Bunian

Bunian
BAB 41



"Kenapa tidak! Selagi bisa menghasilkan uang dengan cara yang benar, kenapa harus dengan cara yang salah." Ujar Zaha dengan sikap tenangnya.


"Untuk parkiran, Aku setuju! Kita bisa gantian menghandelnya, uangnya bisa dibagi rata nantinya. Jika selama ini, kita jadi pengaman dengan cara memaksa, kenapa tidak menggunakan cara yang lebih baik, misalnya dengan menetapkan biaya kontribusi atau apapun lah namanya. Tidak harus dipaksa, dengan seiklasnya mereka saja."


"Kita punya Ncang Ari, Koh Ahong dan beberapa pedagang besar lainnya disini. Kita bisa berkolaborasi dengan mereka, tidak harus dengan cara menopoli transaksi ataupun market tertentu di daerah ini. untuk unit usaha tadi, Aku belum tahu apa yang Mbak Virangel maksudkan. Tapi, kalau lokalisasi yang ada di daerah Kalido, kenapa tidak menggantinya dengan tempat usaha yang sekiranya bisa untuk menyalurkan bakat mereka ? bukannya dengan menjual dirinya yang bisa merusak dirinya dan belum lagi anak-anak muda yang menjadi pelanggan tetap disana, seharusnya mereka bisa menghasilkan hal-hal yang lebih positif." Ujar Zaha memberi solusi. Membuat semuanya jadi terdiam lama, meresapi setiap ucapan Zaha.


"Hahaha.." Ko Ahong memecah kesunyian dengan tawanya yang khas.


"Gak salah owe pelcaya ma lu orang. Lu lain dari Codet ha.. owe setuju kalau itu lu yang minta, dan dari dulu sebenalnya owe ingin begitu juga." Ternyata Ia yang paling antusias menyambut idenya Zaha. Sebagai pedagang besar, tentunya Ia orang yang paling direpotkan dengan adanya sistem setoran keamanan di derah selatan, demi agar semua sektor usahanya selalu berjalan aman dan lancar.


Sempat terjadi perdebatan diantara para preman senior, sampai Cak Nawi ikut bersuara untuk menengahi perdebatan itu.


"Ya, Gue setuju saja dengan ide King. Sudah saatnya Kita harus berubah. Sudah terlalu lama Kita berkecimpung dalam dunia seperti ini, tidak terhitung juga berapa banyak diantara teman dan bahkan keluarga kita yang mati sia-sia." Ucapnya dengan tenang, kharismanya sebagai jawara yang sudah berpengalaman sangat tampak.


"Kita keras, tapi bukan dengan menindas. Kita tinggal di Negara yang punya hukum, mungkin sekarang Kita masih bisa menegakkan kepala karena Kita merasa kuat dan bisa berlaku semaunya tanpa ada hukum yang bisa menyentuh Kita. Tapi, sampai Kapan ?" Cak Nawi menatap orang di sekelilingnya yang juga terdiam begitu mendengar pertanyaan dari Cak Nawi tersebut. Tidak ada satupun yang bisa menjawab, mereka semua larut dengan pikirannya masing-masing.


"Hehehe, Gue sudah tua. Suatu saat nanti, kalian yang masih muda-muda ini yang akan mengambil alih peran Kami yang sudah tua-tua ini. Cukuplah Kami yang merasakan kelamnya jalan yang telah Kami tempuh. Kalian jangan! Karena itu, Gue setuju seratus persen dengan apa yang diucapkan oleh King. Bagaimana teknisnya, Kami percayakan pada kalian yang muda-muda." Terang Cak Nawi mengakhiri ucapannya sambil menatap Virangel dan preman-preman junior lainnya.


Akhirnya, hari itu sebuah perubahan mulai menampakkan sinarnya dalam kelompok selatan, yang secara aklamasi dipimpin oleh Zaha. Seorang remaja ceking, yang bahkan namanya tidak pernah diperhitungkan sama sekali untuk menjadi pemimpin kelompok selatan. Jangankan untuk diperhitungkan, bahkan mungkin tidak ada yang mengenalinya sebelum ini. namun, berkat pertarungannya dengan Codet, sang penguasa daerah selatan. Kini, namanya disegani dimana-mana. Bahkan daerah lainnya, mulai penasaran dengan sosok seorang King yang bisa mengalahkan Codet, yang selama ini terkenal karena statusnya, 'Preman tiada tanding' itu.


