
Disela-sela kesibukannya entah kenapa tiba-tiba Jevaro teringat Kimberley.
Entah sejak kapan ia merasa perasaannya semakin nyata dan kuat terhadap Kimberley.
Sejak pertemuan tak terduganya
di Cafe Cinamon waktu itu ada perasaan sedih luar biasa melihat Kimberley menangis dan hancur seperti itu.
Pada saat itu sekuat hati Jevaro untuk mencoba tidak peduli pada keadaan Kimberley tapi apa yang terjadi kakinya justru membawanya melangkah menghampirinya dan menyodorkan sapu tangan padanya.
Entah kekuatan apa yang membuat dirinya peduli dengan keadaan Kimberley, "Andai saat itu aku tidak peduli padanya dan pulang, mungkin perasaan ini tidak akan muncul" duga Jevaro dalam hati.
Tapi yang namanya perasaan tidak ada seorangpun yang tahu kapan datang dan kapan pergi.
Jevaro percaya dengan siapapun dia dipertemukan, pertemuan itu pasti mempunyai tujuan tersendiri dalam hidupnya.
Baik atau buruk hubungan itu nantinya semua ada tujuannya entah untuk mendewasakannya, pembelajaran hidup atau memang dia dihadirkan untuk kebahagiaannya.
"Kim, sedang apa kamu disana? pernahkah dirimu mengingatku walau sedetik?" rindu yang sangat hebat kini sedang menyerang hati Jevaro.
..........~~~~~................
Jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit tapi udara dingin masih terasa menusuk.
Kimberley membuka jendela kamarnya, tampak salju masih menutupi seluruh halaman rumah Yasir.
"Hmm aku merindukan panas sinar matahari pagi..., " gumam Kimberley.
Hari ini hari terakhir Kimberley berada di Kashmir, selesai sudah liburan indah seminggu ini, nanti sore mereka sudah mulai perjalanan pulang ke Indonesia.
"Roseee aku pulang" teriak Kimberley di beranda atas sambil tersenyum lebar
"Coba aku telepon Rose tanya keadaan kantor bagaimana" kemudian Kimberley menelpon Rose.
"Hmm kok gak diangkat?kemana nih sih Rose ini kan masih jam kantor" batin Kimberley
"Hallo...apa kabar Kim?" terdengar suara seseorang di seberang.
"Lho kok suara cowok? seperti suara---" kimberley melihat ke arah layar telepon nya untuk memastikan dan mengamati tulisan di layar dan terbaca nama Jevaro tertera di situ.
"OMG..aku salah teken nomer" Kimberley terkejut sambil menutup matanya malu.
"Bagaimana ini? niat menelepon Rose kok jadi Jevaro" gerutu Kimberley malu.
"Hallo.. kamu baik-baik saja kan?" tanya Jevaro bingung kenapa tidak ada jawaban dari Kimberley.
Jevaro tidak menyangka akan mendapat telepon dari Kimberley. "Apakah ia juga merindukanku?" tanya batin Jevaro.
"Oh hai Aro pa kabar?'" sahut Kimberley akhirnya.
"Haii aku baik Kim, kamu? sudah pulang liburan ya?" tanya Jevaro lebih lanjut.
"Aku juga baik, belum nanti sore baru balik" jawab singkat Kimberley.
"Oh ... ini masih di?---" sengaja Jevaro tidak melanjutkan
"Iya masih di rumah Yasir, ini juga baru bangun" jelas Kimberley.
"Selamat pagi ya Kim, pasti sedang musim salju di sana?" Jevaro mencoba menebak.
"Iya beberapa hari ini turun salju terus nih, kamu----" belum sempat Kimberley meneruskan kalimatnya bunyi pintu kamar diketuk .
"Oh Aro sudah dulu ya nanti aku telepon lagi kalau aku sudah di Surabaya, jaga diri baik-baik ya" Kimberley mengakhiri hubungan teleponnya dengan Jevaro.
"Oh oke kamu jaga diri juga ya, hei Kim...terima kasih kamu sudah meneleponku" sahut Jevaro sebelum hubungan telepon berakhir.
"Iya sama-sama Aro" putus sudah hubungan telepon antara Jevaro dan Kimberley.
"Iya sebentar" Kimberley berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya.
"Morning dear, sarapan yuk" ajak Yasir.
"Aku susul ya mau cuci muka dulu" Kimberley berusaha tersenyum senatural mungkin kuatir Yasir mengetahui telepon salah sasaran tadi.
"Okay aku tunggu ya, gak pakai lama lho" Yasir mencium kening Kimberley dan berlalu dari hadapannya.
