
"Itu pasti karena kau masih sangat lemah! Kau bisa kembali dengan selamat tanpa luka saja sudah aneh apalagi jika kau bisa membuat kontrak dengan hewan level 1 sekalipun," ucap Zou Jing.
"Mulut mu ini minta dijahit ya," ucap Feng Gu.
Feng May hanya menatap ke-dua kakaknya dengan tatapan aneh.
"Sepertinya kakak-kakak tampan ku tambah aneh sejak aku pergi keluar," batin Feng May sambil tetap menatap perdebatan ke-dua kakaknya.
"May'er apa kau baik-baik saja! Kemari biar bibi lihat apa kau ada luka atau tidak sepertinya kau hanya keluar sekitar 2 mingguan lebih 5 hari kenapa sudah sekurus ini hmm,"ucap bibi Zou.
"Bibi aku baik-baik saja. Aku hanya ingin istirahat saja hari ini," ucap Feng May sambil tersenyum menatap bibi Zou.
"Kalau begitu kemarilah bibi akan menyiapkan makanan untuk mu kau harus menambah berat badan mu lagi," ucap bibi Zou sambil menggiring Feng May kekamar yang sudah disiapkan untuk Feng May.
Sesampainya dikamar...
"Nah kau istirahatlah bibi akan memanggil mu jika sudah waktunya makan malam," ucap bibi Zou lembut kepada Feng May.
Feng May hanya menganggukkan kepalanya dan segera merebahkan dirinya saat bibi Zou sudah keluar dari kamarnya.
Feng May masuk kedalam ruang dimensi dan melihat bahwa Yu Tu dan Kui bersaudara tengah berlatih, akhirnya ia melangkah sendiri pergi keruang perpustakaan.
Didalam ruang perpustakaan...
Feng May mengelilingi setiap rak buku dan memperhatikan setiap buku jurus serta gulungan untuk menentukan atribut yang cocok untuknya.
Setelah beberapa saat Jie Yu turun dari pundak Feng May dan mengarahkan Feng May untuk mengikutinya. Feng May mengikuti langkah Jie Yu yang sepertinya akan menunjukkan sesuatu kepadanya.
"Ada apa Jie Yu kenapa membawaku kemari?" tanya Feng May setelah mereka berhenti disebuah rak yang berada dipaling pojok perpustakaan.
Jie Yu menunjuk sebuah gulungan dan juga sebuah buku yang sudah usang. Disamping buku itu terdapat buku milik Legendaris Feng May yaitu buku jurus Phoenix sejati.
"Apa maksudmu kau ingin aku membawa gulungan ini dan juga buku ini?" ucap Feng May sambil membawa sebuah buku dan gulungan dihadapan Jie Yu.
Jie Yu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang. Ekor mata Feng May menatap buku jurus Phoenix sejati yang sebenarnya adalah milik Legendaris Feng May yang telah menghilang.
Buku ini menghilang bersamaan dengan perginya jiwa Feng May kesurga( meninggal).
"Aku tidak tahu bahwa buku sang legendaris ada disini," gumam Feng May sambil meraih buku tersebut.
Feng May membukanya namun sama sekali tidak ada tulisan didalamnya.
"Kenapa sama sekali tidak ada tulisan atau petunjuk apapun bukankah ini adalah buku jurus," ucap Feng May bingung.
"Kakak May'er buku itu tidak berjodoh dengan mu sekalipun kau memegang takdir sebagai pemimpin Dewi," ucap Jie Yu menjawab pertanyaan dibenak Feng May.
"Apa hanya seseorang yang memiliki darah Phoenix sejati yang dapat mewarisi jurus dibuku ini?" tanya Feng May dan dijawab gelengan oleh Jie Yu.
Feng May mengerutkan keningnya melihat jawaban dari Jie Yu.
"Hanya keturunan murni dari sang ratu Feng May yang dapat mewarisi kekuatan didalam buku itu," ucap Jie Yu.
Dan Feng May hanya manggut-manggut menyahuti perkataan dari Jie Yu.
