Bunian

Bunian
BAB 52



Kesepakatan malam itu, Mereka semua diminta Zaha untuk meningkatkan kewaspadaannya dan tidak memulai untuk mengobarkan perang terlebih dahulu dengan kelompok timur. Keamanan Nia sendiri yang menjadi incaran musuh menjadi prioritas utama, Zaha akan menitipkannya pada kenalannya yang masih dirahasiakan oleh Zaha siapa kenalan yang dimaksudnya, sekaligus untuk menjauhkannya dari bahaya.


***


Pukul 4.00 dini hari.


"Mau kemana sih Dek ?" Tanya Nia pagi itu saat Zaha membangunkannya dan memintanya untuk sementara waktu tinggal ditempat lain, sampai dirinya benar-benar aman. Zaha menceritakan yang sebenarnya jika dia telah memberi pelajaran pada Ronal dan Roy karena telah memperkosa dirinya tempo hari walau tidak dijelaskan secara detailnya biar kakaknya tersebut tidak terlalu syok mendengarnya, itu membuat Nia sedikit kaget dan kembali terisak sedih, mendengar penjelasan Adiknya yang telah melakukan begitu jauh untuk dirinya.


Kini, Akibat dari kejadian itu, keluarga Ronal akan melakukan pembalasan pada mereka. Karena itu, Zaha meyakinkan Nia untuk sementara waktu bersembunyi dulu.


"Kakak percaya padaku kan ?" Tanya Zaha sambil memegang tangan Nia lembut.


Membuat Nia jadi gugup diperlakukan seperti itu.


"Iya, tapi Kakak gak mau jauh dari Kamu. Kamu yang jagain Kakak sudah lebih dari cukup.." Ujar Nia lagi dengan terisak. Aku tidak mau jauh Darimu, karena Aku mencintaimu, Dek. Lanjut Nia dalam hati.


"Aku janji akan menjenguk Kakak setiap harinya. Hanya sampai masalah ini selesai. Sampai Aku bisa menjauhkan bahaya itu dari keluarga Kita."


"Beneran Kamu akan selalu menjenguk Kakak ?" Tanya Nia mulai melunak sambil mengusap air mata dipipinya.


Zaha mengangguk mantab untuk lebih meyakinkan Kakaknya, "Aku janji Kak."


"Tapi, kenapa gak Kamu aja yang melindungi Kakak sih Dek ?"


"Kak, Aku belum cukup kuat untuk bisa melindungi Kakak dan Ibu. Aku janji, akan latihan lebih keras lagi agar bisa melindungi Kakak dan Ibu. Disamping itu, Zaha juga harus sekolah. Zaha gak bisa melakukannya disaat bersamaan. Zaha mohon Kakak bersabar dulu, dan mau bersembunyi disana sampai Zaha menjemput Kakak kembali nantinya." Ujar Zaha memohon.


"Baiklah, tapi Kamu harus jaga diri yah Dek!"


"Iya, Kak. Doain Zaha yah!"


Akhirnya, pagi-pagi buta itu Zaha mengantar Nia sampai depan gang perumahan mereka. Dia sengaja memilih jalan lain yang jarang dilewati warga dan di ujung gang sudah ada Angel yang telah menunggu dengan mobilnya. Zaha sengaja melakukannya secara diam-diam agar tidak menimbulkan kecurigaan satupun dari warga, bahkan Ibunya sendiri tidak tahu jika Ia sengaja menyembunyikan Kakaknya ke tempat Angel dan selain itu juga untuk menghindari dampak yang mungkin akan timbul di kemudian hari. Dengan begitu Zaha bisa meminilasir efek buruk dikemudian hari.


Nia sempat curiga dan bertanya-tanya ada hubungan apa antara perempuan yang menjemputnya itu dengan Adiknya, walau itu sebagian besarnya berasal dari rasa cemburu Nia pribadi. Apalagi melihat Angel yang masih muda dan sangat cantik, mungkin hanya selisih beberapa tahun darinya.


Nia terlihat masih berat melepaskan pelukannya dari Zaha.


"Kak?"


"Kakak tahu. Tapi, entah kenapa kaki ini terasa sangat berat untuk meninggalkanmu Dek. Kakak takut, begitu pergi dari sini, Kakak gak akan bisa bertemu denganmu lagi. Hikss." Lirih Nia terisak.


"Jangan khawatir Kak! Ini untuk Kakak dan Ibu, sampai tidak akan ada lagi ancaman yang membahayakan kalian. Aku akan baik-baik saja."


"Tapi, dek.." Nia terlihat sangat berat berpisah dengan Zaha.


"Parcaya sama Aku, Kak! Zaha akan segera menemui Kakak begitu semua ini berakhir. dan Kita akan berkumpul lagi seperti sebelumnya."


Angel menghampiri Zaha, lalu memberikan sebuah koper kemudian Ia membisikan sesuatu, "Ingat, ini gak gratis! Aku akan menuntut bayarannya nanti." Angel mengucapkan itu dengan sedikit mendesah sambil menatap penuh arti pada Zaha. Lalu Ia berjalan masuk ke dalam mobilnya, tidak lama mobil Angel pun berlalu semakin jauh meninggalkan Zaha.


"Fiuh,, gak bakal bisa lepas dari Angel nih. Tapi, semoga Kak Nia aman bersamanya. Maaf Kak, sampai harus menjauhkanmu dari sini." Ucap Zaha dalam hati. Selanjutnya tinggal menjelaskan pada Ibunya, dan mengkondisikan teman-temannya di Kelompok Selatan untuk menghadapi musuh yang akan segera datang. Zaha menatap jauh ke arah langit, pertarungan antara kelompoknya dengan kelompok timur akan segera terjadi. Itu semua karena tindakannya tempo hari. Tapi, tanpa adanya permasalah tempo hari, cepat atau lambat mereka juga akan berhadapan dengan kelompok timur. Tindakan Zaha hanya sebagai salah satu percikan api yang membuat bara permusuhan diantara dua kelompok itu semakin menyala. Masa-masa tenang seperti ini, juga akan segera berakhir. Tapi, Zaha seperti sudah punya rencana sendiri untuk menghadapi Cakra dan komplotannya.


POV Zaha


Setelah berhasil meyakinkan Ibu yang sempat panik saat tidak menemukan Kak Nia pagi tadi, Aku berniat mengantar Ibu terlebih dahulu. Tapi, rupanya Bang Zulham telah siap di depan rumah menjemput Ibu, saat Ia akan berangkat jualan. Jadinya, sekarang Aku bisa berangkat ke sekolah dengan bisa sambil lebih fokus untuk latihan.


"Gila nih Angel!" Gumamku sambil menggelengkan kepala. Gimana tidak! Dalam koper besar yang diberikannya tadi, ternyata ada satu set pakaian yang sudah sudah diberi pemberat didalamnya. Ketika memakainya badanku hampir saja down dibuatnya.


"Beratnya bahkan melebihi dua kali berat badanku, Aku bisa mati duluan sebelum berhasil melatih tubuhku kalau begini ceritanya." Lirihku kesal.


Ternyata ini maksud Angel saat mengatakan akan membantuku meningkatkan kemampuanku sebelumnya.


Tapi, mengingat lawan yang akan Kuhadapi. Maka cara ini bisa jauh lebih instan dan lebih cepat, walau tubuhku akan sangat dipaksa melebihi batas kemampuanku.


Gila, berjalan saja rasanya sangat berat. Tapi tetap saja Kupaksakan untuk berjalan dengan pakaian berat ini. Aku hanya menjawab singkat setiap sapaan dari para pemuda yang waktu itu berkumpul di pos ronda. Mereka menatap aneh ke arahku karena bukannya mengenakan pakaian sekolah, tapi justru mengenakan pakaian olahraga spandeks hitam tebal yang sudah diisi oleh pemberat.


"Mau diantar King ?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Gak usah Bang. Santai aja." Ujarku sambil berlalu meninggalkan pos ronda.


Tinn tinn tinn


Baru juga jalan keluar dari gang perumahan, Aku dikagetkan oleh klakson motor matic yang berhenti tepat disebelahku.


"Loh, kok Kakak gak pakai seragam sekolah ? Libur kah ?" Tanyanya heran.


"Sekolah kok. Ini mau berangkat."


"Tapi, kok pakaiannya begitu ?"


"Hehehe sambil olahraga." Jawabku santai.


Mumpung ada Chintya, Aku langsung menitipkan tasku kepadanya.


"Loh, maksudnya apa Kak ?" Tanyanya kebingungan.


"Aku titip tasnya yah. Sekalian bantuin Aku olahraga sambil jalan ke Sekolah."


Chintya mengerutkan keningnya, masih tampak kebingungan dan belum mengerti maksudku.


"Kamu matiin mesin motornya dulu, dan pegangan yang kuat yah." Ucapku lagi sambil berjalan kebelakang motornya.