Feng May Series: Fu TianYu Story

Feng May Series: Fu TianYu Story
Dunia spirit 2



"Ah siapa laki-laki disana?" tanya Feng May sambil menunjuk kearah seorang pria yang tengah berbaring tenang.


"Dia adalah calon raja kami!" jawabnya.


"Calon?" tanya Feng May.


"Iya! karena hanya ratu yang bisa memimpin dunia spirit ini!" jawabnya.


"Berarti dia akan menjadi suami dari pemimpin dunia spirit ini?" tanya Feng May.


"Iya nona! Lalu ratu dunia spirit boleh mengambil selir jika tidak menyukai raja dunia spirit!" ucap kucing tersebut.


"Kenapa sudah ada calon raja jika belum memiliki ratu?" tanya Feng May lagi.


Kucing itu menoleh dan menatap wajah Feng May.


"Karena raja dunia spirit sudah ditentukan melalui ramalan ketua!" jawabnya.


"Dia yang ditunjuk sebagai raja spirit?" tanya Feng May.


"Iya! Apa kau melihatnya sebagai seorang pria lemah?" tanyanya.


"Tidak! aku yakin dia tidak lemah! Tapi... apa ramalannya tidak pernah salah?" tanya Feng May.


"Ramalan ketua tidak pernah salah nona!" jawabnya.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kerumah yang akan ditinggali oleh Feng May.


***


Feng Gu dan Zou Jing masih mengintrogasi sekumpulan perampok, namun mereka masih tetap bungkam. Sampai akhirnya Feng Gu dan Zou Jing pergi meninggalkan penjara bawah tanah dan kembali ketempat tinggal mereka.


"Sebenarnya apa alasan mereka selalu bungkam?" ucap Zou Jing kesal lantaran tidak mendapatkan petunjuk apapun dari sekawanan perampok tersebut.


Feng Gu masih terus menerka-nerka siapa saja yang berkemungkinan untuk memburu adiknya dan juga yang memiliki keberanian untuk mengusik murid unggulan akademi Langit.


Mereka yang menjadi murid unggulan berkemungkinan menjadi pengganti guru mereka saat ini. Karena itu tetua atau guru setiap perguruan hanya memiliki maksimal 3 murid pribadi.


"Hey apa yang kau lakukan? kenapa kau berjalan sambil melamun seperti itu?!" pekik Zou Jing kepada Feng Gu.


"Aku hanya sedang berfikir saja!" jawab Feng Gu.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Zou Jing.


Saat ini mereka sudah berada dikediaman Feng Gu, dan keduanya duduk disebuah kursi.


"Aku hanya berfikir tentang orang-orang yang memiliki kekuasaan yang mampu mengusik murid pribadi!" ucap Feng Gu.


"Jika kita yang dilawan dan diincar maka bisa dipastikan orang itu adalah anggota kerajaan! Karena hanya mereka yang berani melakukan tindakan seperti ini!" ucap Zou Jing.


"Apa kau lupa dengan perdana menteri Li!" ucap Feng Gu sambil menatap kearah Zou Jing.


Zou Jing diam sejenak, ia nampak berfikir tentang perdana menteri Li.


"Apa kau berfikir bahwa yang memerintahkan kawanan perampok itu adalah perdana menteri Li?" tanya Zou Jing.


"Itu hanya dugaan ku saja! Karena kau tahu sendirikan bahwa keluarga Li selalu memusuhi keluarga Feng!" ucap Feng Gu.


Zou Jing dan Feng Gu kemudian tenggelam dalam pikiran masing-masing.


***


Feng May sudah sampai ditempatnya beristirahat dan kucing kecil tersebut berpamitan kepada Feng May. Didalam kamar, Feng May nampak duduk bersandar dikursi. Tak lama kemudian Feng May sudah jatuh tertidur.


Beberapa menit kemudian seseorang masuk kedalam kamar Feng May dan mendapati gadis itu tengah tertidur pulas.


"Dia tidur dengan posisi duduk! Apa punggungnya tidak sakit!" ucapnya.


Ia segera menghampiri Feng May dan mengangkat tubuh kecil Feng May, kemudian membawanya menuju ke pembaringan. Ia meletakkan tubuh Feng May dengan lembut diatas kasur, ia memperhatikan wajah tidur Feng May.


