Feng May Series: Fu TianYu Story

Feng May Series: Fu TianYu Story
Pertandingan 2



Karena kejadian tersebut banyak yang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, bahkan ada beberapa yang berkoar-koar kalau Feng May melakukan kecurangan. Namun suara mereka berhenti karena tatapan tajam dari wasit.


Musuh Feng May nampak tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


“Apa?! Senjata spiritual yang ku beli dengan harga mahal justru dirusak oleh wanita ini dengan tangan kosong!” Gumamnya dalam hati.


“Heh kau pikir aku tidak memiliki senjata lain hah!! Lihatlah aku akan meremukkan tubuh kecil mu itu!” ucapnya dengan sombong.


Feng May bergerak cepat dan kemudian memukul orang itu sampai terlempar dan menabrak pembatas yang dibuat.


“Apa gadis ini masih dapat melukai ku bahkan setelah aku menggunakan senjata pelindung ku!” batinnya.


“Aku tidak bertemu manusia tapi monster iblis berwujud manusia!” batinnya lagi.


“Wasit ... Wasit aku menyerah!!” teriaknya.


Feng May pun menghentikan serangan terakhirnya tepat didepan wajah lawannya yang sudah berkeringat dingin itu. Setelahnya Feng May berjalan dengan cool turun dari arena pertarungan.


“Selamat kau berhasil mengalahkan orang itu!” sorakan dari teman-teman Feng May yang satu perguruan. Feng May sendiri hanya menanggapinya dengan senyuman manis dibibirnya.


“Ah bagaimana ini sepertinya aku jatuh cinta pada wanita manis itu!” ucap seorang murid dari perguruan lain sambil memegangi dadanya.


Temannya menggeplak kepalanya dengan keras. “Jangan mimpi!” ucap temannya ketus.


Dia hanya mendengus saja mendengar perkataan temannya itu.


Diarena lain ketua dari kelompok perguruan puncak rintik tengah berhadapan dengan ahli formasi. Seperti yang diketahui bahwa ahli formasi lebih hebat dari ahli bela diri karena mereka tidak menyerang langsung melainkan menggunakan formasi yang mereka ciptakan dengan menggunakan Qi. Namun kelemahan ahli formasi terletak pada kecepatannya dan juga kepandaiannya dalam mengendalikan formasi yang dibuatnya.


Feng May memperhatikan dengan seksama pertandingan tersebut, ia sendiri penasaran bagaimana melawan ahli formasi dan juga bagaimana jika ahli formasi melawan ahli formasi lainnya. Dia memandang bagaimana ahli formasi tersebut mengoperasikan formasi buatannya dan bagaimana dia menyerang lawannya dengan formasi tersebut.


“Sepertinya ahli formasi ini hanya dapat menggunakan formasi tingkat 3 yang paling tinggi, dan dia juga hanya mampu mengoperasikan 1 buah formasi,” gumam Feng May dalam hati.


Diatas arena pertandingan ...


“Seorang ahli formasi memang hebat mereka tidak akan kehabisan tenaga meskipun menggunakan formasi yang berbeda-beda! Aku harus menyerang pengendali formasi tersebut dan segera menyelesaikan pertarungan ini!” gumamnya dalam hati.


Dia kembali menyerang dan kali ini tujuannya adalah sang pengendali formasi.


“Cih dasar tidak tahu diri!” umpatnya.


Dia menggunakan formasi level 3 miliknya dan menyerang lawannya kemudian ia segera melemparkan orang tersebut. Merasa sama sekali tidak ada kesempatan menang akhirnya dia pun mengaku kalah.


“Tetua maaf aku kalah kali ini kita hanya bisa berharap kepada adik Feng May dan adik Jiang Nan,” ucapnya dengan kepala tertunduk.


“Tidak masalah kau sudah berusaha!” ucapnya memberi semangat.


“Benar ketua setidaknya kau sudah berusaha dengan semaksimal mungkin! Itu sudah suatu kebanggaan karena kau bisa mengasah kemampuan mu lagi agar jauh lebih baik untuk kedepannya!” ucap Feng May.


