
"Terus, kamu ingin mengatakan tidak usah bagi Zaha menanggapi tantangan Rio dan membiarkan Chintya begitu saja?" Tanya Angel sinis.
"Bukan begitu. Ta-tapi..." Nia nampak ragu.
Namun jika diharuskan untuk memilih, Ia lebih memilih Zaha tetap disana bersama mereka. Zaha sudah terlalu banyak mengorbankan dirinya untuk Nia dan juga Ibu mereka.
Dulu, Zaha juga nekat menantang juragan Chintung demi membela kehormatan keluarga mereka. Juragan Chintung memanfaatkan kondisi Ayah Zaha yang berhutang banyak karena hobinya berjudi. Ayah Zaha menggadaikan sertifikat rumah satu-satunya yang mereka miliki.
Namun, juragan Chintung yang picik memanfaatkan keadaan tersebut untuk menikahi Nia sebagai jalan keluar untuk menyelamatkan rumah mereka. Juragan licik tersebut juga menggunakan para algojonya untuk mengintimidasi Zaha dan keluarganya.
Saat itu, Zaha dengan penuh keberanian menjadi tameng untuk melindungi keluarganya. Kenyataan bahwa dia berhasil menundukkan juragan Chintung dan seluruh antek-anteknya menjadi awal mula Nia memandang adiknya dengan cara yang berbeda.
Selanjutnya adalah kejadian paling kelam dalam hidup Nia yaitu pemerkosaan yang dilakukan mantan pacar Nia, Ronal, adiknya serta anggota gengnya.
Saat itu, Nia bahkan sempat ingin bunuh diri karena merasa hidupnya sudah hancur dan tanpa harapan.
Disaat masa tersulitnya itu, Zaha dengan penuh amarah menghukum keduanya dengan membunuh Ronal dan siapapun yang ikut terlibat dalam pemerkosaan dirinya.
Hal itu baru diketahui oleh Nia, dari mulut Angel sendiri. Saat itu, Zaha meminta Angel menyelamatkan Nia dengan menyembunyikannya dibawah pengawasan Angel.
Pertikaian yang muncul sekarang adalah buntut dari tindakan balasan Zaha waktu itu. Jadi, bagaimana bisa Nia membiarkan Zaha memasuki bahaya yang telah disiapkan oleh musuh untuknya.
"Tapi apa? Kamu lebih rela membiarkan seorang gadis remaja yang tidak tahu apa-apa menjadi korban?"
"Kesalahan Chintya hanya karena dia mengenal Zaha, tidak lebih."
"Lebih parahnya, kamu membiarkan Zaha menanggung beban dosa karena membiarkan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan dendam ini ikut menanggung akibatnya, begitu?"
"Ti-tidak. A-aku..."
"Tidak apa? Kamu lebih suka tutup mata dengan hal ini, karena gadis yang bernama Chintya itu tidak hubungannya denganmu? Lalu bersikap seolah semuanya baik-baik saja, begitu?"
Pertanyaan demi pertanyaan semakin membuat Nia tersudut. Ekspresinya tampak keruh, Ia tahu Ia akan dicap egois jika memaksa bersikap seperti yang diinginkannya.
Di saat dua wanita cantik ini terus berdebat, Zaha hanya melongo dan terdiam memperhatikan mereka.
Dalam hati Ia berkata, "Memang susah kalau wanita yang mengambil kendali. Lagian kenapa urusannya jadi runyam begini?"
Seharusnya yang mereka bahas adalah cara untuk menyelamatkan Chintya.
Zaha dibuat bingung dengan perdebatan yang sangat kontra seperti sekarang. Satu sisi, Angel mendorongnya untuk maju menyelamatkan Chintya. Disisi lain, Nia justru menginginkan Zaha untuk diam dan tidak melakukan apa-apa. Meskipun alasannya untuk keselamatan Zaha sendiri.
"Sudah-sudah. Kenapa urusannya sampai rumit begini?"
Kedua wanita didepannya langsung diam, namun masih tampak jika keduanya masih sama-sama bertahan dengan pendapatnya masing-masing.
Jika dibiarkan berlanjut, keduanya bisa saja saling cakar untuk menunjukkan pendapat siapa yang lebih benar.
"Benar apa yang dikatakan Hera. Bagaimanapun, Chyntia diculik karena diriku dan aku harus menyelamatkannya."
Komentar Zaha membuat senyum kemenangan mekar diwajah cantik Angel. Sebaliknya, Nia tampak cemberut.
Nia langsung protes, "Tapi, Za..."