Didalam kamar (didalam ruang dimensi)...
Setelah itu Feng May langsung berlatih jurus tersebut. Jie Yu hanya memperhatikan saja dari samping.
"Kenapa aku tidak dapat melihat keturunan garis darah kakak ya bahkan takdirnya juga samar-samar terlihat yang aku lihat hanya takdir pemimpin Dewi. Tapi...," lamunan Jie Yu buyar kala Yu Tu masuk dan menepuk pundak Jie Yu.
Jie Yu menolehkan kepalanya dan melihat Yu Tu yang tengah mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya kenapa.
"Apa kau bisa melihat takdir dan garis darah kakak?" tanya Jie Yu.
Yu Yu mengerutkan keningnya dan kemudian memandang kearah Feng May dan Jie Yu bergantian.
"Aku awalnya mengira bahwa kakak adalah orang yang lemah dan tidak mungkin memiliki bakat apapun dan juga garis darahnya hanya biasa saja," ucap Yu Tu menjeda ucapannya.
"Aku melihat bahwa ia memiliki takdir jenderal wanita terkadang aku melihat takdir sang ratu padanya namun aku sama sekali tidak dapat mengetahui garis darah keturunan kakak," lanjutnya.
"Sekarang takdir apa yang kau lihat dalam diri kakak?" tanya Jie Yu.
"Aku melihat takdir kakak sebagai seorang biasa," ucap Yu Tu.
"Apa kau yakin? Aku justru melihat takdir pemimpin Dewi dalam diri kakak. Tapi aku tidak yakin," ucap Jie Yu.
"Entahlah! Kita sama sekali tidak dapat menebak takdir bahkan kita tidak tahu garis keturunan kakak sebelumnya," ucap Yu Tu.
"Hmm bagaimana kalau kita cari tahu saja diperpustakaan bukankah seharusnya ada buku yang menceritakan tentang garis darah keturunan dan juga takdir seseorang?" ucap Jie Yu yang langsung diangguki setuju oleh Yu Tu.
Kemudian mereka meninggalkan kamar Feng May dan membiarkan Feng May berlatih dengan tenang tanpa gangguan.
Diperpustakaan...
Yu Tu tengah mengambil sebuah buku dari rak paling atas yang menjelaskan tentang garis darah dewa, Dewi, bangsa kuno, hewan legenda, dan juga manusia.
Sedangkan disisi lain ada Jie Yu yang tengah mengambil buku-buku yang menjelaskan tentang takdir seseorang.
Setelah mengambil buku-buku tersebut mereka berdua duduk dilantai dengan buku disekelilingnya, Mereka ber-dua mulai membaca satu persatu buku yang dibawanya.
Tak jarang mereka saling bertukar buku kala tidak mengerti maksud dari ungkapan didalam buku tersebut.
"Yu Tu apa kau menemukan sesuatu?" tanya Jie Yu yang mulai jengah dan lelah membaca buku-buku disekelilingnya.
"Sama sekali tidak ada yang menjelaskan tentang kondisi yang sama seperti yang dialami oleh kakak," ucap Yu Tu.
"Lalu apa kita akan terus berjibaku dengan buku-buku ini?" tanya Jie Yu.
"Sebaiknya kita bereskan saja buku-buku ini kemudian menemui kakak," ucap Yu Tu.
"Tidak usah dibereskan kita langsung pergi saja! Kita bisa bereskan nanti besok atau kapan-kapan kalau ada waktu," Ucap Jie Yu.
Yu Tu mengangkat sebelah alisnya mendengar kata-kata Jie Yu.
"Kenapa kita harus membereskannya nanti kalau bisa sekarang?" tanya Yu Tu yang mulai menyusun buku-buku disekelilingnya.
"Yah kalau bisa dikerjakan nanti kenapa harus sekarang," jawab Jie Yu yang sebenarnya malas untuk membereskan buku-buku yang berserakan dilantai.
"Kalau kau malas pergilah menemui kakak lebih dulu dan katakan bahwa aku masih membereskan buku-buku diperpustakaan," Ucap Yu Tu.