
“Kakak May’er bisa belajar sendiri, jika ada yang tidak aku mengerti aku akan bertanya pada kakak! Lalu aku juga harus melapor pada ketua perguruan jika sudah kembali. Kan sekalipun kakak menggantikan posisi Ketua akademi sementara waktu sepertinya tidak etis kalau kakak meminjam buku-buku milik perguruan puncak rintik untuk dipelajari!” Ucap Feng May.
Feng Gu nampak berfikir, ia merasa perkataan Feng May ada benarnya. Sebagai pengganti sementara ketua akademi Langit maka tidak mungkin dia meminjam buku-buku milik perguruan puncak rintik tanpa ijin dari ketua akademi.
“Baiklah kalau begitu kakak akan meminta pada ketua perguruan puncak rintik untuk meminjamkan buku jurus tingkat tinggi untuk mu! Lalu kau juga harus belajar jurus tingkat dewa, raja, dan tingkat suci!” ucap Feng Gu.
“Baiklah sesuai dengan keinginan kakak saja!” ucap Feng May.
“Tuan semua bawaan anda sekalian sudah selesai disiapkan!” ucap seorang pelayan.
“Umm baiklah kau bisa pergi. May’er dan Feng Gu ayo!” ajak Zou Jing.
Feng Gu dan Feng May mengikuti Zou Jing dan kemudian mereka berangkat menuju kearah akademi Langit. Mereka menaiki kereta yang didorong oleh hewan kontrak Feng Gu yaitu kuda putih bersayap, Feng Gu memberinya nama Putih.
“Berapa lama kita bisa sampai diakademi dengan kecepatan seperti ini?” tanya Mu Sia.
“Memangnya kenapa?” tanya Zou Jing.
“Kuda ini kan bisa terbang kenapa tidak memintanya terbang saja! Kenapa mala berjalan sepekan ini?” ucap Mu Sia.
“Kereta ini adalah kereta sihir milik Zou Jing. Karena kereta ini lah kita tidak terguncang meskipun putih berlari sangat kencang sekarang!” ucap Feng Gu.
“Ekh benarkah? Kuda mu berlari kenapa sama sekali tidak terasa! Lalu dari mana kak Zou Jing mendapatkan kereta sihir ini?” tanyanya.
“Guru yang memberikannya! Kereta ini bisa berjalan tanpa ditarik hanya perlu diberi sedikit qi untuk menjalankannya!” ucap Zou Jing.
“Kenapa aku tidak tahu kau menggunakannya! Pasti karena sekarang ada adik mu ini ya mangkanya kau menggunakan kereta ini!” ucap Mu Sia.
“Kau jangan bilang kepada murid-murid didalam akademi kakao May’eradalah adik kami!” ucap Feng Gu.
“Memangnya kenapa?” tanyanya.
“Aku tidak ingin didekati oleh sekelompok anjing saat berlatih atau saat sedang melakukan kegiatan lainnya hanya untuk bisa menarik perhatian 2 kakak ku!” ucap Feng May.
Mu Sia hanya ber o ria mendengar penjelasan dari Feng May. Ia memperhatikan ke-3 orang tersebut, mereka bertiga memiliki kesamaan yaitu mulut yang tajam setajam pisau. Namun mereka juga memiliki pembawaan seperti seorang pemimpin dan yang pasti ketiga orang ini adalah orang-orang yang tidak boleh diprovokasi.
Mu Sia yakin akan hal itu karena ketiganya memiliki pembawaan yang tenang. Dan biasanya orang yang seperti itu akan sangat mengerikan kalau marah. Mu Sia memperhatikan lekuk wajah Feng May dengan sungguh-sungguh. Sampai akhirnya Zou Jing duduk ditengah-tengah kedua wanita itu, dan ia melindungi Feng May dari tatapan Mu Sia.
“Kenapa kau menatap adik ku begitu? Kau ini sudah tidak normal ya!” ucapnya.
“Aku( sambil menunjuk diri sendiri) tentu saja normal! Aku hanya memperhatikan wajahnya saja karena sepertinya sangat mirip dengan wajah yang pernah ku lihat sebelumnya!” ucap Mu Sia.
“Memangnya kau pernah melihat wajah May’er dimana?” tanya Feng Gu.