Bagaimana mengimplementasikan idenya Zaha, maka disepakati akan membahasnya untuk pertemuan selanjutnya. Sepeti yang di ucapkan oleh Cak Nawi, para generasi mudalah yang akan merumuskan bagaimana langkah yang akan mereka tempuh.


Saat akhir pertemuan, saat semuanya sudah bubar dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Kini tinggal Ncang Ari, Zaha, Zulham dan beberapa orang temannya.


"Ncang, Aku mau bahas tentang ruko yang dibeli sama Ibu kemarin." Ujar Zaha pada Ncang Ari.


"Oh itu, hahaha. Gak usah dipikirin. Saya memberikan sepenuhnya untuk Ibumu kok, King."


"Tapi, Ibu mikirnya gak begitu. Dan Kami tidak bisa menerimanya dengan gratis begitu saja. Saya, janji akan segera melunasinya." Ucap Zaha.


"King, Kamu adalah pemimpin Kami disini. Kalau Kamu menolaknya atau membayarnya, sama halnya Kamu menghina saya. Lebih baik Saya angkat kaki saja dari sini dan gak akan pernah menampakan diri di daerah selatan ini lagi, kalau begitu ceritanya." Ujar Ncang Ari, raut mukanya terlihat berubah.


"Tolong lah King. Kasih saya muka, masa hanya pertolongan sekecil itu, Kamu sampai harus membayarnya." Ucap Ncang Ari serius.


"Tapi.."


"Soal Ibumu yang berencana untuk mengangsurnya tidak usah dipikirkan. Aku tidak mungkin membantah beliau secara langsung, karena dia Ibumu berarti Ibu bagi Kami juga. Uangnya nanti bisa Kamu pakai buat tambah-tambah biaya sekolah. Atau kalau King mau rumah baru juga! Saya juga bisa usahakan. Karena Adik saya juga seorang Developer, dan Dia sedang menggarap salah satu perumahan di Kota ini juga. Kalau King mau, nanti bisa saya bicarakan dengannya." Tawar Ncang Ari dengan semangatnya.


"Hahaha.. gak usah Ncang." Akhirnya dengan terpaksa Zaha mau juga menerima sepetak ruko yang saat ini ditempati Ibunya buat jualan itu. Malah ditawari rumah lagi, bisa enak banget hidupnya, pikir Zaha. Prinsipnya, jangan menolak kebaikan yang diberikan oleh orang lain, namun jangan juga kemaruk.


"Aduh, Si Adam ngapain lagi tuh sama anak buahnya." Celetuk salah seorang teman Zulham sambil menunjuk ke arah taman.


"Malakin orang lagi tuh Anak." Ucap temannya geleng-geleng kepala, mereka sudah sama-sama paham kerjaan berandalan berseragam sekolah tersebut.


"Bentar, biar Gue yang ngasih pelajaran sama mereka." ucap Teman Zulham lainnya yang berbadan paling kekar.


"Gak usah Bang. Biar Aku aja, sekalian mau ke tempat Ibu nih." Sergah Zaha menahan langkahnya.


"Ncang, Aku pamit dulu yak!" Pamit Zaha sopan.


"Ya, sering-sering mampir ke tempat Saya yah." Balas Ncang Ari senang. Dalam hati Ia berharap kalau remaja itu, benar-benar membawa angin segar bagi daerah selatan itu, paling tidak bisa mengubah wajah daerah selatan yang selama ini terkenal karena tingkat kejahatannya, menjadi daerah yang bisa dikenal lebih baik.


Zaha pun melangkah ke luar Toko Ncang Ari menuju arah taman, diikuti oleh Zulham dan teman-temannya yang lainnya.


Saat berjalan ke arah taman, Zaha sedikit kaget, karena cewek yang sedang diganggu oleh Adam dan kawan-kawannya saat itu adalah Silvi, adiknya Anna.


"Oi, Kalian.." hardik Zulham begitu sampai dekat segerombolan anak-anak STM tersebut.


POV Silvi


Aku tidak tahu lagi harus minta tolong sama siapa. Romi yang semula Kukira bisa melindungiku dari gangguan sekumpulan anak STM yang menganggu Kami saat itu, malah pergi begitu saja meninggalkan diriku, layaknya seorang pengecut. Andai ada Kak Zaha, temannya Kak Anna, pasti Ia akan melindungiku. Bukankah Ia kuat ? sampai disegani di komplek perumahannya. Eh, kenapa saat ini Aku malah memikirkan cowok ceking itu ?