"Tapi apa kau tahu bahwa tidur ditempat asing tanpa kewaspadaan seperti ini akan membuat seseorang leluasa untuk melakukan kejahatan padaku!" gumamnya lagi.


"Ah bahkan tidur mu sangat sangat pulas! Istirahatlah dengan tenang dan semoga mimpi indah!" gumamnya dan kemudian mencium kening Feng May.


Setelah itu ia beranjak pergi dari kamar Feng May dan berlalu meninggalkan tempat tersebut.


Keesokan harinya Feng May bangun dari tidurnya, ia menggeliat tubuhnya dan mengerjapkan matanya. Feng May berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk dari celah jendela kamarnya.


"Emm... Siapa yang memindahkan tubuh ku kekasur?" gumam Feng May sambil duduk dan bersandar di kepala ranjang.


Feng May mengucek matanya, tak lama kemudian datang seorang wanita masuk ke kamar Feng May setelah mendapat izin dari Feng May.


"Nona apa tidur anda nyenyak?" tanyanya dengan nada ramah.


"Nyenyak! siapa kau? lalu apa kau tahu siapa hang memindahkan tubuh ku kekasur?" tanyanya tanpa jeda.


"Saya adalah pelayan didalam dunia spirit ini nona! Mereka yang masih berasa ditingkat awal atau yang lebih lemah dari rasnya akan menjadi pelayan. Lalu saya tidak tahu siapa yang menggendong nona keatas kasur," jawabnya.


Feng May mengangguk-anggukan kepalanya.


"Nona silahkan cuci wajah Anda lebih dulu," ucap pelayan tersebut sambil meletakkan sebaskom air diatas meja.


Feng May bangkit dari duduknya dan menuju kearah meja, setelah mencuci wajahnya. Feng May meminta kepada pelayan untuk mengantarnya kesungai.


"Tolong antarkan aku kesungai! Aku ingin mandi disungai!" ucap Feng May.


Pelayan tersebut menatap ke arah Feng May.


"Kenapa?" tanya Feng May.


"Tidak apa-apa nona! mari saya antarkan," ucap pelayan tersebut.


Kemudian pelayan tersebut melangkah lebih dulu dan diikuti oleh Feng May dibelakangnya. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai disebuah sungai yang tidak jauh dari tempat tinggal Feng May.


Feng May memperhatikan sebuah rumah yang juga tak jauh dari sungai tersebut.


"Rumah itu milik siapa?" tanya Feng May kepada pelayan sambil menunjuk sebuah rumah.


"Itu rumah calon raja kami nona!" jawab pelayan tersebut.


Feng May menganguk- anggukan kepalanya, kemudian Feng May melepaskan semua pakaiannya dan segera masuk kedalam sungai. Pelayan yang hendak membantunya langsung dihentikan oleh Feng May.


"Kau pergilah! Aku akan kembali sendiri ketempat ku!" ucap Feng May.


"Tapi nona...," ucapan pelayan tersebut dipotong oleh Feng May.


"Pergilah! Aku baik-baik saja disini!" ucap Feng May.


Pelayan tersebut membungkuk memberi hormat kepada Feng May kemudian ia melangkah meninggalkan Feng May sendiri disungai tersebut.


Dikejauhan nampak seorang pria tengah memperhatikan Feng May.


"Tuan apa tidak sebaiknya kita menyusul nyonya muda?" tanya seseorang dibelakang pria tersebut.


"Jangan dulu! Dia masih waspada padaku!" jawabnya.


"Tapi... sepertinya anda sangat ingin menemui nyonya muda!" ucapnya kepada seseorang yang dipanggilnya tuan muda.


"Entahlah! Apa kau percaya dengan ramalan yang disebutkan oleh pak tua itu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Saya juga tidak tahu tuan muda!" jawabnya.


"Gadis itu ( ucapnya sambil menunjuk ke arah Feng May) Apa kau pikir dia lemah?" tanyanya kemudian.


Pria dibelakangnya menatap sebentar kearah Feng May kemudian menatap lagi kearah tuan mudanya.


"Sama sekali tidak tuan muda! Saya malah merasa bahwa ia adalah sebuah pedang yang tajam karena terus menerus diasah!" jawabnya.