“Emmmm sepertinya disebuah kerajaan besar akh bukan bukan tapi disebuah kekaisaran dibenua Fenghua! Yah dikekaisaran benua Fenghua, hanya saja aku lupa nama kekaisarannya,” ucap Mu Sia.
“Kau yakin! Wajah May’er mirip dengan salah satu orang disana? Coba kau perhatikan baik-baik wajahnya mungkin saja kau salah!” ucap Zou Jing.
Mu Sia memukul lengan Zou Jing dengan keras. Ia kesal lada laki-laki itu, dia menyuruhnya untuk memperhatikan dengan lebih seksama wajah adiknya namun dia menutupi wajah Feng May.
“Apa yang kau lakukan?” ucap Zou Jing.
“Kalau begitu tidak usah! Biar aku dan Feng Gu sendiri yang akan mencari tahu nya!” ucap Zou Jing.
“Dasar!” ucap Mu Sia kesal, ia bahkan mengangkat kedua tangannya yang terkepal dikepala Zou Jing. Namun saat Zou Jing berbalik dia dengan cepat menurunkan kepalan tangannya dan tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum seperti orang gila begitu?” tanya Zou Jing.
“Pftt..,” Feng Gu berusaha menahan tawanya sedangkan Feng May berpindah ketempat Feng Gu karena dia terhimpit duduk dipinggir karena tubuh Zou Jing yang memakan tempat.
“Kenapa kau?”tanya Zou Jing pada Feng Gu.
Feng Gu berusaha menetralkan tawanya dengan mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan namun tetap saja tidak bisa. Sedangkan tubuh Feng May berguncang karena tertawa, ia memeluk tubuh Feng Gu untuk merendam suara tawanya yang ia usahakan untuk lirih.
“Kenapa kalian berdua! Apa May’er menangis tapi tidak ada sesuatu yang menyedihkan? Lalu kenapa kau tertawa seperti itu, lihat wajah mu sudah memerah karena menahan tawa,” ucap Zou Jing heran.
“Kau tidak usah pedulikan kami! Lanjutkan saja kegiatan kalian berdua!” ucap Feng Gu.
“Sebenarnya kenapa kalian ini?” ucap Zou Jing heran dan penasaran.
“Mereka itu sedang menertawakan kebodohan mu!” gumam Mu Sia dalam hati.
“Apa kau? Kenapa kau memasang tampang bodoh begitu?” ucap Zou Jing.
“Kau ini yang kenapa? Membuat orang kesal saja! Sebaiknya kau mengambil kaca dan berkaca lihat bagaimana tampang bodoh mu itu,” ucap Mu Sia berucap dengan ketus.
“Apa maksud mu? Wajah ku yang tampan ini kau bilang bertampang bodoh!” ucap Zou Jing kesal.
Feng May menatap Feng Gu, dia masih memeluk pinggang kakaknya itu. Sedangkan disisi lain ada seseorang yang menatap kedekatan Feng May dan Feng Gu. Aura hitam sudah memenuhi ruangan tersebut hingga membuat orang lain kesulitan bernafas.
“Siapa laki-laki yang dipeluk olehnya?” tanyanya dengan nada marah.
“Dia adalah Feng Gu tuan kakak dari nona Feng May! Mereka satu ayah lain ibu!” ucap pengawalnya.
“Jadi dia adalah kandidat ketua akademi Langit yang baru itu!” ucapnya.
“Benar tuan!” jawab pengawalnya.
Didalam kereta ...
“Kakak Gu bagaimana kalau kita minta ketua perguruan barat dan timur juga Pama dan bibi Zou untuk menikahkan mereka berdua! Sepertinya akan menyenangkan kalau mereka tinggal satu rumah!” ucap Feng May.
“Aku setuju!” ucap Feng Gu.
“Aku tidak mau!” teriak Zou Jing dan Mu Sia yang mendengar usulan Feng May secara bersamaan.
“Untuk apa teriak-teriak telinga kami masih berfungsi dengan baik!” ucap Feng Gu yang kesal mendengar teriakkan dua orang didepannya.
Zou Jing dan Mu Sia mendengus kesal mendengar perkataan Feng Gu. Mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain.