Bunian

Bunian
BAB 85



"Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang telah kamu prediksi sebelumnya.." Ucap Hera a.k.a Angel pada Zaha ketika mereka sedang duduk berdua di gazebo belakang Villa.


Zaha sendiri masih dalam tahap pemulihan dan kesempatan itu digunakannya untuk mempelajari situasi yang sedang berkembang saat ini, selama dia tidak sadarkan diri.


"Setelah sisa anggotamu kembali ke markas kalian, di Pasar Tanah Kuda. Kobra dengan kelompok utaranya coba memanfaatkan kondisi kelompok selatan yang sedang lemah untuk menyerang. Semua anggotamu dari kelompok selatan terluka parah, tidak terkecuali Cak Timbul. Beruntung Padri dan Kelompok Baratnya memenuhi panggilanmu sebelumnya."


"Pertarungan menjadi semakin liar, kekuatan kalian yang hanya bersisa 10 persen dibantu Kelompok Timur dan Barat, bertarung seimbang dengan kelompok utaranya Kobra. Menurut mata-mataku, kemungkinan besar ketiga kelompok akan sama-sama binasa waktu itu. Mengingat Kobra datang dengan kekuatan penuhnya. Tapi satu kejutan yang tidak terduga terjadi..." Imbuh Hera sambil menatap aneh ke arah Zaha. Tapi pemuda yang ditatapnya justru terlihat sangat tenang, seperti sudah mengetahui kejutan apa yang dimaksud oleh Hera.


"Kenapa kamu melihatku begitu?" Tanya Zaha datar.


"Kenapa aku merasa kamu sudah tahu apa yang terjadi disana? Atau ada yang tidak kamu ceritakan padaku sebelumnya?" Sidik Angel.


"Kenapa tidak kamu ceritakan dulu apa yang terjadi disana, sebelum Aku ceritakan kepingan puzzle lainnya dari rencana kita."


"Huft... Baiklah. Kejutan yang tidak terduganya, kedatangan pasukan militer yang dipimpin oleh Kapolres daerah selatan, AKBP Erik di lokasi kejadian. Ini diluar apa yang telah kita rencanakan sebelumnya. Walau sebenarnya, Aku berharap kelompok selatan dan aliansimu bisa membasmi Kobra, namun kenyataan jika kondisi kelompok selatanmu yang sedang kelelahan akibat pertempuran dengan kelompok timur sebelumnya, membuat pertempuran menjadi sulit diprediksi siapa pemenangnya. Namun, sisi positifnya.. Kejadian itu mengurangi resiko jatuhnya korban yang lebih banyak."


"Setelah kuselidiki, ternyata alasan utama kehadiran AKBP Erik dan pasukannya waktu itu adalah karena dua remaja, teman sekolahmu, Anna dan Silvi serta satu lagi, remaja bernama Chintya, putrinya juragan Chintung yang dulu jadi musuhmu." Kali ini Angel menatap tajam Zaha.


"Katakan, bagaimana kamu bisa membuat mereka bertiga bisa berada disana? Apa kamu sudah memprediksi jika arah pertempuran akan berjalan seimbang? Sehingga kamu membuat rencana cadangan dengan menyisipkan 1 kartu terakhir dalam permainan ini?"


Zaha tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan Angel, "Bukankah dulu Aku pernah mengajarkan padamu, pentingnya anti rencana?"


"Aku tahu itu. Pertanyaannya, bagaimana kamu bisa melakukan itu? Tidak mungkin kamu menculik mereka dan menempatkannya di pasar tanah kuda begitu saja." Tanya Angel masih tidak memahami bagaimana cara Zaha bisa menempatkan tiga remaja itu di markasnya. Mengingat, ketiganya tidak termasuk dalam rencana yang telah mereka susun sebelumnya.


"Kamu tahu, apa yang paling baik dari sebuah strategi?"


"Tentu saja analisa, rencana serta timing." Imbuh Angel begitu yakin.


Itulah yang dipelajarinya dari Zaha selama masih aktif di militer dulunya. Angel adalah murid terbaiknya Zaha, walau gadis itu tidak belajar di militer dan Ia menyerap ilmu secara langsung dari pengalamannya bersama Zaha dilapangan.


Zaha ketika masih aktif di militer, dikenal tidak pernah gagal dalam misinya. Bahkan misi terakhirnya sukses 100 persen, walau dengan itu Ia harus kehilangan nyawanya, sampai berakhir dalam tubuhnya yang sekarang. Ia adalah master strategi yang sangat ulung.


