
"Aku kesini hanya karena merasakan getaran dan itu yang menuntun ku untuk datang ketempat ini," jawab Feng May.
"Siapa yang menuntun mu datang kemari?" tanyanya masih dengan aura intimidasi.
"Aliran energi dan...," Feng May menjeda ucapannya sambil merogoh saku dan mengambil pisau Sura.
"Ini," ucap Feng May sambil mengangkat pisau Sura kehadapan naga hitam.
Naga hitam tersebut nampak membulatkan matanya, Ia terkejut dengan pisau yang ada ditangan Feng May. Ditambah aura dalam pisau itu menjinak sama sekali tidak ada aura membunuh yang selalu menguar dari pisau itu,
"Bagaimana kau bisa menjinakkan pisau itu?" tanyanya.
"Aku... tidak tahu," ucap Feng May.
"Yang penting percaya diri saja dulu. Masalah gagal atau berhasilnya biar terserah author saja," lanjut Feng May.
Naga hitam menghela nafas panjang dan nada suaranya sudah tidak semengerikan tadi. Ia mendekati Feng May dan mengangkat tangannya, Ujung kukunya menyentuh dahi Feng May.
Setelah itu muncullah tanda kontrak yang mengikat keduanya. Setelah kontrak terbentuk naga hitam mengecil dan ia melingkar dilengan sebelah kiri Feng May.
Naga hitam tersebut seperti sebuah tato tidak seperti hewan kontrak lainnya yang akan menjadi perhiasan atau sesuatu yang disukai oleh tuannya.
"Sekarang lanjutkan perjalanan mu dan mencari pasangan ku," ucap naga hitam.
"Kau memerintahkan ku?" ucap Feng May datar namun tak urung ia mengikuti ucapan naga hitam untuk mencari pasangannya.
Ditengah perjalanan menuju tengah hutan demon...
"Pasangan mu seperti apa?" tanya Feng May.
"Seperti ku," jawab naga hitam.
"Kalau tidak seperti mu mau seperti apa hah?!" ucap Feng May kesal.
"Dia spesies seperti ku san warnanya emas," ucapnya.
"Kau ini naga jantan kan?" tanya Feng May.
"Iya!" jawab naga hitam.
Kemudian tidak ada lagi percakapan diantara mereka sampai Feng May telah sampai ditengah hutan demon, tepatnya di sarang naga hitam dan emas tersebut.
"Siapa yang berani masuk kedalam sarang ku hah?!" teriak naga emas marah,
Naga hitam keluar dari tubuh Feng May dan menemui istrinya.
"Sayang...," ucap naga hitam.
"Hoekkk ...," teriak Feng May yang jijik dengan tampang naga hitam.
"Heh dasar kau manusia kurang ajar," teriak naga emas.
"Sayang berhentilah gadis ini memiliki pisau Sura sepertinya ia keturunan dari tuan besar," ucap naga hitam berbisik kepada naga emas.
Naga emas memandang kearah naga hitam.
"Kau sudah membuat kontrak dengan bocah manusia itu?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh naga hitam.
Naga emas memandang kearah Feng May dan mencari keberadaan pisau Sura, Ia melihat pisau Sura itu terselip dipinggang Feng May dan dibungkus menggunakan kantong sutra.
Naga emas menghela nafas panjang kemudian mengarahkan tangannya dan ujung kukunya menyentuh dahi Feng May. Setelah terbentuk kontrak dan tubuh naga emas mengecil setelahnya ia mendekam dilengan kiri Feng May, disusul dengan naga hitam.
"Kau sudah harus segera keluar dari hutan demon ini sekarang!" ucap naga emas.
Feng May tidak menjawab ia hanya segera melangkah keluar dari hutan demon tersebut.
Diluar hutan demon...
Feng May berhenti diatasi pohon antara hutan demon dan kota. Ia memainkan serulingnya dengan nada yang sangat merdu.
Ditaman kediaman Gui Feng...
