
"Mari nona ikut saya kegedung serba guna," ajak wanita tersebut.
Feng May menganggukkan kepalanya dan melangkah mengikuti langkah wanita tersebut. Mereka berdua keluar dari gedung tes dan menuju gedung serba guna.
Didalam gedung serba guna...
"Kau lihat gedung ini berguna untuk pengambilan misi dan setiap misi yang diselesaikan dengan baik oleh siswa akademi akan mendapatkan nilai atau point yang dapat ditukarkan ditukar dengan buku atau gulungan jurus diperpustakaan atau mungkin dapat ditukarkan dengan senjata yang ada digudang senjata dan penempaan," ucap wanita itu.
"Lalu setiap misi memiliki nilai point yang berbeda-beda. Misi level C akan mendapatkan 50 poin jika individu dan akan mendapatkan sekitar 500 poin jika berkelompok. Misi level B akan mendapatkan 100 point untuk individu dan 1000 point untuk berkelompok. Dan misi level A akan mendapatkan point 150 untuk individu dan akan mendapatkan 1500 jika berkelompok," lanjut wanita itu menjelaskan.
Feng May menganggukkan kepalanya sambil melihat setiap misi yang ada didalam tempat misi tersebut. Ia berhenti saat menatap kearah papan nama yang ada disisi sebelah kanannya.
"Ini... papan apa?" tanyanya sambil menunjuk objek yang menjadi pusat perhatiannya.
"Ini adalah nama orang-orang yang menjadi buronan akademi Langit dan juga kekaisaran Langit," jawab wanita tersebut yang diangguki mengerti oleh Feng May.
Mereka terus berjalan sampai berhenti ditempat penerimaan murid baru dimasing-masing perguruan. Banyak orang yang menatap kearah Feng May dengan pandangan sinis.
"Kau ingin masuk kemana?" tanya gadis disebelah Feng May.
"Aku ingin masuk ke akademi puncak rintik," jawab Feng May.
Gadis itu mengernyit dahi. "Kenapa kau tidak bergabung dengan perguruan yang berada di no.1?" tanyanya.
"Terlalu banyak aturan! Aku tidak suka!" jawab Feng May sambil melangkah menuju pendaftaran perguruan puncak rintik.
"Aku ingin masuk kedalam perguruan ini!" ucap Feng May.
"Silahkan anda meletakkan sedikit kekuatan spiritual kedalam bola ini dan bola ini akan menunjukkan cahaya sesuai kemampuan fisik dan kekuatan spiritual mu nona," ucap murid senior dengan ramah.
"Gadis ini sangat cantik walau terlihat lemah dan wataknya sepertinya sangat dingin dan sulit didekati," batin senior tersebut.
Feng May mengarahkan tangannya dan sedikit memasukkan kekuatan spiritual kedalam bola yang ada dihadapannya.
Sring... Pertama muncul cahaya Oren namun bola tersebut belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan meredup.
"Cih hanya tingkat QI level 2 saja!" ucap wanita yang seharusnya menjadi pembimbing Feng May dengan sinis.
Sring... Cahayanya berubah menjadi warna merah dengan cepat, dan hal tersebut sontak membuat mata semua orang terbelalak kaget terutama gadis yang baru saja menghina Feng May.
"Warna apa dan tingkat berapa syarat agar aku diterima didalam perguruan ini?" tanya Feng May.
"Saat kau sudah berwarna Oren kau sudah boleh masuk kedalam perguruan puncak rintik nona," jawab senior.
Sring... Cahaya yang saat ini keluar adalah cahaya dengan warna hitam level 5 dan bola tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan meredup.
"Gadis ini memiliki bakat yang luar biasa namun ia malah memilih masuk kedalam perguruan sampah seperti puncak rintik itu," ucap salah seorang senior dari perguruan.
Krak.. Prang... Bola penguji pecah menjadi serpihan dan membuat tercengang seisi gedung bahkan senior yang baru kembali dari menjalankan misi pun terkejut.
"Luar biasa! baru kali ini perkiraan tetua salah akan gadis dihadapan ku ini," ucap gadis yang membimbing Feng May.
"Nona kau bisa diterima di perguruan tinggi samudera biru," teriak salah seorang senior.
Wanita yang sebelumnya menghina Feng May secara terang-terangan dengan tidak tahu malunya maju mendekati Feng May.
"Kalau kau ingin menjadi murid guruku kau akan langsung mendapatkan posisi tertinggi didalam akademi," ucap wanita tersebut sambil menyodorkan sebuah plakat kearah Feng May.
"Apa yang kau lakukan? Tadi saja ku menghinanya dan menatap sinis kearahnya! Sekarang kau dengan tidak tahu malunya merekrutnya!" teriak wanita disebelah Feng May.
"Nona Lu nona Feng sudah menentukan akan masuk ke perguruan puncak rintik," ucap senior.
Feng May memiringkan kepalanya sambil tersenyum sinis kearah wanita itu. Feng May mengambil plakat siswa yang disodorkan oleh wanita tersebut. Wanita tersenyum penuh kemenangan.
"Kalian lihat kan dia mengambil plakat yang kuberikan!" ucap wanita itu dengan sombong.
Namun semenit kemudian Feng May menghancurkan plakat yang ada ditangannya. Wanita itu terkejut dan wajahnya terlihat merah menahan amarah.
"Aku tidak sudi menjadi murid dari perguruan yang memiliki murid yang tidak tahu malu dan sopan santun!" ucap Feng May sambil berbalik dan mengambil plakat dari senior puncak rintik.
"Terima kasih senior!" ucap Feng May sambil tersenyum.
"Ah iya! Kun Jia akan mengantarkan anda berkeliling dipuncak rintik," ucap senior tersebut.
"Iya! terima kasih senior," ucap Feng May.
Feng May pergi menuju kearah perguruan puncak rintik bersama dengan senior yang telah ditunjuk sebagai pendampingnya.
Wanita yang mendampingi Feng May dari gedung tes sampai gedung serba guna menghampiri wanita yang menjadi murid perguruan samudera biru. Dia tersenyum sinis kearah wanita dihadapannya yang tengah menahan amarah karena perlakuan Feng May barusan.
"Kau lihatkan tidak semua murid baru didalam akademi Langit bisa sembarangan direbut oleh murid dari perguruan samudera biru kalian!" ucapnya sambil berjalan melewati wanita yang tengah geram tersebut.
"Kali ini aku mengampuni kalian namun aku tidak akan membuat hidup murid baru itu aman tenteram didalam akademi Langit ini! Dan untuk murid tetua itu aku akan membalasnya nanti!" gumamnya penuh dengan dendam.
***
"Cih! menjijikkan," batin Zou Jing yang melihat wajah licik nona Lu.
"Diamlah! Jangan bertindak gegabah! Tidak ada yang tahu bahwa Feng May adalah adik dari murid ketua akademi dan perguruan gunung barat!" bisik Feng Gu kepada Zou Jing yang terlihat geram akan kelakuan dari nona Lu tersebut.
"Aku tau tapi tetap saja wanita itu harus diberi pelajaran agar tidak sembarangan kepada May'er," bisik Zou Jing.
Ketua perguruan tinggi gunung barat, gunung timur dan juga ketua akademi melihat kearah Feng Gu dan Zou Jing yang tengah berbisik-bisik.
"Apa yang kalian bisikan itu?" tanya ketua perguruan gunung barat.
"Aku hanya tidak suka dengan sikap tidak tahu malunya nona Lu tersebut guru!" ucap Zou Jing ceplas-ceplos.
Feng Gu langsung menginjak kaki Zou Jing sampai membuat pemuda berteriak kesakitan.