Zaha melihat sehelai bulu burung yang kebetulan ditemukannya diatas kursi, lalu mencabut beberapa helai bulu tipis. Setelah itu, Zaha melempar bulu tipis itu ke udara.


Alis mata Angel bertaut, Ia tahu Zaha tipikal orang yang suka menjelaskan dengan mempraktikan secara langsung ketimbang membicarakan teori yang begitu membosankan


"Apa yang kamu pelajari?" Tanya Zaha meliriknya.


"Kamu hanya mengambil beberapa helai bulu, lalu membiarkan angin yang menentukan kemana bulu-bulu itu terbang."


"Ehmn..." Angel tersentak dengan pemikiran ini. Apa itu maksudnya, Zaha hanya menempatkan salah seorang dari tiga gadis itu sebagai pion pertamanya. Lalu semua rencananya berjalan sesuai dengan bagaimana reaksi mereka. Apa itu artinya Zaha sudah tahu dan bisa memprediksi bagaimana reaksi ketiganya ketika Zaha coba menempatkan mereka dalam rencananya?


"Itu disebut permainan emosi dan pikiran. Tapi perlu dikoreksi, aku tidak menggerakan mereka seperti apa yang kuinginkan."


"Astaga, bukankah itu sama saja dengan perjudian? Jika saja mereka tidak bergerak ke arah yang kamu inginkan, lalu 4 kelompok besar penguasa ibu kota saat ini bertempur sampai akhir. Maka sudah bisa dipastikan ke empat kelompok ini akan musnah." Seru Angel terkesiap.


"Terkadang hidup itu memang seperti berjudi, tidak ada yang namanya kepastian. Rencana yang sudah dibikin sesempurna mungkin, kadangkala akan ada cacadnya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan." Ujar Zaha tenang.


"Tapi... kamu terlihat seperti bisa menentukan hasil akhirnya seperti apa."


"Itu hanyalah kebetulan." Jawab Zaha acuh tak acuh.


"Sekarang beritahu aku, siapa pion yang kamu gerakan dalam rencanamu diantara mereka bertiga?"


"Chintya."


"Chintya? Bukannya kamu adalah musuh Ayahnya? Bagaimana bisa kamu menggerakannya?" Tanya Angel terkejut.


Dalam benaknya, Ia membayangkan jika orang itu adalah Anna. Beberapa kali Ia melihat Zaha dan Anna berjalan dan sepertinya remaja cantik itu memiliki ketertarikan pada Zaha-nya.


"Memang! Tapi kenyataannya, Chintya justru tertarik padaku. Siang itu, saat preman suruhan Kelompok Timur menyerangku di sekolah. Aku sengaja meninggalkan tasku. Sesuai dugaanku, Chintya khawatir dan mengantarkan tas itu ke rumahku."


"Bagaimana dengan Anna dan adiknya?"


"Nah disitulah peran anginnya. Aku hanya menduga Anna lah yang paling penasaran denganku, setelah sebelumnya Aku bersikap dingin padanya. Aku tahu, dengan sifatnya yang baik itu pasti Ia akan penasaran dengan perubahan sikapku terhadapnya. Ketika menyadarinya Ia akan mendatangiku untuk menuntut penjelasan dariku. Siapa yang menyangka Ia juga akan datang bersama dengan adiknya, lalu secara tidak sengaja bertemu dengan Chintya dan bersama ke pasar tanah kuda."


"Apa itu artinya, kamu sudah tahu kalau Ayahnya Anna dan Silvi adalah seorang petinggi militer?" Cecar Angel penasaran.


Zaha mengganguk, lalu berkata, "Iya, waktu itu Aku mengantar Anna pulang ke rumah. Tidak sengaja Aku melihat foto keluarganya. Dari situ Aku tahu keluarganya. Ayah Anna, Brigjen Endris dulunya adalah instrukturku ketika di akademi militer."


Angel terkesiap, lalu wajahnya menjadi tegang ketika menyadari sesuatu, "Apa Ayahnya Anna tidak akan menyidik kasus ini lebih lanjut? Ia bisa mencurigai dan melacakmu lebih jauh."


"Terus kalau Ia melacaknya, memangnya kenapa? Kamu khawatir Ia akan menyadari siapa diriku yang sebenarnya?"


Angel mengangguk cemas.


"Menurutmu siapa yang akan percaya orang yang telah mati bisa hidup kembali dalam raga yang berbeda? Itu hanya ada dalam novel." Kata Zaha cuek.


"Menurutmu siapa yang bisa percaya, remaja culun biasa tiba-tiba bisa berubah menjadi seorang pemimpin kelompok mafia ibu kota?" Balas Angel dengan opini yang tak kalah masuk akalnya.