Kimberley hanya mengangguk dan menutup pintu kembali.
"Uff lega rasanya, kalau Yasir tahu aku menelepon Jevaro habis nih, bisa panjang kali lebar mendengar omelan dan tuduhan tuduhan tidak beralasan." batin Kimberley.
"Kok bisa sih Kim, niat telepon Rose kok nyasarnya ke Jevaro." gerutu Kimberley pada dirinya sendiri.
"Bodoh bodoh bodoh" Kimberley menyalahkan dirinya berulang ulang.
Kimberley lalu mencuci mukanya dan merapikan diri terlebih dahulu baru kemudian menyusul Yasir sarapan.
Setelah semua dirasa rapi Kimberley memeriksa kamar dan hendak menutup jendela agar udara dingin tidak menerobos masuk.
Saat akan menutup jendela, Kimberley melihat Aqib sedang termenung di beranda atas.
"Kak Aqib?sedang apa dia" Kimberley kemudian menyusul Kak Aqib ke beranda.
Tampak Aqib duduk sambil memeluk kedua kakinya menatap kosong ke depan.
Perlahan lahan Kimberley menghampiri Aqib, Kimberley memberanikan diri untuk menyentuh pundaknya.
"Kak Aqib" panggil Kimberley lirih
Aqib menoleh ke arah Kimberley, betapa terkejutnya Kimberley mendapati Aqib meneteskan air mata.
"Kakak kenapa?" Kimberley spontan menghapus air mata Aqib.
"Boleh aku pinjam bahumu sebentar" ijin Aqib.
Kimberley mengangguk pelan
Aqib meletakkan kepalanya di bahu Kimberley dan menangis.
Kimberley kebingungan ada apa dengan Aqib ia hanya bisa mengusap lembut Aqib untuk memberinya kekuatan.
Beberapa menit berlalu Aqib mulai bisa mengontrol dirinya.
"Maaf aku merepotkanmu " sambil menghapus sisa-sisa air matanya.
"Tidak apa-apa kak" jawab Kimberley.
"Kakak kangen kak Reva ya?" Kimberley memberanikan diri bertanya.
"Iya"sahut lirih Aqib
Kimberley duduk di sebelah Aqib merangkul kedua kakinya, meletakkan dagunya di lututnya dan memandang jauh ke depan.
"Terkadang adakalanya kita kuat, tapi ada kalanya juga, perasaan yang berusaha kita simpan rapat rapat, berontak untuk keluar saat kita merindukan seseorang." ucap Kimberley lirih.
"Kamu benar Kim"
Aqib menghela nafas panjang.
"Yuk kita masuk,Yasir pasti bingung mencarimu" ajak Aqib.
"Nih kak," Kim menyodorkan tissue pada Aqib.
"Terima kasih ya, Yasir sangat beruntung memilikimu" Aqib tersenyum sambil mengusap rambut Kimberley.
Akhirnya mereka berdua meninggalkan beranda dan menuju ruang makan.
Yasir sudah kebingungan mencari Kimberley kemana mana.
Yasir mencari di kamar, tapi Kimberley tidak ada di kamar.
Lanjut Yasir mencari Kimberley ke perkebunan juga tidak ada.
Akhirnya ia kembali ke rumah .
"Kamu mencari kekasihmu?" tanya Leila adik Yasir.
"Iya kamu melihatnya?" tanya Yasir antusias.
"Ada tuh di ruang makan" jawab Leila terus berlalu.
"Apaa di ruang makan?" Yasir pun langsung berlari menuju ruang makan.
Di sana ia melihat Kimberley dan Kak Aqib serta kedua orang tua nya sudah berkumpul dan siap untuk sarapan.
Melihat Yasir datang ayah memanggilnya "Heii nak ayo sini kita makan bersama."
Semua menoleh ke arah Yasir tak terkecuali Aqib dan Kimberley.
"Hei bro yuk kita makan kasihan kekasihmu pasti sudah lapar." ajak Aqib pada Yasir sambil melirik Kimberley.
Yasir menghampiri Kimberley"Ikut aku!"
Yasir menarik tangan Kimberley paksa untuk mengikutinya.
Aqib yang melihatnya merasa bersalah kemudian ia pamit ke orang tuanya untuk mengikuti mereka .
Ayah Yasir menggeleng gelengkan kepalanya"Dasar anak muda jaman sekarang" sambil tersenyum.