Gui Feng mendengar nada seruling yang sangat indah dan ia juga ikut memainkan kecapi. Permainan kedua anak manusia itu sangat seimbang dan seperti mengandung sihir yang dapat membuat seseorang tidak dapat berpaling untuk mendengarkan yang lain.
Dikediaman pangeran mahkota...
Pangeran ke-4, ke-5, ke-7 dan putra mahkota sendiri tengah bersantai ria dihalaman kediaman putra mahkota. Mereka mendengar alunan musik kecapi yang berpadu dengan suara seruling yang sangat indah.
Mereka terdiam dan meresapi setiap nada didalam permainan musik tersebut. Sampai beberapa saat kemudian permainan tersebut telah usai.
"Siapa yang bermain seruling dengan nada yang sangat indah ini?" tanya pangeran ke-5.
"iya aku juga penasaran dengan pemain seruling tersebut! Jika pemain kecapi ini sudah dipastikan bahwa ia adalah kakak Gui Feng," ucap pangeran ke-7.
"Aku rasa tidak ada warga dikerajaan langit ini yang mampu bermain musik seindah ini ditambah lagi mampu selaras dengan alunan musik Gui Feng," ucap pangeran ke-4.
"Sudahlah jangan pikirkan lagi jika memang ia ada dikota kerajaan ini kita mungkin bisa mendengarkan lagi alunan musik tersebut," ucap putra mahkota.
"Bagaimana dengan Persiapan perayaan hari jadi kekaisaran," tanya pangeran mahkota.
"Semuanya berjalan dengan baik dekorasi sudah ditata dengan apik oleh ibunda ratu dan keamanan kerajaan sudah aku atur dan aku pastikan tidak ada masalah,"ucap pangeran ke-4.
Pangeran mahkota mengangguk mengerti.
Kediaman Gui Feng...
"Kau dengar Ren aku yakin bahwa penyanyi sekaligus pemain seruling ini adalah orang yang sama Ren," ucap Gui Feng dengan senyum tipis diwajahnya.
"Apakah anda masih beranggapan bahwa itu adalah nona ke-3 Feng?" ucap Ren.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu sebelum aku dapat membuktikan bahwa itu benar nona ke-3 Feng," ucap Gui Feng.
Ren hanya diam saja mendengar ucapan dari tuannya tersebut.
Dikediaman Zou Jing...
Zou Jing dan Feng Gu yang belum tertidur memilih untuk mengobrol sambil duduk didekat taman kediaman Zou Jing.
Mereka pun juga mendengar permainan seruling dan kecapi tadi.
"Menurutmu siapa yang akan memainkan musik seindah tadi?" tanya Zou Jing.
"Untuk permainan kecapinya aku yakin bahwa orang itu adalah Gui Feng dan untuk pemain serulingnya entahlah siapa dia," jawab Feng Gu.
"Apa kau pernah mendengar suara tersebut?" tanya Feng Gu kepada Zou Jing.
"Aku belum pernah mendengar alunan nada seperti permainan musik tadi," jawab Zou Jing.
"Apa kau ada menebak nama siapa yang memainkan seruling tadi?" tanya Zou Jing dan dijawab gelengan oleh Feng Gu.
"Kau tahu bahkan diseluruh kerajaan Langit tidak akan ada yang dapat memainkan seruling dengan nada seindah itu kan," ucap Feng Gu.
"Yah memang yang kau katakan itu benar juga," jawab Zou Jing.
Didalam kamar Feng May...
Setelah membuat kehebohan dengan permainan serulingnya, Feng May sama sekali tidak berfikir bahwa ia telah membuat kagum serta penasaran seluruh rakyat dipenjuru kerajaan Langit.
Feng May tengah bersantai berendam dan tidak memikirkan apapun lagi selain langsung merebahkan diri diatas kasur. Selesai mandi Feng May bergegas merobohkan dirinya keatas kasur dan langsung mengarungi alam mimpi menyusul Jie Yu yang telah sangat pulas.
Keesokan harinya...
Feng May bangun dari tidurnya dan merenggangkan otot-ototnya. Ia menoleh kesamping dan melihat bahwa Jie Yu masih tertidur pulas.