"Lagian kenapa juga kakak memanggilku dengan nama sekarang? Tidak seperti biasanya. Apa ada yang kakak sembunyikan dariku?" Tanya Zaha menyela.
Nia yang tidak menyangka akan ditodong pertanyaan seperti itu oleh Zaha, berubah panik. Tapi Ia tidak kehilangan akal dan bertanya balik, "Kamu juga memanggil mbak Hera dengan panggilan nama dan bahkan kamu memanggilnya dengan panggilan khusus 'Angel', apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Jleb.
Giliran Zaha yang kebingungan. Ia sudah terbiasa memanggil Hera dengan panggilan 'Angel' dan melupakan kalau kebiasaannya itu berlanjut saat ada Nia bersama mereka. Seketika suasana berubah jadi kikuk.
"Itu karena kami telah kawin dan Zaha juga yang memerawaniku." Komentar Angel dengan cueknya.
"Uhuk uhuk."
Zaha langsung terbatuk dengan ke terus terangan Angel. Bagaimana bisa Ia membicarakan hal yang sangat privasi seperti itu tepat didepan kakaknya?
"Angel..." Zaha menatapnya dengan tajam untuk menunjukkan protesnya, namun Angel bersikap seperti acuh tak acuh.
"Hmn, kalau... kalau begitu, kamu harus mengawiniku juga! Biar kamu juga bisa memanggilku dengan nama atau panggilan khusus seperti mbak Hera." Ucap Nia dengan wajah tersipu malu.
"Uhuk... uhuk.."
Batuk Zaha bahkan lebih keras dari sebelumnya. Jika saja Ia sedang minum saat ini, bisa dipastikan air yang sedang diminumnya akan tersembur deras, seperti adegan di film-film.
lagian pembicaraan macam apa ini?
Mereka membicarakan tentang kawin semudah ini? Seakan itu adalah topik biasa yang dengan mudah bisa dibahas diwarung-warung.
Nia adalah kakak sedarah dengan Zaha yang fisiknya dihuni oleh Zaha. Bagaimana mungkin Zaha me'ngawini'nya seperti permintaan Nia?
Zaha menatap dua wanita yang ada didepannya seakan mereka adalah wanita yang aneh. Kecuali ini semua sudah direncanakan oleh Angel.
"Kenapa? Jangan menatapku seperti itu." Komentar Angel bersikap seolah Ia tidak tahu apa-apa.
"Ini-ini tidak hubungannya dengan Mbak Hera. Aku sudah tahu yang sebenarnya." Sela Nia dan mengalihkan perhatian Zaha kepadanya.
"Maksud Kak Nia apa?" Tanya Zaha bersikap polos. Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Zaha beneran terjadi.
"Kenapa kamu masih memanggilku kakak?" Tanya Nia mulai gusar dengan kepura-puraan Zaha.
"Kak, tidak ada yang salah denganmu kan? Lihat aku! Aku masih adikmu, Zaha."
"Tidak ada yang salah denganku. Yang salah itu kamu."
"Aku?"
"Kamu yang paling tahu. Lalu kenapa kamu masih menyembunyikan nya dari kami? dariku?"
Pertanyaan Nia seperti panah yang langsung ditancapkan ke jantungnya, Zaha terdiam membeku. Setiap katanya seakan tersangkut dalam tenggorokannya.
Nia seperti harimau betina yang siap menerkam dirinya. Tidak peduli sekeras apapun Zaha coba menyangkalnya, Nia pasti lebih keras lagi mempertahankan pendapatnya.
Jika sudah seperti itu, haruskah Zaha jujur tentang siapa dirinya pada Nia?
Jika Zaha jujur, maka pembatas hubungan diantara keduanya akan lenyap. Zaha dan Nia akan berada dalam kondisi yang aneh, apalagi dengan Nia yang memendam perasaan terhadap Zaha.
"Bagaimana? Kamu masih tidak ingin mengakuinya?" Cecar Nia lagi.
Zaha menatap Angel, memintanya untuk membantu mengatasi masalah ini. Tapi gadis cantik tersebut malah bersikap acuh tak acuh.
Sikap tak acuh Angel seolah mengatakan, "Urus sendiri urusanmu."
Bagaimana Zaha tidak gregetan melihatnya. Setelah Angel membuka rahasianya pada Nia, sekarang Angel membuat Zaha terpaksa membereskan kekacauannya.
'Sebenarnya dia Angel atau Devil?' Pikir Zaha tak berdaya.
"Kalau kamu diam, berarti apa yang kuucapkan adalah benar."
Zaha hanya tersenyum getir menanggapinya, lagian juga percuma dia membela diri jika Nia pada akhirnya akan merasa benar dengan pendapatnya.