
"Yah kalau bisa dikerjakan nanti kenapa harus sekarang," jawab Jie Yu yang sebenarnya malas untuk membereskan buku-buku yang berserakan dilantai.
"Kalau kau malas pergilah menemui kakak lebih dulu dan katakan bahwa aku masih membereskan buku-buku diperpustakaan," Ucap Yu Tu.
Jie Yu langsung melesat pergi setelah mendengar kata-kata Yu Tu yang mengijinkannya untuk pergi tanpa membereskan buku-buku tersebut.
Kui bersaudara menatap kearah Jie Yu heran karena harimau kecil itu muncul dari arah perpustakaan.
"Apa yang kau lakukan diperpustakaan?" tanya Kui Ling.
"Aku sedang mencari informasi tentang keturunan garis darah dan juga takdir seseorang," jawab Jie Yu.
"Lalu kau menemukan apa disana?" tanya Kui Fey.
"Tidak ada apapun," jawab Jie Yu singkat.
Kui bersaudara saling pandang kemudian berganti memandang kearah Jie Yu.
"Apa kau sudah membereskan buku-buku yang kau baca dan dimana kak Yu Tu?" tanya Kui Fey.
"Yu Yu sedang membereskan buku-buku didalam perpustakaan karena tadi aku dan dia yang mengambil buku-buku tersebut," ucap Jie Yu.
"Lalu kenapa kau tidak membangun kak Yu Tu?" tanya Kui Fey.
"Kalau ada Yu Tu yang beres-beres kenapa harus aku," ucap Jie Yu tanpa dosa.
"Kau ini benar-benar ciri-ciri teman tidak tahu diri," ucap Kui Ling.
"Iya benar kau kan seharusnya membantu kak Yu Tu," ucap Kui Fey.
Jie Yu hanya menatap datar kearah Kui bersaudara.
"Aku kan sedang lelah! Aduhh ya ampun perutku sakit aku tidak bisa membantu Yu Tu kalian saja yang pergi membantunya," Ucap Jie Yu sambil berlari menjauh dari 2 kucing itu.
Jie Yu kembali ke dalam kamar Feng May, duduk disamping gadis itu yang masih berlatih dengan tenang.
Jie Yu menidurkan tubuhnya dipangkuan Feng May dan kemudian ia menuju kealam mimpi. Sampai beberapa saat setelah Jie Yu terlelap dengan sangat pulas terdengar dentuman besar yang berhasil menyentaknya untuk langsung berdiri sambil memasang kuda-kuda.
"Yahhh mana mana serangannya siapa yang berani macam-macam saat ada Jie Yu disini hoammm...," ucap Jie Yu masih dengan posisi kuda-kudanya.
Sedangkan Feng May, Kui bersaudara dan Yu Tu memandang kearah Jie Yu semenit kemudian keempatnya tertawa melihat tingkah Jie Yu. Dan Jie Yu sendiri hanya memalingkan wajahnya kesamping salah tingkah.
Ia malu dengan sikapnya tanpa melihat keadaannya sekitar lebih dulu. Sedangkan Feng May sudah menghembuskan nafas panjang berusaha untuk tidak menertawakan sikap Jie Yu barusan.
"Lihat wajahnya yang sedang tersipu itu aku jadi geli karena melihat seekor anak harimau tengah tersipu malu," ucap Kui Ling.
"Hey apa kau mikir harimau tidak punya rasa malu apa," ucap Jie Yu kesal.
"Sudah kalian berhentilah mengejek Jie Yu dan lagi aku minta maaf karena sudah mengganggu tidur mu," ucap Feng May sambil mengelus kepala Jie Yu.
"Yah sudah aku dan Jie Yu akan kembali kekediaman kakak Zou Jing! Kalian baik-baik disini mengerti!" ucap Feng May.
"Yah kami mengerti kak," ucap mereka serempak.
Setelahnya Feng May dan Jie Yu sudah berada didalam kamar milik Feng May. Beberapa saat kemudian bibi Zou datang sambil membawa nampan makanan untuk Feng May.
"May'er makanlah ini dan setelah itu kau bisa melanjutkan istirahat mu," ucap bibi Zou dengan senyum lembut.