“Terima kasih! Kalian berdua semangat lah dan berusaha semaksimal mungkin tapi jangan terlalu memaksakan diri!” ucapnya dan diangguki oleh Feng May dan Jiang Nan.


“Lawan Jiang Nan cukup sulit!” ucap ketua murid dalam perguruan puncak rintik.


Feng May menepuk pundaknya dan tersenyum.


“Kita percayakan padanya! Jika dia menang maka kemampuannya meningkat dan dia bisa menjadi harapan untuk kebangkitan perguruan puncak rintik! Jika kalah setidaknya dia mampu bertanding beberapa jurus dengan seseorang yang masuk peringkat ke-150 dipapan peringkat kan. Itu termasuk bisa dibanggakan!” ucap Feng May.


“Benar ketua apa yang dikatakan oleh adik Feng May! Kita harus percaya pada senior Jiang Nan!” ucap yang lainnya.


Kemudian mereka memberikan semangat kepada Jiang Nan yang masih bertarung dengan musuhnya. Jiang Nan senang mendengar ucapan semangat dari teman-temannya dan ketua murid dalam juga tetua menaruh kepercayaan dan harapan padanya.


“Sepertinya mereka berfikir kau akan menang! Namun sayang sekali perguruan terbelakang kalian tidak akan pernah mencapai papan peringkat akademi! Kalian hanya murid dari perguruan terbelakang akademi Langit!” ucapnya sambil melancarkan serangan kepada Jiang Nan.


“Ucapan mu aku kembalikan lagi! Perguruan puncak rintik adalah perguruan yang dapat berkembang sampai kepuncak!” ucap Jiang Nan.


Jiang Nan menggunakan jurus segel Budha untuk mengalahkan musuhnya. Melihat hal itu musuhnya malah meremehkannya.


“Heh apa ini adalah jurus andalan mu!” ucapnya sambil menatap remeh.


“Kau akan tahu jika sudah menghadapi jurus ku!” ucap Jiang Nan.


Dan akhirnya pemenang pertarungan tersebut adalah Jiang Nan, akhirnya dia pun tidak mengecewakan harapan dari semua murid perguruan puncak rintik. Dia turun dengan senyum bangga kepada semua teman-temannya.


“Ahhh selamat senior Jiang kau akhirnya berhasil mengalahkan orang sombong itu!” ucap temannya sambil merangkul pundak Jiang Nan.


“Yah aku juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan kalian pada ku! Aku sama sekali tidak akan mengecewakan kalian!” ucapnya.


“Iya benar! Junior Feng May tadi juga meyakinkan ketua dan tetua untuk percaya pada mu san mengapresiasi apapun hasil yang kau dapatkan!” ucap temannya yang lain


“Emm terima kasih junior Feng May!” ucapnya dengan tulus.


“Tidak masalah! Aku hanya ingin semuanya saling mendukung dan tidak saling menyalahkan satu sama lain. Aku juga tidak suka jika usaha seseorang tidak diapresiasi dengan baik hanya karena hasilnya tidak sama dengan harapan!” ucap Feng May.


“Heh lihat ini perguruan terbelakang ini! Apa yang kalian banggakan hah?!! Apa hanya karena satu orang kalian mengalahkan orang dari peringkat 150 hah itu hanya sebuah keberuntungan!” teriaknya.


“Siapa orang itu?” tanya Feng May pada Jiang Nan dan ketua murid dalam perguruan puncak rintik.


“Dia adalah salah satu murid dari perguruan Laut biru!” jawab Jiang Nan dan Feng May manggut-manggut mengerti.


Feng May menghentikan murid dari perguruan puncak rintik yang ingin membalas ucapan orang itu. Dia mengajak mereka berbicara dan bercanda, dan hal itu berhasil menyulut emosi dari murid perguruan Laut biru.


“Hey apa kalian ini sama sekali tidak punya sopan hah?!!” teriaknya emosi.


“Kakak murid dari perguruan itu kan memang bukan golongan bangsawan jadi ya sama sekali tidak punya sopan santun!” ucap yang lain.


“Ah aku juga tidak pernah dengar bahwa seorang bangsawan yang diajari tata krama bisa berucap tanpa menggunakan otaknya lebih dulu!” balas Feng May membuat banya orang yang mendengarnya terkikik.