Bunian

Bunian
BAB 94



"Jujur saja, kedatanganmu mengganggu kami. Seharusnya kamu bisa bisa menunda masuk 1 jam, mungkin saja kami sudah selesai bercinta saat itu."


Bagaimana perasaanmu saat seorang wanita mengaku dengan terus terang jika Ia bercinta dengan adikmu sendiri?


Marah?


Sayangnya Nia tidak bisa marah, karena Hera adalah penyelamatnya. Tapi, melihat betapa jujurnya Hera membuat Nia merasa tidak nyaman.


Tanpa Nia sadari, rasa tidak nyamannya tersebut berasal dari kecemburuan yang muncul dalam dirinya.


Tentu saja Hera dapat melihatnya dengan begitu jelas, tatapan mata gelisah Nia sudah bicara dengan sangat jelas tentang apa yang dirasakannya.


Namun, Hera tidak berniat berhenti sampai disitu. Ia pun melanjutkan dengan cueknya, "Zaha juga yang telah mengambil keperawananku."


Jederr.


Nia langsung syok mendengar pengakuan terus terang Hera.


Ini bagaikan tamparan dua kali berturut-turut diwajahnya. Tidak masalah dengan siapa Hera melepas perawannya, kenapa dia harus menceritakan hal itu padanya? Dan kenapa juga harus dengan adiknya?


Lidah Nia seakan kelu, Ia tidak tahu harus bicara seperti apa? Duduknya menjadi gelisah.


"Ta-tapi, kenapa harus..." Nafas Nis terasa sesak, wajahnya bahkan memerah karena emosinya yang tertahan. Ia seperti sulit mempercayai, jika adiknya telah melakukan hal 'itu' dengan Hera.


"Kenapa harus dengan Zaha? Karena Aku mencintai nya dan dia pun begitu." Sela Hera dengan santainya.


Nia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Hera. Bagaimana Ia masih bisa bersikap sesantai ini ketika kehilangan perawannya? Lalu, kenapa juga Hera menceritakan semua ini padanya? Apa Hera sengaja menceritakan hal ini, agar Nia merestui adiknya bersama dengan Hera?


Tidak, Nia merasa tidak rela.


"Kenapa? Apa kamu juga ingin bercinta dengan Zaha?" Tanya Hera cuek namun berhasil membuat Nia jadi salah tingkah.


"Ti-tidak, tentu saja tidak. Bagaimana Mbak bisa berpikir seperti itu? Dia itu adikku." Ucap Nia coba memungkiri.


"Benarkah?" Tanya Hera dengan senyum yang terlihat meragukan kesungguhan jawaban Nia.


"Tentu saja. Kami ini saudara sedarah, tidak mungkin aku bisa berpikiran begitu dengan adikku sendiri." Nia bersikeras membantah, namun yang terlihat oleh Hera justru kebalikan dengan apa yang diucapkannya.


"Kalau Zaha bukan saudara sedarahmu, berarti tidak masalah bagimu bercinta dengannya?"


Pertanyaan Hera membuat goyah kepercayaan diri Nia, "Itu tidak mungkin, kami besar bersama. Meski Ayah kami berbeda, tapi kami lahir dari rahim yang sama."


"Jika kalian tumbuh bersama sedari kecil, seharusnya kamu sudah tahu, apa Zaha yang kamu kenal sekarang, benar adikmu atau bukan?"


"Ma-maksud Mbak apa?"


"Jangan pura-pura tidak mengerti apa yang kumaksudkan." Ucap Hera acuh tak acuh, lalu Ia melanjutkan, "Kamu yang paling tahu apa maksud pertanyaanku. Atau... Kamu masih coba menyangkalnya?"


Nia langsung tercenung, Ia tidak menyangka justru Hera lah yang mengungkit pertanyaan yang sempat muncul dibenaknya, selama ini Nia coba memungkirinya dan memilih untuk menjalani apa yang terjadi seperti hari-hari biasanya.


Menyingkirkan fakta betapa besarnya perubahan dalam diri Zaha dan justru tampak lebih menerima Zaha yang sekarang, dan bahkan Nia mulai merasakan perasaan yang berbeda, layaknya seorang wanita pada pria.


Meski dulunya Nia tidak terlalu dekat dengan Zaha, karena Ia merasa jika Zaha hanya menjadi beban dalam hidup mereka. Apalagi fisik Zaha yang kurus dan berkulit hitam, semakin membuat Nia membenci adik beda ayahnya tersebut.


Namun semua mulai berubah, semenjak Zaha mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu.


Nia merasa, jika adiknya tersebut telah berubah menjadi orang berbeda. Zaha tidak lagi introver seperti Zaha yang dikenalnya.


Tatapan matanya, itu keanehan yang pertama kali disadari Nia. Zaha memiliki tatapan tajam dan sangat menakutkan.


Itu dirasakan Nia pertama kali, saat Zaha menegurnya karena bersikap kasar pada Ibu mereka.


Dilain waktu, tatapan Zaha juga terasa sangat menenangkan. Terutama ketika Zaha melindungi Nia dan juga Ibu mereka dari ancaman anak buah juragan Chintung.


Perubahan lainnya, Zaha yang sekarang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Seringkali Ia terdengar sangat bijak seolah jauh melampaui usianya.


Dan kemampuan bertarungnya itu? darimana Zaha mempelajarinya? Nia yang paling tahu, kalau adiknya itu sangat penakut dan pemalu.


Zaha yang dikenalnya tidak pandai berkelahi, bahkan pernah Ia pulang dari sekolah dalam keadaan babak belur sehabis dibully sama teman satu sekolahannya dan Zaha bahkan tidak bernyali untuk membalas perbuatan mereka.


Sekarang, orang-orang di kompleks tempat tinggal mereka bahkan memanggilnya "King" untuk menghormatinya. Tidak hanya dikomplek tempat tinggal mereka, namun juga dipasar tempat Ibunya berjualan.


Positifnya, semua orang kini sangat menghargai Nia dan juga Ibunya.


Dalam hatinya, Nia juga mulai mempertanyakan, 'Apa Zaha masih adik yang sama seperti yang dikenalnya? Atau dia sebenarnya adalah orang lain? '


Namun, Nia melihat sendiri ketika adiknya masih dirawat dirumah sakit. Walau ia tidak ikut menjemput Zaha ketika pulangnya, namun jelas jika itu masih adiknya.


Pikiran Nia saling kontradiktif, disatu sisi Ia memiliki pemikiran jika Zaha adalah orang lain, karena itulah terkadang Ia berharap dapat menjalin hubungan yang lebih dengan Zaha. Namun disisi lain, nuraninya mengingatkan jika itu adalah adiknya. Maka Nia berusaha keras untuk menahan perasaannya dan justru membuatnya jadi tersiksa sendiri.


Melihat ekspresi Nia yang berubah-rubah, Hera hanya tersenyum tenang, "Apa kamu sudah menemukan jawabannya?"


"eh, itu.. hmn." Nia jadi salah tingkah. Ia tampak malu untuk menceritakan apa yang pada dasarnya adalah jawaban yang diinginkan Angel darinya.