Feng May Series: Fu TianYu Story

Feng May Series: Fu TianYu Story
Mencari pembunuh



Kemudian orang itu berlalu meninggalkan tempatnya melihat kejadian yang luar biasa menurutnya. Ia bergerak cepat dan melewati kediaman milik Feng May.


Dikediaman selir Hui...


Pelayan yang ditendang oleh Feng May sampai dihalaman depan kediaman selir Hui. Pelayan yang melihat pelayan wanita tersebut berteriak mengatakan bahwa ada pembunuh.


"Tolong... tolong... ada pembunuh," teriak pelayan tersebut.


Pengawal yang kebetulan lewat dan mendengar teriakkan tersebut pun menghampiri pelayan yang tengah berteriak tersebut dan menanyakan ada apa sebenarnya.


"Ada apa ini?," tanyanya kepada pelayan tadi.


"A... ada pembunuh," ucapnya.


"Kalian semua cepat berpencar dan cari pembunuh itu! Kau ikut aku untuk menghadap kepada tuan besar," ucap kepala prajurit itu.


Semua prajurit berpencar untuk mencari pembunuh disekitar kediaman selir Hui, sedangkan kepala pengawal dan pelayan tersebut pergi memberitahukan kabar tersebut kepada kepala keluarga.


Diaula keluarga Feng...


"Tuan besar saya ingin menyampaikan sesuatu," ucap kepala pengawal tersebut sambil menunduk hormat.


"Katakan!," titah sang tuan besar.


"Ada seorang pelayan wanita mati dikediaman selir Hui tuan besar," lapor kepala pengawal tersebut.


"Apa lalu dimana pembunuhnya?!" tanya tuan besar sambil menggebrak meja dihadapannya.


"Pembunuhnya masih dalam pengejaran para prajurit tuan besar," jawab kepala pengawal tersebut.


"Geledah seluruh kediaman dikeluarga Feng sekarang!!," titah sang tuan besar.


Seluruh prajurit menyebar dan mencari keberadaan sang pembunuh, semua berpencar dan mencari disetiap sudut dalam bagian kediaman dan juga pergi keluar disekitar kediaman Feng sampai pasar.


Sampai akhirnya mereka sampai dikediaman Feng May.


Tok… tok… tok…


Feng May yang tengah duduk sambil membaca buku mendengar ketukan pintu pun hanya melirik kemudian mengucap 1 kata.


"Masuk!," teriak Feng May dari dalam.


Seluruh orang masuk 5 orang prajurit dan kepala pasukan, kemudian tuan besar, 3 tuan muda, nyonya tua, dan 2 orang putri kediaman Feng datang kekediaman Feng May.


Feng May hanya melirik tanpa minat memberi hormat sama sekali. Menurutnya ia tidak membutuhkan keluarga Feng untuk hidup.


"Nona baru saja ada seorang pelayan wanita yang mati dikediaman selir Hui! Lalu kami semua harus menggeledah seluruh tempat disetiap sudut kediaman keluarga Feng," ucap kepala pengawal meminta izin.


"Lakukanlah!," ucap Feng May tenang.


"Kakak kau tidak ingin memberikan kami tempat duduk dan minum teh," ucap putri ke-4 Feng.


"Kursinya hanya 1 dan aku pemilik kediaman ini lalu teh dan cangkir tehnya juga hanya 1 jadi aku tidak bisa menjamu kalian semua," ucap Feng May tenang.


"Kalau begitu kenapa tidak membiarkan nenek duduk dan adik ke-3 yang berdiri," ucap putri ke-2 Feng.


Mereka meletakkan bukunya dipahanya dan ia menghela nafas pelan.


"Kedatangan kalian yang hanya menggeledah kediaman ku ini apa perlu aku harus menyanjung kalian! Memangnya kapan peraturan dikeluarga Feng mewajibkan semua orang dikediamannya memuji dan menjamu setiap orang yang datang kekediamannya," ucap Feng May sambil menatap mereka.


Mereka terdiam sampa kemudian nyonya tua Feng berteriak.


