayang, istirahatlah percayalah kamu pasti pulih dan kita akan tetap selalu bersama " pinta Kimberley.


Yasir lalu mengambil gelas tersebut.


"Yasir ! darah!" seru Jevaro dan Rose bersamaan.


Kimberley kemudian menyadari ada darah di gelas yang dipegang Yasir.


Sekali lagi ia terbatuk dan menyemprot lah darah segar dari mulut Yasir.


Pyarrr.....gelas yang dipegang Yasir jatuh dan pecah.


Kimberley sontak menjerit terkejut. Dan kembali Yasir kejang dengan mulut mengeluarkan darah.


Kimberley berteriak histeris memanggil manggil nama Yasir sambil berusaha memeluk Yasir, menahan tubuh Yasir yang bergerak tak beraturan. Jevaro berlari keluar mencari bantuan, sedangkan Rose mencoba menekan tombol darurat Rumah Sakit.


Bunyi mesin pengukur detak jantung Yasir berbunyi sangat keras, grafik penunjuk aktivitas jantung bergerak tidak beraturan dan makin lama makin melemah.


Kimberley yang menyadari ada bunyi yang berbeda dari mesin tersebut dan bersamaan dengan itu semakin berkurangnya kejang yang menyerang Yasir tadi.


"Oh tidak Yasir ...tidak ...kamu harus tetap sadar ... come on Yasir kamu bisa! kamu kuat! i love you .." ucap Kimberley di telinga Yasir.


Rose hanya bisa diam terpaku, melihat grafik penunjuk detak jantung Yasir makin lama makin lemah


Kemudian datanglah dokter dan perawat. Mereka langsung mengambil alih penanganan.


"Maaf bisa tunggu diluar dulu ya biar dokter yang menangani" perintah perawat.


Kimberley masih tetap tak bergeming, melihat Yasir diberi pertolongan dengan mesin kejut jantung. Badannya terasa begitu lemas melihatnya.Hanya airnata lah saat ini yang mengucur dengan derasnya tak mampu lagi ia berkata kata.


Jevaro kemudian merangkul Kimberley dan menuntunnya keluar ruangan.


Diluar Aqib, Azlan dan ayah terlihat terduduk lemas dan tak hentinya menangis, wajah wajah tegang, cemas dan pasrah berharap yang terbaik untuk Yasir menghiasi wajah mereka.


"Aku mau di dalam Aro, aku mau menemani Yasir " lirih Kimberley diantara tangisannya.


"Kim sabar ya dokter masih berusaha yang terbaik buat Yasir. Kita tunggu disini dulu ya kita berdoa bersama agar Yasir kuat dan mampu melalui ini semua." hibur Jevaro


Semua hening menunggu kabar dari dokter, hanya terdengar sesekali Isak tangis.


"Keluarga Yasir!" panggil dokter.


Semua memandang ke arah dokter tak terkecuali Kimberley tetapi entah kenapa kakinya tak mampu berdiri


Aqib akhirnya yang menemui dokter, kak Azlan terlihat tegang sambil memeluk ayah .


Perlahan Aqib menghampiri dokter Wahyu.


Entah apa yang disampaikan dokter pada Aqib tapi melihat gerak gerik sang dokter dan Aqib, yang langsung tertunduk dan menangis, sambil ditepuk tepuk punggung Aqib oleh sang dokter Kimberley sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi.


Tiba-tiba pandangan nya gelap hanya terdengar suara Jevaro samar "Kim...Kimmy!'.


.....................................................


Tunggu kelanjutannya ya ...


Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya untuk menguatkan Kimberley.


Happy Reading 🌹🌹🌹