"Kamu kemana saja, aku cari kamu kemana mana tidak ada bahkan aku mencarimu ke perkebunan tapi tetap tidak menemukanmu aku kuatir tahu" desak Yasir
"Kimberley bersamaku, maaf aku tidak memberitahumu." sahut Aqib membela Kimberley
Kedua alis Yasir bertemu sambil memandang Kimberley dan Aqib bergantian.
"Iya tadi Kimberley mau menemuimu tapi ia melihat kakak di beranda atas lantas ia menemuiku." jelas Aqib.
"Maaf sudah membuat kamu kebingungan mencari kekasihmu" pinta Aqib.
"Tidak apa-apa kak cuman kuatir saja aku cari kemana mana tidak ada'" gerutu Yasir sambil melirik Kimberley.
"Okay yuk kita makan, lain kali kamu mau kemana beritahu aku
ya" sambil mengacak acak rambut Kimberley dan merangkulnya.
Kimberley hanya mengangguk pasrah.
"Untung kak Aqib datang dan menjelaskan pada Yasir gak mungkin juga aku bila ke Yasir aku ke beranda karena melihat kak Aqib bersedih." batin Kimberley.
Karena Kimberley tahu pasti kenapa Kak Aqib memilih beranda atas untuk mencurahkan perasaan sedih dan kangennya pada kak Reva, itu karena kak Aqib tidak ingin orang lain tahu perasaan dia sesungguhnya.
Aqib tidak bedanya dengan yang lainnya punya sisi lemah dan cerita sedih dalam hidupnya yang tidak ingin orang lain mengetahuinya.
Dibalik sikap tenang dan cueknya ternyata kak Aqib menyimpan perasaan sedih dan kerinduan yang sangat dalam di hatinya dan berusaha mengunci rapat-rapat.
Saat Kimberley melewati Aqib, Kimberley tersenyum pada Aqib dengan sorot mata menyampaikan rasa terima kasih telah membantunya menjelaskan pada Yasir.
Aqib pun membalas dengan anggukan samar dan tersenyum.
Akhirnya mereka bertiga pun berjalan menuju ruang makan, disana telah berkumpul ibu ayah dan Leila yang sudah kembali dari toko, maka pagi ini Kimberley kembali sarapan bersama dengan keluarga Yasir.
Mereka ngobrol bermacam macam topik sambil sarapan.
Kehangatan dan keramahan keluarga Yasir sangatlah membuat Kimberley betah dan merasa berada di keluarga sendiri .
Kimberley sungguh menikmati tiap momen kebersamaan bersama keluarga Yasir. karena ini sarapan terakhir dirinya di rumah Yasir.
Betapa bahagianya bisa menjadi bagian dari keluarga yang penuh kehangatan ini.
Setelah sarapan bersama Kimberley kembali ke kamar untuk persiapan balik ke Indonesia.
Begitu pula Yasir juga sibuk menyiapkan oleh-oleh untuk Rose dan teman-teman syuting nya.
Tapi Aqib tidak ikut kembali ke Indonesia karena banyak tanggung jawab pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Tiba-tiba telepon genggam Kimberley berdering.
Kimberley meraihnya dan tertera disana nama Rose.
"Hallo Rose" sapa Kimberley
"Haii..., Kim kamu jadi balik hari ini kan?" tanya Rose
"Iya ini lagi packing" jawab Kimberley disela-sela kesibukannya packing.
"Oke kalau begitu sampai ketemu di rumah ya" Rose mengakhiri teleponnya.
Kimberley hanya melongo dengan telepon dari Rose yang tiba-tiba kemudian selesai dengan begitu singkatnya.
"Sudahlah sebentar lagi kami berkumpul lagi" batin Kimberley dalam hati.
Kemudian Kimberley meneruskan membereskan segala sesuatunya yang akan dibawanya pulang ke Indonesia.
.............~~~~............
"Yes persiapan pesta kejutan menyambut kedatangan Kimberley sudah hampir selesai" batin Rose membayangkan betapa bahagianya Kimberley nantinya.
"Ibu bagaimana? siap kan dengan hidangan istimewa buat besok" tanya Rose memastikan persiapan konsumsi untuk pesta besok.
"Siap dong untuk menyambut Putri dan Pangeran yang akan datang" jawab ibu yang disambut gelak tawa bersama Rose sambil berpelukan.
..........🌹🌹🌹🌹🌹🌹..............
Tunggu kelanjutannya ya..
Jangan lupa like komen dan jadikan favorit agar tidak tertinggal up. 🙏😀
Terima kasih buat sahabat aku M.A.M yang telah memberikan inspirasi liburan ke India-Kashmir.
Salam hangat selalu.
🌹 eveliniq 🌹