"Lancang! siapa kau sembarangan berucap seperti itu dengan kakak mu hah?!," teriak nyonya tua.


"Apa kau tidak pernah diajari sopan santun hah?!," ucap tuan besar.


"Tidak!" ucap Feng May santai.


"Kau!…" teriak tuan besar sambil menunjuk kearah Feng May.


Feng May hanya diam saja menatap kearah mereka.


"Tuan besar dikediaman nona ke-3 tidak apapun yang mencurigakan," ucap kepala pengawal.


"Dikediaman adik ke-3 kenapa tidak ada pengawal ataupun pelayan?" tanya tuan muda Feng.


"Semua pengawal dan pelayan itu adalah milik dari keluarga Feng bukan milikku! Aku tida berhak menuntut apapun," ucap Feng May.


"Kalau mereka tidak bisa melayani 1 orang nona muda kediaman Feng untuk apa mereka bekerja disini?!" ucap tuan muda ke-2 Feng.


"Aku yang tidak ingin diganggu oleh sekumpulan nyamuk-nyamuk itu," ucap Feng May tenang.


"Kalau begitu siapa yang melayani mu?" tanya tuan muda pertama Feng.


"Aku punya paman dan bibi yang menyediakan makan dan memasak untuk ku, aku punya 2 orang kakak laki-laki yang tampan dan hebat yang dapat melindungi ku," ucap Feng May.


"Tapi tidak seharusnya kakak ke-3 terus-menerus menyusahkan kakak Gu dan kakak Jing," ucap putri ke-4 Feng.


"Mereka yang selalu datang menemui ku dan kadang aku datang menemui mereka saat aku sangat merindukan mereka! Lalu memangnya siapa yang akan membunuh ku, aku hanya gadis lemah yang tidak bisa apa-apa," ucap Feng May.


Putri ke-4 Feng itu sudah kalah telak dan ia sudah tidak bisa lagi membalas omongan Feng May.


"May'er!," panggil Feng Gu dan Zou Jing.


Semua orang menatap keasal suara tersebut dan mendapati Feng Gu dan Zou Jing yang datang mendatangi Feng May dengan cemas.


"Bagaimana keadaan mu May'er?" tanya Feng Gu sambil memeriksa tubuh Feng May.


"Lalu dimana pembunuh yang katanya sudah membunuh pelayan wanita tersebut?" tanya Zou Jing.


"Aku baik-baik saja kak!" ucap Feng May.


"Kami tidak menemukan siapapun disetiap sudut kediaman keluarga Feng begitu juga dengan kediaman milik nona ke-3," jawab kepala pengawal.


"Lalu apa lagi yang kalian lakukan disini hah?!" ucap Zou Jing.


"Kalau begitu kami pamit dulu tuan muda ke-3 dan tuan muda Jing," ucap kepala pengawal tersebut.


"Kakak ke-3 Gu kenapa kakak disini begitu juga dengan kakak Jing," ucap putri ke-2 dengan nada halus yang dibuat-buat.


"Sejak kapan aku jadi kakak mu hah?! Dan lagi kami datang kekediaman adik perempuan kami," ucap Zou Jing kesal dengan tingkah putri ke-2 Feng itu yang munafik.


"Sekalipun kau sangat hebat dan memiliki pangkat yang diberikan oleh yang mulia kaisar tapi bukan berarti kau bisa membentak putri ku dengan kasar seperti itu," ucap tuan besar tidak terima akan sikap Zou Jing kepada putrinya.


"Lalu siapa May'er bagimu?" tanya Zou Jing.


"Dia bukan siapa-siapa bagiku," ucap Feng Kui.


"Kalau begitu kenapa anda marah saat kami hanya mengatakan kata-kata yang kami ucapkan dengan sangat tulus," ucap Zou Jing.


"Apa maksudmu?," tanya tuan besar tidak mengerti.


"Bukankah karena adik ku ini bukan siapa-siapa bagiku lantas kau bisa membentaknya! Lalu kenapa aku tidak bisa melakukannya. Putri ku itu bukan siapa-siapa bagi ku," ucap Zou Jing tajam.?