
"Secara fair, lu sudah berhasil mengalahkan Codet dan tidak ada seorangpun diantara Kami disini yang akan menyanggah hal itu. Lu tau sendiri kan ? Codet itu kepala preman di daerah selatan. Selama ini tidak ada seorang pun yang berhasil menumbangkannya, karena itu Dia jadi orang yang berkuasa di daerah ini." Cak Timbul menatap sejenak pada teman-temannya yang lain, mereka pun mengangguk setuju dan menyerahkan pada Cak Timbul untuk menjelaskan detail maksud mereka.
"Jadi, karena lu yang berhasil mengalahkan Codet. Itu artinya, sekarang lu yang jadi pemimpin di daerah ini, King." Ujar Cak Timbul sambil menatap kembali ke arah Zaha.
"Loh, kok harus begitu Cak ? Aku loh gak ada niat buat jadi pemimpin di daerah ini. lagian Aku itu siapa ? Aku masih sekolah dan gak ada niatan sama sekali untuk jadi penguasa kelompok manapun." Ujar Zaha santai, membuat orang disekelilingnya yang malah menghembuskan nafas dalam. Mereka bingung bagaimana cara meyakinkan Zaha agar bersedia mimimpin mereka dan mengambil alih posisi kosong yang ditinggalkan oleh Codet. Karena mereka sadar, tanpa pemimpin yang kuat, mereka akan dengan mudah diserang oleh kelompok dari daerah lainnya atau kejadian buruk lainnya, pecahnya perang diantara masing-masing kelompok mereka untuk saling berebut kekuasaan.
Sampai akhirnya, seorang wanita yang juga merupakan salah satu pentolan preman dengan kelompok bad girlsnya. Penampilannya paling cantik karena Ia satu-satunya wanita yang jadi pentolan preman disana.
"King, itu semua sudah menjadi aturan tidak tertulis di daerah kita. siapa yang terkuat dan bisa mengalahkan pemimpin resmi dalam sebuah pertarungan yang adil, maka dia lah yang berhak jadi pemimpin di daerah tersebut." ucapnya.
"Aku menolak.." Sela Zaha singkat dan tegas, membuat semua orang disana terbelalak tidak percaya, semuanya jadi cemas kalau seandainya Zaha tidak mau mengambil posisi pemimpin.
"Sudah kubilang sebelumnya. Silahkan pilih diantara kalian yang paling senior atau yang paling layak buat dijadikan pemimpin. Tugasku cuma satu, Aku masih belajar dan masih sekolah. Jadi, Aku menolak untuk memimpin daerah ini." ujar Zaha tegas.
Wanita tersebut tersenyum manis, tentunya Ia sudah menduga jika Zaha akan kekeh menjawab seperti itu, karena Zaha sudah menampakkan sikapnya dengan jelas sejak awal, sehingga wanita tersebut sudah menyiapkan strategi lainnya untuk bisa membujuk Zaha.
"Tidak masalah kalau Kamu menolaknya King. Tapi, bisakah Kamu sejenak melihat ke arah Kami satu per satu." Pinta wanita tersebut yang terasa aneh menurut Zaha.
Ia pun menatap satu persatu wajah orang-orang disekelilingnya, Ncang Ari yang terkenal sebagai salah seorang pedagang besar di daerahnya. Ko Ahong, salah satu pedagang dari etnis Tionghoa yang juga memiliki usaha yang tak terhitung jumlahnya. Sebenarnya ada nama juragan Cintung, tapi Ia tidak berani lagi menampakan mukanya di pasar itu sejak Ia dan anak buahnya berhasil ditumbangkan oleh Zaha sebelumnya, rupanya Juragan Cintung berniat untuk memonopoli pasar dengan cara memanfaatkan Codet yang menjadi pimpinan preman daerah itu. Tapi, berkat kekalahannya kala itu, Juragan Cintung jadi gagal menjalankan rencana culasnya itu dan pasar pun bisa berjalan normal tanpa ada yang memonopoli pasar lagi.
Ada Cak Timbul, Cak Nawi, Hiukali, Jarwo, Kobang, preman-preman senior. Dibarisan preman-preman yang masih muda, Ada Zulham yang selama ini jadi promotor Zaha kemana-mana, Alex, Acera, Hari, Sam, Indra dan 4 orang lainnya yang masih belum dikenal oleh Zaha, ditambah satu-satunya wanita di kelompok itu, Virangel. Jelas mereka semua bukan orang sembarangan. Sebagaimana yang telah dibisikkan oleh Zulham sebelumnya, jika yang hadir disana punya kelompoknya masing-masing, dan mereka semua pastinya kuat-kuat.