"Iya bibi," jawab Feng May sambil melangkah mendekati meja makan.
Setelah itu Feng May makan dengan lahap dan bibi Zou kembali kedalam kamarnya sendiri. Selesai makan nampan yang berisi piring itu diberikan ke pelayan didepan pintu kamarnya.
"Tidak aku akan pergi keluar kau tetaplah disini," ucap Feng May sambil melangkah kearah lemari dan mengambil jubah dan mengenakannya.
Setelah memakai jubahnya Feng May keluar lewat jendela dan melesat melewati malam dengan sangat cepat sampai ia terlihat seperti sebuah bayangan hitam.
Sedangkan Jie Yu sudah mengarungi alam mimpinya, Saat Feng May berpamitan pergi ia sudah mendaratkan tubuhnya dikasur yang empuk tersebut.
Taman belakang kediaman Gui Feng...
Gui Feng pria yang berparas rupawan tersebut tengah memandangi tamannya dengan secangkir teh ditangannya dan sebuah kecapi disampingnya.
"Ren apa menurutmu gadis itu akan kembali bernyanyi saat aku memainkan kecapi ku?" tanyanya pada pengawal pribadinya.
"Saya tidak tahu tuan! Bukankah tuan sudah beberapa bulan ini memainkan kecapi namun tidak ada nyanyian sama sekali yang terdengar," ucap Ren.
"Bagaimana penyelidikan mu tentang putri ke-3 keluarga Feng itu?" tanyanya.
"Tidak ada kabar apapun tuan tapi yang saya dengar terakhir kali nona ke-3 keluarga Feng pergi dari kediaman Feng begitu juga dengan 2 orang pelayan yang selalu berada disekitar nona ketiga," ucap Ren.
"Sepertinya tebakan ku benar Ren bahwa yang bernyanyi saat itu adalah nona ketiga Feng tersebut," ucap Gui Feng.
"Bukankah hal tersebut masih belum pasti tuan," ucap Ren.
"Kita akan memastikannya saat perayaan hari jadi kekaisaran dimulai nanti Ren," ucap Gui Feng.
Ren tak lagi menanggapi perkataan tuannya tersebut.
Disisi lain...
Feng May masih berlari menyusuri seluruh jalanan sampai akhirnya ia berhenti dihutan demon.
"Disini aku merasakan getaran disini dan juga satu lagi entah dimana," ucap Feng May kemudian melangkah memasuki hutan demo tersebut.
Didalam hutan yang gelap seperti tak ada tanda kehidupan sama sekali. Suasana yang mencekam dan udara yang dingin menambah ngeri suasana didalam hutan demon tersebut.
"Hutan ini seperti sesuatu yang unik dan aneh juga ada perasaan familiar saat aku memasukinya," gumam Feng May sambil terus melangkah maju.
"Grrrr.....," Feng May dihadang oleh seekor naga hitam.
Naga itu berwarna hitam dengan warna bola matanya merah menyala. Ia sepertinya raksasa karena warna tubuhnya sama persis dengan hutan, ditambah warna bola matanya yang merah menyala dengan tatapan tajam mengarah kepada Feng May.
Feng May merasa ngeri dan seluruh tubuhnya merinding. Ia merasa tertekan dengan tatapan tajam yang menghunus tersebut seperti sebilah pedang mengenai jantungnya.
"Siapa kau?" tanya dengan suara yang tegas dan terdengar mengerikan.
Feng May berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdetak kencang tersebut dengan berulang kali menghembuskan nafas.
"Aku kesini hanya karena merasakan getaran dan ¹ yang menuntun ku untuk datang ketempat ini," jawab Feng May.
"Siapa yang menuntun mu datang kemari?" tanyanya masih dengan aura intimidasi.
Drama kecil...
Feng May berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdetak kencang tersebut dengan berulang kali menghembuskan nafas.
Feng May: " Apakah ini yang dinamakan cinta," sambil memegang jantungnya yang berpacu dengan cepat.
Naga hitam :" Gk waras lu ya! Gue udah dandan ngeri kek gini lo bilang jatuh cinta ma gua,"