"King pasti paham, jika diantara Kami semua hanya punya perbedaan tipis dari segi kekuatan. Semua diantara Kami disini, mengakui kalau hanya King yang pantas di posisi itu. Jika King menolaknya, maka yang terjadi selanjutnya hanyalah pertumpahan darah untuk memperebutkan posisi pemimpin yang kosong saat ini. Karena semuanya pasti akan bersaing untuk bisa menjadi penguasa didaerah ini. King gak perlu harus meninggalkan sekolah untuk Kami, Kami hanya meminta King bersedia menjadi pemimpin Kami, urusan dilapangan biar Kami yang menjalankan, bagaimana ?" ucap Virangel dengan idenya yang brilian.
Semua orang disana hanya diam menyimak setiap ucapannya. Tapi, dalam hati mereka ikut membenarkan apa yang diucapkan oleh Virangel.
Kini giliran Zaha yang harus memutar otak untuk menganalisa setiap ucapan Virangel barusan. Ia sadar, untuk sebuah kelompok besar seperti ini, posisi pemimpin jelas sangat berpengaruh besar, karena dengan itu seseorang atau suatu kelompok bisa semakin menegaskan kekuasaannya dan memperluas pengaruhnya. Dan mereka yang duduk di sekelilingnya itu, jelas bukan orang sembarangan dengan egonya masing-masing.
Virangel tersenyum kecil, sepertinya Ia berhasil membujuk King untuk menjadi pemimpin mereka.
"Terus apa yang harus Aku lakukan ?" tanya Zaha kalem, membuat wajah-wajah yang dari tadi terlihat tegang, kini mulai cerah dan tersenyum senang.
"Hmnn.. King cukup bersedia saja. Yang lainnya biar Kami yang urus, semuanya akan berjalan sebagaimana biasanya. Setiap distrik dan kelompok akan bertanggung jawab langsung dan menyetorkan hasil 'kerja' mereka pada King." Ucap Virangel tersenyum senang.
"Menyetor 'hasil' kerja ?" tanya Zaha mengerutkan keningnya, Ia sudah bisa menduga apa yang dimaksud oleh Virangel tersebut, namun Ia ingin lebih memastikannya.
"Iya, semua uang keamanan daerah ini, termasuk jasa parkir yang tersebar di beberapa titik di daerah kita. Ditambah beberapa unit usaha, secara detailnya nanti bisa saya bikinkan rinciannya buat King." Kata Virangel menjelaskan.
Zaha hanya diam, coba mempelajari semuanya. Tentunya Ia juga telah menduga usaha seperti apa yang dimaksud oleh Virangel barusan. Itu semua harus dirubah, pikir Zaha.
"Apa kalau Aku yang memerintahkan, kalian semua bisa mematuhinya ?" tanya Zaha sambil menatap ke arah mereka satu persatu. Membuat Semua orang saat itu, jadi bertanya-tanya apa yang dimaksud oleh Zaha yang telah menjadi King atau pemimpin baru mereka.
"Tentu saja. Anda telah menjadi pemimpin Kami. Apapun perintah Anda, pasti akan Kami taati. Siapa saja yang berani menentangnya, Saya sendiri yang akan menumpasnya." Ucap Hiukali tegas diikuti oleh anggukan yang lainnya.
"Betul itu." jawab yang lainnya kompak.
"Kalau begitu, mulai saat ini Aku harap semuanya bisa menghentikan semua pemalakan dan tindak pemerasan apapun." Ucap Zaha tenang.
"Hah..?" mereka semua terperangah kaget dengan ucapan Zaha, yang sangat tidak disangka-sangka itu. Instruksi pertama Zaha yang baru saja diangkat menjadi pemimpin sangat mengagetkan semuanya.
"Kalau tidak dengan cara itu, bagaimana kita bisa dapat uangnya ?" tanya Acera, salah seorang preman yang masih muda.
"Iya e, masa preman bantu gotong royong. Grup baksos kita nanti dipanggil orang." Celoteh Sam dan membuat temannya yang lain jadi tersenyum geli, namun karena melihat Zaha hanya diam dengan wajah serius, membuat mereka terpaksa mengulum senyumnya kembali.